Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kekagetan


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk" ucap seseorang yang berada didalam ruangan.


Cklek


"Maaf menganggu Tuan Endra, saya ingin memberitahu bahwa di bawah ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Tuan Andrew, tapi dia tidak punya janji, walaupun begitu dia tetap bersikeras ingin bertemu dengan Tuan Andrew Tuan" ujar seseorang yang baru saja masuk itu yang pasti adalah karyawan di perusahaan itu.


"Ha? Kenapa kamu tidak telpon Tuan Andrew saja langsung?! Bukankah telponnya bisa tersambung langsung dengan telpon di ruangan Tuan Andrew?!" tanya Endra heran.


"Maaf Tuan, tapi Tuan tau kan itu-"


"Hmm, saya paham" potong Endra. "Tapi, kenapa juga kamu tidak langsung telpon saya saja? Tidak usah kemari langsungkan?" tanyanya sekali lagi dengan heran.


"Maaf Tuan, saya sudah menghubungi Tuan, tapi nomor Tuan tidak bisa di hubungi" ucap karyawan itu dengan menunduk.


"Ha?" Endra melihat telpon di mejanya. Endra langsung menghela nafasnya, "Hmm, saya lupa telpon saya baru saja rusak kemarin sore. Hah, sudahlah kamu bisa pergi sekarang, biar saya yang memberi kabar ke Tuan Andrew" ujar Endra lalu melambaikan tangannya tanda menyuruh karyawan itu keluar.


"Baik Tuan, saya permisi" Karyawan itu pun menunduk hormat lalu berbalik ingin pergi.


"Eh, tunggu dulu. Siapa nama orang itu?!!" tanya Endra.


Karyawan itu pun langsung berbalik lagi menghadap Endra, "Namanya kalau tidak salah Renald Tuan" jawab sang karyawan.


"Oh, baiklah. Kamu bisa pergi!"


Karyawan itu pun pergi dari ruangan Endra.


"Renald siapa?? Apakah Tuan kenal yah dengan namanya Renald?" gumamnya bertanya-tanya. Tapi, Endra tidak terlalu memikirkannya, mungkin saja kan Tuannya kenal dengan orang itu, dia kan tidak 24 jam bersama Tuannya.


Endra pun membereskan berkas-berkas yang berantakan di mejanya dulu, lalu beranjak pergi ke ruangan Tuannya.


Tok tok tok


"Masuk"


Endra pun masuk ke dalam, lalu membungkuk hormat.


"Maaf mengganggu waktunya Tuan, Nyonya. Tapi, saya dapat kabar di bawah ada yang ingin bertemu dengan Tuan tanpa membuat janji" lapor Endra saat masuk ke dalam ruangan.


"Siapa?" tanya Andrew dengan menaikkan alisnya satu.

__ADS_1


"Kata karyawan namanya Renald Tuan" jawab Endra.


"Renald!!" ucap Andrew dan Aidah kompak. Sebenarnya Aidah hanya ingin dengar saja, tapi saat mendengar nama pria yang aneh itu menurutnya tiba-tiba ia berucap kaget juga, karena pria itu tiba-tiba datang ke Perusahaan suaminya.


"Iya Tuan. Jadi, bagaimana Tuan? Apakah Tuan ingin menemuinya atau tidak?" tanya Endra sopan.


"Hmm, biarkan dia kesini!!" ujar Andrew.


'Kenapa pria itu datang ke Perusahaan Mas Andrew? Dari mana juga dia tau, apa lihat dari berita kali yah??' batin Aidah heran dan bertanya-tanya.


"Baik Tuan. Mm boleh saya pinjam telponnya Tuan untuk menghubungi pihak resepsionis?" tanya Endra pelan.


"Memangnya telpon kamu kenapa?!" Bukannya menjawab, tapi Andrew balik nanya.


"Telpon saya rusak kemarin sore pas mau selesai jam kerja Tuan, dan saya belum sempat belli yang baru" ujar Endra.


"Hmm, biar saya yang hubungi saja!" ucap Andrew, lalu menindis beberapa nomor yang ada di telpon di mejanya.


Telpon pun langsung di angkat oleh orang yang di telponnya.


"Iya Tuan?" ujar resepsionis dengan gugupnya.


"Izinkan pria bernama Renald itu ke ruangan ku!!" perintah Andrew, setelahnya Andrew langsung mematikan telpon tanpa menunggu jawab dari resepsionis.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Andrew dari dalam ruangan.


Seseorang yaitu Renald pun masuk ke dalam ruangan.


