Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kesakitan


__ADS_3

Malam harinya, di ruang keluarga Mansion Andrew. Semuanya tengah menatap tajam Andrew terutama ketiga wanita yaitu Selani, Ana, dan Nita.


"Jelaskan apa maksud berita tadi?!" tanya Selani dengan tatapan tajamnya ke anaknya itu.


"Mama lagi beri tugas, pr atau ujian nih?" tanya Andrew bergurau.


"Andrew!! Mama nggak lagi bercanda!!!" hardik Selani dengan nada tegasnya menatap serius anaknya.


"Hah, iya Ma. Tadi itu semua hanya kesalahpahaman dong, nggak mungkin lah Ma Andrew menghianati diri Andrew sendiri?" ujar Andrew dengan helaan nafasnya.


"Ha? Kalau kakak berkhianat yah berarti menghianati kakak ipar lah bukan kakak!" ucap Cika tidak paham dengan maksud kakaknya.


"Sama dong Cika, kan kakak ipar kamu ini juga sudah menjadi bagian dari diri saya, kalau saya sampai menyakitinya berarti sama saja menyakiti diri saya sendiri" ujar Andrew yang terdengar sangat romantis sembari menatap istrinya dengan senyum lembutnya.


"Haha bisa saja kamu son" ucap Kakek Arsen dengan tawa gelinya.


Sementara Aidah wajahnya sudah memerah mendengar ucapan suaminya, apa lagi saat mendengar tawa geli dari kakak Arsen.


******


Keesokan harinya, di siang hari. Aidah beserta yang lainnya tengah saling berbincang ria bersama di ruang keluarga.


Tapi semuanya berubah, saat tiba-tiba ada seorang wanita yang datang membuat kericuhan dan kehebohan di Mansion itu.


Pack, Pack, suara pukulan.


"Heii buka pintunya!!" pekik wanita di luar itu dengan intonasi memerintah nya yang arrogant sembari memukul keras pintu masuk Mansion.


Di dalam sana saat mendengar keributan di luar, mereka langsung saling menatap.


"Biar Cika saja yang bukain" ujar Cika lalu pergi ke pintu depan Mansion saat melihat anggukan setuju yang lain.


Ceklek.


Cika mengernyitkan dahinya saat melihat seorang wanita yang tidak di kenalinya tengah tarik-tarikan dengan security di depan Mansion.


"Maaf Nona, ini salah kami karena membiarkan dia masuk" ujar salah satu satpam itu merasa bersalah.

__ADS_1


"Ck lepasin gue b*ngsat!!" umpat wanita itu ke satpam dengan kasarnya.


"Anda siapa yah?!" tanya Cika menatap tajam wanita di depannya yang nampak mencoba memberontak.


Wanita itu pun berhenti memberontak lalu menatap Cika dengan wajah soknya.


"Huh, gue calon istri dari Andrew, jadi sebaiknya lo minggir dari sini!!" ucap wanita itu dengan sombongnya.


"Hah?" Cika menatap aneh wanita di depannya ini yang tiba-tiba membuat keributan eh malah ngaku lagi jadi calon istri kakak sepupunya yang jelas-jelas selalu setia sama kakak iparnya Aidah.


"Kenapa? Lo takut kan yaudah cepat lepaskan aku, dan panggil Andrew keluar sini menemui aku!" ujar wanita itu lagi dengan tingkah soknya.


"Heh enak aja lo ngaku-ngaku, kakak gue udah punya pasangan dan pasangannya itu tidak ada tandingannya dari lo cih!!" hina Cika dengan raut wajah kesalnya karena wanita di depannya menurutnya sangat tidak tau malu tiba-tiba datang mengaku-ngaku jadi calon istri kakaknya lagi.


"Ada apa ini Cika? Siapa dia?" tanya Aidah yang baru saja sampai dan melihat seorang wanita yang tidak ia kenali tengah di pegang oleh dua satpam Mansion.


"Eh, kakak ipar. Dia-" ucapan Cika langsung dipotong dengan teriakan dari wanita yang tiba-tiba datang itu.


"Heh, lo pasti j*lang yang sudah merebut Andrew dari gue!! Ckck sebaiknya lo pergi dari sini sekarang j*lang!! Andrew itu hanya milik gue dan gue juga sudah hamil anak Andrew. Andrew pasti akan lebih milih anak dikandung gue dari para lo!!!" hardik wanita itu dengan sombongnya dan kepercayaan dirinya yang melambung tinggi.


Aidah mengernyitkan dahinya mendengar itu.


Tapi tak lama Aidah pun diam-diam tersenyum smirk, lalu mendekati wanita yang baru saja mengatainya j*lang itu. Saat sudah di depan wanita itu, Aidah menatap intens serta tajam wanita itu.


