Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Restauran


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa jam Aidah dan Andrew sibuk melakukan pekerjaan nya, waktu pun sudah menunjukkan siang hari.


"Mas, Mas ada jadwal ketemu dengan klien siang ini di Restaurant Aquel" ucap Aidah memberitahu dengan berdiri di depan suaminya.


"Oh, baiklah. Kita bisa sekalian makan siang di sana, tolong kamu siapkan berkasnya yah sayang" pinta Andrew lembut, tersenyum menatap sang istri.


Aidah mengangguk paham, "Baiklah Mas" ujarnya sembari membalas senyum suaminya. Aidah kembali ke mejanya lalu menyiapkan berkas yang mereka butuhkan untuk rapat bertemu klien.


Setelah semuanya siap mereka berdua pergi ke Restaurant untuk menemui klien Perusahaan mereka yang meminta untuk bertemu di Restaurant Aquel.


Saat sampai di Restaurant, mereka berdua langsung masuk dan menemui klien.


"Selamat datang Tuan Andrew" sapa Klien sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Selamat datang juga di Negara kami Tuan Albert" sapa Andrew balik, sembari membalas uluran tangan klien yang bernama Albert itu.


"Haha, Tuan terlalu sopan. Eh, iya siapa gadis cantik di belakang Tuan itu?" tanya Albert ketika melihat Aidah di samping Andrew.


"Dia is-"


"Saya sekretaris Tuan Andrew Tuan Albert" potong Aidah memperkenalkan dirinya. Aidah hanya ersenyum profesional dan sedikit membungkuk tanda memberi salam ke Albert.


'Wah berani dia memotong ucapan Tuan Andrew?' batin Albert sedikit kaget dengan keberanian Aidah.


"Haha baiklah, kalau begitu mari kita mulai saja rapatnya" ketawa kecil Albert agar tidak merasa begitu canggung.


Mereka pun memulai rapatnya.


Tapi, saat di pertengahan rapat, Aidah mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Aidah menoleh sedikit ke arah suara itu dan benar yang di lihat Aidah, orang yang ada di tempat itu adalah beberapa orang yang sangat di kenalinya, mereka adalah Bella dan Mamanya. Sepertinya mereka berdua baru saja selesai shopping di lihat dari totabag yang di bawanya.


Tapi, Aidah langsung mengalihkan perhatiannya kembali ke klien. Ia harus tetap profesional, lagi pun Bella dan Mamanya itu kan juga tidak mengganggunya, jadi dia tak perlu mengurusi hal itu.


"Baiklah, seperti itu saja. Bagaimana menurut Tuan Andrew?" tanya Albert.


"Tentu, seperti yang kita diskusikan. Kalau begitu, semoga kerjasama kita lancar Tuan Albert" ujar Andrew dengan mengulurkan tangannya.


"Baik, terimakasih Tuan Andrew atas kerjasamanya" ujar Albert dengan senyum ramahnya dengan membalas uluran jabatan tangan Andrew.

__ADS_1


"Kalau begitu saya duluan Tuan, Nona" ujar Albert sedikit membungkukkan kepalanya, lalu ingin pergi dari Restaurant.


"Eh, Tuan Albert tidak sekalian makan siang dulu?" tanya Aidah dengan sopan.


"Tidak usah Nona, saya setelah ini harus kembali ke Negara saya, masih ada urusan lagi. Makasih sebelumnya Nona, mari Tuan, Nona" ujar Albert lalu pergi dari Restauran dengan bawahannya.


Andrew dan Aidah hanya mengangguk membalas Albert.


"Mas, kalau begitu kita makan sekarang saja. Mas mau makan apa?" tanya Aidah dengan melihat menu-menu yang sudah sedari tadi ada di meja mereka.


Andrew hanya diam tidak membalas ucapan istrinya.


Aidah yang tidak mendengar balasan dari suaminya, langsung mengalihkan tatapannya ke suaminya yang berada di sampingnya.


Aidah mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi cemberut suaminya.


"Mas kenapa?" tanya Aidah heran.


"Nggak apa-apa" jawab Andrew dengan wajah kusutnya.


Andrew menerima buku menu itu dengan wajahnya yang tambah kusut. "Hah, kamu tidak peka banget sih sayang!" ujar Andrew dengan menatap istrinya dengan cemberut.


"Hah? Peka apa sih Mas?" tanya Aidah bingung. Bukankah tidak ada yang dia lakukan yang bisa membuat suaminya marah? itulah batin Aidah yang merasa heran dan bingung.


Andrew yang melihat raut wajah bingung istrinya membuatnya tambah gemes, Andrew langsung mencubit pipi chubby istrinya itu. "Uh, Mas nggak bisa lama-lama cemberut lihat wajah gemesin kamu ini" ujar Andrew dengan kekehan kecilnya.


"Ish Mas, kenapa pipi Aidah di cubit!" ujar Aidah sedikit cemberut, sembari menghentikan tangan suaminya itu yang mencubit pipinya.


