
Peter menganggukkan kepalanya sambil menatap kepergian sang mantan kekasih yang masih dicintainya.
"Maafkan aku Mira yang telah salah melepaskanmu saat itu" batin Peter merasakan kecewa telah melepaskan seorang Miranda hanya karena nafsu belaka yang membuatnya sakit hati.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan suaminya Miranda, tapi dimana ya?" Gumam Peter pelan sambil mengingat kapan dirinya bertemu dengan Deni.
"Apakah suami Miranda juga seorang dokter?" tanya batinnya Peter menebak.
"Kamu ga mau belanja baju yang lain sayang?" Tanya Deni sambil menunjuk rak baju yang untuk perempuan.
"Mira ingin segera keluar dari sini dan kita ke toko di lantai atas saja bang" jawab Miranda.
"Apakah kamu menghindarinya?" Tanya Deni menatap sang istri dalam.
"Kita bayar kaos ini dulu saja, Mira memang ingin ke lantai atas bang" jawab Miranda berusaha santai.
Sakit hati yang pernah ditorehkan Peter di masa lalu kembali muncul dalam ingatannya. Dimana Peter selingkuh dengan sahabat Miranda hingga perempuan itu hamil walaupun itu entah anak Peter ataukah anak pria lain. Akan tetapi perempuan itu meminta pertanggungjawaban pada Peter. Hingga akhirnya Miranda memutuskan hubungannya dengan Peter.
Deni menggandeng jemari tangan Miranda kemudian jalan menuju ke lantai atas setelah membayar di kasir.
Miranda dan Deni saling diam tanpa ada yang mengeluarkan suaranya hingga sampai di toko pakaian yang dimaksudkan Miranda.
Deni berjalan mengikuti kemana kaki sang istri melangkah. Sejak pertemuannya dengan Peter, Miranda jadi kehilangan selera untuk jalan-jalan.
"Kita pulang aja yuk bang, Mira udah capek" ajak Miranda tiba-tiba.
"Kenapa minta pulang, apakah moodmu hilang setelah bertemu mantan karena ada abang?" Tanya Deni datar, ada rasa cemburu di hati Deni.
"Capek sudah bang, Mira hanya ingin makan sate ayam aja" jawab Miranda yang tiba-tiba ingin makan sate.
"Kamu tadi mau beli baju kan, sekarang kamu beli dulu baju yang kamu inginkan baru kita makan sate" kata Deni mengambil jalan tengahnya.
"Nggak ah, Mira ga lagi tertarik beli baju" jawab Miranda sambil menggandeng jemari tangan sang suami dan mengajaknya keluar dari toko pakaian tersebut.
Deni mengalah dari pada harus berdebat ditempat umum, melihat raut muka sang istri yang sudah tak enak dipandang mata.
💐 Kedai sate
Setelah memesan sate, Miranda duduk bersebelahan dengan sang suami. Dan Deni langsung pesan sate 2 porsi. Sambil menunggu pesanan datang, Deni menanyakan sesuatu pada sang istri.
"Berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Peter?" Tanya Deni datar.
Miranda menatap sang suami yang begitu datar tidak seperti biasanya yang lembut.
"Kami pacaran 2 tahun dan Mira yang meminta putus karena dia selingkuh dengan perempuan lain." Jawab Miranda pelan.
"Apakah kamu masih mencintainya?" Tanya Deni.
Miranda menggelengkan kepalanya tanda tidak.
"Tapi dia sepertinya masih mencintaimu" kata Deni lagi.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu putus dengannya?" Tanya Deni lagi.
"Setahun lalu" jawab Miranda singkat.
"Maaf kak, ini pesanannya" kata pelayan di kedai sate itu.
"Terima kasih" jawab Miranda.
Deni tidak lagi banyak bertanya, lebih banyak diam dan langsung menyantap makanannya.
"Abang kenapa sih, ga seperti biasanya. Apa abang marah karena aku bertemu dengan Peter ya" batin Miranda.
"Abang sakit?" Tanya Miranda.
"Nggak, apakah kamu masih mau ke tempat yang lain?" jawab Deni kemudian menanyakan keinginan sanv istri. Miranda menggelengkan kepalanya kemudian diam dan membuka ponselnya.
"Kamu ga makan?" Tanya Deni menatap sang istri yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Iya makan" jawab Miranda pelan.
"Terus kenapa makanannya ga disentuh? Apakah dengan menyibukkan bermain ponsel kamu kenyang?" Tanya Deni dingin namun memperhatikan gerak gerik sang istri.
Miranda meletakkan ponselnya, kemudian memakan satenya hingga habis.
