
"Abang turunin, Arini takut jatuh bang" kata Arini yang kaget karena suaminya tiba-tiba menggendongnya.
"Ga akan jatuh kalau sama abang" kata Fabian.
Arini diturunkan di dekat bathup kemudian Fabian mengisinya dengan air hangat buat mereka berdua berendam bersama.
Setelah selesai mandi yang pastinya dengan pergulatan waktu yang panjang, keduanya kini sudah memakai pakaian dengan rapi. Kemudian pasangan ini turun bersama menuju meja makan untuk sarapan bersama Leo dan Dewi.
"Selamat pagi sayang" sapa Dewi.
"Pagi ma, pa" sapa Fabian dan Arini bersamaan.
"Pagi nak" sapa Leo
"Kalian besok ya berangkatnya bulan madu?" Tanya Leo.
"Iya pah besok dan mungkin kami akan berangkat dari rumah mami sekalian ambil pakaian Arini" jawab Fabian sambil duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Arini.
"O gitu, ya gapapa bang. Mami pasti akan suka itu jika kalian menginap disana" kata Dewi yang tahu sifat sahabatnya itu yang sekarang menjadi mama mertua anak semata wayangnya.
"Iya ma, kami juga sudah janjian kalau mau tidur di rumah mami semalam sebelum kami berangkat bulan madu" kata Fabian.
"Iya sekarang kita makan dulu ya, ngobrolnya dilanjut nanti lagi" kata Dewi memotong obrolannya bersama anak dan menantunya. Karena mereka mau makan pagi dulu, dimana keluarga ini terbiasa tak ada percakapan ataupun suara jika saat sedang makan.
"Papa ke kantor dulu ya karena ada rapat, kamu istirahat aja ya bang di rumah nanti sore antar papa dan mama ke bandara" kata Leo setelah selesai sarapan dan mau langsung ke kantor.
"Siap pah, Bian cuti seminggu sampai minggu depan kok pah" jawab Fabian.
Leo menganggukkan kepalanya sambil menepuk punggung anak semata wayangnya, kemudian berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Setelah keberangkatan Leo ke kantor, Dewi, Fabian dan Arini duduk di teras belakang rumah menghadap taman sambil meneruskan obrolannya yang sempat tertunda karena sarapan tadi.
💐 Kediaman Aldo
"Kamu ga ada kuliah hari ini kan bang?" Tanya Aldo ke Arya.
"Nggak pi, kenapa?" Jawab Arya
"Ikut papi aja ke kantor sekalian nanti kita meeting" kata Aldo.
"Arya ganti baju dulu kalau begitu" jawab Arya.
"Iya papi tunggu jangan lama-lama" kata Aldo sang papi ganteng.
"Siap papi, Arya ga akan lama seperti Arini" kata Arya sambil terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Nanti meetingnya itu mami mesti datang kan pi?" Tanya Fio.
"Ga usah mi, kan mami sudah diwakilkan Arya dan asisten mami. Jadi mami di rumah aja ya tungguin papi datang" jawab Aldo.
"Ya sudah nanti mami masak aja deh buat Arini yang katanya sore nanti mau datang dan menginap di rumah" kata Fio.
"Iya itu lebih baik buat mami, tapi jangan kecapaian ya sayang" kata Aldo yang selalu menjaga agar istrinya tidak terlalu capek dengan urusan dapur yang sudah ada bagian memasaknya sendiri.
"Mami mah ga akan capek pi kalau masakin masakan kesukaan anak-anak dan papi" kata Fio sambil tersenyum.
Aldo tersenyum senang melihat istrinya bahagia. Aldo mencium pucuk kepala sang istri yang duduk disebelahnya sambil menunggu Arya dari mengganti bajunya.
"Ayo pi, Arya sudah siap" ajak Arya.
"Okey, papi berangkat dulu ya mi. Mami di rumah jangan terlalu capek" kata Aldo sambil mencium kening sang istri.
"Iya, hati-hati ya pi" jawab Fio sambil mencium punggung tangan sang suami.
Arya pun juga berpamitan dengan mencium punggung tangan maminya.
💐 Rumah sakit
Irfan pagi ini sudah sampai di kantornya di rumah sakit tempatnya praktek.
"Pagi dok" sapa dokter Desy yang bertemu di lobby rumah sakit.
"Ga mau naik ke atas dok?" Tanya dokter Desy yang mau menuju lift untuk ke atas.
"Silahkan dokter Desy duluan saja, saya mau menunggu seseorang" jawab dokter Irfan santai.
