Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah Andrew selesai mengerjakan berkas-berkas yang sudah mepet dan harus diselesaikan nya itu selesai ia kerjakan. Andrew dan Aidah pun memilih pulang ke Mansion.


Seperti biasanya jika Andrew pulang cepat, pasti akan ada banyak pertanyaan dari keluarganya itu, dan Andrew harus siap menjawab satu persatu dari pertanyaan itu.


"Sudahkan? Bisa kan sekarang Andrew dan istri Andrew ke atas ganti pakaian dulu?" tanya Andrew dengan helaan nafasnya setelah menjawab semua pertanyaan beruntun dari keluarganya.


"Hehe tentu sayang, yasudah sana gih" ujar Selani mempersilahkan anaknya dan menantunya itu ke atas.


Andrew dan Aidah pun ke atas untuk berganti pakaian. Setelah mereka berdua berganti pakaian, mereka turun kembali menemui semua keluarga.


Saat sampai di bawah, Aidah langsung meminta suaminya untuk membuatkannya rujak.


"Mas buatin rujak yah" pinta Aidah.


"Mas kan sudah bilang sayang, kamu harus makan dulu" ujar Andrew menjelaskan dengan lembut ke istrinya.


"Tapi, anak kita mau makan rujaknya dengan nasi, bikinin yah Mas" pinta Aidah dengan mata berkaca-kacanya.


"Ha? Ba..baiklah" dengan terpaksa Andrew mengizinkan, karena ia tidak sanggup saat melihat mata berkaca-kaca istrinya itu.


'Bagaimana rasanya nasi campur rujak yah?' batin Andrew merasa merinding sendiri memikirkan itu.


"Yeayy makasih Mas" ujar Aidah dengan wajah bahagianya, karena suaminya menuruti keinginannya itu.


"Yasudah Mas ke dapur dulu, duduk bersama yang lain dulu tungguin Mas" ujar Andrew sembari mengelus lembut kepala istrinya.


Aidah mengangguk, lalu pergi ke tempat keluarganya berkumpul dengan senangnya.


"Andrew mau kemana sayang?" tanya Selani saat melihat dari kejauhan Andrew pergi ke arah berbeda dengan Aidah.


"Mas Andrew mau bikinin Aidah rujak Mom" jawab Aidah dengan antusiasnya.


"Oh, kamu lagi mau makan rujak yah sayang?" tanya Selani lagi.


"Iya Mom, rasanya enak banget asam-asam tapi enak" jawab Aidah lagi dengan antusiasnya dan wajah gembiranya, sembari duduk di samping Mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Iya, begitu memang biasa kalau lagi ngidam sukanya yang asam-asam" ujar Selani. "Oh yah mau apa lagi sayang? Biar Mom yang bikinin" tanya Selani antusias.


"Eh, Tante juga bisa bikinin kamu, kamu mau apa sayang bilang aja?" tanya Tante Ana juga dengan antusias.


"Tante Nita juga bisa bikinin kamu, bilang saja sayang apa yang kamu mau?" tanya Tante Nita yang ikutan dengan antusiasnya juga.


Aidah tersenyum haru melihat antusiasnya keluarga suaminya yang sekarang juga adalah keluarganya ini kepadanya.


Aidah menggeleng pelan, "Saat ini Aidah hanya pengen makan rujak saja Mom dan Tan, nanti deh kalau Aidah mau sesuatu Aidah tidak akan sungkan loh meminta sama Mom dan Tante" ujar Aidah dengan senyum bahagianya.


"Tentu sayang, jangan sungkan" ujar ketiganya bersamaan.


"Kamu juga bisa meminta apapun itu ke Kakek Arsen dan Paman-Paman kamu nak" ujar Kakek Arsen dengan senyum bahagianya juga melihat keluarganya yang harmonis.


"Hehe siap Kakek" jawab Aidah terkekeh kecil.


Beberapa menit kemudian, akhirnya rujak yang di buat oleh Andrew pun jadi. Aidah langsung menatap berbinar rujak itu.


"Kalau begitu ayo makan siang semuanya, karena makanannya juga udah siapkan" ajak Aidah kepada semuanya.


Aidah menggeleng kecil, "Aidah pengennya makan rujaknya dengan nasi Mom" jawab Aidah dengan antusias tidak sabar untuk memakan rujaknya dengan nasi.


