TERLANJUR MENCINTAI

TERLANJUR MENCINTAI
Eps 39. Abang hanya ragu dengan Faris


__ADS_3

"Benarkah, bukan alasan saja kan pinjam buku Arini" kata Fabian penuh penekanan.


"Abang nggak percaya dengan Arini, nih bukunya" Arini memberikan sebuah buku yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan.


Bian melihat ke buku yang disodorkan Arini padanya kemudian menatap Arini dalam. Bian mencium bibir Arini secara tiba-tiba membuat Arini kaget dan tak dapat menghindar.


"Ehmmm" Arini berusaha melepaskan ciuman Fabian, tapi Fabian memeluk erat Arini.


"Ini hukuman buat kekasih yang berani janjian dengan pemuda lain" kata Fabian setelah melepaskan ciumannya dengan tersenyum tipis.


Itu adalah ciuman pertama buat Arini. Karena sebelumnya Arini hanya sebatas pegangan tangan waktu masih pacaran dengan Faris.


"Abang apaan sih, sudah sana abang meeting dulu. Arini biar pulang saja naik ojol" kata Arini sambil cemberut.


"Mau abang cium lagi lebih lama atau mau lebih dari ciuman?" Tanya Fabian mengancam agar Arini tidak pulang.


"Maksud abang apaan sih, Arini kan hanya mengingatkan abang buat meeting dan Arini pulang biar tidak mengganggu bang Bian meeting" kata Arini yang ketakutan jika Bian melakukan aksinya kembali.


"Abang juga tidak terganggu adanya kamu dikantor ini walaupun abang sibuk meeting" kata Fabian.


"Abang jadi makin semangat kerja kalau ada kekasih disini sayang" kata Fabian sambil mendekati Arini lagi dengan menaikturunkan kedua alisnya.


Fabian tergoda untuk mencium bibir mungil Arini yang menuritnya masih kaku saat ciuman, walaupun Arini masih belum dapat membalas ciuman Fabian.


"Arini seandainya Faris masih mencintaimu, apakah kamu mau kembali padanya?" Tanya Fabian serius menatap Arini dengan perasaan kawatir.


"Bang kenapa bang Bian bertanya sama Arini seperti itu, apakah abang ragu dengan Arini?" Tanya balik Arini.


"Abang hanya ragu pada Faris yang masih mengharapkanmu kembali padanya" jawab Fabian.


Tok tok tok


"Masuk"


"Maaf mengganggu pak, klien sudah datang" kata Rudi.


"Abang tinggal meeting dulu ya sayang" kata Fabian kemudian mengecup kening Arini di depan Rudi.


"Iya bang, selamat bekerja ya. Arini akan tunggu disini" kata Arini membuat Fabian tersenyum kemudian berjalan keluar ruangan bersama Rudi.


"O iya sayang, nanti kalau kamu mau istirahat bisa di dalam kamar abang ya di sebelah sana pintunya dan bisa juga di balkon luar kalau mau santai disana" kata Evandro sebelum sampai di pintu keluar.

__ADS_1


"Okey bang, terima kasih nanti Arini akan istirahat kalau capek." Jawab Arini.


Sepeningalnya Fabian, Arini keluar menuju balkon dengan membawa ponselnya. Arini memberikan kabar ke maminya bahwa Arini akan pulang terlambat pulang karena masih di kantor Fabian dan Fabiannya masih ada meeting.


Tiba-tiba ponsel Arini bergetar tanda ada panggilan. Setelah dilihat dilayar ponselnya ternyata Deby yang menghubunginya.


"Halo Deb, tumben loe telp gue" kata Arini.


"Iya ga masalah kan, eh gue mau kepo loe janjian ma kak Faris di perpus tadi" kata Deby.


"Loe jangan bikin masalah ya, gue bukan janjian untuk kencan loh. Kebetulan aja gue juga mau pinjam buku dan kak Faris juga mau kembalikan buku ke perpuatakaan" kata Arini.


"Sepertinya kak Faris masih cinta ma loe Ar" kata Deby.


"Tidak perlu membahas itu lagi, nanti yang ada bikin salah paham sama yang lain" kata Arini.


Deby tertawa membuat Arini makin kesel sama Deby.


"Loe tadi pulang dijemput bang Irfan?" Tanya Arini mengalihkan pembicaraan.


