
Mobil yang di kendarai Andrew dan Aidah itu pun sampai di Perusahaan. Keduanya memasuki lobi Perusahaan. Tapi, saat ingin berjalan ke arah lift, Andrew dan Aidah langsung di hentikan oleh pegawainya bagian resepsionis.
"Maaf Tuan, Nona. Saya ingin lapor Tuan, ada seseorang yang sudah menunggu Tuan sedari tadi" ujar pegawai resepsionis itu dengan menunduk takut, karena ia telah lancang memberhentikan Tuannya itu. Ia hanya bisa berdo'a semoga Tuannya sedang dengan hati senang saat ini agar ia tidak di pecat.
"Siapa?" tanya Andrew dingin dengan mengernyitkan dahinya.
"Tuan-"
"Halo, selamat pagi Tuan Andrew. Saya sudah menunggu Tuan sedari tadi loh" potong pria yang di laporkan pegawai resepsionis itu.
Andrew menatap tajam kehadiran seseorang di depannya. "Tuan Maxim!" gumam Andrew dingin.
"Ada apa Tuan Maxim datang ke Perusahaan saya??" tanya Andrew dengan wajah datarnya.
"Hah saya terkejut loh karena Tuan Andrew ternyata sudah mengenal saya" ujar pria yang bernama Maxim itu dengan senyumnya.
"Tapi, sebelumnya saya minta maaf yah karena tidak membuat janji, soalnya susah banget buat janji dengan Tuan Andrew yah saya maklumi sih karena kan Perusahaan Tuan Andrew itu Perusahaan besar sangat berbeda dengan saya yang masih Perusahaan kecil," lanjutnya.
Pria yang bernama Maxim itu menoleh ke arah Aidah yang sedari tadi diam menatap Maxim penuh tanda tanya, apakah orang di depannya itulah yang di ceritakan suaminya malam itu, itulah yang ada di benak Aidah saat ini.
"Hmm, itu Tuan Maxim tau" ucap Andrew pedas. Andrew langsung menghalangi istrinya agar tidak di lihat oleh mata pria yang sudah mulai berumur di depannya ini.
Maxim mengepalkan tangannya mendengar kata pedas Andrew, tapi juga menyeringai saat melihat Andrew menghalangi penglihatannya dari melihat Aidah.
"Haha Tuan Andrew bisa bercanda juga ternyata" gelak Maxim agar tidak canggung.
"Saya tidak bercanda!!" tegas Andrew dengan nada dinginnya.
Maxim terdiam mendengar ucapan tegas Andrew itu.
"Ekhem, jadi di samping Tuan Andrew itu siapa? Cantik juga" puji Maxim, pura-pura tidak mengenal Aidah, sekalian mengalihkan pembicaraan.
Andrew mengepalkan tangannya mendengar laki-laki br*ngsek seperti pria di depannya ini memuji istrinya.
"Sepertinya Tuan Maxim tidak punya televisi ataupun internet yah makanya tidak tau di belakang saya ini siapa?!" tanya Andrew dengan wajah datarnya.
"Huh, kalau Mas masih mau adu mulut lagi dengan dia!! Silahkan saja, aku tidak mau ikut campur ingat aku masih kesal sama Mas!!" ketus Aidah, lalu pergi dari tempat itu, tapi sebelum pergi ia berbalik menatap sinis suaminya tak lupa juga memberi kode suaminya itu.
Andrew sedikit terkejut dengan perlakuan istrinya, tapi saat melihat kode dari istrinya itu ia paham saat ini.
'Heh dasar, sepertinya kucing kecilku kini sudah menjadi rubah licik' batin Andrew tersenyum.
__ADS_1
Maxim agak kaget juga dengan perlakuan Aidah yang tiba-tiba itu, tapi ia ingat dengan laporan dari Lita kepadanya.
'Ternyata laporan itu benar, heh lihat saja ini baru permulaan' batin Maxim menyeringai senang.
"Aduh maaf yah Tuan Andrew, karena saya Tuan Andrew jadi bertengkar dengan istri Tuan Andrew. Padahal saya niatnya kesini ingin membicarakan kerja sama" ujar Maxim pura-pura merasa bersalah.
"Hmm, kalau begitu anda bisa pergi sekarang. Saya juga harus kembali bekerja" ujar Andrew dingin.
'Ck s*alan memang dia siapa berani sekali usir aku, huh lihat saja nanti Perusahaan ini akan jadi milikku, kamu bakalan aku usir dengan tidak terhormat tunggu saja!' batin Maxim lagi dengan mengepalkan tangannya kesal.
