
Malam hari, semuanya tengah duduk di ruang keluarga saat ini setelah selesai makan malam.
"Kalian tadi kemana semua??" tanya Andrew membuka percakapan.
"Bibi nggak bilang kah? Kami hanya pergi ke acara teman" jawab Selani.
Andrew mengangguk paham, "Bilang sih, tapi Andrew hanya ingin memastikan saja."
"Oh iya ngomong-ngomong tentang tadi, aku mau berencana menjodohkan Ardian dengan anak teman, dia udah cantik, berpendidikan sangat baik dan ramah lagi" cetus Nita dengan raut wajah senangnya.
"Hah?!!" Ardian membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan Mamanya itu.
"Mama apa-apaan sih!! No!! Ardian nggak mau yah kalau pakai di jodoh-jodohin, lagian Ardian juga belum mau nikah!!" tegas Ardian dengan wajah seriusnya.
"Ck, memangnya kamu mau hidup seperti ini terus ha!! Dekat sama banyak wanita, tapi tidak ada satupun yang kamu anggap serius. Mana pekerjaan di Perusahaan tidak kamu kerjakan dengan baik lagi!! Kalau kamu punya istri, Mama yakin kamu pasti bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Lihat Kak Andrew kamu dia juga di jodohkan sama Aidah kan, tapi sekarang lihat mereka berdua jatuh cinta kan!!" ucap Nita tegas dengan panjang lebar.
"Tapi Ma, ini beda dengan Ardian!! Ardian tidak suka yah kalau namanya perjodohan-perjodohan gitu, pokoknya Ardian tidak setuju!" tegas Ardian, lalu pergi dari ruangan itu.
"Huh, dasar anak itu keras kepala banget!!" kesal Nita melihat anaknya menolak keinginannya dengan tegas.
"Sudahlah Nita, jangan paksakan Ardian seperti itu, nanti dia tambah melawan lagi biarkan saja dia cari apa yang diinginkannya asalkan tidak keluar batas" ujar Ana menasehati.
"Hah, tapi aku udah capek lihat tingkah anak itu masih saja menganggap dirinya masih muda, padahal usianya sudah dua puluh enam tahun!!" kesal Nita lagi.
"Sudah jangan marah lagi Nita, biar Nathan yang bicara dengan dia, kan kamu tau sendiri dia itu takut sama Nathan" ujar Ana mengusulkan.
"Eh, kok nama aku di bawah-bawah sih. Rafael yang punya anak juga kenapa malah aku yang urus, lagian itu anak aku heran kenapa malah takut sama aku bukan sama bokapnya" ujar Nathan dengan gelengan kepalanya.
"Karena muka Kakak menyeramkan, makanya anak aku lebih takut sama Kakak, beda denganku yang punya muka sewajarnya" ledek Rafael.
"Apa kamu bilang!!" ketus Nathan menatap jengkel adiknya itu yang meledeknya.
"Kalian ini semua dasar sudah tua masih saja suka saling ledek" Kakek Arsen geleng-geleng kepala dengan tingkah keempat orang yang tak muda lagi itu.
"Oh iya cucu menantu, bagaimana dengan kamu sekarang? Cucu nyebelin Kakek tidak buat jahat kan sama kamu?!" tanya Kakek serius.
"Nggak kok Kek, tapi Aidah masih kesal mengingat malam itu. Cucu Kakek memang nyebelin banget juga suka meledek Aidah" adu Aidah dengan manjanya. Sebenarnya Aidah tidak ingin berkata seperti itu, tapi Aidah melihat dari balik tembok ternyata ada yang menguping sedari tadi.
'Astaga dia tidak capek apa berdiri atau jongkok di situ terus dari tadi?' batin Aidah saat melihat sekilas seseorang di balik tembok yang ternyata adalah Lita.
__ADS_1
"Astaga sayang, itu hanya kesalahpahaman saja. Dan kalau Mas ledek itu artinya Mas sayang" ujar Andrew berusaha membela dirinya.
"Haiss kamu yah sudah nikah juga masih tidak tau cara nyenengin hati wanita!! Kalau begitu cucu menantu malam ini tidur lagi saja dengan Cika nggak usah ingat anak nakal ini" ujar Kakek Arsen lagi.
"Benar itu Kakak ipar tidur sama Cika saja lagi."
Aidah melirik suaminya saat Kakek Arsen menyuruhnya lagi untuk tidur di kamar Cika.
"No, Aidah tidur dengan Andrew, kalau sama Cika nanti bisa-bisa di tendang perutnya bagaimana? Sudah cukup semalam tidur sama Cika. Selamat malam!" Andrew tiba-tiba langsung menggendong Aidah.
Aidah membelalakkan matanya dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
"Mas ada Lita yang lihat" bisik Aidah dan berusaha memberontak.
"Terserah" ujar Andrew dengan nada sedikit kesalnya saat mendengar ucapan istrinya itu. Bagaimanapun malam ini Andrew tidak peduli mau ada Lita kek, Lito kek, atau Linta kek, yang penting dia harus tidur dengan istrinya, karena kalau ia sampai pisah kamar bisa-bisa dia tidak bisa tidur lagi seperti semalam.
Semuanya agak kaget lalu tersenyum geli melihat tingkah Andrew itu.
"Sudahlah, ayo kita istirahat saja dulu semuanya sudah malam juga. Masalah Ardian nanti biar suruh Andrew besok saja untuk bantu bicara" ujar Kakek Arsen mengajak semuanya untuk istirahat.
