
Sore hari, setelah pesta di laksanakan. Semua tamu kembali ke Mansion mereka masing-masing, sedangkan yang rumahnya ada di luar negeri langsung pulang juga menggunakan pesawat pribadi keluarga Lewis.
Arina, Elvin, Renald, dan Risya pamit untuk pulang ke Mansion dulu, karena Renald harus kembali bekerja serta bersiap-siap untuk memulai pelatihan dari Arsen, Risya juga harus menyiapkan barang-barangnya untuk kembali ke luar negeri melanjutkan studinya.
Setelah keempat orang itu pulang, semuanya memilih untuk beristirahat dulu di kamar masing-masing, setelah tadi saat pesta asyik bercanda ria.
*****
Keesokan harinya
Setelah semua yang terjadi, mereka semua sudah bisa bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, mereka tidak ingin semuanya canggung, jadi lebih baik bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Seperti rencana awal, bahwa Aidah akan ikut jadi sekretaris untuk suaminya di Perusahaan milik suaminya itu.
Pagi-pagi sekali Aidah sudah bangun untuk bersiap-siap dan menyiapkan segala kebutuhan semuanya. Setelah mereka berdua siap, mereka turun ke bawah untuk sarapan sebelum berangkat kerja.
"Selamat pagi sayang" sapa Selani, Ana dan Nita bersama-sama ke Aidah dan Andrew yang baru saja sampai di meja makan.
"Uh, perasaan tadi saat Ardian yang sampai nggak ada tuh di bilang sayang-sayang" sinis Ardian.
"Ish orang kaya Kakak emang nggak pantes di panggil sayang, lagian udah banyak kan di luar sana yang panggil sayang" ledek Cika membalas ucapan Kakak sepupunya itu.
"Oh tentu, Ardian gitu lho" bukannya tersindir, tapi Ardian merasa bangga.
"Loh, kamu belum taubat-taubat Ardian?" tanya Selani.
"Hahaha mungkin kalau sudah ada yang beri dia pelajaran atau dapat karma baru taubat tuh Tan, tapi semoga secepatnya" ledek Cika lagi dengan tawanya.
"Secepatnya apa dek?" sinis Ardian.
"Secepatnya dapat karma supaya sadar untuk taubat" ledek Cika lagi dengan tertawa keras, menertawakan Kakak sepupunya itu.
Ardian hanya menatap sinis adik sepupunya itu yang memang mengesalkan menurutnya.
Semuanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
__ADS_1
"Oh iya, Aidah beneran mau kerja jadi sekretaris kamu?" tanya Paman Nathan memastikan dengan menaikkan alisnya satu.
"Iya, Paman. Ini sudah Andrew bicarakan dengan Aidah, sekalian kan kita bisa bertemu walaupun di Perusahaan. Lagipun, Aidah sudah pernah kerja bahkan mengerjakan proyek-proyek di Perusahaan Carend dulu" jawab Andrew.
Aidah hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan dari Nathan, karena sudah di jawab oleh suaminya, sembari juga mengambilkan nasi dan lauk ke piring suaminya.
"Oh iya, baguslah"
"Tapi, ingat sayang. Jangan buat menantu Mom capek loh" ujar Selani kepada anaknya itu.
"Iya Mom, tentu" jawab Andrew dengan tegas.
"Benar kata Mom kamu, kalau bisa secepatnya berikan kami cucu, apa lagi Kakek. Umur Kakek sekarang ini sudah berapa sudah sangat tua, sebelum Kakek meninggal Kakek harap bisa menggendong dan melihat cucu dari kamu" ujar Kakek dengan berakting lemas.
Semuanya ikut mengangguk membenarkan perkataan Kakek.
"Benar itu, Cika juga tidak sabar pengen gendong ponakan" ujar Cika menyetujui perkataan Kakek Arsen dengan mata berbinar-binarnya.
Aidah terdiam menunduk malu mendengar itu.
"Kami akan usahakan Kek" ucap Andrew singkat, dengan menggenggam tangan istrinya.
Semuanya pun mengangguk dan memulai sarapan mereka di pagi hari ini. Setelah selesai sarapan, Andrew dan Aidah langsung pamit untuk berangkat ke Perusahaan. Begitupun dengan Cika yang sudah mulai masuk kuliah, dia di antar oleh Ardian yang bersikeras ingin mengantar Cika, padahal Cika tidak ingin tapi tetap saja dia harus mengalah membiarkan Ardian mengantarnya ke Kampus.
