Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Makanan Hitam


__ADS_3

Keesokannya. Di Mansion milik Andrew saat ini nampak ramai, karena sesuai perjanjian Andrew dan Renald yang akan adu memasak untuk Aidah.


Saat ini semuanya sudah berkumpul di Mansion Andrew, waktu pun juga sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Karena hari ini kebetulan hari libur, jadi mereka bebas saja untuk hari ini. Mereka di berikan waktu sebelum adzan berkumandang untuk memasak.


"Baiklah, kalian berdua sudah siap?" tanya Ardian kepada Andrew dan Rendra yang sudah bersiap-siap di depan meja tempat di mana bahan dan alat yang akan mereka gunakan untuk memasak.


"Tentu."


"Jangan tanya lagi, gass."


"Baiklah, kalian di berikan waktu selama 2 jam untuk memasak makanan spesial untuk Kakak ipar. Ingat masak yang enak dan spesial, kalau begitu tanpa menunggu lagi acaranya di mulai satu dua tiga!!!" teriak Ardian di akhir katanya.


Prok, prok, prok. Suara tepukan tangan terdengar di tempat itu, tepatnya di halaman belakang Mansion Andrew.


Kedua pesertanya yaitu Andrew dan Renald itu pun dengan antusias dan seriusnya mulai memasak.


"Ayo go go Mas dan Abang, kalian pasti bisa" teriak Aidah menyemangati suami dan kakaknya itu, dengan diiringi tepukan tangan.


Semuanya pun ikut menyemangati keduanya dengan penuh semangat dan antusias juga. Para pelayan yang sudah mengerjakan tugasnya pun ikut menonton kapan lagi kan mereka bisa melihat dua lelaki tampan yaitu Tuan mereka memasak.


Beda halnya di dapur.


Seorang wanita tengah mengendap-endap untuk keluar dari dapur.


"Mau kemana kamu Lita?! Kenapa mengendap-endap gitu?" tanya seorang pelayan lainnya yaitu Relis yang bekerja di bagian dapur, saat baru saja sampai di dapur melihat Lita mengendap-endap.


"Eh, anu.. aku tidak mengendap-endap kok. Aku hanya mau ke luar lihat ada apa ramai banget" ujar Lita canggung karena ketahuan. Ya, seseorang yang mengendap-endap itu adalah Lita yang memang berencana untuk keluar melihat lomba itu.


"Kamu belum tau kah?? Itu di luar Tuan Andrew dan Tuan Renald kakaknya Nyonya Aidah saling berlomba membuat makanan untuk Nyonya Aidah. Ahk Nyonya Aidah beruntung banget punya suami dan kakak sebaik Tuan Andrew dan Tuan Renald, jadi mau juga" puji Relis yang langsung berhayal jika dirinya bisa berada di posisi seperti Nyonya nya betapa bahagianya dirinya.


Begitulah manusia, hanya melihat betapa bahagianya orang lain dari luar saja. Ia tak mencari tau dan tak mau tau apa yang dulu di lalui oleh orang yang tengah nampak beruntung itu. Yang mereka tau hanya iri dan berkata betapa beruntungnya diri kita, padahal ia tak tau betapa susahnya kita dahulu sebelum berhasil mecapai kebahagiaan kita.


"Kamu nggak mau pergi lihat Relis??" tanya Lita basa-basi, padahal dirinyalah yang sangat ingin pergi.


"Tentu mau banget, tapi kamu tau kita harus menyiapkan makan siang untuk yang lainnya!!" keluh Relis dengan wajah masamnya, karena ini lah tugasnya. Ia tak boleh lalai dalam pekerjaannya, nanti bisa-bisa di pecat.

__ADS_1


Mendengar ucapan Relis, membuat Lita terdiam. Lita rasanya pengen lihat acara itu, tapi apa boleh buat.


"Sudahlah Lita, ayo kita masak makan siang saja" ajak Relis, sembari menarik tangan Lita untuk masuk ke dapur lagi.


Kembali di halaman belakang. Dua tuan muda yang sangat tampan tengah mengotak-atik bahan dan alat-alat makanan yang sudah di siapkan untuknya dengan serius.


Keringat sudah mulai bercucuran di dahi mereka, padahal baru beberapa menit mereka memotong-motong bahan-bahan makanan, keringat itu sudah mulai muncul di wajah mereka.


Tuk tuk tuk, suara pisau memotong bahan-bahan makanan terdengar gema di halaman belakang, karena para penonton hanya diam tanpa suara sebab fokus menatap kedua pria itu dengan serius juga.


Berbeda dengan satu orang yang merasa kurang asyik jika hanya diam saja. Seseorang itu adalah Cika, ia tiba-tiba memiliki ide untuk tambah memeriahkan lomba ini.