"Udahlah, Mas nggak ngambek lagi. Ayo, kita pesan pasti kamu udah lapar" ujar Andrew sembari menarik tangannya, lalu melihat-lihat menu.


"Emang apa sih yang buat Mas ngambek coba?" tanya Aidah heran.


"Hah, Mas hanya cemburu saja mendengar laki-laki lain bilangin kamu cantik ya walaupun memang istri Mas ini perempuan paling cantik" ujar Andrew menatap dalam istrinya.


Aidah terkekeh mendengar ucapan suaminya, apa lagi kata terakhir suaminya.


"Mas tambah jago gombalnya" ujar Aidah dengan kekehannya.

__ADS_1


"Mas nggak gombal sayang, memang itu yang sebenarnya ini jawaban dari lubuk hati Mas yang terdalam loh!" ujar Andrew dengan wajah seriusnya.


"Hehe iya deh, yasudah lah ayo pesan makan, soalnya sudah mau masuk jam kerja lagi" ujar Aidah.


"Wah kamu tidak percaya nih dengan ucapan Mas, Mas serius tau. Dan kamu tenang saja sayang, bukankah yang punya Perusahaan Mas jadi kamu tidak perlu terburu-buru" ujar Andrew dengan serius.


"Iya Aidah percaya kok, kan sama bagi Aidah Mas adalah laki-laki tertampan. Ih nggak boleh gitu Mas, bagaimana pun sebagai pemimpin Mas harus memberikan contoh yang baik ke pegawai Mas!" ujar Aidah.


Andrew senang mendengar kalimat awal istrinya yang bilang bahwa ia adalah lelaki tertampan bagi istrinya itu. "Yasudah sayang, kamu mau makan apa? Makan seperti biasanya saja?" tanya Andrew dengan raut wajah senangnya, entah kemana perginya wajah cemberut tadi.


"Iya Mas, kalau Aidah seperti biasanya saja" jawab Aidah, sembari menganggukkan kepalanya.


"Baiklah sayang."


Andrew pun memanggil waiter. Setelah waiter ke meja mereka, Andrew pun mulai menyebutkan makanan dan minuman pesanan mereka.


Sementara di meja lainnya, dua orang wanita nampak asyik berbincang ria.


"Ma, Bella senang deh bisa belanja barang-barang lagi, ya walaupun belum bisa belanja barang semahal dulu" ujar Bella dengan raut wajah senangnya.


Mama Bella mengangguk membenarkan perkataan anaknya, "Mama juga senang bisa belanja lagi, ini semua karena anak di dalam kandungan kamu itu harus kamu jaga baik-baik" ujar Mamanya mengingatkan.


"Haha iya Ma, tak disangka ternyata anak ini ada juga untungnya. Untung saja Papa pintar, coba tidak huh sudah Bella gugurin nih kalau tidak berguna. Tapi, karena dia masih berguna pasti Bella akan jaga baik-baik tenang saja Ma" ujar Bella tersenyum menatap sang Mama.


Bella sedikit mengalihkan perhatiannya ke arah lain, dan Bella agak kaget melihat dua orang yang sangat di kenalinya.


"Ma, bukannya itu Andrew dan Aidah!!" ujar Bella agak terkejut.


"Mana sayang?" Mama Bella itupun mengalihkan pandangannya ke arah meja lain yang berada di samping kiri tapi bagian ujung dekat jendela itu yang di lihat oleh anaknya. Mama Bella juga sedikit terkejut dan sedikit emosi melihat Andrew dan Aidah yang terlihat senang berbicara berdua.


"Huh dasar dua anak s*alan itu, setelah membuat Perusahaan keluarga kita di ambang kebangkrutan dia malah enak-enak banget yah menikmati uangnya. Cih, Andrew juga bisa-bisanya setelah dia mengungkapkan identitasnya masih mau sama perempuan j*lang kaya Aidah palingan dia tuh mau mengambil harta Andrew saja" gerutu Mama Bella menatap sinis dan mengepalkan tangannya geram.


"Hmm benar Ma, lihat saja tuh nanti hartanya bakal habis di ambil sama Aidah si j*lang itu. Sudahlah Ma, sebaiknya kita pindah Restauran saja males aku lama-lama lihat, nih cucu Mama juga males lihat mereka berdua!" ujar Bella mengajak Mamanya pergi.


"Baiklah sayang, maaf yah cucu Oma harus melihat orang-orang tidak baik seperti mereka berdua" ujar Mama Bella dengan mengelus perut anaknya. Lalu mereka pun pergi dari Restauran itu.


Aidah yang sedari tadi hanya menatap-menatap sekilas mereka berdua, tapi tidak terlalu peduli lagi, hanya ingin sekedar tau kabar mereka. Apa lagi, Aidah sudah mengetahui bahwa dirinya bukan bagian dari keluarga Carend melainkan keluarga Wikram.

__ADS_1


__ADS_2