Kata Dad Nathan ke Cika. "Kamu sementara ini di antar dengan Ardian dulu, sebelum Bara datang untuk mengawal kamu!" itu lah yang selalu menjadi alasan Dadnya setiap Cika menolak, berbeda dengan Momnya yang selalu bilang. "Kamu itu masih kecil, dan kamu juga belum tau daerah sini kalau sampai ada yang ganggu atau kamu tersesat bagaimana" itulah alasan Momnya ketika Cika menolak, mau tidak mau akhirnya Cika menerima.
Sementara itu saat sampai di Perusahaan, Andrew dan Aidah langsung di sambut oleh rombongan karyawan yang berbaris menunggu kedatangan keduanya, sekalian memperkenalkan Aidah kepada seluruh karyawan di Perusahaan.
Endra pun juga ikut menyambut di barisan paling pertama.
"Selamat datang Tuan, Nyonya" sapa mereka semua.
Aidah menggeleng, "Kalian tidak perlu panggil saya Nyonya jika di Perusahaan, sekarang status kita sama pekerja di sini. Panggil saya Aidah saja" ujar Aidah tersenyum ramah kepada semuanya.
Semuanya agak kaget mendengar itu. Semuanya mengintip sedikit ekspresi Andrew Tuan mereka. Tapi, Andrew hanya diam tanpa ekspresi seperti biasanya jika di luar.
__ADS_1
"Baik Nona Aidah" jawab mereka semua bersamaan, walaupun menyebut nama Aidah tapi mereka tetap menggunakan kata Nona, karena mereka tidak seberani itu walaupun Tuan mereka hanya diam.
"Ayo masuk" ajak Andrew ke Aidah.
Aidah mengangguk lalu berjalan berdampingan dengan Andrew.
Endra dan para karyawan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke Perusahaan.
Setelah melihat Andrew dan Aidah serta Endra sudah tak terlihat lagi, para karyawan langsung mengerjakan tugas mereka masing-masing, tidak ada lagi yang berani bergosip, karena jika ada yang berani bergosip apa lagi itu tentang Andrew maka mereka akan langsung di pecat detik itu juga. Walaupun tak ada yang melihat mereka, tapi di setiap dinding di kantor ini punya mata dan telinga.
Sementara itu saat lift terbuka, mereka bertiga keluar dari lift bersamaan, walaupun berbeda lift karena Endra tidak seberani itu jika ingin satu lift dengan Tuan dan Nyonyanya.
"Kamu bisa langsung keruangan mu, biar saya yang tunjukkan di mana mejanya!" usir Andrew halus.
Endra mengangguk paham, lalu duluan pergi ke ruangannya sendiri yabg ada di lantai itu juga.
Andrew mengajak Aidah masuk ke ruangannya.
"Loh, meja Aidah belum di kasih keluar Bos?" tanya Aidah heran.
"Kita hanya berdua sayang, jadi panggil Andrew saja!" tegas Andrew.
"Hehe baiklah, tapi Mas kenapa mejanya belum di kasih keluar? Aidah kira mejanya waktu itu di dalam karena belum sempat di kasih keluar tapi ini kenapa belum di kasih keluar juga?" tanya Aidah sekali lagi dengan herannya.
"Siapa bilang seperti itu? Mulai sekarang meja kamu ada di satu ruangan dengan Mas. Jadi, kalau ada yang kamu butuhkan, atau ada yang tidak kamu mengerti bisa kamu tanyakan dengan Mas" ujar Andrew dengan tegas.
"Hah, baiklah" Aidah hanya mengangguk pasrah saja.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruangan. Andrew langsung menjelaskan pekerjaan apa yang harus di lakukan oleh Aidah. Aidah hanya mengangguk paham dan berterima kasih kepada suaminya itu yang sudah menjelaskan semuanya secara rinci.
"Kalau ada yang tidak kamu pahami, kamu bisa langsung bertanya dengan Mas" ujar Andrew lembut.
Aidah mengangguk paham, "Iya Mas, Aidah ngerti. Makasih Mas" ujar Aidah dengan senyum cerianya.
"Baiklah kerjakan baik-baik dan lihat jadwal Mas yang lain juga sudah tercatat di sana yah, tolong ingatkan Mas juga jika sudah jadwalnya" ujar Andrew dengan mengelus kepala Aidah.
__ADS_1
Aidah mengangguk paham, "Sudah, Aidah sudah paham. Mas bisa lanjutkan kerja Mas yang lain dulu, pasti Aidah akan ingatkan jadwal Mas" ujar Aidah.
Andrew mengangguk, Andrew pun ke kursi kebesarannya dan mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk, sembari sesekali melirik istrinya yang sangat serius menatap layar komputer di depannya. Andrew hanya tersenyum kecil melihat itu, dan tetap melanjutkan pekerjaannya.