
Di sebuah kafe nampak seorang pria tengah menunggu pesanannya. Tak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan minuman yang di pesannya itu.
"Permisi Tuan, ini minumannya" ujar pelayan itu, sembari menaruh minuman itu di meja.
"Hmm, ini" Pria itu memberikan uang bayarannya, lalu pergi dari kafe itu tak lupa mengambil minumannya dulu.
Saat baru keluar dari kafe, telfon pria itu berbunyi.
Drrtt drrtt, suara telfon.
Pria itu pun mengangkat telfon itu.
"Ada apa?!" tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Maaf mengganggu Tuan Renald, tapi Tuan Renald harus ke markas sekarang" ujar seseorang di sebrang telfon.
"Hmm, baiklah" Pria itu yang ternyata adalah Renald itu langsung menjawab baik walaupun tidak tau permasalahannya apa karena kan dia juga akan tau nanti jika sampai di markas, Renald itu pun langsung mematikan telfonnya sepihak.
Renald mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke Mansion. Jangan salah, akan selalu ada bawahan yang sudah di siapkan untuk menjaga Renald secara diam-diam bisa dikatakan sebagai penjaga bayangan.
Tapi, saat di perjalanan mobil Renald tiba-tiba di tabrak dari belakang saat mengerem di lampu merah.
Seorang wanita keluar dari mobilnya dengan sangat cemas dan menghampiri mobil Renald.
Tok tok tok, wanita itu mengetuk pintu kaca Renald. Renald yang sebenarnya malas meladeni itu pun mau tidak mau menurunkan kacanya.
Renald menatap wanita itu dengan wajah datarnya.
'Astaga dia ganteng banget' puji wanita itu dalam hati.
"Heii, kenapa malah diam ha!! Lampunya sudah hijau itu!!" ketus Renald.
"Ah, maaf Tuan saya salah. Saya janji akan ganti rugi biaya perbaikan mobil Tuan, berapa nomor atm Tuan?" tanya wanita itu dengan cemasnya saat mengingat kembali ia baru saja tanpa sengaja menabrak mobil pria di depannya ini karena buru-buru.
"Tidak perlu, lagian memangnya kamu bisa bayar?" tegas Renald dengan tatapan remehnya dan nada ketusnya itu.
"Memangnya berapa Tuan??" tanya wanita itu was-was.
"1 Milyar!!" ujar Renald dengan wajah datarnya.
"What!!" kaget wanita itu. "Masa lecet gini doang 1Milyar sih!! Tuan yang serius dong!!" ketus wanita itu karena merasa tak terima dengan harga yang tidak masuk di akal itu. Karena ia hanya tidak sengaja melecet sedikit mobil itu masa biayanya semahal itu.
__ADS_1
"Yah memang seperti itu karena ini mobil terbaru dan hanya ada satu di dunia ini di produksi khusus untuk aku!! Kalau kamu tidak bisa yasudah, jangan sok bisa" ketus Renald.
Wanita itu kaget karena mendengar mobil itu ternyata produksi pribadi.
"Ka...kalau begitu saya akan cicil saja gimana?" ujar wanita itu merasa bersalah.
"Saya bilang tidak usah, udah sana kamu menghalangi jalan tau!! Sudah sedari tadi lampu hijau juga tuh kendaraan lain sudah mengklakson dari tadi!!" ketus Renald, lalu menaikkan kaca mobilnya. Renald pun menjalankan mobilnya kembali dengan wajah kesalnya karena wanita tadi.
"Ck, dasar perempuan itu sangat menyusahkan saja. Lagian, aku bisa suruh
staf Perusahaan buat mobil baru lagi" ketus Renald. Yah mobil ini adalah mobil pribadi miliknya, karena ia juga lah yang punya Perusahaan pembuat mobil.
Tak lama kemudian Renald pun sampai di markasnya, saat sampai Renald langsung masuk ke dalam.
"Heii Tuan kenapa, sepertinya sedang marah??" bisik salah satu pria yang ada di markas itu saat melihat Renald masuk ke dalam dengan raut wajah serta aura marah dan seramnya.
Teman di sebelahnya mengedikkan bahunya, "Mana aku tau, tapi sepertinya dari raut wajah dan auranya sih lagi marah."
"Ck kalian berdua berhenti bergosip seperti wanita saja!! Lebih baik kalian kerjakan tugas kalian!!" tegas seorang lainnya yang lebih tinggi pangkatnya di markas itu.
Dua orang yang tadi bergosip itu langsung bubar dan mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Sementara itu di sisi lain, di jalan tadi setelah melihat mobil milik Renald pergi, wanita itu juga masuk kembali ke dalam mobilnya lalu melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sudah terlambat. Walaupun, ia juga masih memikirkan Renald.
"Selamat datang Nona" sapa kepala pelayan yang ada di Mansion itu.
