
Saat sampai di Mansion, Andrew langsung di berikan banyak pertanyaan oleh keluarga nya. Apa lagi setelah mengetahui bahwa Andrew dan Aidah hampir saja mengalami kecelakaan.
"Kalian lihat kan, Andrew dan Aidah baik-baik saja" ujar Andrew singkat, tidak ingin terlalu banyak bicara menjawab pertanyaan keluarganya yang banyak itu.
"Haiss kamu ini dasar cucu keras kepala!! Untung saja ada pengawal yang bisa menghalangi bagaimana kalau tidak ha, bisa-bisa kamu dan cucu menantu Kakek akan kenapa-kenapa!!" kesal Kakek Arsen saat mendengar jawaban Andrew yang singkat itu.
"Hmm, Andrew sudah menyelesaikannya Kek. Andrew janji kejadian seperti ini, tidak akan pernah terjadi lagi" janji Andrew ke Kakeknya itu, agar Kakeknya tidak marah-marah lagi.
"Huh baiklah Kakek pegang janji kamu!!" tegas Kakek.
Ting, sebuah pesan masuk ke handphone Andrew.
Andrew mengernyitkan dahinya saat melihat pesan itu dari Renald yang jelas-jelas saat ini masih ada di depannya.
Andrew menatap dengan penuh tanda tanya ke Renald. Renald mengkode Andrew agar membaca pesannya.
'Cih, apa yang dia rencanakan' batin Andrew yang melihat kode Renald. Andrew pun membaca pesan dari Renald itu, sekali lagi Andrew mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari Renald.
'Berbicara empat mata??' batin Andrew bertanya-tanya. Andrew itu pun membalas pesan dari Renald.
"Ekhem, baiklah. Sayang kamu bisa istirahat dulu, yang lain juga bisa istirahat dulu karena masih sore juga" ujar Andrew.
"Eh, Mas mau kemana?" tanya Aidah, karena suaminya hanya menyuruhnya istirahat tanpa dirinya.
"Masih ada yang perlu Mas kerjakan sayang, nanti Mas ke kamar yah. Kamu istirahat baik-baik saja di kamar" ujar Andrew lembut.
Aidah mengangguk mendengar perkataan suaminya, "Baik Mas."
Semuanya pun ke kamar masing-masing, kecuali Andrew dan Renald yang pergi ke ruang kerja Andrew yang ada di Mansion itu.
Saat sampai di ruangan, Andrew langsung bertanya, "Ada apa, kenapa kamu mau bicara empat mata?!" tanya Andrew menatap serius Renald.
"Kamu tau Tuan Maxim??" tanya Renald serius.
"Tuan Maxim?" tanya balik Andrew dengan mengernyitkan dahinya.
"Hmm, dia yang sekarang juga merupakan pebisnis besar" ujar Renald.
"Oh yang pebisnis itu, ada apa dengan dia?" tanya Andrew dengan mengernyitkan dahinya.
"Kamu belum tau, bawahan Kakek di markas barusan memberitahu aku masalah Tuan Maxim yang mempunyai rencana jahat dengan keluarga kita!!" ujar Renald serius.
__ADS_1
"Oh hanya itu, jadi Kakek juga sudah tau masalah ini?" tanya Andrew dengan entengnya.
"What!! Kamu bilang hanya itu" kesel Renald karena Andrew hanya menjawab apa yang di khawatirkan nya dengan enteng. "Ck, aku menyuruh anak buah itu untuk tidak memberitahu Kakek dulu masalah ini" lanjut Renald dengan tatapan sinisnya ke Andrew saat melihat wajah Andrew yang hanya tenang saja.
"Kamu tenang saja, aku akan menambah pengawasan di Mansion tambah memperketat semuanya" tegas Andrew. "Hmm sebaiknya Kakek memang tidak perlu tau" lanjut Andrew.
"Cih, orangnya sudah lolos masuk ke Mansion kali" sinis Renald kesal melihat wajah enteng Andrew.
"Ha?!! Siapa yang kamu maksud itu?!!" tanya Andrew serius, ketika mendengar orang bawahan Maxim lolos masuk ke Mansionnya.
"Ck baru serius kamu, tadi aku serius malah kamu jawab enteng" sinis Renald lagi.
"Ck nggak usah basa-basi Ren! Bilang sekarang siapa orangnya?!" tanya Andrew serius.
"Huh, orang yang di bawah adik sepupu kamu itu dia orangnya" jawab Renald dengan wajah seriusnya.
