
Tak terasa beberapa bulan telah berlalu. Bulan ini sudah masuk bulan yang di perkirakan Aidah akan melahirkan. Andrew beserta yang lainnya pun sudah selalu siaga mendampingi Aidah. Bahkan semuanya tambah overprotektif dalam menjaga Aidah, untuk jalan saja Aidah harus di bantu, jika Aidah menolak mereka tetap memaksa jadi mau tidak mau Aidah hanya bisa pasrah karena Aidah juga tau kalau itu semua demi kebaikan dirinya.
Di ruang keluarga para wanita tengah duduk saling berbincang, bercanda dan menonton film.
Aidah yang merasa ingin buang air kecil pun berdiri dari duduknya.
Semua yang melihat Aidah berdiri langsung menatap Aidah khawatir.
"Ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu bilang saja?" tanya Selani yang sedari tadi duduk di samping menantunya itu.
"Iya, ada apa nak? Bilang saja kalau butuh sesuatu, nggak usah capek-capek berdiri" ujar Tante Ana juga.
"Kamu mau minum atau apa sayang?" tanya Tante Nita ke Aidah.
Aidah menghela nafasnya mendapatkan perlakuan seperti itu, yah walaupun pada dasarnya Aidah juga bersyukur karena semuanya sayang sama dirinya.
"Aidah hanya mau ke wc Ma, Tan. Aidah kebelet soalnya" ujar Aidah memberitahukan keinginannya.
"Baiklah, ayo Mama bantu" ucap Selani yang sudah berdiri berniat ingin membantu menantunya.
Aidah menggelengkan kepalanya pelan.
"Tid-" ucapan Aidah langsung di potong oleh seseorang.
"Tidak usah Ma, biar Andrew saja" potong Andrew yang baru saja masuk ke dalam Mansion.
"Eh, Mas udah pulang?" tanya Aidah. Sebenarnya Aidah tidak terlalu kaget, karena entah setelah tau dia akan melahirkan di bulan ini suaminya itu pasti selalu pulang cepat dari kantor dan akan melimpahkan semua pekerjaannya pasti ke asistennya sekaligus sekretarisnya siapa lagi kalau bukan Endra.
"Iya dong sayang, ayo" Andrew merangkul dan menggenggam tangan istrinya itu untuk membantunya berjalan. Sebenarnya bisa saja Aidah untuk di kursi roda saja agar mudah untuk berjalan ke kamar mandi, tapi kata Dokter lebih baik Aidah untuk banyak jalan agar persalinannya nanti lancar.
"Makasih yah Mas" ucap Aidah ketika suaminya itu membantunya berjalan.
"Ini sudah tugas dan tanggung jawab Mas sayang, lagian ini juga demi kamu istriku tersayang dan anak-anak kita" balas Andrew dengan senyum tulusnya.
__ADS_1
Aidah hanya membalas juga dengan senyum senang dan syukurnya.
Setelah dari wc, Andrew mengantar istrinya itu lagi ke ruang keluarga.
"Baby-baby nggak rewel kan sayang?" tanya Andrew sembari mengelus perut istrinya yang sudah sangat besar.
"Dia paham kok Mas, dia nggak rewel kalau nggak ada Daddy nya" ucapan Aidah terpotong karena tiba-tiba perutnya bunyi.
Dug.
Semuanya langsung saling pandang mendengar itu, lalu tertawa bersama.
"Aduh, tau aja kamu sayang-sayang nya Oma. Tadi saat tidak ada Daddy nya diam, saat ada Daddy nya malah langsung rewel" ujar Selani dengan terkekeh kecil merasa lucu dengan tingkah cucu-cucunya walaupun masih di dalam perut.
"Oh, baby-baby nya Daddy, rindu yah sama Daddy hmm. Padahal Daddy baru pergi sebentar loh" ujar Andrew dengan senyum senangnya sembari mengecup perut istrinya itu dengan senang.
Aidah hanya terkekeh dengan itu karena ia juga merasa lucu dengan anak-anaknya jika suaminya itu tidak ada boro-boro ada yang ingin menendang, tapi kalau Daddy nya ada baru deh rewel ada yang nendang-nendang.