Cika mendekati Endra asisten kepercayaan Andrew.


"Kak tolong video kan" pinta Cika, sembari menyerahkan handphonenya ke Endra.


Endra yang tiba-tiba di samperin dan di berikan handphone itu pun agak kaget. Tapi, Endra hanya mengangguk paham mendengar permintaan Cika. Endra pun memvideokan dengan kameranya menghadap ke Cika.


Cika menatap antusias kamera handphone yang sudah mengarah kepadanya.


Perbuatan Cika, sukses membuat yang lainnya menatap dirinya dengan heran.


"Ngapain kamu dek?" tanya Ardian heran.


"YouTube Kak" jawab singkat Cika dengan entengnya.


"Eh, sejak kapan kamu buat konten?" tanya Ardian heran, karena adik sepupunya ini tidak pernah terlihat buat video apa pun apa lagi mau mengaploadnya di YouTube.


Sebenarnya video ini bukan untuk YouTube, Cika hanya iseng saja jawabnya.


"Ishh, jangan ganggu Cika video Kak!! Videonya udah jalan ini" ujar Cika kesal karena di tanya-tanya mulu.


"Ekhem baik pemirsa, maaf biasa ada buaya yang cerewet mulu. Kita kembali ke topik utama, lihat di belakang saya ini sudah ada dua orang tuan muda tampan tengah bergulat, eh bukan bergulat tinju yah, tapi bergulat di dapur ups salah bergulat dengan peralatan masak pemirsa" cetus Cika dengan gaya ala-alanya, sembari berjalan mendekat ke arah Andrew dan Renald yang sibuk dan serius tanpa terganggu sedikit pun dengan ulah Cika


Sementara yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Cika yang tiada habisnya.

__ADS_1


"Mereka berdua udah tampan, dompet tebal, penyayang lagi, aduhh idaman banget pemirsa. Bagaimana dengan kalian para lelaki di luar sana bisa masak juga nggak? eh ups" sindir Cika halus yang sebenarnya di utarakan untuk Ardian.


Tapi, bukan Ardian saja yang merasa tersinggung, para laki-laki lainnya yang di sana, termasuk yang sedang mengvideo pun ikut tersinggung karena mereka tidak bisa memasak.


"Tuh kamu di senggol sama anak kamu sendiri Kak Nathan" ledek Rafael.


"Dih, kaya kamu bisa" sinis Nathan ke adiknya itu.


"Eh, walaupun aku nggak bisa juga tapi lebih baiklah. Dari pada orang lain tuh yang hampir membakar dapur karena masak" sindir Rafael halus.


"Cih" Nathan hanya menatap sinis adiknya itu, karena apa yang di katakan adiknya itu memang benar. Ia pernah hampir membakar dapur, karena mau mencoba memasak sesuai keinginan istrinya saat ngidam dulu.


Cika asyik berceloteh di depan kamera. Setelah mengatakan beberapa kata, Cika pun berdiri di samping Andrew yang nampak sangat sibuk dan serius dalam membuat makanannya.


"Ekhem, Kakak apa nih yang ingin Kak buat untuk Kakak ipar?" tanya Cika.


"Nanti juga kamu tau" jawab enteng Andrew.


"Maaf yah pemirsa, beginilah sikap Kakak-Kakak aku memang tidak ada yang beres. Hah, sungguh jadi adik bungsu dan satu-satunya perempuan bukannya di sayang tapi malah di perlakukan seperti anak tiri begini" ujar Cika dengan reaksi lebay nya.


Beberapa detik kemudian, Cika langsung merubah raut wajahnya lagi dengan datar. "Baiklah kita tidak di hargai di sini pemirsa, kalau begitu kita ke tempat sebelah, semoga kita di hargai yah" ujar Cika dengan gelengan kepala pelannya.


Cika pun pergi di samping Renald yang nampak sibuk juga.


"Kak Renald tolong hargailah diriku ini, jawab yah pertanyaan Cika" pinta Cika.


Renald hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Cika.


Sebelum Cika bertanya, Renald sudah menjawab terlebih dahulu. "Aku lagi buat makanan spesial untuk adikku, nih lihat" ujar Renald, dengan menyuruh agar kamera menghadap ke makanan yang tengah di buatnya.


Cika pun ikut menatap makanan yang di buat Renald itu. Cika terbelalak menatap makanan yang di buat Renald.


"Makanan apa itu Kak, kenapa hitam gitu??" tanya Cika heran dan kaget.


"Ini namanya makanan enak" ujar Renald bangga.

__ADS_1


__ADS_2