
"Bang kita foto bersama yuk" ajak Arini kemudian mereka berdua berselfie sambil menikmati sunset.
Tiba-tiba Fabian mengambil bunga dan memberikannya ke Arini sambil berkata dengan kaki dilipat satu.
"Arini Mahendra Wijaya, selama ini Fabian Rahardian selalu menunggu saat-saat seperti ini. Hari ini bang Bina jujur padamu bahwa Fabian Rahardian mencintaimu Arini Mahendra Wijaya. Apakah Arini mau jadi kekasih seorang Fabian?" Tanya Fabian serius dengan menatap mata Arini lembut.
Jujur Arini sangat kaget dengan apa yang dilakukan Fabian, karena selama ini Arini tidak membanyangkan jika Fabian mencintainya.
"Abang..." Arini bingung mau melanjutkan kata-katanya
"Arini Mahendra Wijaya apakah kamu mau menjadi kekasih Fabian Rahardian?" Tanya Fabian lagi karena Arini belum juga menjawab hanya menatap Fabian penuh dengan tanda tanya.
"Arini mau bang..." jawab Arini sambil tersenyum bahagia namun masih belum percaya dengan apa yang dirasakan. Fabian memberikan bunganya ke Arini kemudian memeluk Arini.
"Terima kasih sayang sudah mau menerima cinta abang" bisik Fabian ditelinga Arini sambil memeluk Arini.
Arini meneteskan airmata haru. Selama ini Arini tidak ingin berharap cinta Fabian walaupun dia sendiri sebenarnya juga punya rasa yang sama, tetapi Arini selalu menepisnya. Arini merasa Fabian adalah abangnya dan ga mungkin seorang Fabian mencintai Arini yanh selalu manja dimatanya.
"Apakah gadis yang tadi bang Bian ceritakan itu aku?" Tanya Arini ragu setelah pelukannya dilepas oleh Fabian.
"Iya sayang, kamu ga merasa ya selama ini abang berusaha mendekatimu" kata Fabian sambil menatap Arini, kemudian mencium kening Arini. Arini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Arini selalu berpikir kalau bang Bian itu menganggap Arini hanya anak kecil dan bang Bian selalu memperlakukan Arini seperti adeknya sendiri." Kata Arini. Fabian tersenyum melihat Arini berbicara.
"Maaf ya bang jika jawaban Arini waktu di kantor tadi membuat abang ga nyaman" kata Arini. Fabian tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengacak puncak kepala Arini.
"Mulai hari ini jangan terlalu dekat dengan cowok lain selain abang, okey" kata Fabian.
"Abang kan tahu Arini ga pernah pergi sama cowok selain sama bang Deni, bang Arya, bang Irfan dan bang Bian" jawab Arini.
"Apakah Arini mencintai bang Irfan?" Tanya Fabian penasaran.
"Arini mencintai semua orang terdekat Arini bang, hanya saja mencintai mereka saja bukan berarti akan menjadikan kekasih buat Arini." Jawab Arini membuat Fabian tersenyum.
"Kita sekarang makan dulu disana yuk sayang" ajak Fabian yang ternyata sudah memesan ikan bakar sejak tadi mereka masih di kantor.
"Ayo bang, Arini juga sudah lapar" jawab Arini. Kemudian mereka berdua bergandengan tangan menuju restoran itu.
__ADS_1
Hari ini Fabian begitu bahagia dan lega rasanya karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan Fabian berniat untuk melamar secara resmi dengan mengajak kedua orang tuanya bulan depan, tapi belum terucap ke siapapun sebelum dia mengatakan kepada kedua orang tuanya.
Suasana makan malamnya begitu romantis dibuat oleh Fabian dengan suasana lampu yang remang-remang di sebuah restoran pinggir pantai dengan suara deburan ombak yang menabrak beberapa batu besar.
"Apakah Arini suka dengan hidangannya di sini?" Tanya Fabian.
"Sangat suka bang, apalagi suasananya. Apakah ini abang sendiri yang mendekirasi" jawab Arini.
"Iya sayang, abang sendiri yang punya ide dan meminta restoran ini mendekorasi sesuai permintaan abang walaupun awalnya abang ragu apakah cinta abang akan bertepuk sebelah tangan atau tidak." Kata Fabian sambil tersenyum bahagia.
