
Saat ini mereka berempat yaitu Andrew, Aidah dan baby Ai memutuskan untuk berlibur di pulau pribadi milik Andrew.
Saat ini mereka tengah berada di tepi pantai pulau tersebut. Aidan nampak hanya duduk membuat sesuatu di pasir, berbeda dengan Airen yang sudah berkeliaran lari-lari di sekitar pinggiran pantai. Dimana Aidah dan Andrew? Tentu mereka juga berada di tempat itu, mereka berdua tengah duduk di gazebo yang ada di pinggir pantai bermesraan berdua tetapi tetap memperhatikan anak mereka. Mereka tidak ingin lalai menjaga anak mereka yang masih berumur 5 tahun itu, walaupun Andrew sudah menyuruh anak buahnya juga tetap mengawasi anak-anaknya.
"Sayang Airen jangan lari jauh-jauh" teriak Aidah ke Airen yang berlari terus sedari tadi.
Aidah memang sudah teriak-teriak sesekali sedari tadi, karena Airen yang terus berlarian di sekitar pantai. Begitulah Airen, ia tidak bisa tinggal diam di tempat saja seperti halnya yang dilakukan Aidan yang hanya duduk di pasir membuat sesuatu.
"Iya Mom siap" balas Airen yang berteriak agar suaranya terdengar hingga ke Momnya.
Setelah beberapa menit berlari, Airen pun mendekat ke kakaknya yang nampak istana yang dibuat dari pasir kakaknya itu sudah hampir jadi.
Airen tersenyum jahil melihat hal itu. Airen mendekat berniat menghancurkan istana yang dibuat Aiden, tetapi terhenti saat mata kakaknya itu yang langsung menatap dirinya tajam. Aidan memang memiliki pendengaran yang tajam, bukan hanya itu tetapi Aidan juga sangat paham dengan tingkah adik kembarnya itu yang selalu jahil dan tidak bisa diam.
"Eh hehe matanya jangan gitu lah kak nanti jatuh bagaimana? Kan susah untuk masukin lagi" ujar Airen cengengesan.
"Ck jangan ganggu gue, lebih baik sana main sendiri" usir Aidan.
"Dih, kak gitu amat sih!!" Airen mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang kakak yang mengusirnya. "Kak ayo main sama Airen, masa Airen main sendiri mulu sih capek tau lari mulu dari tadi!"
"Itu kan mau lo yang lari-lari" sinisnya.
Mata Airen sudah nampak berkaca-kaca. Melihat hal itu Aidan langsung gelagapan kalau sampai adiknya ini menangis bisa habis dia mendengar ocehan Momnya seharian.
"Hiks kak nggak sayang lagi sama Airen, padahal Airen cuman mau main sama kak hiks ta..tapi huwa hmmpp" Airen memberontak karena mulutnya dibekap oleh sang kakak, mata Airen berkaca-kaca serta menatap tajam sang kakak.
"Ck jangan buat ulah deh dek!" bisiknya dengan nada agak kesal, karena ia tau Airen hanya menangis buaya saja bukan sungguhan, adiknya itu memang jago akting.
"Aidan kenapa bekap mulut adik kamu?!" teriak Aidah kaget saat melihat Aidan membekap mulut Airen.
"Jangan akting nangis, nanti kak bakalan aduin kalau lo suka makan coklat sembunyi-sembunyi" ancamnya lalu melepaskan bekapannya dari sang adik.
Airen hanya bisa menatap kesal dan cemberut kakaknya itu, karena ia takut juga dengan ancaman sang kakak. Kalau Momnya sampai tau ia makan coklat diam-diam bisa habis dia, sebab Aidah membatasi makan coklat ke anak-anaknya agar gigi anak-anaknya itu tidak cepat rusak.
__ADS_1
"Hanya main Mom, iya kan dek?" tanya Aidan meminta persetujuan dari Airen.
Mau tidak mau Airen mengangguk membenarkan perkataan kakaknya, "Iya Mom."
Andrew hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah kedua anaknya itu yang memang kadang akur kadang berantem.
Setelah itu, Airen kembali berlari-larian di pinggir pantai dan ia juga nampak memungut kerang-kerang ataupun sesuatu yang indah yang ia lihat di pinggir pantai itu.
Airen yang melihat batu besar di situ pun berniat untuk berjalan mendekat melihat pemandangan di balik batu itu, karena sedari tadi ia hanya lihat-lihat saja sebab batu itu agak jauh dari tempat orang tuanya berada. Tapi, suara Momnya terdengar berteriak lagi.
"Airen mau kemana sayang, jangan jauh-jauh!" teriak Aidah lagi ke anaknya bungsunya itu.
"Iya, Mom" Airen berkata seperti itu, tetapi langsung berlari mendekat batu itu yang masih ada berapa meter darinya.
"Airen!" teriak Aidah lagi karena melihat anaknya berlari menjauh dari tempat mereka.
Aidah langsung berdiri dari duduknya, begitupun Andrew.
Saat Aidah, Andrew dan Aidan mendekat, suara teriakan Airen terdengar dari balik batu besar itu. Aidan ikut karena bagaimana pun sebenarnya dia khawatir juga dengan adiknya itu, senyebelin dan sejahil apapun adiknya ia tetap saja sayang dan tentu khawatir jika adiknya kenapa-kenapa.