Deni hanya diam melihat sang istri yang makan sate dengan muka ditekuk tanpa adanya senyum yang bisa menghiasi bibir mungilnya.
"Sekarang kita pulang?" Tanya Deni setelah di dalam mobil.
"Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Deni lembut sambil tangan kirinya menggenggam jemafi tangan sang istri.
Miranda hanya diam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobilnya dengan mata terpejam.
"Masa lalu tak perlu lagi diingat, sekarang sudah ada abang yang akan selalu ada buatmu" kata Deni lembut.
Mira membuka matanya menatap sang suami dalam.
"Kenapa memandang abang, ganteng ya" canda Deni.
"Idih narsis. Tumben abang bisa bercanda begitu" kata Miranda sambil tersenyum.
"Bisa dong" jawab Deni sambil tertawa. Hatinya senang melihat sang isyri bisa kembali tersenyum.
"Kamu suka abang yang diem atau narsis?" Tanya Deni.
"Ga keduanya" jawab Mira cepat.
"Loh terus gimana dong, kan pilihannya hanya dua" kata Deni.
"Pilihan ketiga kan tidak keduanya" jawab Miranda sambil terkekeh.
"Sekarang kita tidur, ini sudah malam dan besok kita kembali bekerja" kata Deni sambil menepuk kasut disebelahnya agar Miranda segera naik ke atas ranjang mereka.
__ADS_1
Kedua tertidur dengan saling memeluk satu dengan yang lain setelah melakukan pergumulan panasnya.
Pagi ini keduanya kembali bekerja seperti biasa, berbeda dengan pengantin baru yang masih harus mempersiapkan bekalnha untuk dibawa pada saat bulan madu esok hari.
💐 Kediaman Leo
"Pagi sayang, kok udah nagun sih?" Tanya Dewi pada sang menantu yang sudah berada di dapur.
"Pagi ma, iya mama juga sudah bangun" jawab Arini denhan tersenyum.
"Bikin spageti bologneis ma, mama mau dimasakin apa?" Tanya Arini.
"Terima kasih sayang, hmm baunya sedap sekali" kata mama Dewi.
"Nanti mama cicip ya masakan Arini, kira-kira kurang apa" kata Arini.
"Pasti enak deh, mami kamu aja juga pandai masak kok" kata Dewi sambil tersenyum.
"Mama bisa aja, kalau mami kan memang pandai masak ma jadi berbeda dengan Arini yang jarang masak" kata Arini.
"Tapi mama percaya masakanmu pasti enak dari bau aja udah membuat mama lapar ini" katamama Dewi sambil menvelus bahu sang menantu. Arini hanya tersenyum dengan pujian sang mama mertua.
"Kalau begitu mama naik dulu mau bangunin papa dan kamu bangunin Bian ya sayang biar kita sarapan bersama" kata Dewi pada Arini.
"Iya ma, Arini sebentar lagi selesai dan akan banguni bang Bian" jawab Arini sambil memindahkan spagetinya ke tempat piring besar untuk dihidangkan di meja makan.
"Abang bangun bang, udah siang loh. Kita ditunggu mama dan papa untuk sarapan" kata Arini membangunkan sang suami.
"Hmm" jawab Fabian sambil membuka matanya
"Kamu udah mandi sayang?" Tanya Fabian dengan suara masih serak karena baru bangun tidur.
"Belum, ini baru mau mandi. Abang mau mandi duluan?" Tanya Arini.
"Ga, abang maunya kita mandi bareng" jawab Fabian sambil tersenyum.
"Abang mandi aja duluan sana, biar Arini beresin kamar dulu" kata Arini menahan malu jika harus mandi bersama sang suami.
"Kamu malu ya kalau mandi bareng abang, kan abang juga sudah lihat semua sayang." Kata Fabian yang sudah duduk di pinggiran kasur.
"Kita mandi aja bareng biar waktunya lebih cepat, katanya sudah ditunggu mama dan papa" kata Fabian lagi yang sudah berdiri di belakang sang istri. Kemudian menggendong istrinya untuk di bawa ke dalam kamar mandi.
****
Berbeda Jalan ini menceritakan kisah kasih pasangan yang berbeda agama, dimana keduanya mengharuskan untuk saling melepaskan cintanya dan menerima cinta yang baru.
Apakah keduanya dapat saling melepaskan cinta mereka dan menerima cinta yang baru yang sudah menjadi pasangan hidupnya secara sah?
Bacalah kisah mereka dan berikan komentar dan masukan buat author.
__ADS_1
Terima kasih sudah setia mengikuti novel author, maaf jika akhir-akhir ini updatenya selalu terlambat