Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Rewel


__ADS_3

Keesokan harinya. Acara pernikahan Renald dengan Bricia serta aqiqah baby Ai berjalan dengan lancar semenjak jam sepuluh pagi tadi hingga saat ini sudah sore.


Ruangan sudah nampak mulai sepi lagi, karena para tamu sudah pulang setelah sedari tadi banyak tamu yang berdatangan ke pesta ini.


Baby kembar Ai serta Aidah sudah beristirahat duluan sedari tadi di salah satu kamar di Mansion keluarga Wikram.


"Ma, Pa dan yang lainnya kami pamit mau istirahat dulu" ujar Renald karena sudah merasa capek sedari tadi hanya duduk dan menjamu para tamu undangan.


"Ekhem ciee ada yang udah nggak tahan nih" goda Ardian ke Renald yang meminta pamit.


"Cih, daripada ledekin aku tuh lebih baik buruan lamar Lita sebelum di embat orang."


Ardian menoleh ke Lita yang ada di sampingnya, ia lalu mengaitkan tangannya ke tangan Lita.


"Tenang aja kak Ren, dia itu udah jadi punyaku nggak bakalan ada yang bisa ambil lagi" ujar Ardian bangga dengan menaik turunkan alisnya.


"Udahlah, ayo sayang." Renald merangkul Bricia ke tempat beristirahat mereka.


"Andrew pamit juga dulu mau ketempat baby Ai dan Aidah" ujar Andrew pamit. Saat melihat anggukan dari semuanya, Andrew pun pergi dari tempat itu menuju ke salah satu kamar tempat istrinya beserta anaknya berada.


Tok tok tok. Sebelum masuk Andrew mengetuk pintu terlebih dahulu agar tidak mengagetkan istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Sayang, ini Daddy" ujar Andrew dari luar.


"Masuk saja Mas" jawab Aidah dari dalam kamar.


Saat memasuki kamar, Andrew melihat anak-anaknya yang enteng nampaknya tengah tidur di kasurnya masing-masing serta Aidah yang berada di samping anak-anaknya menjaga anak-anaknya itu.


Andrew pun duduk di samping istrinya.


"Mulai sekarang jangan panggil Mas lagi dong sayang, panggil Daddy" ujar Andrew dengan merangkul istrinya lalu membaringkan kepala istrinya dipelukannya.


Bukannya menjawab Aidah malah terkekeh geli mendengar itu.


"Kenapa terkekeh? Ada yang lucu kah?" tanya Andrew bingung.


"Heii apa yang lucu sih, agar lebih bagus gitu loh sayang kan Daddy bagus terus nanti Daddy panggil kamu itu Mom" ujar Andrew lagi.


"Ekhem" Aidah berusaha menetralkan dirinya agar tidak tertawa lagi nanti bisa-bisa anaknya terbangun mendengar tawanya.


"Baiklah, Aidah eh Mom ikut saja perkataan Daddy" jawab Aidah dengan anggukan kepalanya walaupun masih nampak menahan tersenyum menahan tawanya.


"Sayang!" Andrew menatap cemberut istrinya yang nampak masih merasa lucu dengan panggilan itu, padahal kan ia biasa dengar dengan pasangan di luar sana panggil itu biasa saja tapi kenapa istrinya merasa lucu.

__ADS_1


"Astaga Mas eh Daddy, Mom tuh udah setuju kenapa lagi?" tanya Aidah dengan menaikkan satu alisnya serta senyumnya yang masih nampak menahan tawa.


"Huh, Daddy hukum kamu!!" Andrew mendorong istrinya itu ke kasur dengan pelan karena ia juga tidak ingin istrinya itu merasa sakit.


"Eh!" Aidah membelalakkan matanya kaget.


"Mmm itu Dad-"


"Itu apa Mom hmm?" Andrew menyentuh wajah istrinya itu dengan senyum liciknya.


Baru saja Andrew ingin mendekatkan wajahnya, suara anaknya yang menangis terdengar keras di kamar itu.


Mendengar tangisan baby mereka, mereka berdua pun menoleh ke anak-anak mereka.


Aidah tersenyum senang.


"Ekhem Mas sepertinya anak kita mau mimi" ujar Aidah.


Andrew dengan rasa sedikit kecewanya itu pun berdiri kembali.


Dan yang ternyata menangis kali ini itu Aidan lagi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tambah rewel hmm Aidan biasanya diam saja?" tanya Andrew sedikit bingung dan gemes dengan anaknya satu ini.


__ADS_2