TERLANJUR MENCINTAI

TERLANJUR MENCINTAI
Eps 60. Bergandengan seperti kereta


__ADS_3

๐Ÿ’ Mall


Arini dan Fabian jalan sore berdua di sebuah mall, Fabian memang sengaja meluangkan waktunya untuk jalan dengan Arini karena mulai minggu depan keduanya tidak diperbolehkan bertemu untuk sementara waktu, bahkan keluar rumah saja di larang. Istilah orang Jawa dipingit selama seminggu sampai akad nikah tiba.


"Bang bukannya cincin pernikahan kita sudah pesan ya waktu itu, mungkin sekarang sudah jadi loh" kata Arini.


"Iya biarkan saja, nanti kalau sudah jadi mereka pasti mereka akan menghubungi abang" kata Fabian.


"Terus sekarang kita mau ngapain?" Tanya Arini.


"Kita sekarang mau jalan aja sayang, kan mulai minggu depan kita sudah dilarang bertemu." Kata Fabian.


"Iya dulu bang Deni juga begitu sih, dilarang mami keluar. Bahkan kerja aja hanya bisa di rumah ga boleh keluar-keluar dan juga bertemu dengan kak Mira. Lagian itu kan hanya seminggu saja bang." Kata Arini.


"Faris masih sering nemui kamu?" Tanya Fabian.


"Maksudnya abang apa?" Tanya balik Arini yang bingung kenapa tiba-tiba Fabian menanyakan Faris.


"Tadi kamu bertemu dengan Faris kan?" Tanya Fabian.


"Oh iya kak Faris main kesini sama bang Arya, mereka berdua menanyakan tentang temannya cewek yang waktu itu deketin Arini saat Arini mau pulang" kata Arini.


"Teman cewek?ย  Pacarnya Faris maksudnya, deketin kamu dan dia narah sama kamu?" Tanya Fabian sambil mengkerutkan keningnya.


"Kak Mely itu memang suka sama kak Faris sejak dulu dan waktu itu dia salah paham dengan mengira Arini itu pacaran dengan kak Faris. Tapi Arini sudah bilang bahwa diantara kami tidak ada hubungan apa-apa. Bahkan Arini juga sudah punya tunangan" jawab Arini membuat Fabian senang karena secara tidak langsung Arini mengumumkan bahwa dirinya sudah mempunyai tunangan.


Semua itu membuat Fabian merasa berkurang kekawatirannya karena bisa membuat seorang pemuda yang akan mendekati Arini jadi berpikir dua kali. Bahwa Arini sudah terikat dengan seorang laki-laki dewasa yang akan menikahinya.


๐Ÿ’ Rumah Sakit


Deni dari pagi hingga siang ini sedang sibuk dengan beberapa pasien yang masih menunggu giliran untuk konsultasi.


Tok tok tok


"Ceklek" suster Susi membukakan pintu ruang praktek Deni.


"Maaf dok mengganggu, nanti makan siang saya tunggu di cafe bawah ya" kata dokter Desy.


"Maaf dok, saya tidak bisa karena pasien masih banyak dan saya ada janji juga dengan istri saya" kata Deni menolak ajakan Desy.


"Kalau begitu saya yang akan bawakan makan siang buat dokter Deni ke sini" kata dokter Desy.


"Maaf dok, saya masih banyak pasien jadi tolong dokter Desy keluar dulu kalau sudah tidak ada lagi hal yang penting." Kata dokter Deni kemudian memerintah suster Susi untuk memanggil pasien berikutnya.


"Suster tolong panggil pasien berikutnya" kata dokter Deni tanpa memperdulikan adanya dokter Desy di ruangannya.


"Baik dok" jawab suster Susi yang juga kurang suka dengan dokter Desy.


Dokter Desy masih belum beranjak pergi dari ruangan dokter Deni.

__ADS_1


"Silahkan duduk bu, keluhan apa yang sedang ibu rasakan sekarang?" Tanya dokter Deni ke pasiennya seorang ibu muda sepantaran dengan usia Deni.


Dokter Desy memandang pasien Deni seperti orang cemburu.


"Maaf dokter Desy, saya sedang ada pasien. Jadi tolong dokter keluar dulu" kata dokter Deni santai membuat dokter Desy kesal merasa diusir.


Kemudian dokter Desy keluar dari ruangan dokter Deni membuat suster Susi menahan tertawa.


"Keluar kok nunggu diusir" gumam Susi yang juga di dengar Deni dan pasiennya.


Deni mendengarkan keluhan pasiennya, kemudian memeriksanya tanpa menjawab gumaman suster Susi. Walaupun Deni sendiri juga menahan tertawa seperti Susi melihat Desy yang keluarnya menunggu diusir.


"Dok, kenapa lama-lama dokter Desy tidak punya malu ya" kata Susi setelah pasien terakhirnya sudah keluar dari ruang periksa dokter Deni.


"Biarkan saja, habis kamu ga ngusir-ngusir sih Sus" kata Deni membuat Susi tertawa.


