Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Menuruti Keinginan


__ADS_3

Aidah membuka, lalu membaca surat yang baru saja di berikan kepadanya itu.


Saat baru membaca beberapa kata senyum yang di nampak kan Aidah sebelumnya berubah wajahnya menjadi datar, moodnya pun rusak membaca surat itu.


Andrew yang melihat ekspresi istrinya itu, menatap istrinya bingung. Andrew pun langsung mengambil alih surat itu lalu membacanya.


Tatapan Andrew nampak semakin tajam membaca surat itu.


Sementara, Endra hanya bisa menunduk sembari bertanya-tanya dari siapa surat itu. Apa lagi saat ia sesekali melirik ekspresi Nyonya dan Tuannya nampak berubah, suasana pun agak tegang di ruangan itu.


"Sayang, kamu tidak usah pergi" ucap Andrew, setelah membaca keseluruhan surat itu.


Aidah menggeleng, sembari menatap dalam suaminya.


"Tidak Mas, Aidah mau menyelesaikan semuanya. Aidah tidak ingin ada masalah lagi kedepannya" ujar Aidah tegas.


"Tapi kamukan-"


"Boleh yah Mas, Mas kan bisa nemenin Aidah?" pinta Aidah menatap memelas suaminya.


"Hah, baiklah" Andrew pasrah jika sudah melihat wajah memelas istrinya itu.


"Makasih Mas" ujar Aidah, lalu memeluk suaminya senang.


Andrew hanya ikut tersenyum melihat senyum istrinya. Andrew pun kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Endra yang masih sedia menunduk di dekatnya itu.


"Kenapa kamu masih di sini?! Sana pergi lanjutkan pekerjaan kamu!!" tegas Andrew.


"Eh, baik Tuan. Tapi ini, saya bawa berkas yang harus anda tanda tangani" ujar Endra pelan.


"Hmm, taruh saja di meja."


Endra pun menaruh berkas yang di bawahnya itu ke meja Andrew, lalu buru-buru pergi dari ruangan walaupun sebenarnya masih kepo dengan seseorang yang mengirimkan surat itu. Sebenarnya Endra sudah curiga mengarah ke siapa itu si pengirim surat, tapi tetap saja itu hanya pemikiran Endra yang belum pasti.


******

__ADS_1


Siang hari, sepasang pasutri itu masih sibuk mengutak-atik laptopnya.


Sebenarnya tidak ada yang perlu Aidah kerjakan, semuanya sudah di serahkan ke Endra, tapi Aidah juga meminta agar ia bisa mengerjakan sesuatu sesuai tugasnya sebagai sekretaris. Mau tidak mau, Andrew memberikan sedikit pekerjaan yang tidak terlalu berat ke Aidah.


"Sayang, sudah dulu kerjanya. Ayo makan, anak kita juga pasti sudah lapar" ajak Andrew sembari mematikan laptopnya itu, lalu berjalan ke arah istrinya yang masih mengotak-atik laptopnya.


"Iya, Mas. Tunggu dulu yah, sedikit lagi" ujar Aidah yang tatapannya masih fokus ke arah laptop di depannya.


Cklek


Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka.


"Eh" Keduanya langsung mengalihkan tatapan mereka ke pintu yang terbuka.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?!!" ujar Andrew dengan dingin serta tatapan tajamnya.


"Glek, Ma..maaf Tuan saya lupa" ujar seseorang yang baru datang itu dengan menunduk.


"Hah, tidak apa-apa Lita. Tapi, jangan ulangi lain kali" tegas Aidah. "Oh yah, ada apa kamu ke sini?" lanjut Aidah dengan menaikkan satu alisnya menatap seseorang yang baru masuk itu yang ternyata adalah Lita pembantu baru di Mansion.


"Eh, siapa yang suruh?" tanya Aidah heran, karena orang di Mansion sudah tau jika dirinya dan suaminya itu selalu makan bersama di luar dan tentu di tempat dan makanan yang cocok untuk ibu hamil.


Lita menggeleng, "Tidak ada yang menyuruh, ta..tapi saya membawa ini karena saya kira Nyonya lebih cocok masakan Mansion selama hamil daripada masakan luar" ujar Lita pelan lagi.


"Ha? Oh baiklah tidak apa-apa, makasih yah makanannya. Sini kamu bisa taruh di meja aku dulu" ujar Aidah dengan senyum ramahnya.


