
Semuanya saat ini berkumpul kembali dengan situasi tak kalah tegang dari sebelumnya di ruang tamu. Suasananya hening dan terasa tegang kembali.
"Ekhem, Apa yang ingin Kakek bicarakan dengan Andrew dan wanita itu?!!" tanya Andrew dengan wajah seriusnya, memecah keheningan di ruangan itu.
Mama Andrew yang bernama Serina itu masih menatap tak percaya Ayahnya yang berada di depannya itu masih hidup.
"Hah" Kakek Arsen menghela nafas panjang.
"Sepertinya memang ini sudah saatnya semuanya terbongkar, agar tidak ada rahasia lagi tentang masa lalu di kemudian hari!!" ujar Kakek Arsen dengan wajah masamnya.
"Ada apa sebenarnya Kek??" tanya Andrew lagi saat mendengar perkataan Kakeknya yang membahas masa lalu, ada rahasia apa lagi ini yang tidak ia ketahui.
"Tunggu, kita masih harus menunggu satu orang lagi baru Kakek akan membongkar semuanya. Kamu sudah dewasa bahkan sudah punya istri dan pasti akan segera mempunyai anak, ini saatnya kamu tau kebenaran dari semuanya" ujar Kakek Arsen ambigu.
"???" Semuanya menatap Kakek Arsen penuh tanda tanya, terutama Andrew yang hatinya ikut merasa tak enak dan resah mendengar perkataan Kakeknya bahwa ada rahasia lain di masa lalu dan itu mengenai dirinya.
Aidah segera menggenggam erat tangan suaminya mendengar hal itu.
Andrew yang di genggam, langsung melirik ke arah istrinya. Aidah hanya mengangguk, Andrew paham hal itu istrinya menguatkannya. Andrew ikut mengangguk juga membalas anggukan istrinya di sertai senyum kecilnya. Andrew pun ikut menggenggam erat tangan istrinya yang memberinya kekuatan.
Tak lama kemudian bawahan sang Kakek Arsen masuk ke Mansion.
"Permisi Tuan, orangnya sudah ada Tuan" ucap Erik melaporkan.
"Hmm, bawa ke sini!!" tegas Kakek Arsen.
"Baik Tuan" Erik pun memanggil orang itu untuk masuk.
Seorang wanita paruh baya tapi tetap cantik itu pun masuk ke dalam ruangan.
Aidah beserta keluarganya bertanya-tanya siapa perempuan itu, begitupun dengan Andrew serta sepupunya. Tapi sangat berbeda dengan keempat orang tua yang langsung terbelalak kaget dan bahkan mulut mereka ikut menganga melihat kedatangan wanita paruh baya itu, terutama Serina yang sudah kaget di kaget kan lagi dengan kedatangan wanita di depannya saat ini.
"I...ini, ka...kamu Selani?!!" tanya Serina kaget, matanya terbelalak dan mulutnya menganga lebar kaget dan tak percaya melihat orang yang di depannya saat ini.
__ADS_1
"Ka...kamu beneran Selani?! Bukannya kamu juga sudah meninggal!!!" tanya Ana kaget juga.
Nita ikut mengangguk mendengar pertanyaan Ana yang saat ini ia ingin tanyakan juga.
Orang yang di panggil Selani itu hanya tersenyum menatap semua orang yang di sana, kecuali Serina tatapannya sangat menghunus tajam ke arah Serina.
Glek, Serina menelan salivanya kasar saat melihat jika orang yang di depannya betul-betul Selani.
Selani duduk di samping Kakek Arsen.
"Aku sudah datang Ayah" ujar Selani dengan senyumnya.
"Yah" jawab Kakek Arsen dengan membalas senyum anaknya.
Selani mengalihkan pandangannya ke arah Serina, ia menatap sangat tajam Serina tapi dengan senyum manisnya di wajah yang sudah nampak ada keriputnya itu.
"Halo Kakak kembar ku. Sudah lama banget yah kita tidak bertemu" sapa Selani dengan tatapan tajamnya dan senyumnya.
'Glek, I...ini bagaimana mungkin, mereka berdua masih hidup!!' batin Serina cemas.
"Tu...tunggu ada apa ini semua Kek?!!" tanya Andrew bingung dan kaget saat tau kalau Mamanya ternyata memiliki saudara kembar, tapi ia juga bingung sebenarnya ada apa dengan semua ini.
