
"Ini" Mama Renald memberikan sebuah foto kepada anaknya yaitu Renald.
Renald pun langsung mengambil dan melihat foto itu.
"Memangnya kenapa sih sayang? Bukannya adik kamu sekarang ada di luar negeri sedang kuliah, kenapa tiba-tiba kamu cari foto adik kamu waktu bayi?" tanya Mama Renald heran.
Renald tidak menanggapi perkataan Mamanya, Renald fokus melihat adiknya yang ada di foto itu, foto adiknya waktu bayi.
Tiba-tiba Renald bertanya sesuatu yang mengejutkan Mamanya.
"Mama yakin kalau yang sedang kuliah di luar negeri itu memang adik Renald?" tanya Renald tiba-tiba, yang membuat Mamanya terbelalak terkejut dengan pertanyaan anaknya.
"Ha?! Kenapa kamu bertanya seperti itu sih sayang, kamu tau kan yang ada di luar negeri itu pasti adik kamu lah! Pertanyaan konyol macam apa itu?!!" ujar Mama Renald dengan wajah terkejut dan herannya.
"Kalau dia benar adik Renald, kenapa gelang yang Renald berikan tidak ada sama dia Mom!" ujar Renald menatap serius Momnya.
"Ekhem, ada apa ini ribut-ribut?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu karena mendengar ribut-ribut.
"Dad!" ujar keduanya saat melihat suami dan Daddy nya masuk.
"Ada apa kenapa ribut banget, Dad dengar dari luar?" tanyanya heran.
"Ini Dad, anak kita tiba-tiba nanyain pertanyaan konyol. Masa dia tanya bagaimana kalau adiknya yang saat ini sedang berkuliah di luar negeri itu bukan adiknya yang sebenarnya, konyol banget kan?! Jelas-jelas Risya itu adiknya" jelas Mom Renald.
"Ha! Benar kamu bertanya seperti itu son?" tanya Dadnya memastikan.
Renald mengangguk membenarkan.
"Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal seperti ini?" tanya Dad yang bernama Melvin itu dengan heran.
"Renald hanya memastikan Dad, bukankah adik Renald pernah hilang waktu bayi terus di temukan saat sudah berusia tiga tahun? Jadi Renald hanya menanyakan apakah dia benar adik Renald, karena Renald ingat Renald pernah memberikan adik Renald sewaktu bayi sebelum kejadian itu sebuah gelang, tapi saat dia di temukan gelang itu tidak ada lagi sama dia!!" jelas Renald panjang lebar.
"Bisa jadi kan gelangnya hilang sayang, kan adik kamu pernah tiba-tiba menghilang di culik, jadi sudah pasti penculiknya itu mungkin yang membuang gelangnya atau saat di panti gelangnya hilang!" ujar Mama Renald.
Dad terdiam sejenak mendengar penjelasan Renald.
__ADS_1
"Hah, mungkin saja benar apa yang di katakan sama Mom kamu son" ujar Dad Renald juga menyetujui perkataan istrinya, walaupun ada rasa yang mengganjal di hatinya.
Mendengar jawaban Mom dan Dadnya yang tidak memuaskan baginya, Renald pun menghela nafasnya.
"Ya sudahlah anggap saja apa yang di katakan Mom dan Dad benar, kalau begitu Renald ke kamar dulu" pamit Renald, lalu pergi dari gudang tempat penyimpanan barang-barang itu.
"Dad, apa karena masalah ini makanya dari kecil pas adiknya di temukan Renald anak kita itu tidak terlalu suka dekat dengan adiknya?" tanya Mom dengan raut wajah sedihnya.
"Mungkin saja Mom, tapi selama ini Renald kelihatan tetap menyayangi adiknya itu kan. Sudahlah jangan terlalu di fikirin nanti Mom sakit kepala lagi. Ayo kita istirahat saja!" ajak Dad, lalu menggandeng istrinya keluar dari tempat itu juga.
Sementara di dalam kamar, Renald duduk di kasurnya sembari menatap intens foto itu, foto satu-satunya adiknya sebelum menghilang.
"Aku harus menyelidiki semuanya dengan tuntas, daripada hati aku gelisah dan tidak tenang seperti ini!!" ujar Renald kepada dirinya sendiri dengan melihat foto itu.
******
Sebuah mobil berhenti di salah satu kuburan yang ada di kota itu.
Dua orang dari dalam mobil pun keluar.
"Ayo" ajak seseorang di antaranya sembari menggenggam tangan seseorang lainnya.
