
Di taman rumah sakit yang di sekelilingnya terdapat banyak tanaman-tanaman yang indah. Aidah tengah di bantu berjalan dengan suaminya Andrew.
Tadi, saat sampai rumah sakit perut Aidah tidak sakit lagi, ternyata hanya sakit sementara seperti beberapa hari ini tapi tadi itu sakitnya lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Dan saat ini Aidah berada di taman rumah sakit, karena di suruh oleh Dokter untuk berjalan-jalan agar Aidah bisa cepat pembukaan 10.
"Sttt" Aidah meringis kecil sambil berjalan, karena merasakan sakit yang sama lagi, ia juga memegang tangan suaminya erat, bahkan sampai-sampai tangan Andrew sangat merah.
"Apa kita istirahat dulu sayang? Kamu sudah beberapa menit ini berjalan" tanya Andrew dengan rasa khawatir dan cemasnya.
Aidah menggeleng pelan dengan butiran keringat yang sudah membasahi dahinya sedari tadi.
"Ti..tidak usah Mas, Aidah ingin juga agar persalinannya lebih cepat dilaksanakan, jadi lebih baik Aidah jalan saja supaya cepat pembukaannya" kata Aidah dengan tubuhnya yang sudah sedikit terasa lemas menahan sakit yang kadang tiba-tiba datang dan pergi.
"Hah, baiklah sayang. Tapi, kalau kamu sudah tidak tahan ingat harus beritau Mas!!" tegas Andrew dengan perasaan cemasnya. Tapi mau bagaimana lagi itu keputusan istrinya, ia hanya bisa mengikuti.
__ADS_1
Aidah mengangguk pelan.
Sementara yang lain setelah menyuruh satpam di Mansion mereka untuk mengamankan perempuan aneh yang tiba-tiba datang itu. Mereka langsung ke rumah sakit untuk menghampiri Aidah.
Saat ini mereka semua hanya menunggu Aidah di depan ruangan persalinan, mereka membiarkan Andrew saja menemani Aidah untuk jalan-jalan.
Beberapa menit kemudian, di taman rumah sakit. Aidah sudah tidak tahan lagi rasa sakitnya sekarang bertambah parah dan rasanya ia juga sudah ingin melahirkan.
"Ma..Mas hah hah se-sepertinya Aidah sudah mau melahirkan" ujar Aidah dengan mata berkaca-kacanya menahan rasa sakit yang dirasakannya.
"Sayang kamu sepertinya sudah mau melahirkan yah?" tanya Ana cemas, sebab ia juga sangat ingat bagaimana sakitnya melahirkan itu saat melahirkan Cika.
"Iya Tan, kalau begitu kami masuk dulu" Tanpa menunggu jawab mereka. Andrew langsung membawa masuk istrinya Aidah ke dalam ruang persalinan dimana di ruangan itu sudah ada Dokter serta sister untuk membantu persalinan Aidah.
__ADS_1
"Dok istri saya sepertinya sudah mau melahirkan!!" ujar Andrew dengan cemas. Bahkan keringat dinginnya bercucuran di wajahnya saking cemasnya.
"Baik, Tuan bisa bantu naikkan Nyonya ke ranjang" ujar Dokter itu.
Andrew tanpa berkata lagi, langsung membantu menaikkan ke ranjang istrinya yang tengah merasakan sakit.
"Semangat sayang kamu pasti bisa" ujarnya menyemangati istrinya, bahkan matanya juga ikut berkaca-kaca melihat istrinya yang tengah sangat merasakan sakit saat ini. Andrew pun mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu di luar ruangan semuanya ikut cemas was-was dengan apa yang terjadi di dalam ruangan.
Ibu Andrew dan Aidah serta Ana dan Nita berjalan bolak-balik di depan ruangan menunggu menanti kehadiran cucu mereka dengan cemas.
"Ardian tau Mama dan Tante cemas, tapi kalau kalian bolak-balik seperti itu kita semua pusing lihatnya" ujar Ardian yang merasa pusing karena semenjak Aidah kakak iparnya itu di bawa masuk ke ruangan persalinan para wanita lansia itu malah bolak-balik terus di depan ruangan.
__ADS_1
"Ck kamu tidak tau saja, bagaimana perjuangan ibu melahirkan huh Mama saja saat melahirkan kamu itu sangat sakit tau!!" sinis Nita ke anaknya.
Ardian hanya bisa menghela nafasnya, jika ia membantah lagi perkataan Mamanya jika sudah seperti itu maka pasti akan lebih rumit dan panjang lagi.