Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Keras Kepala


__ADS_3

Pagi hari. Di sebuah Mansion yang nampak menyeramkan dari luar. Seorang wanita tengah memaksa untuk masuk ke Mansion itu.


"Aku hanya ingin bertemu sama Tuan kalian! Bukannya mau berbuat jahat!!" ujar wanita itu memaksa untuk masuk ke Mansion.


"Maaf Nona, tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan Tuan kami! Sebaiknya Nona pergi dari sini sebelum kami berbuat kasar!" usir pria dengan wajah menyeramkan itu dengan tegas ke wanita yang memaksa masuk.


"Kalian beritahu saja nama aku Bricia!!" tegas wanita yang mencoba menerobos masuk itu ke orang-orang yang bertubuh besar yang menghalanginya.


Pria yang menghalangi Bricia itu pun melirik teman satunya menyuruhnya masuk untuk melapor.


Pria yang dilirik itupun mengangguk mengerti, lalu langsung pergi ka dalam untuk melaporkan hal ini ke Tuan mereka.


Tok tok tok.


"Masuk" ucap seseorang yang ada di dalam ruangan.


Ceklek.


"Permisi King, maaf mengganggu. Tapi, di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan King namanya adalah Bricia King" ujar pria itu dengan menunduk hormat di hadapan seseorang yang di panggilnya King.


"Bricia? Siapa?" gumam pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya yang di panggil King itu dengan mengernyitkan dahinya karena seingatnya ia tidak pernah bertemu dengan wanita yang bernama Bricia.


"Saya juga tidak tau King" jawab bawahannya itu saat mendengar gumaman Tuannya.


"Kenapa dia ingin menemui saya?" tanya pria itu yang ternyata adalah Renald dengan mengernyitkan dahinya menatap bawahannya itu.


"Saya juga tidak tau King. Tapi, dia keras kepala ingin bertemu dengan King" jawab bawahannya itu lagi.


"Suruh masuk saja di ruangan biasa!" perintah Renald dengan tegasnya.


"Baik King." Pria itu pun pergi kembali ke luar untuk menyampaikan perintah dari Tuannya itu.


Di luar.


Wanita bernama Bricia serta para bawahan itu pun menoleh ke arah pria yang baru saja datang dari melapor ke Renald.


"Bagaimana?" tanya Bricia penuh harap.


"Tuan mengizinkan Nona untuk masuk, mari" ujar pria itu mempersilahkan Bricia untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Setelah sampai di salah satu ruangan yang Tuannya katakan, pria itu pun mengetuk ruangan itu terlebih dahulu.


"Masuk" suara Renald pun terdengar dari dalam ruangan.


Pria itu membuka pintunya lalu mempersilahkan untuk Bricia masuk ke dalam, "Silahkan Nona masuk, Tuan sudah menunggu anda di dalam" ujar pria itu.


Bricia mengangguk paham. Bricia pun masuk ke dalam ruangan itu untuk menemui Renald.


"Siapa kamu? Kenapa mau menemui saya?" tanya Renald langsung tanpa basa-basi saat melihat Bricia masuk.


"Jangan bilang kamu nggak ingat sama aku lagi?" tanya Bricia memastikan sembari duduk di depan Renald.


Renald mengernyitkan alisnya mendengar ucapan dari wanita di depannya ini.


"Memangnya saya pernah ketemu dengan anda?" tanya Renald heran. "Tapi, tidak usah basa-basi langsung katakan saja apa yang ingin anda katakan kenapa menemui saya? Dan darimana juga anda tau Mansion saya ini?!" tanya Renald dengan terapan tajam serta seriusnya ke arah Bricia.


Bricia menghela nafasnya mendengar Renald tidak mengenalinya lagi. Padahal mereka sudah dua kali bertemu sebelumnya, yah walaupun sebelumnya itu memang Bricia yang sengaja ingin bertemu dengan Renald karena tugas yang diberikan kepadanya.


"Tujuan saya ada dua kesini" ujar Bricia dengan wajah seriusnya kali ini.


"Hmm?"


"Oh maksud kamu, kamu adalah salah satu anak dari orang tua yang selamat dari kejadian di hutan kemarin?" tanya Renald memastikan.


Bricia mengangguk, "Yah, saya salah satu anak dari orang tua yang berhasil selamat karena Tuan, jadi saya kesini ingin berterimakasih kepada Tuan karena sudah membantu menyelamatkan orang tua saya dari tempat terkutuk itu."