Semuanya pun mengangguk paham, lalu mulai pergi kembali ke kamar masing-masing.
Renald pun memberhentikan langkahnya dan menatap Kakek Arsen, "Ada apa Kek?!" tanya Renald heran.
"Ikut Kakek ke kamar Kakek!!" perintah Kakek Arsen.
Renald mengangguk. Kakek Arsen pun dan Renald pergi ke kamar Kakek Arsen.
Saat di kamar Kakek Arsen menatap serius Renald, Renald tambah penasaran melihat wajah Kakek Arsen yang serius.
"Ada apa Kek, sepertinya sangat serius?" tanya Renald dengan wajahnya yang ikut serius juga.
"Hmm, Kakek dengar ada yang akan mengirim pembunuh untuk membunuh pemimpin selanjutnya Mafia kita yaitu kamu!!" ujar Kakek Arsen dengan serius.
"Apa! Dari mana Kakek tau? Kenapa anak buah di markas tidak bilang masalah ini dengan Renald?" tanya Renald heran, karena dia tidak mendapatkan kabar apapun.
"Kamu tidak perlu tau soal ini, karena Kakek akan selalu ada mata-mata dimana-mana" ujar Kakek Arsen misterius.
'A..apa ada lagi yang di sembunyikan sama Kakek Arsen?!' batin Renald bertanya-tanya saat mendengar ucapan Kakek Arsen itu.
__ADS_1
"Yang paling penting Kakek mau kamu harus hati-hati mulai sekarang, dan yah bisa saja yang akan membunuh kamu itu menyusup jadi siapa saja di sekeliling kamu membuat kamu terkecoh, Kakek mau kamu jangan sampai tertipu daya dengan sekitar mu tetap waspada bahkan dengan orang kepercayaan kamu sekalipun!!" tegas Kakek Arsen.
Renald mengangguk paham, "Siap Kek, Renald pasti akan selalu berhati-hati mulai saat ini" ujar Renald mantap dengan wajah seriusnya.
"Hmm, Kakek percaya sama kamu!!" ucap Kakek, sembari menepuk pundak Renald.
Sementara itu di kamar lainnya yang berada di Mansion itu. Kamar yang letaknya berada di dekat dapur, dengan ukuran yang tidak seberapa luasnya.
Seorang wanita tengah baring di kasurnya dengan banyak pikiran di kepalanya yang melayang-layang saat ini.
Drrtt drrtt, suara telfon berbunyi.
Mendengar suara telfonnya berbunyi, wanita itu pun langsung melihat siapa penelfonnya dan buru-buru duduk dan mengangkat telfon itu.
"Iya Tuan?" ujar wanita itu.
"Ckck sepertinya hari-hari kamu enak yah di sana Lita sangat santai" ucap seseorang yang di sebrang telfon itu dengan ketus.
"Ti..tidak Tuan, saya sudah berhasil sesuai keinginan Tuan membuat hubungan Andrew dan Aidah renggang" jawab Lita buru-buru dengan cemasnya.
"Ck saya tidak mau bermain berlama-lama lagi, saya ingin besok saya dengar kamu sudah berhasil naik di ranjangnya atau apapun itu yang penting membuat pasangan s*alan itu cerai besok!! Kalau kamu tidak bisa maka kamu akan tau akibatnya" ancam seseorang di sebrang telfon itu.
Lita sangat kaget mendengar itu, bagaimana caranya dia bisa melakukan hal gila dan sangat beresiko itu. "Ta..tapi Tuan Maxim baga-"
"Kamu taukan saya tidak terima kata tidak bisa, saya mau besok saya sudah mendengar kabar bahagia mengenai ini dari kamu. Dan kamu tau pastikan apa akibatnya jika sampai kamu gagal" potong Maxim mengancam dengan senyum menyeringainya dari balik telfon.
"Ba..baik Tuan Maxim" jawab Lita dengan sangat terpaksa, air mata juga sudah luruh jatuh di pipinya.
"Nah gitu baru anak buah ku!! Ingat lalukan yang terbaik" kekeh Maxim, lalu mematikan panggilan itu sepihak.
Setelah panggilan itu mati, Lita memegang erat handphonenya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya itu.
"Ba...bagaimana caranya aku bisa melakukan hal itu, i...ini sangat sulit apa lagi aku tau banget Tu..Tuan Andrew sangat mencintai Nyonya Aidah" ujar Lita dengan air matanya mengalir deras di genggamnya erat handphonenya itu.
Lita mengambil foto di atas nakas samping kasur kecilnya.
"Ma..Mama hiks hiks Lita harus apa, Lita harus bagaimana. Lita tak tega jika harus membuat anaknya pisah dengan orang tuanya kalau lahir kelak, ta..tapi Lita juga tidak ingin kalau sampai Mama, Bapak dan adik kenapa-kenapa hiks hiks" ujar Lita merasa sangat gundah dan sedih saat ini. Ia memeluk foto Mamanya itu sangat erat.
Lita bingung saat ini apa yang harus di lakukannya, apakah ia harus melakukan cara licik. Walaupun dia sangat iri dengan Aidah, tapi ia juga tak tega jika harus membuat pisah anak di kandungan Aidah itu dengan Ayahnya. Tapi, jika ia tidak melakukan perintah orang itu, maka yang akan terima akibatnya adalah orang-orang yang ia sayangi. Ia juga tak ingin jika sampai orang-orang tersayangnya kenapa-kenapa hanya karena rasa iba nya dengan orang lain.
__ADS_1