"Terima kasih ya sayang sudah mau menerima bang Bian menjadi kekasih Arini" kata Fabian lagi.
Sambil menikmati hidangan seafood bakar, mereka saling berbagi cerita.
"Bang Bian sejak kapan suka sama Arini?" Tanya Arini ingin tahu karena Bian pernah bilang bahwa dia menyukai gadis itu sejak masih remaja.
"Apa kamu ingin tahu atau ingin tahu banget?" Tanya Fabian menggoda kekasihnya.
"Sangat ingin tahu" jawab Arini sambil terkekeh, membuat Fabian tertawa dan makin gemas melihat tingkah Arini yang menurutnya lucu dan membuatnya selalu rindu untuk bertemu.
"Memang bang Bian mau jawabnya nunggu Arini tua dulu?" Arini balik tertawa membuat Fabian tertawa sambil mengusap puncak kepala Arini.
"Habis Arini nanyanya sekarang, masa harus menunggu jawaban masih nanti kalau udah rambutnya memutih" kata Arini lagi sambil terkekeh. Fabian menghela nafasnya berat.
"Kakak suka kamu udah lama, dari Arini masih remaja dulu" kata Fabian.
"Hah, serius..." Arini kaget.
"Kenapa, ga percaya ya" kata Fabian.
"Ya memang ga percaya sih, kan kak Bian sudah punya pacar waktu kuliah" kata Arini.
"Siapa bilang" kata Fabian.
"Tahu dong Arini dari bang Arya kan sering cerita" kata Arini.
Fabian hanya terkekeh, memang dulu saat kuliah Fabian pernah pacaran bahkan mantannya ja sudah ada 2 orang cewek. Hanya memang Fabian menyukai Arini sejak dia belum punya pacar sebenarnya.
__ADS_1
"Yuk kita pulang, udah mulai malam sayang" ajak Fabian. Mereka jalan berdua menyusuri pinggiran pantai dengan bergandengan tangan, dengan sesekali tertawa hingga sampai di parkiran mobil Fabian.
Fabian membukakan pintu mobil buat Arini.
"Ar, seandainya kakak melamar kamu bulan depan gimana?" Tanya Fabian tiba-tiba setelah mereka di dalam mobil.
"Hah bulan depan, cepet amat bang" protes Arini.
"Kenapa, kan abang juga udah ga butuh nungguin apa-apa" kata Fabian.
"Ya kan Arini belum lulus kuliah bang" kata Arini.
"Ya gapapa, kalau perlu abang maunya langsung aja kita nikah secepatnya. Ga perlu nunggu lulus kuliah dulu kan" kata Fabian membuat Arini melotot kaget dan langsung menatap Fabian.
"Abang ih, kan belum tentu orang tua kita setuju dan merestui hubungan kita." Kata Arini.
"Nanti bang Bian akan bilang ke papa Leo biar secepatnya melamar kamu. Atau minggu depan aja ya papa melamar kamu secara resmi ke om Aldo" kata Fabian.
"Bang itu terlalu cepat" kata Arini.
"Emang lama mau ngapain lagi sayang, kita udah saling mengenal lama bahkan sejak kecil" kata Fabian.
"Nanti deh abang cerita dulu sama papa bagaimana baiknya" kata Fabian.
"Memang kapan sih bang Deni rencana mau nikahnya?" Tanya Fabian.
"Kalau ga salah bulan depan deh bang" jawab Arini. Fabian hanya manggut-manggut saja.
💐 Kediaman Aldo
Sampailah mereka berdua di rumah Aldo untuk mengantarkan Arini pulang. Arini masuk ke dalam rumah dengan diikuti Fabian di belakangnya.
"Eh anak gadis mami udah pulang" sapa Fio melihat Arini dan Fabian melangkah mendekati Fio di ruang keluarga. Fabian mencium punggung tangan Aldo dan Fio, baru mereka duduk di sofa.
"Dari mana saja tadi?" Tanya Fio.
"Dari pantai mi" jawab Arini sambil tersenyum melirik Fabian.
__ADS_1