"Nona tidak perlu berterimakasih ini sudah tugas saya. Jadi sekarang Nona sudah bisa kembali menjaga orang tua Nona dengan baik" ujar Renald mengusir Bricia secara halus.


Bricia menggeleng, "Bukan hanya itu yang ingin saya katakan, saya juga ingin mengajak Tuan Renald untuk menikah dengan saya" ujar Bricia dengan mantap sembari menatap serius Renald.


"A...apa!" Renald tercengang kaget mendengar perkataan wanita di depannya ini.


"Sebagai tanda terimakasih saya, saya ingin menyerahkan diri saya untuk melayani Tuan Renald sebagai istri Tuan" ujar Bricia kembali dengan wajah seriusnya.


Renald menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita di depannya ini, sungguh mengejutkan untuk dirinya.


"Ekhem, Nona tidak perlu seperti itu, saya juga sudah menerima terimakasih dari Nona. Jadi, sebagai balasannya juga Nona bisa menjaga orang tua Nona Bricia dengan baik saja tidak perlu seperti ini" ujar Renald dengan suara pelannya dan perasaan canggungnya.


"Kalau Tuan Renald tidak ingin saya menjadi istri Tuan, saya bisa menjadi pelayan Tuan saja, Tuan bisa memotong gaji saya setengah perbulannya" ujar Bricia masih dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Renald sekali lagi dibuat tercengang dengan perkataan wanita di depannya ini.


Renald menggelengkan kan kepalanya lagi. "Tidak perlu seperti ini, Nona layak bekerja diluar sana dengan pekerjaan yang lebih layak lagi" ujar Renald menolak permintaan wanita itu.


"Kenapa Tuan berkata seperti itu? Apa pekerjaaan pelayan tidak layak? Menurut saya bagaimanapun itu pekerjaannya sama saja yang penting halal kan" ujar Bricia kembali dengan keras kepalanya.


Renald menghela nafasnya mendengar wanita didepannya yang sungguh keras kepala.


"Tapi saya tidak sedang butuh pelayan saat ini!!" tegas Renald karena capek meladeni wanita di depannya saat ini.


"Kalau begitu Tuan belum punya pasangan apalagi istri kan? Berarti posisi itu masih dibutuhkan sekarang?" tanya Bricia dengan wajah polosnya.


Renald menatap aneh dan sedikit kesal wanita di depannya yang menurutnya cerewet, banyak tanya dan keras kepala.


"Saya tidak butuh ok. Jadi, Nona bisa keluar sekarang sebelum saya menyuruh anak buah saya untuk mengusir Nona!!" ujar Renald dengan tegasnya.


'Huh, aku pikir ada sesuatu yang penting ternyata hanya seperti ini!' batin Renald dengan sedikit kesalnya.


"Tapi, Tuan saya beneran saya bisa menjadi pelayan anda, saya bisa segala macam pekerjaan rumah" bujuk Bricia kembali lagi.


"Kenapa kamu keras kepala sekali mau jadi pelayan saya? Saya kan sudah bilang saya tidak butuh!!" tanya Renald dengan herannya. Karena ia juga baru bertemu wanita keras kepala seperti ini.


"Maaf kalau saya terkesan memaksa Tuan. Tapi, saya benar-benar ingin membalas kebaikan dari Tuan Renald. Saya tidak ingin berhutang budi" ujar Bricia.


"Terserah kamu lah!!" ujar Renald pasrah. "Tapi hanya selama satu bulan saja, tidak lebih!!!" tegas Renald.


"Tidak apa, makasih Tuan Renald" ucap Bricia dengan wajah senangnya, saking senangnya ia sampai-sampai menggenggam tangan Renald tanpa izin.


"Lepas" ucap Renald dengan dingin saat tangannya di pegang.


"Eh, maaf" Bricia langsung melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Renald tadi. "Terimakasih sekali lagi Tuan" lanjut Bricia dengan senyum senangnya.


Renald malah heran melihat wanita di depannya ini, baru dia lihat ada wanita yang disuruh jadi pelayan malah senang banget, padahal wanita di depannya ini masih cukup muda untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak menurutnya di luar sana.


******


Di tempat lain. Seorang pria paruh baya tengah menatap sebuah hutan dari kejauhan dengan wajahnya yang merah padam.


"Aku pasti akan membalaskan kalian semua, tunggu saja!!" ucap pria paruh baya itu dengan kepalan tangannya serta menatap tajam sebuah hutan dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2