"Iya tadi dijemput bang Irfan, tapi sekarang gue udah di rumah. Soalnya bang Irfan juga mau ke kantor" jawab Deby.


"Loe jangan lagi bawa nama kak Faris di depan bang Bian dong, abang jadi salah paham tuh sama Arini gara-gara loe ngomongin ke gue tentang kak Faris mantan gue dulu itu" protes Arini.


"Udah gue ga ada apa-apa dengan kak Faris. Kami hanya sebatas teman aja" kata Arini tegas.


"Loe sekarang dimana Ar?" Tanya Deby.


"Gue di kantor bang Bian" jawab Arini.


"Gue ganggu kebersamaan loe dong?" Tanya Deby.


"Bang Bian sedang meeting dan gue sendirian di ruangan bang Bian kok" jawab Arini.


"Ar loe tahu mantannya bang Irfan nggak?" Tanya Deby.


"Nggak, memangnya kenapa?" Jawab Arini.


"Nggak kenapa-kenapa, gue hanya ingin tahu aja. Pasti mantannya cantik deh, gue ga ada apa-apanya jika dibansingkan." Kata Deby.


"Loe juga cantik Deb, gue memang ga tahu mantan bang Irfan. Tapi gue percaya loe ga kalah cantik jika dibandingkan" kata Arini.

__ADS_1


"Setahu gue sih memang ada dokter cewek yang suka dengan bang Irfan, tapi bang Irfannya nggak suka" kata Arini membuat Deby lega.


"Jangan bilang loe udah mulai suka dengan bang Irfan ya" tebak Arini.


"Ah sok tahu loe Ar" kata Deby malu karena tebakan Arini tepat.


Arini tertawa lebar dan menggoda Deby.


Tak terasa Arini sudah menghabiskan waktu ngobrol denfan Deby melalui sambungan ponselnya sudah sejam lebih.


Fabian masuk ke ruangannya mencari Arini, tapi tak menemukannya. Kemudian Fabian melihat Arini berdiri di balkon sambil memegang ponselnya yang ditempelkan di telinga. Fabian berjalan pelan-pelan agar tak terdengar langkah kakinya oleh Arini hingga berdiri tepat dibelakang Arini.


Fabian mencium kepala Arini dari belakang, membuat Arini kaget.


"Eh abang, bikin kaget Arini aja" kata Arini yang didengar oleh Deby dari sebrang telpnya.


"Lagi asyik telp sama siapa sampai ga dengar abang datang?" Tanya Fabian sambil tersenyum.


"Eh Deb nanti disambung lagi ya, bay..." kata Arini kemudian mengakhiri panggilannya.


"Sama siapa tadi ngobrolnya?" Tanya Fabian lagi.


"Sama Deby" jawab Arini.


"Sama Deby saja atau ada Faris juga?" Tanya Fabian sambil melihat ke Arini.


"Abang sudah selesai meetingnya?" Tanya Arini.


"Sudah, kenapa ga dijawab pertanyaan abang" kata Fabian datar.


"Sudah Arini jawab dan ga ada ulangan lagi." Jawab Arini datar juga.


"Kamu ga lelah berdiri disini dari tadi?" Tanya Fabian.


"Capek iya, lelah iya. Tapi kan tadi Arini sudah janji nungguin bang Bian disini" jawab Arini.


"Ya sudah sekarang kita masuk ke ruangan abang ya" ajak Fabian


"Kalau lelah boleh kok istirahat di kamar abang, biar abang di sini aja lanjut kerja dulu, ya abang bangunin kalau abang sudah selesai sayang" kata Fabian.


"Arini duduk di sofa sini aja bang, abang lanjutin aja kerja dulu" kata Arini sambil duduk di sofa.

__ADS_1


"Ya sudah abang lanjut dulu ya kerja, kalau Arini ngantuk langsung aja masuk ke kamar ya sayang gapapa kok" kata Fabian karena melihat mata Arini seperti orang yang sudah mengantuk.


Arini menganggukkan kepalanya tanpa mengiyakan. Dan benar juga dugaan Fabian, tak lama Arini duduk di sofa dengan maaih memegang ponselnya, mata Arini sudah terpejam dengan kepala bersandar di sandaran sofa.


__ADS_2