
Di ruang keluarga Mansion Wikram, suasana terasa tegang.
"Ekhem, Ada apa sebenarnya yang Mom ingin bicarakan dengan Renald??" tanya Renald penasaran dan heran, sekaligus memecahkan keheningan di ruangan itu.
"Iya, benar Mom. Apa yang Mom ingin bicarakan dengan kami berdua?" tanya Risya yang ikut menimpali pertanyaan Renald.
Renald mendengar hal itu, menatap sinis Risya. Risya hanya bisa menunduk dan tersenyum sedih melihat tatapan sinis Kakaknya yang sudah biasa di layangkan terhadapnya.
"Hah, pertama Mom ingin memberitahukan sesuatu sama kamu sayang Risya, tapi kamu jangan kaget yah!" ujar Arina tidak enak hati.
"Iya, Mom. Risya nggak bakalan kaget kok, ada apa memangnya?" tanya Risya tambah penasaran setelah mendengar ucapan Momnya.
"Sebenarnya, Renald Kakak kamu itu menemukan seorang wanita yang memakai gelang yang sama persis yang di berikannya ke kamu dulu-"
"Renald berikan ke adik asli Renald!!" potong Renald.
"Ishh, kamu diam dulu Ren!!" kesal Momnya.
"Maksudnya, Risya kan adik asli dan adik kandung Kak Renald kan?" tanya Risya bingung.
"Gini sayang, kemarin itu Kakak kamu menemukan seorang wanita memakai gelang yang sama persis. Oleh karena itu, bentar malam kita harus menemui orang itu supaya semua kebenarannya terungkap, tidak ada kesalahpahaman lagi!!" jelas Arina ke anaknya Risya.
Risya terdiam kaku mendengar ucapan Momnya. Renald juga kaget saat mendengar ucapan akhir Momnya.
"Ma..maksud Mom dan Kakak apa?" tanya Risya pelan dengan bingungnya.
"Beneran Mom, memangnya Aidah udah setuju?" tanya Renald bersemangat.
"Maksud Mom, kita akan bicarakan semuanya sayang. Kamu nggak perlu sedih, apapun yang terjadi kamu anak Mom!" ujar Arina tersenyum lembut, seraya menggenggam tangan Risya.
Renald hanya menatap sinis itu. "Jadi, apa benar Mom Aidah udah setuju untuk membahas ini?" tanya Renald kembali.
"Hmm, kalian siap-siap saja untuk sebentar malam" jawab Momnya.
"Wah, baguslah" ujar Renald senang.
Risya diam-diam menatap jengkel saat melihat kesenangan Kakaknya, padahal saat bersamanya tak pernah sekalipun Kakaknya itu memperlihatkan perhatian kepadanya, walaupun hanya sekedar senyuman.
__ADS_1
"Eh, tapi dari mana Mom tau kalau Aidah sudah setuju?" tanya Renald heran.
"Aidah itu istri dari Andrew, tentu Mom dan Dad kenal. Lagian kalian itu pernah dulu sempat main-main bersama Andrew, tapi itu tak lama karena Dad ada kerjaan di kota lain, jadi kita ikut dengan Dad pergi. Makanya Mom dan Dad kenal dengan keluarga Lewis itu, tapi semenjak itu kami sudah kehilangan kontak apa lagi pas kasus adikmu yang terjadi setelah kita baru sampai beberapa hari di kota baru itu" jelas Mom Arina.
Renald terdiam mendengar penjelasan Momnya. "Hah, jadi gitu. Baiklah, kalau gitu Renald ke kamar dulu, mau siap-siap untuk bentar malam. Renald pun pergi dari ruangan itu.
"Mom siapa itu keluarga Lewis? Sepertinya Risya pernah dengar nama itu" tanya Risya penasaran.
"Astaga sayang, keluarga Lewis itu termasuk ke jajaran orang terkaya dunia. Tapi di negara ini Perusahaan mereka lah yang menjadi induk ekonomi negara ini" jelas Arina kepada anaknya dengan lembut.
"Oh, gitu yah" Risya mengangguk paham.
"Oh iya Mom, tapi bagaimana dengan masalah tadi? Apa Risya bu...bukan anak kandung Mom?" tanya Risya pelan dengan wajah sedih dan agak ragunya untuk bertanya.