Selani yang mendengar suara Andrew, mengalihkan tatapannya ke arah Andrew. Tatapan yang mulanya tajam, langsung berubah sendu. Kakek Arsen melihat tatapan sendu di wajah putri bungsunya itu menghela nafas panjang.
Semuanya juga ikut menatap Kakek Arsen, Selani dan Serina dengan kaget, bingung dan rasa penasaran mereka.
"Hah, baiklah Kakek akan memberitahu semuanya, tapi sebelum itu" Arsen memberhentikan ucapannya, lalu menatap anak sulungnya Serina. "Ada yang kamu mau jelaskan Serina, sebelum aku melanjutkan semuanya?!!" lanjut Kakek Arsen menatap tajam anak sulungnya itu.
Serina menunduk cemas, perasaan Serina tambah cemas mendengar pertanyaan dari Ayahnya itu.
'A...apa maksud A..Ayah? A..apa jangan bilang Ayah sudah mengetahui segalanya?!' batin Serina cemas.
Serina menggeleng dengan perasaan cemasnya, "A..apa maksud Ayah?? Bukannya Selani yang seharusnya menjelaskan kenapa dia masih hidup dan Ayah juga??" tanya Serina pelan dengan rasa cemas dan khawatirnya.
__ADS_1
"Heh" Selani tersenyum smirk mendengarkan perkataan Kakaknya itu.
"Yah, seperti yang Kakak bilang Ayah, seharusnya Selani yang menjelaskan semuanya bukan Kakak, dan Ayah juga harus menjelaskan semuanya kan kenapa Ayah masih hidup?" ujar Selani dengan senyum santainya.
"Tapi, Kakak tentu senang kan melihat Ayah dan adik kandung mu ini masih hidup?" tanya Selani dengan senyumnya, dan tatapan tajamnya.
Glek, "Te..tentu" jawab Serina pelan dan terbata-bata.
"Kakak kenapa cemas gitu sih dan terbata-bata gitu? Katanya Kakak senang juga kenapa menunduk mulu, lihat sini dong Kak dan senyum dong. Dan sini dong Kak katanya senang, masa Kakak juga nggak rindu sama Ayah dan adik Kakak ini yang sudah lama menghilang, sini peluk Ayah dan adik kamu ini Kakak" ujar Selani tersenyum ramah dengan tatapan tajamnya. Selani juga menekankan kata-katanya di beberapa kata.
Serina hanya diam duduk dengan wajahnya yang sudah mengeluarkan buih-buih keringat di dahinya, rasa hatinya semakin cemas mendengar itu.
Tapi, semuanya tak lama, akhirnya Serina menatap kembali Selani dan Ayahnya dengan senyumnya walaupun senyum itu di paksakannnya.
"Tentu, aku rindu dengan Ayah dan adik kembar aku" jawab Serina dengan senyum tertekannya.
"Yasudah, sini Kak peluk Ayah dan adik mu ini" ujar Selani dengan membalas senyum Kakaknya itu.
Serina menguatkan dirinya agar tidak menampakkan kecemasannya itu saat ini. Serina pun bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Ayah serta adiknya itu. Sementara yang lain di ruangan itu hanya menyimak sedari tadi, mereka juga bingung dengan semua ini.
"A..Ayah selamat datang, Serina senang melihat Ayah ternyata masih hidup" ujar Serina tersenyum terpaksa, dan sedikit takut untuk mengulurkan tangannya untuk memeluk Ayahnya itu.
Kakek Arsen melihat itu, langsung memeluk Serina. Serina dengan tangan yang gemetaran membalas pelukan Ayahnya.
"Kamu senang atau pura-pura senang mendengar Ayah masih hidup?" bisik Arsen di telinga Serina.
Serina yang mendengar bisikan itu langsung terbelalak kaget. Arsen pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap anaknya dengan senyum yang Serina sendiri tidak tau senyum dalam bentuk apa itu.
Selani yang melihat Ayahnya sudah melepaskan pelukannya, langsung memeluk Kakaknya itu tanpa berucap lagi. Serina kaget, tapi langsung ikut membalas pelukan Selani.
"Kakak eh ups maksudnya mantan Kakak ini saatnya semua kebusukan Kakak terbongkar" bisik Selani tajam.
Glek, Serina langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Selani dan menelan salivanya kasar. Hatinya juga ikut tambah gundah dan cemas.
__ADS_1
Selani melepaskan pelukannya, dan menatap Kakaknya itu dengan senyum di bibirnya juga, senyum yang nampak menyeramkan bagi Serina saat ini.