"Selamat siang Tuan Andrew" sapa Renald, lalu mata Renald tak sengaja melihat Aidah juga berada di ruangan itu.


"Loh, kamu juga ada di sini?" tanya Renald agak kaget, karena anak buahnya tidak memberi tahunya mengenai Aidah yang kerja juga di Perusahaan Andrew.


Aidah hanya tersenyum kecil saja membalas pertanyaan Renald, karena Aidah saat ini tau suaminya tengah menatap tajam Renald.


Andrew memicingkan matanya mendengar ucapan serta melihat Renald menatap istrinya seperti itu, entahlah kalau melihat Renald bawaannya Andrew merasa cemburu saja.


"Ada apa kamu kesini?!!" tanya Andrew to the point, dengan tatapannya yang menghunus tajam ke Renald.


"Ekhem, saya ke sini karena ada yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Andrew. Tapi, karena istri Tuan juga ada di sini, saya ingin bicara dengan kalian berdua" jawab Renald to the point juga dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Aidah yang mendengar itu bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin di bicarakan pria ini.


Melihat wajah serius Renald pun Andrew langsung menatap tangan kanannya yang masih berdiri di tempatnya sedari tadi, "Endra kamu bisa keluar dulu!!" ucap Andrew.


"Biak Tuan, permisi Tuan, Nyonya" Endra menunduk hormat lalu pergi dari ruangan.


"Duduk!!" perintah Andrew ke Renald.


"Hmm, makasih" Renald pun duduk di kursi depan Andrew, saat ini ia hanya di pisahkan meja dengan Andrew.


"Sayang, sini dulu" panggil Andrew.


Aidah mengangguk paham. Aidah pun membawa kursinya ke samping suaminya.


"So, ada apa??" tanya Andrew dengan wajah seriusnya, karena Renald juga tengah menatap mereka berdua dengan serius.


"Saya ingin bertanya sama istri kamu, dimana dia mendapatkan gelang itu?!" tanya Renald dengan serius.


"Ha??" Aidah kaget dan heran dengan pertanyaan Renald yang sama waktu di warung kemarin. Aidah pun menatap gelangnya dan bertanya-tanya ada apa memangnya dengan gelangnya ini.


Andrew juga merasa heran dan aneh dengan pertanyaan Renald yang sama.


"Memangnya kenapa dengan gelang istri saya?!" tanya Andrew heran.


"Biarkan istri Tuan menjawab dulu, baru saya jelaskan semuanya" ucap Renald serius.


"Ah, ini gelang aku juga nggak tau sih dari mana. Soalnya gelang ini sudah aku pake sedari kecil, dulu waktu kecil gelang ini kelonggaran tapi aku tetap pakai sampai sekarang udah pas banget di tanganku. Apa gelang ini ada sesuatu gitu??" tanya Aidah heran.


"Hmmm gelang yang kamu pakai sama persis dengan gelang yang dimiliki adik saya sebelum dia menghilang" ucap Renald to the point.


Andrew dan Aidah membelalakkan matanya mendengar ucapan to the point Renald.


"Tuan jangan bilang sembarangan gitu, bisa saja banyak yang pakai gelang seperti ini!" ujar Aidah berusaha tenang, tapi di hatinya merasa cemas mendengar itu.


Renald langsung menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aidah, "Gelang itu saya yang buat sendiri waktu kecil khusus untuk adik saya, jadi saya tau gelang seperti itu hanya ada satu, dan karena itu saya kesini ingin mencari tau kebenarannya" jelas Renald dengan wajah seriusnya. "Terlebih lagi adik saya yang di temukan beberapa tahun silam, gelang yang sama seperti yang di pakai kamu hilang dari dia, makanya saya kaget kemarin saat melihat gelang yang saya berikan ke adik saya dulu tiba-tiba kamu pakai dan itu sama persis atau bahkan itu memang gelang yang saya berikan ke adik saya" lanjut Renald.


Andrew dan Aidah terdiam mendengar penjelasan Renald, terlebih Aidah yang rasanya tak percaya dengan yang di dengarnya saat ini.


"Ja...jadi maksud kamu, gelang ini milik adik kamu yang hilang terus ada yang mendapatkannya dan memakaikannya di tangan aku?" tanya Aidah memastikan dengan perasaannya yang sudah campur aduk.


Renald kembali menggeleng, "Saya malah berfikir bahwa kamulah yang adik saya yang sebenarnya" jawab Renald dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Degg~


Aidah shock kaget mendengar ucapan Renald, bukan hanya Aidah tapi Andrew pun ikut kaget mendengar penuturan Renald.


__ADS_2