
Di sebuah Rumah Sakit ternama. Seorang wanita yaitu Cika sedang mondar-mandir dengan cemas serta tubuhnya yang bergetar ketakutan di depan sebuah ruangan UGD.
Seorang pria nampak berlari ke arahnya dengan wajah cemasnya juga.
"Dek, ada apa ini? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya pria itu yang adalah Ardian dengan cemasnya sembari memeriksa ada luka atau tidak.
Ardian tadi sudah hampir sampai di Mansion, tapi tiba-tiba Cika menelfonnya dengan nada cemas dan bilang bahwa dirinya kecelakaan dan saat ini ada di rumah sakit. Tanpa babibu Ardian langsung memutar balik mobilnya dan pergi ke arah rumah sakit dengan cepat karena sangat khawatir dengan adik sepupunya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri ini.
Cika menggeleng lemah, "Bu..bukan Cika kak, tapi tadi a..ada yang nolongin Cika dan hiks hiks hiks di..dia terbaring dengan penuh darah ta..tadi kak hiks hiks" ujar Cika dengan terbata-bata, air mata pun sudah keluar dari matanya itu. Cika menangis di pelukan Kakaknya itu.
Ardian menghela nafas lega karena tau adiknya tidak kenapa-kenapa, walaupun juga ikut cemas dengan orang yang menolong adiknya. Ia pasti akan berterimakasih secara langsung dengan orang itu.
Ardian memeluk adiknya mencoba menenangkan adiknya itu. "Hust, kamu berdo'a saja dek, pasti dia akan selamat hmm dia pasti tidak akan kenapa-kenapa, tenangkan dirimu dulu ok" ucap Ardian mencoba menenangkan adiknya sembari mengelus-elus punggung adiknya agar tenang.
"Hiks hiks ba..bagaimana Cika bisa tenang, kalau belum tau dia kenapa Kak" Cika masih saja tetap cemas rasanya, jika belum tau keadaan orang yang menolongnya itu.
Kreakk, suara pintu ruangan UGD itu terdengar terbuka.
Ardian dan Cika buru-buru menoleh dan menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan dengan cemas.
"Dia bagaimana Dok, dia tidak apa-apa kan?" tanya Cika cemas.
Dokter itu tersenyum menatap Cika dan Ardian. "Alhamdulillah dia tidak kenapa-kenapa Nona, untung Nona cepat membawanya kemari jadi dia tidak apa-apa sekarang hanya butuh istirahat beberapa hari saja agar sembuh" jelas sang Dokter yang baru saja memeriksa orang yang di tabrak itu.
Ardian dan Cika bernafas lega mendengar ucapan Dokter itu.
"Baiklah, nanti Nona dan Tuan bisa menemuinya jika sudah di pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi dulu Nona, Tuan" ujar Dokter itu dengan ramah, lalu pergi dari tempat itu.
"Sudah Kakak bilang kan dia pasti tidak akan kenapa-kenapa" ujar Ardian dengan senyum leganya.
"Iya Kak, untung saja" ujar Cika juga dengan senyum leganya.
"Tuh hapus dulu air mata sama ingus kamu itu ihh jelek banget dan jorok" ledek Ardian.
Mendengar itu, Cika langsung memegang hidungnya. Tapi, Cika langsung menatap kesal Kakaknya itu karena tidak ada ingus sama sekali.
"Huh ndak ada juga!!" kesal Cika.
__ADS_1
Ardian hanya terkekeh, lalu melap air mata Cika dengan memakai kera baju adiknya itu. Dan itu berhasil membuat Cika tambah kesal dengan Ardian.
Cika langsung menepis tangan Kakaknya itu dengan kesal.
"Kalau mau menolong yang ikhlas dong Kak bukan gini!!" kesal Cika, lalu mencari lap di kantongnya biasa ia bawa. Tapi, saat mencari ia tidak mendapatkan lap itu.
"Kenapa? Nggak ada yah haha kasihan. Nih untung Kakak baik Kakak berikan punya Kakak lah" Ardian memberikan lap itu ke Cika.
Cika pun ingin mengambil lap itu, tapi Ardian langsung tambah menaikkan tangannya.
"Kakak!!!" gerutu Cika, menatap kesal Kakak sepupunya yang selalu menjahilinya itu.
