
Fabian dan Arini sudah bersiap untuk berangkat bulan madu. Fabian mengeluarkan kopernya dan sang istri untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
💐 Bandara
Irfan dan Deni ternyata datang ke bandara untuk ikut mengantarkan adeknya bulan madu bersama sang suami, walaupun hanya bertemu di bandara.
"Eh itu bukannya bang Deni ya?" Tanya Arini setelah turun dari mobilnya bersama mami papinya dan sang suami.
"O iya, abang ternyata datang juga" kata Fio ikut bahagia melihat lelakinya datang mengantarkan adeknya bulan madu.
"Pi, mi.." sapa Deni.
"Om, tante.." sapa Irfan.
"Mana Mira bang?" Tanya mami.
"Mira titip salam aja mi, soalnya ada ujian dari pagi" jawab Deni.
"Abang kok ga kasih kabar Arini kalau mau ketemuan disini?" Tanya Arini.
"Iya abang kawatir kalau ga bisa tetapi janjia sayang, jadi abang dadakan aja tadi sama bang Irfan. Tuh bang Arya juga datang" kata Deni.
"Ya ampun semua datang" kata Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu menangis sayang?" Tanya Fabian.
"Aku bahagia bang, padahal ini kan kita cuma pergi sebentar aja. Tapi mereka semua mau menyempatkan datang" kata Arini memeluk suaminya.
"Sayang karena kebetulan saat ini kami semua juga lagi ga pada sibuk jadwalnya, kamu beruntung sekali berangkat hari ini" kata Deni.
Pasangan ini berpamitan pada keluarganya untuk berangkat bulan madu dengan diiringi peluk cium dari kedua orang tuanya dan juga abang-abangnya.
"Titip bahagiakan Aira adek gue ya Bian semoga perjalanan kalian lacar sampai kita bisa bertemu kembali nantinya" kata Irfan pada Bian.
"Terima kasih atas doanya bang, Bian akan selalu menjaga dan membahagiakan istri Bian" jawab Fabian dengan tersenyum.
"Jangannakal disana yang sayangnya abang" pesan Irfan ke Arini.
"Sejak kapan Arini nakal bang, enak aja" protes Arini membuat yang lain tertawa.
"Hati-hati ya kalian, jangan bertengkar dan harus saling percaya, saling menerima dan belajar untuk mengerti pasangannya" pesan Fio.
"Siap mami sayang" jawab Arini.
"Iya mi, mohon doanya selalu" jawab Bian.
Pesawat mulai berangkat membawa pasangan yang sedang bahagia ini untuk berbulan madu.
"Ternyata anak gadis kita sudah dewasa ya pi" kata Fio pada sang suami.
"Iya gadis yang selalu manja sekarang sudah menjadi istri Fabian" jawab Aldo tersenyum.
__ADS_1
"Mami ga pernah menyangka kalau ternyata besan kita ada sahabat kita semua ya pi, mereka baik-baik semua" kata Fio.
"Iya mereka baik-baik semua" kata Aldo.
"O iya besok papi mau ke Jogja ada meeting disana sama Arya juga" kata Aldo.
"Mami ikut ya pi, nanti mami mau janjian sama Dewi dan Erna" kata Fio.
"Boleh, tapi kita tidak lama ya disana" kata Aldo.
"Iya pi, mami kan ga ada kepentingan lain. Cuma mau ngobrol sama mereka saja" kata Fio yang dianggukin kepala oleh sang suami.
Di dalam peswat
"Tadi yang membuat spagetti kamu sendiri ya yank?" Tanya Fabian sambil menyelipkan anak rambut ke telinga sang istri yang duduk disebelahnya.
"Iya, kenapa bang kurang enak ya" jawab Arini.
"Sudah enak sih, bahkan enak banget menurut abang" kata Fabian.
"Beneran enak bang, abang gabohong kan?" Tanya Arini.
"Beneran enak sayang, kapan-kapan masak lagi ya abang suka spagetti buatanmu" jawab Fabian.
"Boleh bang, asal abang belanjain dulu bahannya ya dan ingetin Arini aja" kata Arini.
"Siap sayangku, pasti abang akan belanjain dan selalu isi kulkasnya nanti" kata Bian sambil membawa kepala sang istri ke pundaknya akan menyandarkannya pada Bian.