"Aaaaaa" teriak Airen keras dengan shoknya.
Ketiganya langsung berlari mendekat ke arah batu itu, begitupun pengawal yang ada di sekitar tempat itu yang hanya mengawasi dari jauh sedari tadi, tapi tidak ada yang mengawasi dari daerah bagian dibalik batu besar itu karena mereka berpikir nona dan tuan mudanya itu tidak akan terlalu jauh main hingga ke tempat itu.
"Ada apa sayang?" tanya Aidah khawatir mendekat ke sang anak yang menatap Momnya dan yang lain dengan wajah kagetnya.
"I..itu Mom!" Airen menunjuk dengan gemetar sesuatu di pinggir pantai.
Semuanya pun ikut melihat apa yang ditunjuk oleh Airen. Semuanya ikut terkejut melihat hal itu.
"Kenapa ada orang di sini?!" tanya Andrew menatap tajam anak buahnya yang memang selalu berjaga di pulau itu.
Semuanya menggeleng terkejut dan takut, mereka juga tidak tau mereka baru lihat saat ini itupun karena Airen.
__ADS_1
"Mu...mungkin barusan Tuan terdampar?" jawab salah satu diantara anak buah Andrew itu dengan tubuh gemetar dan sedikit ragu.
******
Seorang anak laki-laki yang usianya mungkin sekitar 8 tahun tengah berbaring lemah di tempat tidur salah satu kamar di Mansion yang ada di pulau itu. Yah anak itu adalah anak yang ditemukan tadi oleh Airen, mereka semua hanya bisa berasumsi saat ini kalau anak itu terdampar hingga ke pulau milik Andrew. Untung saja anak laki-laki itu masih hidup setelah terombang-ambing di lautan.
Saat ini anak laki-laki itu tengah diperiksa oleh Dokter yang selalu disiapkan Andrew di pulau itu, untuk berjaga-jaga jika ada pengawalnya ataupun yang menjaga Mansion ini sakit atau kenapa-kenapa bisa ditangani langsung oleh Dokter tersebut. Dokter tersebut juga ingin saja, bagaimana tidak fasilitas, makanan, serta gajinya yang sudah terjamin. Terutama gajinya yang fantastis tentunya, yah tentu tidak mungkin Dokter itu menolak hal itu apalagi ia dibiarkan oleh Andrew untuk membawa istri dan anaknya juga tinggal di tempat itu.
"Dia tidak kenapa-kenapa Tuan, dia baik-baik saja. Dia sangat hebat masih bisa hidup setelah terombang-ambing di laut" ujar Dokter itu memuji anak laki-laki yang masih terbaring di depannya.
"Alhamdulillah" ujar Aidah bernafas lega mendengar itu, karena ia juga tidak tega dengan anak laki-laki di depannya itu ia merasa kasihan.
"Ta..tapi kenapa dia masih tertidur Paman Dokter kalau dia sudah baik-baik saja?" tanya Airen bingung dengan wajah polosnya.
Dokter itu tersenyum manis ke Airen yang nampak imut, ia jadi mengingat anak perempuannya yang tengah berada di rumahnya bersama sang istri. Usia anak Dokter itu dan Airen tidak berbeda jauh hanya terpaut satu tahun saja, anak Dokter itu empat tahun, sedangkan Airen lima tahun. Tapi, anaknya itu pemalu, bahkan tadi saat Airen dan Aidan asyik bermain anaknya hanya ingin melihat dari kejauhan apa yang mereka lakukan. Dokter itu sudah menyuruh sang anak untuk ikut bermain karena kasihan juga anaknya tidak mempunya teman selama ini, tapi anaknya tidak ingin hanya tetap melihat dari kejauhan saja.
"Itu karena dia capek nona muda, saat ini dia tidak kenapa-kenapa kok. Dia hanya tidur karena kecapekan sebentar juga pasti bangun" jawab Dokter itu dengan lembut.
"Ooo" Airen mengangguk paham dengan wajah polosnya. Airen ini memiliki IQ tinggi jadi mudah untuk memahami maksud orang, walaupun Aidan yang IQ nya lebih tinggi dibandingkan Airen.
Berbeda dengan di Mansion, Aidan memilih untuk jalan-jalan sekitar Mansion daripada menunggu orang yang tidak dikenalinya itu lagian orang tua dan adiknya sudah cukup untuk orang itu menurutnya.
Saat berjalan ia merasa diikuti oleh seseorang tanpa banyak tingkah lagi, Aidan segera bersembunyi.
"Loh jimana tatat tamtan taji?" monolog seorang anak kecil perempuan dengan wajah bingung dan polosnya menatap ke depan dimana tadi Aidan berada.
"Jadi lo yang ikutin gue dari tadi?!" tanya Aidan dengan wajah datar dan tatapan tajamnya.
"Astatfilullah tetan!!" latah anak perempuan itu terkejut dengan kedatangan Aidan tiba-tiba di depannya.
Aidan hanya bisa mendengus kesal mendengar itu, karena ia dibilang setan oleh bocah perempuan tidak dikenalinya di depannya ini.
Setelah latah itu, anak perempuan itu langsung menunduk malu sekaligus takut karena ketahuan oleh Aidan.
__ADS_1