Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Tak terasa sudah beberapa bulan waktu terlewati dari kejadian besar beberapa bulan lalu.


Pagi hari


Di sebuah Mansion tepatnya di sebuah kamar di dalam Mansion itu, seorang wanita baru saja bangun dari tidurnya, tapi tidak seperti biasanya, wanita itu saat baru terbangun langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamar megah itu.


"Hoek hoek hoek" wanita itu muntah-muntah, dan rasanya perutnya sangat tidak enak sekali.


"Sayang kamu kenapa?" tanya seorang pria dengan raut wajah khawatirnya, saat masih menutup matanya ia mendengar suara istrinya yang berlari dan muntah-muntah. Pria itu adalah Andrew, ia yang mendengar suara istrinya langsung ikut bangun dan lari menyusul istrinya ke kamar mandi.


Aidah mengangguk, "Hah hah Aidah juga tidak tau Mas, perut Aidah tidak enak dan mau muntah-muntah terus" ujar Aidah dengan suara pelannya dan menyandarkan dirinya di tembok sembari mengatur nafasnya. Tapi, itu tak lama Aidah kembali muntah-muntah dan anehnya hanya cairan yang keluar.


Andrew sangat khawatir melihat istrinya muntah-muntah dan lemas seperti itu, ia membantu memijat punggung leher istrinya.


"Sayang kita ke rumah sakit yah?" ujar Andrew dengan nada khawatirnya.


Aidah menggeleng, "Nggak usah Mas, mungkin ini hanya karena asam lambung saja" ujar Aidah menolak dengan suara pelannya.


Andrew menggeleng mendengar perkataan istrinya yang menolak. "Walaupun itu asam lambung, atau apa tetap saja kamu harus di periksa sayang. Mas khawatir sama kamu, mau yah" bujuk Andrew karena tidak tenang jika belum tau istrinya kenapa, tetap saja Andrew akan merasa khawatir terus.


"Hah, baik- hoek hoek" belum sempat Aidah selesai bicara, ia langsung muntah lagi dan hanya cairan yang keluar bukannya makanan yang telah di makannya sebelumnya.


Andrew membantu memijat leher istrinya itu dengan rasa khawatirnya.


"Mas, sebaiknya Mas tunggu di luar saja" ujar Aidah setelah selesai muntah dengan badannya yang terasa lemas.


"Loh kenapa? Mas mau di sini, lihat kamu udah lemas gitu. Bagaimana masih mau muntah lagi?" tanya Andrew khawatir.


Aidah menggeleng, "Hah sepertinya sudah tidak Mas" ujar Aidah dengan nada lemasnya.


Andrew sedikit bernafas lega mendengar perkataan istrinya. Andrew pun langsung membersihkan bekas muntahan istrinya.


"Loh Mas, tidak perlu biar Aidah saja" Aidah yang melihat suaminya ingin membersihkan bekas muntahannya, langsung menahan suaminya.


"Tidak usah sayang, kamu istirahat saja dulu, tuh lihat kamu udah lemas gitu" Andrew memindahkan tangan istrinya yang menghalanginya itu dengan lembut, lalu membersihkan bekas itu.


Entahlah melihat hal ini, membuat Aidah tersentuh.


"Mas nggak jijik gitu?" tanya Aidah, pertanyaan itu keluar spontan dari mulutnya.


Andrew yang mendengar itu menoleh sebentar ke istrinya dengan senyumnya.


"Kenapa meski jijik? Bukankah kita sudah satu sayang? Kalau Mas yang mengalami ini juga pasti kamu akan melakukan apa yang Mas lakukan kan?" tanya Andrew dengan senyumnya sembari membersihkan bekas itu.

__ADS_1


Aidah terdiam sebentar mendengar ucapan suaminya, "Hehe baiklah suamiku memang suami ter the best" puji Aidah dengan senyumnya, walaupun rasanya tubuhnya lemas.


Setelah membersihkan itu, Andrew langsung menggendong Aidah.


"Eh, Aidah bisa jalan sendiri Mas!" ujar Aidah agak kaget tiba-tiba di gendong.


"Udah biar Mas gendong, kamu udah lemas gitu juga" ujar Andrew. Andrew pun menggendong istrinya itu lalu meletakkan istrinya dengan pelan di kasur.


Setelah meletakkan Aidah, Andrew mengambil air minum di atas nakas dan membantu istrinya itu untuk minum. Setelah itu, Andrew kembali ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk istrinya.


Setelahnya, Andrew kembali dan menggendong istrinya lagi.


"Eh, mau kemana Mas?!" tanya Aidah sedikit kaget.


"Mandi" jawab Andrew singkat, lalu membawa istrinya ke kamar mandi.


"Eh, Aidah bisa mandi sendiri" ujar Aidah dengan wajah bersemu merahnya.