Arina segera menggeleng, "Apa pun itu, kamu tetap anak kami sayang, kami sangat sayang sama kamu, ya kan Dad?" tanya Arina meminta pendapat suaminya.
"Iya, kami sayang sama kamu. Kamu itu adalah anak kami" timpal Dad Elvin dengan senyum tulusnya.
Risya menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca, lalu langsung memeluk keduanya. "Makasih Mom, Dad, Risya juga sayang banget dengan kalian."
******
Suasana terasa mencekam menyelimuti ruangan ini. Suasana hening yang tercipta dengan ketegangan di raut wajah masing-masing orang di ruangan itu.
'Astaga suasana macam apa ini!' batin Cika merasa merinding, padahal semuanya tengah berkumpul saat ini.
"Ekhem" Andrew berdehem untuk memecahkan suasana canggung itu.
"Seperti yang Tante saya katakan, kami mengundang kalian sekeluarga untuk membahas masalah ini!" ujar Andrew menatap lurus dengan tatapan seriusnya.
"Ya, kami sudah tau Andrew. Kalau begitu kita bisa membahasnya saja sekarang" timpal Elvin dengan tatapan seriusnya juga.
"Hmm, pertama saya ingin menanyakan lagi tentang gelang ini. Apakah betul gelang ini sama persis dengan gelang yang Renald berikan kepada adiknya?" tanya Andrew, menatap serius Renald.
"Tentu, seperti yang aku katakan! Ini buktinya" Renald berdiri, lalu memberikan sebuah foto bayi kecil ke Andrew.
Andrew terdiam melihat foto itu, foto itu memang bayi kecil yang pernah di ajaknya bermain-main waktu kecil.
__ADS_1
"Itu gelangnya ada di situ di pakai oleh adikku, gelangnya sama persis dengan yang di pakai Aidah" ujar Renald sekali lagi.
Andrew pun tersadar, lalu mencocokkan gelang yang di pakai istrinya dengan gelang yang ada di foto itu.
'Iya, memang sama persis sih' batin Andrew kaget.
"Sayang, sepertinya gelangnya persis?" bisik Aidah dengan menatap suaminya.
"Hust, biar aku yang bicara mengenai ini, kamu tidak perlu cemas" ujar Andrew.
Andrew kembali menatap kembali semuanya.
"Hmm gelangnya sama persis, tapi ini tidak membuktikan apa-apa. Apakah ada yang tau di mana letak tanda lahir adik kamu Renald?" tanya Andrew lagi.
Renald menggelengkan kepalanya, "Aku kurang tau masalah itu, apa Mom tau sesuatu mengenai itu?" tanya Renald menatap Momnya.
"Hmm, tanda lahirnya itu ada di pinggang bawah dekat bokong" ujar Arina pelan.
Semuanya terdiam kaku mendengar itu.
"Jadi, anak kamu yang sekarang punya tanda lahir di situ juga?" bukan Andrew yang bertanya, melainkan Tante Ana.
"Iya, Risya punya tanda itu" ujar Arina serius.
"Baiklah, kalau begitu Andrew bawa istri kamu pergi cek dulu!" ujar Ana kepada ponakannya.
"Eh, masalah itu tidak usah di cek lagi. Ekhem Andrew udah tau, di bagian punggung bawah Aidah memang ada tanda seperti tanda lahir" ujar Andrew.
Aidah menunduk dengan wajah memerahnya mendengar ucapan suaminya.
"Itu kan benar, berarti Aidah memang adik aku yang sebenarnya!!" ucap Renald dengan mimik wajah seriusnya.
"Jangan menyimpulkan begitu Renald, kan Risya juga ada tanda lahir di tempat itu juga!!" tegas Momnya.
Renald terdiam pasrah.
Ting, sebuah pesan masuk di hp Andrew.
__ADS_1
Andrew tersenyum smirk menatap handphonenya.
"Semuanya tidak perlu berdebat!! Saya sudah mendapatkan semua data mengenai masalah ini. Asisten saya sudah ada di luar membawanya. Saya ingin kita membaca semuanya bersama-sama agar tidak ada kesalahpahaman atau apapun itu nantinya!!" tegas Andrew dengan tatapan tajamnya.