"Daddy, hari ini Andrew tidak datang sendiri lagi ke sini, tapi Andrew ke sini dengan istri Andrew yaitu menantu Daddy" ujar Andrew dengan tersenyum, walaupun bola matanya nampak terlihat kaca-kaca bening yang berisikan air.
"Daddy, maaf Aidah baru kesini. Aidah juga baru tau semuanya tentang Mas Andrew. Terimakasih Dad karena sudah membesarkan dan memberikan suami terbaik untuk Aidah. Karena Daddy yang menjodohkan kami secara tidak langsung makanya kami bisa sampai di jenjang ini. Anak Daddy memang kadang nakal, padahal sudah jelas kita di jodohkan dia masih saja tau Dad pura-pura jadi miskin pernah padahal dia punya segalanya. Tapi, anak Daddy juga sangat baik Dad. Aidah senang bisa mendapatkan suami terbaik seperti anak Daddy. Aidah janji akan selalu ada dan selalu menemani anak Daddy sampai maut memisahkan" ucap Aidah sembari memegang nisan yang bertuliskan nama Daddy Andrew.
Andrew tersenyum haru mendengar penuturan istrinya itu.
"Terimakasih Dad, atas semuanya, terutama karena Daddy yang mengenalkan Andrew dengan istri Andrew yang sangat baik dan tulus ini. Insya Allah kami bisa secepatnya punya cucu buat Daddy" ujar Andrew.
"Eh!" Aidah sedikit terkejut mendengar ucapan akhir suaminya.
"Iya kan sayang?" tanya Andrew dengan senyumnya.
"Tentu Mas" jawab Aidah dengan tersenyum malu.
__ADS_1
"Kami pamit dulu yah Dad, insya Allah kami akan sering berkunjung ke sini" ucap Andrew.
"Ayo sayang" ajak Andrew sembari berdiri dari jongkoknya.
"Aidah pamit yah Dad, semoga Dad di berikan tempat terindah di sisinya" ujar Aidah tersenyum tulus, lalu ikut berdiri.
Aidah dan Andrew pun pulang ke Mansion.
Saat sampai di Mansion mereka langsung di sambut oleh keluarga besar.
"Assalamualaikum" ucap keduanya saat masuk ke dalam Mansion.
"Waalaikumsalam"
"Eh, kalian udah pulang?" ucap Tante Ana.
"Iya Tan" jawab Aidah dengan senyumnya.
"Ada apa itu Tan, kenapa Cika cemberut?" tanya Andrew heran.
Bukan Tantenya yang menjawab tapi Cika sendiri yang menjelaskan langsung. "Huh, kak Ardian tuh kak nyebelin banget!! Bikin Cika malu aja. Masa pas tadi nemenin Cika lihat-lihat tempat perkuliahan malah beberapa kali menggoda perempuan di kampus, mana yang lebih parah menggoda perempuan yang sudah punya pacar lagi. Pacarnya marah dong, langsung memukul kak Ardian, huh nyebelin banget bikin malu di lihatin banyak orang. Padahal Cika sudah mau pilih kuliah di situ eh nggak jadi gara-gara kak Ardian bikin malu nyebelin!!" cetus Cika kesal dengan bibirnya monyong cemberut.
"Ya maaf dek, kakak juga nggak tau bakalan kaya gitu" ujar Ardian, dengan memegang wajahnya yang habis di tonjok sama pacar perempuan yang di godanya tadi.
Andrew terkekeh kecil melihat wajah Ardian yang bonyok karena habis di tonjok.
"Lain kali jangan mau dek kalau Ardian yang anterin kamu. Lagian kamu tau sendiri kan tabiatnya Ardian itu, kamu juga sih Ardian nggak berubah sama sekali. Sekarang dapat hadiah kan rasain!" ujar Andrew.
"Cih, siapa yang tau juga kalau dia sudah punya pasangan. Lagian aku hanya main-main juga" bela Ardian.
"Dih, sudahlah terserah kamu" sinis Andrew. "Kami pamit ke kamar dulu semuanya, soalnya kami mau bersih-bersih dulu" lanjut Andrew.
"Iya sayang/son/kak" jawab semuanya bersamaan.
"Ayo sayang" ajak Andrew dengan menggandeng istrinya.
__ADS_1
"Aidah pamit ke atas dulu semuanya" pamit Aidah dengan senyumnya.
"Iya sayang/nak/kak" jawab semuanya lagi bersamaan.