Tukk


Andrew menyentil pelan dahi istrinya.


"Kamu jangan fikir sembarangan, kamu udah lemas gitu mana mungkin Mas biarin kamu sendiri" ujar Andrew sembari terus melangkah ke kamar mandi.


Aidah hanya cengengesan dengan wajah bersemu merahnya mendengar ucapan suaminya.


Setelah mereka berdua siap, mereka turun ke bawah menemui yang lain.


"Ada apa ini, kenapa menantu Mom di gendong?" tanya Selani agak kaget.


Aidah yang di gendong hanya bisa menyembunyikan wajah malu bersemu merahnya di dada bidang sang suami.


"Kan Aidah udah bilang nggak usah gendong Mas" gumam Aidah dengan suara kecilnya.


Andrew hanya tersenyum mendengar gumaman istrinya.


"Aidah Mom, tadi muntah-muntah" jawab Andrew jujur, sembari meletakkan istrinya di kursi meja makan.


"Apa!!" semua kaget dan menoleh ke arah Aidah dengan khawatir.


"Kamu kenapa sayang?"


"Apa masih mau muntah?"


"Kamu sakit sayang?"

__ADS_1


"Paman panggilin dokter yah?"


"Kenapa bisa sakit?"


"Kenapa kakak tiba-tiba muntah-muntah?"


"Cucu menantu, bagaimana sekarang apakah sudah baikan?"


Tanya semua nya secara beruntun ke Aidah dan Andrew.


Aidah bingung mau jawab yang mana, tapi ia tersenyum senang dan merasa tersentuh mendengar pertanyaan dari semuanya yang khawatir terhadapnya.


Sedangkan, Andrew geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan beruntun dari keluarganya.


"Kalian tanyanya langsung banyak gitu, yang intinya istri Andrew masih merasa kurang enak badan, kami juga tidak tau kenapa makanya sekarang mau ke rumah sakit untuk periksa" ujar Andrew menjelaskan.


"Kapan mulai muntah-muntahnya sayang, kenapa baru bilang?" tanya Selani khawatir dengan menantunya.


"Baru tadi pagi Mom, pas bangun Aidah langsung mau muntah" bukan Aidah yang jawab, melainkan Andrew.


"Mau Paman telfon Dokter keluarga saja untuk memeriksa Aidah, jadi tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Paman Nathan.


Andrew menggeleng, "Lebih akurat jika di rumah sakit Paman, jadi lebih baik istri Andrew periksa di rumah sakit saja" jelas Andrew.


"Apa perlu kita semua ikut sayang?" tanya Tante Ana khawatir.


Aidah menggeleng, "Tidak perlu Tan, lagian hanya muntah-muntah ini tidak terlalu serius, kan sudah ada juga Mas Andrew yang nemenin Aidah" kali ini yang menjawab adalah Aidah, setelah terdiam menyimak sedari tadi.


"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa langsung kabari kami semua yah" ujar Tante Ana.


"Benar kata Ana cucu menantu, langsung kabari kami semua kalau ada apa-apa" ujar Kakek Arsen dengan khawatir nya juga.


"Iya Tan, Kek" jawab Aidah dengan tersenyum haru.


"Baiklah, semuanya ayo kita sarapan dulu, agar Aidah bisa cepat ke rumah sakitnya" ajak Paman Nathan kepada semuanya.


Semuanya pun mengangguk, dan sarapan bersama. Andrew masih saja protektif ke istrinya, ia menyuapi istrinya di depan semuanya. Aidah awalnya tak ingin karena malu, tapi Andrew tetap memaksa yang lainnya pun mendukung Andrew, mau tidak mau Aidah pun menerima di suapi oleh suaminya di depan keluarga.


Setelah sarapan, Andrew dan Aidah berangkat ke rumah sakit.


Di dalam mobil.


"Mas, apa tidak apa-apa kalau Mas tidak pergi kerja? Kan pagi ini Mas juga ada rapat dengan klien?" tanya Aidah yang sebenarnya merasa tak enak karena mengganggu pekerjaan suaminya, apa lagi dia juga seharusnya membantu suaminya saat ini di kantor. Aidah yang jadi sekretaris Andrew itu tau bagaimana padatnya jadwal suaminya, dan pagi ini pun suaminya ada jadwal untuk rapat.


Andrew menggeleng, "Lebih penting kamu sayang dari semuanya. Lagian rapatnya bisa di tunda juga, tapi kesehatan kamu yang terpenting saat ini. Sudah nggak usah memikirkan masalah pekerjaan, yang penting fikirkan kesehatan kamu saja dulu" ujar Andrew lembut ke istrinya.

__ADS_1


Aidah mengangguk dan tersenyum mendengarkan ucapan suaminya, Aidah pun menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Andrew juga langsung mengalungkan tangannya di pundak istrinya.


__ADS_2