Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Pembicaraan Serius


__ADS_3

Di sebuah Mansion mewah beberapa orang tengah saling menatap satu sama lain dengan suasana tegang yang sangat terasa di Mansion itu.


"Ma, aku tidak bisa menerima ini lagi!! Aku tidak tega melihat anak aku seperti saat ini!!" tegas wanita yang tak lagi muda itu, sembari memeluk anaknya yang babak belur.


"Hiks hiks, iya Nek. Aku tidak sanggup lagi jika masih harus bertahan di Mansion bak neraka itu, aku tidak mau ke sana lagi Nek!!" lirih wanita itu yang wajahnya babak belur dengan deraian air mata yang telah keluar dari matanya sejak tadi.


Nenek terdiam sejenak melihat dan mendengar itu, "Tapi ini sudah takdir kamu Bella" ujar Nenek menatap sedih cucunya yang ternyata adalah Bella.


"Ini bukan takdir aku Nek!! Ini itu seharusnya Aidah yang mengalaminya bukan aku!!" racau Bella dengan wajah geramnya.


"Tapi, kamu tau sendiri suami Aidah si sampah itu bukan lagi sampah, sekarang dia adalah pewaris dari Perusahaan raksasa itu tidak mungkin kita yang sekarang di ambang kebangkrutan bisa melawannya!!" tegas sang Nenek, walaupun ia juga merasa tak tega melihat cucunya yang wajahnya penuh lebam.


"Nenek sebaiknya adikku cerai saja dari dia. Lagi pun Bastian juga sudah punya pasangan orang kaya dia juga sudah berjanji kalau nanti akan membantu Perusahaan kita!!" ujar Bastian.


"Benar itu Ma, apa yang di katakan Bastian, masa Mama tega melihat cucu Mama di perlakukan seperti ini" ujar Mama Bastian menyetujui perkataan anaknya.


Bella pun mengangguk walaupun dengan sedikit meringis karena wajah lebamnya.


'S*alan rencana ku tidak ada yang berjalan mulus, ini semua karena Aidah j*lang itu!!!' batin Bella geram.


"Haiss, terserah kalian saja. Nenek mau istirahat dulu!!" ujarnya lalu pergi dari ruang keluarga.


Mendengar perkataan Nenek, semuanya tersenyum bahagia.


'Huh, setelah aku terbebas dari masalah ini. Lihat saja kamu Aidah j*lang s*alan!!' batin Bella geram.


"Huhu Mama ini sangat sakit" rintih Bella kepada Mamanya.


"Iya sayang, sini ayo Mama obatin dulu" ujar sang Mama, lalu beranjak mengambil obat untuk Bella.


Setelah mengambil obat, Mama Bella pun mengoleskan obat itu di wajah Bella dengan pelan.


"Stt, pelan Ma sakit!" rintih Bella merasa sakit saat wajah lebamnya di berikan obat.


"Iya sayang maaf, ini Mama juga pelan kok"

__ADS_1


"Huh ini semua karena Aidah Ma!!" ujar Bella pelan dengan kesalnya.


"Benar sayang, ini semua karena anak s*alan itu!!" ucap Mama Bella geram.


"Huwaa sakit Ma!!" rintih Bella karena saat berbincang Mamanya langsung menindis lukanya.


"Eheh, maaf sayang. Mama pelan ok" ujar Mama merasa bersalah.


Bastian dan Papa Bella hanya meringis melihat luka di wajah Bella.


******


Seperti yang mereka bincang kan semalam. Pagi ini mereka semua sudah ada di Rumah Sakit yang bukan milik keluarga Lewis, karena itu permintaan Risya yang tak ingin jika di Rumah Sakit keluarga Lewis, karena menurutnya jika di Rumah Sakit keluarga Lewis maka keluarga Lewis akan gampang jika ingin mengganti hasil tes DNA, jadi ia mau di Rumah Sakit yang lain. Padahal biar di Rumah Sakit apa pun keluarga Lewis bisa saja menggantinya, tapi keluarga Lewis semuanya adalah orang yang pantang berbohong, apalagi mereka juga ingin tau terutama Andrew hasil akhirnya.


Tes DNA waktunya sebenarnya beberapa hari, tapi dengan kekuasaan mereka, mereka menyuruh Dokter agar memberikan hasilnya paling lambat sore ini.


"Permisi, Tuan, dan Nyonya yang ingin melakukan tes DNA bisa ikut dengan kami" ujar Dokter yang akan melakukan tes DNA langsung.