Tok tok tok


"Masuk" kata Deni


"Ceklek"


Deni melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu ruangannya yang ternyata sang istri.


"Sayang, kok kamu yang kesini? Kan abang nanti mau jemput ke kantormu" Sapa Deni melihat istrinya datang. Deni kemudian berdiri menyambut istrinya. Miranda yersenyum ke sang suami kemudian tersenyum ke suster Susi yang menyuruhnya duduk.


"Silahkan duduk dok, maaf saya keluar dulu takut mengganggu" kata suster Susi.


"Iya dok, Susi tahu diri kok sama pengantin baru" kata Susi.


Miranda hanya tersenyum melihat suaminya dengan suster Susi bercanda.


"Kenapa kamu ga bilang ke abang dulu sayang kalau mau kesini?" Tanya Deni.


"Iya tadi kan Mira habis meeting di cafe deket sini bang. Ya sudah sekalian saja Mira mampir dari pada abang ke kantor Mira jauh" kata Miranda.


"Kamu udah lama tadi nungguin abang ya?" Tanya Deni.


"Nggak kok, waktu Mira datang kebetulan suster Susi habis memanggil pasien terakhir abang. Jadi Mira hanya menunggu satu pasien aja" jawab Miranda.


"Kok suster Susi ga cerita ada kamu di luar?" Tanya Deni.


"Ya suster Susi kan ga lihat Mira bang, abang sekarang ini sudah selesai praktek?" Tanya Miranda.


"Iya sudah, yuk kamu ke ruangan abang dulu di atas sayang" ajak Deni sambil merangkul istrinya sambil mencium pucuk kepalanya.


"Ceklek" pintu terbuka dan dokter Desy langsung masuk ke ruangan prakter dokter Deni.


"Ah maaf mengganggu, dok disini bukan tempat pacaran" kata dokter Desy menegur dokter Deni.

__ADS_1


"Terima kasih dokter Desy sudah mengingatkan saya, tapi kebetulan saya disini juga tidak sedang pacaran. Saya akan mengajak istri saya keluar dan saya hanya mencium rambut istri saya yang selalu harum" jawab Deni sambil memeluk pinggang istrinya membuat Desy diam saja sambil matanya melihat Miranda dati atas sampai ke bawah.


Deni kemudian berjalan dengan memeluk pinggang sang istri untuk keluar dari ruang prakteknya.


"Ayo sayang kita ke ruangan abang saja diatas" ajak Deni.


"Wah pengantin baru selalu saja bergandengan seperti kereta aja. Tapi baguslah biar ga ada pelakor dok" kata Susi membuat Miranda dan Deni tersenyum.


"Mau ikut suster?" Tawar Miranda.


"Terima kasih dok, nanti saya jadi obat nyamuk kalau ikut" jawab Susi membuat beberapa suster disitu ikut tertawa.


๐Ÿ’ Kampus


Pagi ini Arini seperti biasa diantar Fabian ke kampusnya. Sedangkan Guntur dan Tata sudah berada di parkiran kampus Arini.


"Bang nanti Arini langsung pulang ya, ga perlu mampir ke kantor abang kan?" Tanya Arini.


"Kamu ga mau kita makan siang bersama sayang?" Tanya Fabian.


"Memang abang ga ada meeting siang nanti?" Tanya Arini.


"Kebetulan tidak ada, meetingnya masih nanti setelah jam makan siang sayang" jawab Fabian.


"Ya sudah berarti nanti Arini ke kantor abang atau mau langsung ketemuan aja dimana abang mau ajak Arini makan siang" kata Arini.


"Iya kamu diantar Guntur sama Tata saja nanti ya sayang, kita nanti ketemuan di restoran" kata Fabian sambil mematap ke Arini.


"Iya nanti abang kasih tahu Guntur ya bang mau ketemuan dimana" kata Arini kemudian keluar dari mobil Fabian.


"Hai Ar, loe diantar siapa? Boleh kenalin ke kami?" Tanya beberapa teman kuliah cewek Arini.


"Hehehe kalian kenalan sendiri aja, gue mau masuk ke kelas" jawab Arini sambil jalan dan tertawa kecil.


*****



Sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi ada suatu perbedaan keyakinan yang mengharuskan mereka mengakhiri hubungannya sebagai kekasih.


Dimana keduanya harus dapat menerima perjodohan dari orang tua mereka masing-masing dengan orang lain.


Lukas dijodohkan dengan mantan kekasihnya oleh sang mami, sedangkan Aira dengan orang yang dianggapnya sebagai abang.


Apakah keduanya akan bahagia dengan pasangan masing-masing?


Jangan lupa memberikan Like, komen, vote setelah membaca.


Dan masukkanlah kedalam daftar rak buku favoritmu ๐Ÿงก

__ADS_1


Terima kasih banyak ya gaes sudah meluangkan waktunya untuk setia membaca dan mengikuti karya Diyah ๐Ÿ˜˜ ๐Ÿ™


__ADS_2