
Raka mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Deni.
"Kenapa ga direstui, memang siapa gadis itu?" Tanya Raka penasaran.
"Maaf ya om ini hanya perkiraan Deni, karena Irfan ga bilang siapa nama gadis itu. Dan perkiraan Deni gadis itu adalah Arini" jawab Deni.
"Arini... bukannya mereka sepupuan, temannya Arini kali Den" kata Raka kaget sekaligus kurang percaya dengan tebakan Deni.
"Iya om dan Irfan juga kelihatan sih kalau ketemu dengan Fabian selalu tatapannya tajam. Karena Fabian juga mencintai Arini dan sepertinya mereka antara Fabian dan Arini sudah jadian sekarang" kata Deni.
"Tok tok tok"
"Iya masuk"
"Eh maaf dok mengganggu, mau memberikan file pasien dok" kata suster Susi.
"Iya letakkan saja di meja sini dulu sus" jawab Deni. Dan Raka melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya sudah Den, nanti saja om lanjut nanya ke kamu setelah kamu ada waktu" kata Raka.
"Baik om, nanti saja setelah Deni menganyar Mira ke kampus akan Deni usahakan ke sini lagi om" jawab Deni.
"Okey, om tunggu ya. Selamat berkerja boy" kata Raka sambil menepuk pundak Deni sang keponakan.
Raka keluar dari ruangan praktek Deni dan kembali ke ruangannya untuk melihat jadwalnya hari ini. Sedang Deni, sepeninggal Raka dari ruangannya sudah disibukkan dengan pasiennya.
Raka masih memikirkan perkataan Deni yang mengatakan jika Irfan menyukai Arini.
"Bukannya mereka memang hubungannya dekat dan sering bergi berdua" gumam Raka di dalam ruangannya sendiri.
"Pergi berdua... apakah itu sengaja dilakukan Irfan untuk mendekati Arini?" Gumam Raka sambil berpikir jauh.
__ADS_1
"Tapi sudahlah, gue juga memang ga akan merestui kalau Irfan dengan Arini. Apalagi kalau memang Arini sudah jadian dengan Fabian ya itu lebih bagus" kata Deni bicara sendiri.
"Yah semoga saja Irfan berjodoh dengan Deby, dia anaknya baik dan tidak macam-macam" kata Raka mengingat bagaimana sikap Deby saat mereka berkenalan dulu.
Setelah pasien Deni habis, walaupun jam belum menunjukkan di jam 11 siang dimana akhir jam praktek seorang dokter Deni. Deni membereskan meja prakteknya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Masih ada sisa waktu 20 menit lagi" batin Deni kemudian mengeluarkan ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk atau tidak.
"Susi apakah masih ada pasien saya lagi?" Tanya Deni ke suster susi.
"Sudah tidak ada dok, tapi coba saya tanyakan dulu ke meja bagian depan yang dari pendaftaran." jawab suster Susi.
Deni melihat ada notifikasi masuk ke ponselnya dari group keluarga yang menanyakan apakah papi ada waktu di hari minggu, karena keluarga Leo mau mengadakan lamaran Fabian ke Arini.
Deni kaget membaca pesan masuk dari sang mami. Dan papinya menjawab dengan okey tanda setuju.
"Secepat itu Fabian berani melamar Arini, wah gercep juga itu anak." Batin Deni sambil tersenyum sendiri. Sedangkan dirinya saja kalau ga dipaksa kedua orang tuanya belum tentu sudah melamar Miranda hingga sekarang.
Aldo bangga anaknya bisa membeli rumah sendiri tanpa bantuan dana dari kedua orang tuanya atau dari eyang dan opanya walaupun memang bukan rumah mewah dan besar, tapi sudah bagus bisa menabung sendiri untuk masa depannya sendiri seperti ditinya dulu saat membeli rumah yang sampai sekarang masih ditempatinya adalah dari hasil kerja kerasnya mengumpulkan pundi-pundi dari kantor dan cafenya.
