Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Memaafkan


__ADS_3

Sesuai perkataan Kakek Arsen yang memberikan syarat, saat ini mereka bertiga sudah berada di tempat sesuai syarat yang di berikan oleh Kakek Arsen.


Ketiganya menatap alat di tangan mereka dengan wajah datarnya dan sedikit kaget dengan syarat Kakek Arsen.


Seluruh keluarga juga berkumpul di ruang tengah Mansion Andrew.


"Ada apa ini Ayah?" tanya Selani bingung, menatap anaknya serta keponakannya itu memegang peralatan kebersihan.


"Iya, ada apa ini Paman?!" tanya Ana juga bingung.


Semuanya juga menatap penuh tanda tanya.


"Oh ini Ayah hanya menyuruh mereka bertiga untuk membersihkan seluruh Mansion. Dan untuk Nita kamu tenang saja Ardian sudah menerima bersedia menikah dengan Lita" ujar Kakek Arsen mengatakannya tanpa ada rasa bersalah.


"Benarkah?!" tanya Nita kaget.


Ardian dan Lita yang menjadi tersangka itu pun juga membelalakkan matanya kaget dengan ucapan tiba-tiba Kakek Arsen.


'Aku kan bilang aku terima di jodohkan, tapi aku tidak pernah bilang bersedia menikah dengan Lita!!' batin Ardian kesal.


"Ke..kenapa jadi seperti ini, ba..bagaimana kalau Tuan Maxim tau bahwa aku akan menikah dengan Ardian bukan dengan Andrew!' batin Lita khawatir dan cemas.


"Lita ikut aku!!" bisik Aidah tegas saat melihat raut wajah khawatir Lita.


Lita kaget dengan bisikan Aidah yang tiba-tiba, tapi ia hanya bisa mengangguk mengiyakan dengan pasrah.


Aidah dan Lita pun pergi meninggalkan ruang tengah, tapi sebelum itu Aidah memberi kode suaminya dulu bahwa dia akan pergi untuk berbicara dengan Lita. Andrew hanya mengangguk membalas kode istrinya itu.


Berbeda dengan di ruang tengah dimana Andrew, Ardian dan Renald yang harus membersihkan seluruh Mansion yang sangat luas itu hanya bertiga tanpa bantuan orang lain apa lagi pelayan. Berbeda juga di kamar saat ini. Yah, Aidah membawa Lita ke dalam kamarnya untuk berbicara serius dengan Lita.

__ADS_1


"Ayo duduk dulu" ujar Aidah ramah.


Lita pun ingin duduk di lantai, tapi langsung dihentikan oleh ucapan Aidah.


"Kamu mau duduk di mana! Duduk di sofa jangan di lantai!" tegas Aidah.


Lita pun hanya menuruti dengan cengo perintah Aidah. Otak Lita saat ini tidak bisa berfikir jernih karena cemas memikirkan hal itu.


Aidah duduk di samping Lita, setelah duduk Aidah menghela nafasnya panjang terlebih dahulu.


"Aku tau apa yang kamu khawatirkan!" ucap Aidah menatap serius Lita.


"Hah?" Lita kaget dan juga sedikit tidak paham apa maksud dari perkataan Aidah.


"Ma..maaf Nyonya, maksud Nyonya apa?" tanya Lita setelah sadar apa yang baru saja di katakannya itu tidak sopan, karena bagaimanapun ia juga masih dengan status pelayan di Mansion ini.


Lita membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan Aidah. Lita segera turun duduk di lantai di depan Aidah dan langsung menatap memohon kepada Aidah. "Ma..maaf Nyonya hiks hiks i...ini bukan keinginan saya" ujar Lita dengan tangisnya.


Hah, suara helaan nafas kembali terdengar dari Aidah.


"Sudah, jangan seperti itu, derajat kita sama di mata Tuhan kamu tidak perlu seperti itu!" ujar Aidah lembut, lalu membantu Lita kembali duduk di sampingnya.


" Saya sudah tau kalau kamu di ancam dengan nyawa orang-orang yang kamu sayangi. Jadi, saya tidak salahkan kamu, karena jika saya juga di posisi kamu mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Kamu tidak salah dalam hal ini, yang salah adalah dalang di balik ini semua" ujar Aidah lembut, menggenggam tangan Lita yang tengah menangis dengan tubuh gemetarnya.


Lita sekali lagi membelalakkan matanya menatap Aidah sangat kaget, karena Aidah tau masalah itu, alasan di balik semua yang dia lakukan.


"Da...dari mana Nyonya bisa tau?!" tanya Lita terbata-bata dengan wajah kagetnya.


"Bukan hanya tau, tapi kamu tenang saja suamiku dan Ardian serta Abang Renald pasti akan bantu kamu untuk menemukan keluarga kamu yang di sekap" ucap Aidah tulus.