Cika itu memiliki tubuh pendek hanya sekitar 155 cm, sedangkan Ardian memiliki tinggi sekitar 185 cm jadi jika di bandingkan maka Cika kalah jauh. Maka dari itu Cika tidak sampai saat Ardian menaikkan tangannya.
"Iya nih Kakak serius" Ardian memegang lap itu tepat di depan Cika. Tapi, baru saja Cika mau mengambilnya lagi, Ardian malah menaikkan tangannya lagi, membuat Cika cemberut kesal.
"Udahlah!!" ujar Cika kesal. Cika memilih untuk duduk di kursi sembari menunggu orang yang menolongnya itu di bawah keluar.
"Hehe canda dek, kamu gampang banget ngambeknya astaga" kekeh Ardian, lalu memberikan langsung lap itu ke tangan Cika. Cika langsung mengembalikannya lagi ke Ardian dengan cemberut.
"Cih sama Dad aja Kakak takutnya" sinis Cika, langsung merampas lap itu, lalu melap wajahnya sendiri dengan wajah juteknya.
Pintu ruangan UGD itu kembali terbuka. Seseorang yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu pun di dorong oleh dua orang perawat.
Ardian dan Cika langsung berdiri menghampiri ranjang itu.
"Dia kenapa belum bangun Kak?" tanya Cika yang cemas kembali saat melihat orang yang menolongnya itu belum membuka matanya.
"Dia akan bangun sebentar lagi Nona, karena sekarang dia masih berada di bawah efek bius" ujar salah satu perawat yang mendorong ranjang itu.
Cika mengangguk paham.
Pasien yang menolong Cika itu pun di bawah ke ruangan tempat rawat inap di rumah sakit itu.
Beberapa jam kemudian, Ardian dan Cika masih stay menunggu seseorang yang menolong Cika itu untuk bangun.
"Nghhh a..air" suara lirih dari atas tempat tidur pasien terdengar.
__ADS_1
Cika yang mendengar itu langsung buru-buru mengambilkan air di nakas samping tempat tidur pasien, lalu membantu orang yang menolongnya itu untuk minum.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa ada yang sakit?" tanya Cika khawatir.
Wanita yang menolong Cika itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, makasih" ujar wanita itu lirih dan tersenyum manis ke arah Cika.
Cika membalas senyuman itu. "Makasih banyak dan maaf yah karena aku kamu tolong, jadi kamu harus sampai di rawat di Rumah Sakit" ujar Cika merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok, bukankah tugas manusia untuk saling tolong-menolong" ujar wanita itu ramah.
Ardian terpaku mendengar suara lembut wanita di depannya yang masih terlihat lemah.
"Ah iya kenalin nama aku Cika, nama kamu siapa?" tanya Cika, sembari mengulurkan tangannya.
"Namaku Alita, biasa di panggil Lita" ujar wanita yang menolong Cika itu yang ternyata bernama Lita, sembari membalas uluran tangan Cika.
"Oh ya kenalin juga itu Kakak sepupu aku namanya Ardian" ujar Cika memperkenalkan Ardian yang hanya diam saja.
"Halo Kak, nama saya Lita" ujar Lita dengan senyum cerahnya, sembari mengulurkan tangannya ke arah Ardian.
"Ekhem" dehem Cika, saat melihat Kakaknya hanya menatap Lita saja dan tetap diam.
Ardian tersadar, lalu membalas uluran tangan Lita. "Hai, nama saya Ardian nggak usah panggil Kak panggil Ardian saja" ucap Ardian dengan senyumnya juga. "Dan yah makasih banyak sudah menolong adik sepupu saya yang ceroboh itu" lanjut Ardian.
"Tidak apa-apa Ardian, sudah tugas saya untuk menolong orang lain" ujar Lita dengan ramahnya.
"Ekhem" sekali lagi Cika Berdehem sembari melirik ke arah tangan Kakak sepupunya yang terus menggenggam tangan Lita.
"Eh, ah maaf yah" ujar Ardian sedikit malu.
Lita terkekeh kecil, "Tidak apa-apa Ar."
"Ekhem, ah yah kamu punya nomor keluarga kamu yang bisa kami hubungi?" tanya Ardian saat mengingat belum ada seorang pun dari keluarga Lita yang mereka beritahu.
Wajah Lita langsung berubah murung dan menunduk. "I..itu aku sudah tidak punya keluarga" ujar Lita pelan dengan wajah sedihnya.
"Eh" Ardian dan Cika agak kaget mendengar itu, tapi juga turut prihatin.
__ADS_1