Deni dapat memberikan contoh untuk kedua adeknya, terutama untuk Arya yang diharapkan juga nantinya bisa mandiri tanpa harus meminta bantuan dana dari orang tua mereka yaitu Aldo dan Fio. Bukan Aldo tidak mau membelikan, tetapi lebih mendidik anak-anaknya agar bisa mendapatkan hasil yang bagus dan mau bekerja keras untuk meraih mimpinya.
"Sayang, nanti kalau kita sudah menikah kamu ga masalah kan jika harus tinggal di rumahku yang mungkin tidak sebesar rumahmu saat ini?" Tanya Deni ke Miranda saat di dalam mobil untuk mengantar Miranda ke kampus, setelah makan siang.
"Iya yank, Mira gimana aja bang. Memang kenapa abang beli rumah tidak sekalian cari yang agak luas?" Jawab Mira dengan bertanya kembali.
"Ya karena uang abang hanya cukppnya dengan harga segitu sayang, karena abang belinya di dekat kantormu. Kan di dekat kantormu daerah agak di tengah kota, jadi harganya sudah mahal" jawab Deni.
"Ya ampun bang, kenapa abang ga beli di dekat rumah Mira aja kan lebih murah harganya, bisa dapat lebih luas bang" kata Miranda.
"Gapapa, memang niatnya abang biar nantinya kamu dekat kalau mau ke kantor, biar tidak terlalu macet sekali." Jawab Deni sambil tersenyum sesekali memandang ke arah Miranda.
__ADS_1
"Terima kasih ya bang, sudah mau memikirkan Mira" kata Miranda menggenggam jemari Deni.
"Iya sama-sama sayang, kita sama-sama belajar untuk saling mencintai, menghargai dan percaya hingga kedepannya. Agar bubungan diantara kita bisa langgeng hingga maut memisahkan kita." Jawab Deni. Ada rasa senang dan sedih di hati Miranda. Senang karena mendapatkan Deni yang bisa mengerti Miranda dan sedih karena belum bisa memberikan cintanya ke Deni secara sempurna. Walaupun sudah mulai ada benih cinta di hati Miranda karena kesabaran dan pengertian Deni.
Deni memang sudah mulai tumbuh rasa cintanya ke Miranda sejak beberapa kali mereka jalan bersama, sedangkan Mira baru ada cinta ke Deni karena dengan perhatian dan kesabaran yang Deni berikan. Yah Deni belajar mencintai, menerima dari melihat keharmonisan kedua orang tuanya, dari cerita papinya bagaimana beliau berjuang untuk mencintai dan membuat maminya mencintai papinya.
Setelah Deni mengantarkan Miranda ke kampusnya, langsung kembali menuju ke kantornya untuk menemui Raka kembali, sesuai janjinya tadi pagi.
"Maaf dokter Hendra, apakah dokter Raka ada?" Tanya Deni ke asistennya Raka.
"Ada dokter Deni silahkan langsung masuk saja, beliau sudah menunggu" kata Hendra sang asisten Raka.
"Tok tok tok"
"Masuk" suara dari dalam.
"Siang om" sapa Deni sambil mencium punggung tangannya Raka.
"Siang Den, mau sambil ngobrol aja di cafe bawah gimana" ajak Raka.
"Baik om, gimana enaknya om Raka aja" kata Deni.
"Kita di cafe aja yuk" ajak Raka kemudian keluar dari ruangannya bersama Deni.
"Dra, saya keluar dulu sama Deni ya. Nanti kakau ada yang nyari bilang saya sibuk" kata Raka ke asistennya.
"Baik dok" jawab dokter Hendra.
Raka dan Deni berjalan bersebelahan menuju ke lantai bawah untuk cafe. Cafe yang buka di rumah sakit ini merupakan cabang alfi cafe yang dikelola oleh Arya dan Arini.
"Mau pesan apa Den?" Tanya Raka setelah mereka duduk di salah satu bangku yang berada sudut cafe. Raka memanggil pelayan kemudian memesan menu minuman.
__ADS_1