"APA!!" teriak seseorang kaget, setelah sedari tadi menguping pembicaraan Andrew dan Renald.
Mendengar teriakan itu, keduanya yaitu Andrew dan Renald langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Sejak kapan kamu di situ?!!" tanya Andrew dengan tatapan tajamnya.
"Tapi, beneran Kak apa yang Ardian denger. Orang yang menjadi bawahan musuh kita itu adalah Lita?!" tanya Ardian serius dan penasaran.
"Hmm" jawab Andrew hanya dengan deheman.
"Ckck, jangan-jangan rencana tabrakan waktu itu juga adalah siasatnya!! Jika itu benar haiss benar-benar dah s*alan!!" gumam Ardian geram.
"Bisa jadi Ardian" ujar Renald saat mendengar gumaman Ardian.
"Huh, sia-sia Ardian bilang berutang dengan dia, ternyata...." kesal Ardian.
"Nanti aku suruh orang usir dia" ujar Andrew.
"Haiss jangan usir begitu saja Kak!! Kalau kita usir dia begitu saja, dan tidak beri peringatan ke Maxim-Maxim itu nanti dia tambah ngelunjak Kak!!" geram Ardian.
"Emang kamu punya ide?" sinis Andrew. Padahal, Andrew niatnya hanya ingin berdua dan merajut kasih dengan istrinya tanpa ada masalah, tapi sepertinya masalah terus saja menghantui mereka.
"Tentu, Ardian punya ide" ujar Ardian dengan senyum liciknya.
"Ide apa Ardian?" tanya Renald penasaran.
__ADS_1
"Keinginan dia pasti ingin agar keluarga kita hancur, maka kita bisa mengikuti keinginan mereka. Bukankah cara memberikan pelajaran yang terbaik juga membuat mereka terbang setinggi langit lalu menjatuhkan mereka dengan sangat kasar ke dasar terdalam?" ujar Ardian dengan senyum liciknya.
"Maksud kamu apa?" tanya Renald lagi, tidak paham dengan maksud dari perkataan Ardian. Andrew juga kurang paham dengan maksud Ardian.
"Lebih baik, kita membicarakannya langsung dengan Kakak ipar" ujar Ardian lagi.
Saat ini, Andrew paham maksud Ardian, setelah Ardian berkata Kakak ipar.
"Ck, tidak!! Kakak ipar mu lagi hamil jangan melibatkan dia dalam bahaya lagi!!" kesal Andrew, menolak dengan tegas.
"Ardian janji ini tidak akan bahaya Kak, kita tanya Kakak ipar saja dulu kalau Kakak ipar menolak juga tidak apa-apa nggak usah di laksanakan ide Ardian" ujar Ardian serius.
"Heii, sebenarnya ide apa ini?? Kenapa Aidah adik aku akan dalam bahaya?!" tanya Renald yang tidak paham maksud dari keduanya.
"Nanti Kak Renald paham juga, sekarang tolong Kak Renald panggil Kakak ipar ke sini dulu, jangan sampai ketahuan sama si penyusup itu!" pinta Ardian.
"Huh, baiklah" Renald hanya menuruti saja, apa lagi setelah melihat anggukan persetujuan dari Andrew. Renald pun pergi untuk menjemput Aidah yang saat ini berada di kamarnya.
Tok tok tok
"Dek tolong buka pintunya, ini Abang" ujar Renald.
Cklek.
"Abang, kenapa ke sini?? Ada yang mau Abang bicarakan dengan Aidah??" tanya Aidah dengan menaikkan alisnya satu.
Renald mengangguk, "Iya, ada. Tapi bukan di sini. Ayo ikut Abang!" ajak Renald dengan menarik lembut tangan adiknya itu.
Aidah mengernyitkan dahinya saat Renald membawanya ke ruangan kerja suaminya.
"Kenapa kita ke ruangan Mas Andrew Bang?" tanya Aidah heran.
"Nanti juga kamu tau dek" jawab Renald singkat.
Hal itu sukses membuat Aidah tambah bertanya-tanya. Apa lagi setelah masuk bukan hanya ada suaminya melainkan Ardian juga berada di sana, membuat Aidah bertanya-tanya ada apa yang ingin dibicarakan ini.
"Kakak ipar baik-baik saja kan?" tanya Ardian basa-basi.
"Iya, alhamdulilah. Ada apa ini?" tanya Aidah heran.
Ardian menatap Andrew terlebih dahulu, Andrew hanya mengedikkan bahunya acuh. Melihat hal itu, membuat Aidah tambah mengernyitkan dahinya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1