Lita pun berjalan mendekat, lalu menaruh makanan yang di bawakannya itu di meja Aidah.


"Aku terima yah, makasih banyak sekali lagi yah Lita. Tapi, lain kali kamu tidak perlu repot-repot karena Mas Andrew dan aku sudah ada tempat yang makanannya cocok untuk ibu hamil seperti aku" jelas Aidah dengan ramahnya. "Dan yah tolong kalau masuk ketuk terlebih dahulu yah" lanjut Aidah masih dengan senyum ramahnya.


"I..iya Nyonya, maaf" ujar Lita dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kamu kan pembantu baru jadi aku maklumi kamu masih berusaha berinteraksi dengan semua ini" ujar Aidah lagi.


Suasana sunyi setelah Aidah mengatakan itu. Lita juga tidak pergi, tapi tetap berdiri di tempat itu.

__ADS_1


Lita melirik Andrew yang berdiri di sisi lain meja Aidah. Lita membelalakkan matanya kaget saat melihat penampilan Andrew yang masih memakai baju pink serta bando pink bunga-bunga tadi.


'Astaga, i..itu Tuan?! Kenapa dia memakai pakaian seperti itu?!' batin Lita heran dan kaget.


"Kamu bisa pergi sekarang!!" tegas Andrew mengusir Lita dengan tatapan tajamnya. Entahlah, ia tidak suka saat melihat gerak-gerik aneh Lita.


Lita tersadar, saat mendengar ucapan tegas dari Andrew. "A..apa tidak ada yang Tuan, dan Nyonya butuhkan lagi gitu?? Lita bisa bantu?" tanya Lita yang bukannya pergi setelah di usir malah bertanya.


"Tugas kamu di dapur, bukan di Perusahaan!!" ujar Andrew dengan sinisnya.


"Ekhem, tidak ada yang perlu kok Lita kan ada Ob juga di sini. Kamu bisa pulang dan lanjut kerja di Mansion" ujar Aidah menengahi.


"Baiklah, maaf sekali lagi Tuan dan Nyonya. Lita mohon pamit" ujar Lita, lalu pergi dari ruangan itu.


"Sayang, kamu harus berhati-hati dengan dia. Mas lihat gerak-geriknya aneh" ujar Andrew saat melihat Lita sudah pergi.


"Iya Mas, Aidah paham" ucap Aidah mengangguk mengerti.


"Yasudah ayo sayang kita pergi makan di tempat itu" ajak Andrew.


"Eh, tapi ini makanannya bagaimana Mas?" tanya Aidah dengan menatap makanan di bawa Lita itu yang berada di depannya.


"Biar Endra saja yang makan" jawab Andrew enteng.


Aidah mengangguk paham, "Eh, tapi Mas nggak mau ganti pakaian dulu?" tanya Aidah menatap pakaian di pakai suaminya itu yang masih memakai pakaian keinginannya.


Andrew menggeleng, "Tidak apa-apa. Aku pakai ini saja, apa pun keinginan istri dan anak Mas kalau Mas bisa turutin pasti Mas turutin" ujar Andrew lembut.


Aidah tersenyum haru mendengar ucapan suaminya. Andrew pun menggandeng istrinya itu pergi, tapi sebelum pergi Andrew memberitahu Endra terlebih dahulu untuk mengambil makanan di meja Aidah.


Saat sampai di lantai bawah, dimana banyak karyawan yang melihat. Semuanya membelalakkan matanya kaget saat melihat tampilan bosnya yang baru kali ini tidak memakai pakaian warna gelap, tapi kali ini memakai pakaian berwarna pink yang sangat bedah jauh dari kepribadian bos mereka. Bahkan, yang lebih mengagetkan mereka bos mereka memakai bando bunga pink, dan bos mereka juga berjalan dengan enteng dan santainya tanpa merasa malu sama sekali memakai itu.


"Mas, apa Mas nggak malu gitu? Kita di lihatin sama semuanya loh?" bisik Aidah yang sebenarnya merasa tak enak dengan suaminya, karena keinginannya serta anaknya itu suaminya harus menjatuhkan harga dirinya serta kepribadiannya yang terkenal kejam dan sangar di Perusahaan karena memakai pakaian serta bando seperti ini.


Andrew menjawab dengan enteng dan mantapnya, "Kenapa meski malu?? Ini kan hidup Mas yah terserah Mas mau pakai apa."

__ADS_1


__ADS_2