"Saya temani disini dok agar dokter tidak sendirian" kata dokter Desy yang tidak tahu malu.
"Terima kasih dok, tapi saya tidak perlu ditemani. Karena saya mau keluar dulu" jawab Irfan kemudian keluar dari lobby menuju parkiran mobilnya.
Irfan sengaja menunggu kedatangan Deni di dalam mobilnya untuk menghindari kedekatannya dengan dokter Desy. Irfan merasa risih dengan sikap Desy yang seolah mengejar cinta Irfan.
"Hai bang dokter, loe kenapa ga masuk ke dalam nungguin dokter Desy ya?" Sapa Deni yang melihat mobil Irfan dengan pintu yang terbuka sedikit yang membuatnya ingin mendatanginya.
"Hai sembarangan, kok gue ga lihat mobil loe sih" kata Itfan.
"Gimana mau lihat orang loe nya aja bersandar dengan mata terpejam. Yang ada mah ngebayangin Deby atau Desy" kata Deni bercanda.
"Harusnya sih Deby" jawab Irfan sambil menghela nafasnya.
"Kenapa pagi-pagi udah kelihatan suntuk, kurang tidur ya?" Tanya Deni.
__ADS_1
"Iya gue ga bisa tidur selama dua hari ini" jawab Irfan.
"Kenapa ga bisa tidur, apa Deby minta dinikahi secepatnya? Baguslah biar abang dokterku segera meninggalkan kesendiriannya" kata Deni menggoda Irfan.
"Ngapain Deby minta menikah cepat, emangnya takut keburu meletus balonnya apa" kata Irfan sambil terkekeh.
Keduanya berjalan beriringan menuju lobby rumah sakit.
"Yah siapa tahu abangku udah ga tahan" goda Deni.
"Sembarangan loe ya, gue ga pernah sentuh dia kecuali menggandeng tangannya aja" kata Irfan tak terima. Deni tertawa mendengar ucapan protesnya dari abang tercintanya.
"Arini kapan berangkat bulan madunya?" Tanya Irfan.
"Kalau ga salah sih besok dari rumah mami, sore ini mereka berdua tidur di rumah mami sih kata mami tadi memberi kabar ke gue" jawab Deni.
"Kenapa, loe masih belum bisa menerima pernikahan mereka?" Tanya Deni.
"Kalau gue ga ingat dia adik sepupu gue udah gue rebut dari tangan suaminya jauh sebelum mereka menikah" kata Irfan.
"Iklaskan bang, abang sudah ada Deby sekarang yang akan mendampingi abang nantinya" kata Deni.
Irfan membuang nafasnya berat sambil berjalan masuk ke dalam lift bersama Deni menuju ke lantai 5, karena ruangan mereka ada di lantai 5 dan bersebelahan. Sedangkan lantai 2 adalah ruang tempat mereka praktek yaitu poliklinik.
"Bagaimana dengan klinik loe Den, apakah semakin ramai?" Tanya Irfan mengalihkan pembicaraannya sendiri.
"Alhamdulilah makin ramai dan nanti rencananya kalau Miranda sudah lulus spesialisnya gue mau tempatkan Miranda di klinik gue walaupun jadwalnya mungkin hanya seminggu sekali" jawab Deni.
"Bagus dong, ntar gue kalau udah lulus juga akan kesana deh kalau jadwalnya gue ga ditambah papa" kata Irfan.
"Silahkan bang, dengan senang hati pasti gue akan menerima loe bang" kata Deni.
"Eh tunggu deh, sejak kapan loe panggil gue abang? Perasaan sejak dulu loe selalu panggil gue dengan nama aja deh, sekarang bisa-bisa loe langsung panggil gue abang" tanya Irfan membuat Deni terkekeh.
"Ya udah kalau ga mau dipanggil abang, berarti gue panggil loe adik aja ya" kata Deni.
"Dasar loe emang kurang kerjaan sih Den" kata Irfan sambil membuka pintu liftnya.
****
Berbeda jalan ini mengisahkan tentang perjalanan sepasang kekasih yang harus berpisah dan menerima pasangan yang baru karena suatu perbedaan keyakinan.
Apakah mereka dapat menerima dan bahagia dengan pasangan yang baru karena suatu perjodohan?
__ADS_1
Silahkan baca dan berikan komentar dan dukungan kalian pada author.
Jangan lupa masukkan dalam rak buku favoritmu ya gaes dan berikan jempolnya 👍😘