"Apa harus di suntik Dok?" celetuk Cika polos.


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Cika, "Tidak kok Nona, tapi kami hanya akan mengambil darahnya sedikit saja bahkan setetes juga bisa, karena dengan menggunakan darah maka hasilnya lebih cepat di dapatkan. Prosesnya juga sangat cepat kok" jelas Dokter.


Cika senang karena Dokter menjelaskannya dengan baik ke dia, "Hehe makasih kak Dokter ganteng" ucap Cika dengan cengengesan.


Dokter itu hanya tersenyum malu saat di katakan ganteng oleh Cika.


"Baiklah, ayo kita tes DNA Dok!!" ujar Risya tidak sabar.


Yang akan melakukan tes DNA pun masuk ke ruangan bersama Dokter dan suster. Tes DNA itu pun di lakukan, waktunya sangat singkat. Hanya beberapa menit, lalu semuanya keluar dari ruangan.


"Bisa kan Dok, tes DNA nya sore ini juga kami akan ambil!!" ujar Andrew tegas.


"Insya Allah Tuan, kami akan berusaha" ujar sang Dokter dengan senyum ramahnya.


"Baiklah, Dokter terimakasih. Kami akan datang sore ini ke Rumah Sakit lagi" ujar Kakek Arsen, lalu mengajak semuanya untuk pulang.

__ADS_1


Di perjalanan pulang, Cika tak hentinya berceloteh di samping Ardian mengenai Dokter tampan tadi.


"Aahhk kak, Dokter tadi udah baik, ramah, mudah senyum mana senyumnya manis lagi, ganteng pula" puji Cika senang sembari memukul-mukul lengan Ardian.


Ardian menatap datar adiknya itu yang asyik berceloteh senang dan memukul-mukul lengannya padahal ia tidak salah sedikit pun.


"Dek, bisa tidak kalau senang ya senang aja, nggak usah pukul-pukul kak juga kan?" ujar Ardian menatap sinis Cika.


"Eh" Cika menghentikan tangannya yang tanpa sadar karena senang memukul-mukul lengan Ardian. "Hehe maaf kak nggak sengaja, lagian hanya pukulan kecil juga" ujar Cika dengan cengengesan.


Ardian hanya menghela nafas melihat Cika cengengesan.


Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di Mansion Andrew. Baru saja mereka turun, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Andrew!!" ujarnya sembari berlari masuk agar penjaga tidak bisa menahannya.


"Andrew sayang, maaf Mama datang ke Mansion kamu lagi, soalnya Mama tidak bisa menahan rasa rindu ini lagi sayang maafin Mama yah. Mama udah cari kamu di Perusahaan tapi kamu juga tidak ada, jadi Mama terpaksa datang ke Mansion ini, Mama mohon jangan usir Mama" ujar Mama Andrew dengan lirih serta wajah yang nampak kasihannya, apa lagi pakaiannya yang compang-camping.


Keluarga Wikram hanya diam melihat wanita itu, walaupun mereka agak penasaran dengan siapa wanita yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba mengakui sebagai Mamanya Andrew.


Andrew mengepalkan tangannya melihat wanita ini datang lagi di hadapannya.


"Penjaga, usir dia!!" perintah Andrew dengan tatapan tajamnya.


"Baik Tuan" Penjaga itu pun memegang tangan Mama Andrew.


Mama Andrew menggeleng, "Tidak Nak."


"Tunggu!!!" ucap Kakek Arsen sembari menampakkan dirinya di depan Mama Andrew itu.


Mama Andrew itu terbelalak kaget dan terdiam melihat Ayahnya ada di depannya.


"Pa....Papa ke...kenapa bisa ada di sini?! Bu..bukannya Papa sudah meninggal?!!" tanya Mama Andrew itu terbelalak kaget terkejut melihat Ayahnya yang bukannya dulu sudah meninggal kenapa tiba-tiba ada di depannya, apa ia salah lihat saat ini.


Kak Arsen mengabaikan pertanyaan anaknya itu dan memilih menatap Andrew serius, "Andrew suruh penjaga kamu itu membawa wanita ini ke dalam, Kakek ada urusan dengan wanita ini dan juga urusan ini menyangkut kamu!!" ujar Kakek Arsen dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Andrew yang melihat wajah serius Kakeknya itu dengan terpaksa menyuruh bawahannya agar membiarkan wanita itu masuk ke dalam Mansionnya.


__ADS_2