"Kakak ipar biar Cika saja yang tangani" ujar Cika karena merasa khawatir dengan kakak iparnya.


Aidah menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak usah Cika. Kakak bisa selesaikan sendiri" ujar Aidah menolak secara halus permintaan Cika.


"Heh ck palingan anak di dalam kandungan kamu itu bukan anak dari Andrew kan!! Karena Andrew itu hanya suka sama aku!!" tegas wanita itu lagi.


Aidah mengepalkan tangannya serta tambah menatap tajam wanita di depannya itu saat mendengar wanita itu berani menghina anak-anaknya. Kalau dirinya yang dihina ia masih bisa tahan, tapi jika anaknya tidak ada kata ampun.


PLAK, suara tamparan menggema di ruangan itu.


Cika serta para mertua Aidah yang melihat sikap Aidah menganga, karena mereka baru pertama kali melihat Aidah menampar orang lain seperti ini dengan sangat keras.


Setelah menampar wanita itu, Aidah menyepitkan tangannya di pipi wanita di depannya.

__ADS_1


"Kalau kamu hina aku, aku bisa terima. Tapi, kalau kamu berani menghina anak-anakku yang bahkan belum lahir ck kamu pantas mendapat kan itu" tegas Aidah dengan tatapan tajamnya.


'S*alan siapa yang bilang kalau dia lembut ck!!' batin wanita di depan Aidah itu merasa kesakitan, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya di pegang oleh satpam.


"Siapa yang suruh kamu?!!" tanya Aidah dengan aura yang menyeramkan nya. Mungkin bisa dikatakan inilah marah sesungguhnya orang sabar.


Ada kata pepatah marah orang sabar lebih sadis dari marah orang biasa nya.


"Ka...kamu apa yang kamu katakan ha!! Tentu tidak ada yang menyuruhku ini semua keinginan ku sendiri karena aku mengandung anak dari Andrew!!" ujar wanita itu dengan marah. "Lepaskan juga tangan kamu dari wajahku!!" lanjutnya dengan emosi.


"Ahhkk awww" pekik wanita itu kesakitan saat tiba-tiba rambutnya di tarik keras oleh seseorang.


"Heh, aku beri kamu kesempatan tapi sepertinya kamu tidak suka dengan kesempatan yang aku berikan?! Kalau kamu tidak ingin katakan kalau gitu kamu berarti yang akan menanggungnya sendiri!!" ujar Aidah dengan senyum smirknya.


Glek! Wanita itu menelan salivanya kasar melihat Aidah yang sangat menyeramkan menurutnya saat ini.


"A...aku aku-"


"Sayang!!" teriak Andrew khawatir sembari berlari menghampiri istrinya itu, karena mereka semua masih berdiri di depan pintu Mansion.


Wanita yang ditarik rambutnya oleh Aidah itu pun menatap berbinar kedatangan Andrew.


"Mas-"


"Andrew, akhirnya kamu datang sayang. Tolong suruh j*lang itu singkirkan tangannya dari kepalaku" ujar wanita itu menatap memelas dan sok imut di depan Andrew.


Andrew mengernyitkan dahinya menatap wanita itu, berpikir memang dia kenal dengan wanita itu. Tapi, yang pasti Andrew kemudian menatap tajam wanita itu karena baru ngeh kalau yang di panggil perempuan itu j*lang adalah istri kesayangannya. Sekaligus Andrew merasa lega karena istrinya tidak kenapa-kenapa.


"Sayang kenapa kamu meski harus capek-capek melakukan itu, nanti tangan kamu kotor lagi kena dia. Dia itu tidak pantas mendapatkan perhatian dari kamu" ujar Andrew dengan menyentuh pipi istrinya.


"Aku- awww" Aidah tiba-tiba membelalakkan matanya saat merasakan perutnya sakit.


"Sayang kamu kenapa?!" tanya Andrew khawatir dengan membopong istrinya yang kesakitan.


"Cepat Andrew bawa Aidah ke rumah sakit. Sepertinya dia sudah mau melahirkan!!!" ujar Ana memerintah Andrew dengan khawatir.


Semuanya yang lain pun ikut panik.

__ADS_1


Tanpa berpikir lagi, dengan rasa khawatirnya. Andrew langsung menggendong istrinya. Bahkan ia tidak terpikirkan lagi betapa beratnya sang istri saat ini, ia segera saja menggendong istrinya yang kesakitan itu ke mobil lalu berangkat ke rumah sakit untung saja Kelvin yang bersamanya pulang ke Mansion ini masih ada di mobil.


__ADS_2