"Iya, Makasih Pak Eksar. Oh yah dimana Tuan?" tanya wanita itu.
"Tuan, sudah menunggu Nona sedari tadi di ruang kerjanya" ujar kepala pelayan yang bernama Eksar itu memberi tau.
Wanita itu mengangguk, "Baiklah, makasih Pak. Kalau begitu saya pamit ke dalam dulu" pamit wanita itu lalu pergi masuk ke dalam Mansion, saat sampai di dalam Mansion wanita itu langsung berjalan menuju ruanga-n yang di ucapkan kepala pelayan tadi.
Tok tok tok
"Masuk!!" suara teriakan terdengar dari dalam.
Mendengar itu, barulah wanita itu masuk ke dalam.
"Permisi Tuan, saya sudah sampai" ujar wanita itu dengan membungkuk hormat kepada seorang pria paruh baya yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Haha akhirnya kamu sampai juga Bricia" gelak tawa jahat terdengar dari mulut pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Tentu Tuan Maxim" ujar wanita yang bertabrakan dengan Renald itu yang ternyata bernama Bricia.
Dan pria paruh baya yanq saat ini duduk di kursi kebesarannya itu ternyata adalah Maxim.
"Ada tugas baru untuk kamu" ujar Maxim itu dengan wajah seriusnya kali ini.
"Apa yang bisa saya bantu Tuan kali ini?" tanya Bricia dengan sopan.
Maxim itu pun mengambil sesuatu di atas mejanya, lalu langsung melemparkan sesuatu itu ke Bricia yang saat ini masih menunduk.
Bricia langsung mengambil barang itu yang ternyata adalah sebuah foto.
"Itu target selanjutnya!!" tegas Maxim memerintah.
Bricia langsung menatap seseorang yang ada di foto itu, saat melihat seseorang yang ada di foto itu membuat Bricia terbelalak kaget.
'Ini kan pria tadi?!!' batin Bricia kaget.
"Kenapa raut wajah kamu seperti kaget begitu, apakah kamu mengenal orang itu?!!" tanya Maxim menatap curiga Bricia.
Mendengar pertanyaan itu, Bricia langsung menetralkan raut wajahnya dan menggeleng. "Saya tidak mengenalnya Tuan" jawab Bricia.
"Hmm, kalau begitu saya ingin dia seperti biasanya, kamu paham kan kamu harus bagaimana!!" tegas Maxim.
Bricia mengangguk paham dengan kepalan tangannya.
"Dan yah aku mau kamu memakai strategi baru sekarang, aku mau kamu harus bisa membuat dia jatuh cinta sama kamu dulu, lalu kamu bisa meninggalkan dia dan membunuhnya lalu bawa jasadnya ke hadapanku!!" tegas Maxim tanpa ada rasa bersalah sedikitpun memberikan perintah kejam seperti itu ke Bricia.
Bricia membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan Maxim. Bagaimana bisa Maxim menyuruhnya membuat Renald jatuh cinta kepadanya itu sungguh lebih sulit lagi, karena ia tak pernah bermain cinta setiap tugas dan misinya.
"Ta..tapi kenapa Tuan? Bukankah lebih baik seperti biasa saja?" tanya Bricia ragu.
"Kamu sudah mulai mau membangkang ha!! Mau kalau keluarga kamu-"
Bricia langsung menggeleng khawatir dan cemas, "Tidak Tuan, tentu saya akan menuruti perintah Tuan" potong Bricia dengan wajah cemasnya, dan Bricia pun diam-diam mengepalkan tangannya.
"Ck, nah gitu dong. Sudah sana, saya mau dengar secepatnya berita baiknya, terserah bagaimana cara kamu bisa menyelesaikan perintah ku itu saya tidak peduli, yang saya mau dengar seperti biasa adalah hasil dari perintah ku kamu paham kan, kalau sampai kamu tidak berhasil maka kamu tau sendiri akibatnya!!!" ancam Maxim dengan tatapan tajamnya yang menghunus ke Bricia.
Bricia menelan salivanya kasar mendengar ancaman itu lagi, lagi dan lagi. "Iya Tuan, baik saya akan menyelesaikan sesuai perintah Tuan secepatnya" ujar Bricia berusaha tegas, walaupun tubuhnya terasa gemetar.
"Hahaha kamu tidak perlu gemetar seperti itu cantik, kamu hanya perlu menyelesaikan misi yang kuberikan dengan baik maka hidup mu dan keluarga mu juga akan baik-baik saja" ujar Maxim dengan tawa jahatnya.
__ADS_1
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Bricia lalu pergi dari ruangan itu dengan kepalan tangannya.
'Dasar pria tua bau tanah br*ngsek bisanya cuman mengancam saja!!' umpat Bricia merasa geram di dalam hati.