"Sabar yah baby-baby nya Daddy, kalian sudah hampir waktunya melihat dunia. Daddy juga sebenarnya rasanya sudah tidak sabar tau melihat kalian" ujar Andrew dengan sedikit lesuh tapi tetap tersenyum senang karena tidak lama lagi ia dan istrinya menjadi keluarga yang lengkap dengan anak-anak mereka.
"Iya dong, kami semua Oma-Oma menunggu kalian berdua" ujar Selani dengan senangnya.
*******
Di sebuah Mansion mewah lainnya. Nampak seorang pria tengah menatap kesal dengan seseorang di hadapannya.
"Kamu mau berapa lama lagi di sini?! Aku kan sudah bilang kamu bisa pergi dari tempat ini, saya bilang hanya satu bulan tapi apa ini sudah berapa bulan alasan kamu juga sama saja setiap saya suruh keluar!!" kesal pria itu yang ternyata adalah Renald kepada seorang wanita di hadapannya.
Wanita itu menunduk mendengar ucapan Renald. Tapi hanya beberapa detik, lalu wanita itu menatap Renald serius.
"Apa Tuan tidak tau maksud dari saya selama ini?" tanya wanita itu dengan wajah seriusnya, wanita itu adalah Bricia yang meminta untuk bekerja selama satu bulan dengan Renald.
Renald menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Bricia itu.
__ADS_1
"Saya tidak paham maksud kamu! Sebaiknya kamu pergi dari sini, saya yakin kamu akan mendapatkan pekerjaan di luar sana" ujar Renald mengelak pura-pura tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Bricia.
Pakk, wanita itu menaruh dengan kasar tangannya di samping wajah Renald yang tengah duduk di sofa.
Renald membelalakkan matanya kaget dengan tingkah wanita di depannya ini.
"Saya tanya sekali lagi, Tuan beneran tidak paham maksud saya?!" tanya Bricia menatap mata Renald dengan serius.
Entah kenapa jantung Renald berdetak kencang karena perlakuan dari wanita yang menurutnya aneh di depannya ini.
"Sa..saya tidak tau apa maksud kamu!!" ucap Renald lagi dengan menatap ke arah lain.
"Saya mau menikah dengan Tuan, Tuan mau menjadi suami saya?" tanya Bricia tiba-tiba dengan wajahnya yang nampak serius.
Deg!
Renald membelalakkan matanya kaget, ia pun juga kembali menoleh menatap wajah Bricia dengan kaget karena pertanyaan Bricia itu.
"Ka...kamu-"
"Tuan hanya perlu jawab iya atau tidak, kalau Tuan jawab iya maka saya sangat senang mendengar itu dan kita bisa menikah secepatnya saya juga janji akan menjadi istri yang baik, tapi kalau Tuan jawab tidak jujur saya kecewa dan saya janji juga saya tidak akan menemui Tuan lagi saya akan pergi dari hidup Tuan selamanya" ucap Bricia dengan suara pelannya namun tegas dengan wajahnya yang serius namun nampak jika di mata Bricia mengharapkan balasan yang akan membuatnya bahagia bukan kecewa.
Renald menelan salivanya kasar dan terdiam mendengar ucapan Bricia itu, sebenarnya itu sangat mudah Renald hanya perlu mengucapkan tidak maka wanita yang di depannya ini akan pergi dari hidupnya untuk selamanya tapi entah kenapa hatinya malah bimbang.
'Ayolah Renald! Tinggal katakan tidak lalu beres, bukannya ini yang kamu inginkan?!' batin Renald mengepalkan tangannya karena merasa ada perasaan bimbang di hatinya.
"Ayo Tuan jawab!!" ucap Bricia kembali memaksa Renald untuk memberikannya jawaban sebagai kepastian untuk dirinya.
Renald menatap wanita di depannya kembali dengan perasaan yang entah dia juga tidak paham.
"Sa..saya tidak ingin!" jawab Renald dengan pelan.
Deg!
__ADS_1
Bricia terdiam terpaku mendengar jawaban Renald yang memang sudah ia perkirakan dari awal, Bricia mengepalkan tangannya dan mencoba menahan air matanya agar tidak luruh di depan lelaki yang baru saja menolaknya ini.