"Arini belum mengantuk bang, masih mau lihat pemandangan dari atas sini aja" jawab Arini.
"Ya sudah nikmatilah selagi kamu bahagia sayang" kata Fabian kemudian mencium pucuk kepala sang istri yang bersandar di pundaknya.
Tak berselang lama, Arini pun sudah tertidur.
Tadinya mereka mau bulan madu ke Bali, namun tiba-tiba Fabian merubah jadwal tanpa mengatakan pada istrinya kemana tujuannya sekarang untuk melakukan bulan madunya.
Fabian menatap wajah istrinya yang terlelap dalam tidurnya.
"Untung tadi kamu ga mendengarkan sayang saat operator sedang bicara ke arah mana tujuan kita ini. Biar semua ini akan menjadi kejutan buatmu nanti" kata Fabian tersenyum sendiri kemudian mendaratkan kecupan di kening sang istri.
"Jujur gue bahagia bisa memilikimu seutuhnya" gumam Fabian. Kemudian mengambil ponselnya dan memotret wajah sang istri saat tertidur.
Rumah sakit
Pagi ini dokter Deni banyak pasien yang sedang mengantri di polikliniknya.
"Pagi dok" sapa para suster saat bertemu Deni.
"Pagi" balas Deni pada mereka.
"Waow, bikin hati berbunga setiap bertemu dokter ganteng itu" ucap salah satu suster tersebut.
__ADS_1
"Hai jangan begitu dong, dia sudah punya istri. Boleh kagum tapi jangan kelewat batas" kata sesama suster itu mengingatkan batasannya.
"Iya gue juga tahu, tenang aja" jawabnya.
Tok tok tok
"Masuk" kata Deni dari dalam.
"Selamat pagi dok"
"Pagi dokter Desy, ada yang saya bantu?" Tanya dokter Deni tanpa ada keramahan di dalam raut wajahnya.
"Emm saya mau nanya dok, apa dokter ga ingin ambil spesialis?" Tanya dokter Desy yang menurut Deni tidak penting sama sekali.
"Tidak, cukup istri saya saja uang ambil spesialis. Maaf dok kalau sudah tidak ada yang penting saya akan memulai pekerjaan saya" kata dokter Deni.
"Tadinya kalau dokter Deni ingin ambil spesialis, kita bisa sama-sama nantinya" kata dokter Desy tidak tahu malu.
"Maaf dok, saya tidak tertarik dan masih banyak pasien saya pagi ini yang menunggu saya" kata dokter Deni.
"Susi, panggil saja pasiennya, kasihan menunggu lama" kata dokter Deni pada suster Susi.
"Baik dok" jawab suster Susi kemudian memanggil pasien dokter Deni berikutnya.
"Baiklah, saya akan keluar" kata dokter Desy setelah pasien dokter Deni masuk ke dalam ruang prakteknya.
"Sungguh ga tahu diri urusan dengan dokter yang ga ada akhlak" batin Susi.
Dokter Desy keluar dari ruangan dokter Deni dengan hati kecewa karena dokter Deni yang diharapkan akan menerima ajakkannya ternyata diluar dugaannya.
"Kenapa sih ga mau gue ajak ambil spesialis, bukan lebih enak kalau ada teman yang dikenalnya untuk melanjutkan sekolah profesi" gumam dokter Desy kesal dengan dokter Deni.
"Kenapa disini ga ada lagi uang seperti dokter Deny sih" batin dokter Desy di dalam ruangannya.
"Tok tok tok"
"Masuk"
"Pagi dokter Desy, sedang apa? Kita sarapan bareng yuk" ajak salah seorang dokter yang ingin mendekati dokter Desy.
"Maaf dok saya belum lapar" jawab dokter Desy.
"Ya sudah kalau begitu saya akan menunggu kapan dokter Desy lapar" kata dokter tersebut.
"Ga perlu menunggu saya dokter, nanti yang ada dokter Satya kelaparan" kata dokter Desy.
"Ga masalah kelaparan, asal tetap bisa makan bersama dokter Desy" jawab dokter Satya yang memang sudah lama ingin mendekati dokter Desy.
Bunyi suara perut dokter Desy tak dapat lagi membohongi dokter Satya.
"Apa perlu saya pesankan makan untuk kita makan di dalam ruangan ini?" Tanya dokted Satya.
__ADS_1