__ADS_1


"A...apa, a..apakah yang Nyonya katakan benar? Tuan mau bantu saya menemukan keluarga saya?!!" tanya Lita kaget, tapi terlihat dari wajah Lita nampak senang.


"Tentu, tapi aku mau kamu juga bisa bekerjasama dengan kami, jangan biarkan orang itu tau masalah ini kalau tidak mungkin selamanya kamu tidak akan bisa bertemu dengan keluarga kamu" ujar Aidah serius.


"Ba..Baiklah, tapi ini beneran kan Nyonya?" tanya Lita dengan wajah senangnya.


Aidah ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia Lita, "Tentu, untuk apa aku bohong. Jadi, setelah keluarga kamu di temukan kamu bisa bebas melakukan apa pun yang kamu Maui tanpa paksaan orang lain, dan kamu tenang saja keluarga Lewis akan selalu membantu menjaga keselamatan kalian nantinya" ujar Aidah serius. "Sekali lagi aku mau kamu bekerjasama dengan baik dan menunggu hasilnya, karena kata Mas Andrew mereka bukan hanya menyelamatkan keluarga kamu, tapi Mas Andrew dan lainnya juga mau membantu melepaskan semua tawanan yang sudah di sekap oleh Maxim" lanjut Aidah.


Lita menutup mulutnya kaget mendengar penjelasan Aidah.


"A..apa banyak yang dia sekap Nyonya?! Aku kira hanya menyekap keluargaku saja" ujar Lita kaget.


"Hmm dia sudah banyak menyekap keluarga orang-orang yang tidak mau menuruti keinginannya, bahkan bukan hanya itu dia juga menculik perempuan dan anak-anak untuk dia perjual belikan" jelas Aidah dengan raut wajah sedihnya juga mengingat betapa kasihannya orang-orang yang tidak bersalah yang harus menjadi korbannya.


"A..apa!" Lita membekap mulutnya kaget mendengar itu. "Di..dia sungguh kejam sekali, bagaimana dengan keadaan keluarga ku sekarang yang sudah lama di tangan mereka" lirih Lita dengan tangisnya, sebab khawatir karena baru tau kalau orang yang menyuruhnya ini sangatlah kejam.


Aidah tanpa sungkan langsung memeluk Lita dan mengelus punggung Lita. "Kamu tenang saja, percayakan hal ini ke Mas Andrew dan lainnya aku percaya mereka pasti bisa menemukan keluarga kamu. Dan kamu berdo'a juga, keluarga kamu pasti baik-baik saja" hibur Aidah yang ikut sedih, karena jika dia berada di posisi ini dia juga pasti akan sangat sedih.


Aidah sudah tau bagaimana rasanya jika tidak ada keluarga, sebelum ia bertemu dengan Andrew ia juga selalu merasakan hidup tanpa keluarga karena walaupun ia tinggal di Mansion Carend tetap saja rasanya ia tidak pernah merasa ada rasa kekeluargaan dan rasa seseorang yang menyayanginya di Mansion itu. Setelah bertemu dengan Andrew hingga saat ini, ia baru bisa merasakan apa artinya keluarga yang sebenarnya yang selalu ada untuknya dan selalu menyayanginya.


"Hiks makasih Nyonya, dan hiks hiks Li...Lita ingin meminta maaf jika Lita telah salah karena pernah berpikir untuk membuat hubungan Nyonya dan Tuan renggang hiks hiks maafkan Lita Nyonya, Lita salah ternyata Nyonya, Tuan dan semua yang ada di Mansion ini orang yang baik" ujar Lita dengan tangisnya dan perasaan bersalahnya. "Hiks dan masalah kejadian malam itu, Tuan tidak salah Nyonya yang salah adalah Lita. Lita mohon Nyonya jangan marah lagi dengan Tuan, karena Tuan tidak salah sama sekali" lanjut Lita menjelaskan apa yang terjadi dengan perasaan bersalahnya.


Aidah melepaskan pelukannya dan menatap Lita dengan senyumnya dan juga matanya yang ikut berkaca-kaca.


"Kamu tenang saja, aku sudah memaafkan Mas Andrew kok dan aku juga sudah memaafkan kamu. Jadi, mulai sekarang tidak perlu merasa bersalah lagi, kita lupakan masa lalu dan mulai masa depan lebih baik lagi" ujar Aidah dengan senyum tulusnya.


"Ma..makasih Nyonya. Nyonya dan lainnya sungguh baik" Lita sungguh sangat haru dengan kebaikan Aidah saat ini yang langsung memaafkannya, padahal ia sudah sangat jahat karena berpikir ingin memisahkan Andrew dan Aidah, tapi mereka bahkan bukan hanya memaafkannya melainkan membantunya juga untuk menemukan keluarganya yang di sekap oleh Maxim.


'Aku janji, setelah Mama, Bapak dan adik di temukan aku pasti akan membalas budi ini. Bahkan jika Nyonya menyuruhku menjadi pelayan pribadinya selamanya juga aku mau' batin Lita berjanji dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2