"Apa!" ujar semuanya bersamaan saat mendengar ucapan Aidah.


"Ekhem, baiklah sayang. Ayo semuanya!" ajak Selani yang paham, karena dia juga pernah hamil jadi dia sangat paham keinginan ibu hamil memang kadang aneh-aneh.


Semuanya mengangguk paham, lalu pergi ke meja makan. Saat sampai di meja makan, mereka langsung menyantap nasi dan lauk yang sudah tersedia di meja makan. Tapi, Mereka sedikit meringis saat melihat Aidah makan rujak yang sangat asam itu dengan nasi dengan lahapnya.


******


Di sisi lain di waktu yang sama.


Di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Seorang wanita dan pria tengah bertengkar. Perempuan itu nampak menggerutu kesal ke arah sang pria.


"Kenapa sih Kakak selalu deh buat masalah untuk Cika!!" kesal wanita itu yang ternyata adalah Cika.

__ADS_1


"Astaga dek, Kakak nggak buat masalah apa-apa kok" elak Ardian mendengar gerutu kesal adik sepupunya itu.


"Terus apa itu tadi! Kakak berkelahi lagi kan dengan laki-laki yang ada di kampus Cika hanya karena Kakak menggoda wanita orang lagi!!" kesel Cika menatap kesal Kakak sepupunya yang memang ngeselin menurutnya.


"Mana ada, tadi itu hanya kesalahpahaman dek, Kakak nggak goda wanita dia kok dianya aja yang baper dan salah paham" elak Ardian lagi dengan menatap ke arah lain.


"Huh terserah Kakak lah, tapi Cika mau Kakak pulang sekarang jangan ada di area kampus Cika lagi!!" tegas Cika menatap kesal Ardian.


"Tapi bagaimana dengan ka-"


"Cika bisa urus diri Cika sendiri, Cika udah besar Kak!!" tegas Cika lagi.


"Hais dasar bocah ini, yasudah deh Kakak minta maaf. Yasudah, Kakak akan pulang tapi ingat kalau ada apa-apa atau ada yang berani ganggu kamu langsung beritahu Kakak ok" tegas Ardian menatap serius adik sepupunya.


"Iya-iya ih dasar Kakak tambah bawel aja! Udah sana" usir Cika.


"Huh iya-iya" Ardian pun pergi dengan berat hati.


Sementara Cika segera ke kelas matkul (mata kuliah) selanjutnya.


Setelah mengikuti beberapa mata kuliah, Cika akhirnya bisa pulang ke Mansion. Cika keluar dari area kampus dan akhirnya melihat mobil pesanannya. Sebelum keluar dari ruangan Cika sudah memesan mobil secara online.


Tapi, mobil itu ada di sebelah dan Cika harus menyebrang karena jalanan untuk ke Mansion juga sudah pas mengarah sesuai arah mobil sekarang. Jika mobilnya harus putar balik akan susah nantinya, jadi Cika diminta untuk menyebrang ke tempat mobil itu berada.


Cika pun melihat ke arah kanan dan kiri, melihat apakah masih ada kendaraan yang akan lewat, dengan hati-hati Cika mulai menyebrang ke jalanan. Tapi, alangkah terkejutnya Cika saat sebuah motor tiba-tiba datang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Bruk


Cika terjatuh ke aspal jalanan. Cika merasa sakit di tubuhnya karena terbentur aspal. Tapi, saat Cika mengalihkan perhatiannya ke arah jalanan, seorang wanita tengah terkapar dengan penuh darah di aspal itu, sepertinya wanita itulah yang menolongnya.


Cika buru-buru berdiri dan menghampiri tubuh yang terkapar itu dengan panik dan khawatir ketika melihat banyak darah berceceran keluar dari tubuh wanita itu.


"Hei bangun, kamu tidak apa-apakan?" tanya Cika dengan panik dan khawatir, sembari menepuk pipi wanita itu dengan pelan. Tapi, wanita di depannya itu tak membuka matanya sama sekali hal itu membuat Cika tambah panik lagi.


"TOLONG!!" Teriak Cika dengan panik dan khawatirnya, air matanya pun sudah luruh mengalir di pipinya melihat tambah banyak darah yang keluar dari tubuh wanita di depannya ini.

__ADS_1


Semua orang sekitar berbondong-bondong segera menolong dan memanggil ambulance untuk wanita yang terkapar penuh darah di jalanan itu.


__ADS_2