"Hah, baiklah lain kali saja kalau begitu aku datang lagi membicarakan kerjasamanya. Kalau begitu aku pamit undur diri Tuan Andrew" ujar Maxim, sembari mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
Tapi, wajah Maxim langsung memerah karena Andrew bukan hanya tidak membalas jabat tangannya melainkan langsung pergi dari tempat itu menuju lift khusus Ceo, ia merasa tidak di beri muka oleh Andrew.
Maxim pun menarik kembali tangannya dengan wajah merahnya yang merasa malu dan marah sekaligus dengan kelakuan Andrew kepadanya. Maxim memutuskan pergi dari Perusahaan itu dengan cepat karena merasa malu di lihat oleh para karyawan Andrew.
Sementara itu, Andrew naik ke lantai di mana ruangannya berada, saat keluar dari lift ia langsung menuju ke ruangannya.
Saat sampai ruangannya Andrew langsung mengunci pintu karena takut ada lagi tamu yang tidak di harapkan muncul tiba-tiba membuat Andrew dan istrinya harus pura-pura bertengkar lagi.
Andrew menatap istrinya yang duduk di sofa, sembari menatap handphonenya dengan mata berkaca-kaca.
Andrew langsung duduk di samping istrinya dan menatap istrinya itu.
Aidah langsung menggeleng mendengar pertanyaan suaminya.
"Bukan Mas, tapi Aidah pengen makan Mangga muda" rengek Aidah dengan mata berkaca-kacanya.
"Hah? Kenapa nggak bilang, kalau kamu mau kita bisa belli sayang. Kalau kamu mau, biar Mas suruh Endra bellikan kamu di luar" ujar Andrew dengan mengusap air mata istrinya yang sudah mulai mengalir di pipi istrinya itu.
Aidah menggeleng, "Tapi, bukan itu maunya Aidah Mas. Aidah maunya Mas" rengek Aidah lagi.
"Hah? Baiklah, tapi nggak usah nangis dong sayang. Biar Mas bellikan sekarang ok" bujuk Andrew dengan lembut.
Aidah sekali lagi menggeleng, "Tapi, Aidah pengennya Mas langsung manjat dan ambilin buahnya dari pohonnya langsung buat Aidah Mas" rengek Aidah.
"Ha?!!" Andrew melongo mendengar permintaan istrinya. Ia saja tak pernah manjat pohon sebelumnya, tapi sekarang malah di suruh panjat pohon.
"Sa...sayang ganti yang lain aja yah, atau belli aja kan lebih mudah sayang" bujuk Andrew, karena baru saja membayangkan untuk memanjat saja sudah merasa ngeri sendiri.
"Ta...tapi anak kita maunya Mas manjat sendiri ambilin buah Mangga mudanya" ujar Aidah dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
Andrew menelan salivanya kasar, kalau sudah begini mana mungkin ia berani menolak permintaan istri tercintanya itu, apa lagi ini kemauan anaknya.
******
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim, seorang pria yang tak muda lagi menatap tajam seorang pria lainnya yang ada di ruangan itu.
"Kenapa Kakek menatap Renald seperti itu?!" tanya Renald dengan perasaan cemasnya, karena takut jika ia tidak dinyatakan lulus dari percobaan yang baru saja ia lewati.
Kakek Arsen yang tadinya menatap tajam Renald langsung merubah raut wajahnya. "Hahaha bagus-bagus Renald, akhirnya kamu bisa melewati rintangan Kakek, walaupun ada sedikit hambatan tadi tapi tak apa kamu akan Kakek umumkan saat ini juga untuk menjadi pengganti Kakek menjadi ketua di Mafia ini!" ujar Kakek Arsen dengan wajah senangnya, sembari menepuk pundak Renald dengan senang.
"Serius Kek?" tanya Renald sedikit kaget mendengar ucapan Kakek Arsen.
"Serius dong, Akram!!!" teriak Kakek Arsen memanggil salah satu kepercayaannya.
Seseorang yang bernama Akram itu pun buru-buru memasuki ruangan.
"Iya Tuan besar?" tanya Akram dengan menunduk hormat.
"Cepat kumpulkan saat ini juga semuanya di lapangan ada yang ingin saya umumkan penting!!" perintah Kakek Arsen tegas.
"Baik Tuan" Akram pun keluar dan melaksanakan perintah Kakek Arsen.
Saat semuanya sudah berkumpul di lapangan. Kakek Arsen dan Renald berdiri di balkon lantai atas yang menghadap langsung ke lapangan.
"Baiklah semuanya, saya tidak ingin basa-basi. Saya berdiri disini hanya ingin mengumumkan kepada kalian semua, karena pada saat ini saya menyerahkan posisi saya sebelumnya kepada cucu saya Renald!!" ucap Kakek Arsen dengan tegasnya.
Prok, prok, prok. Suara tepukan tangan terdengar dari semua orang yang ada di bawah saat ini.
"Saya ingin agar kalian menghormati dan membicarakan semua masalah kelompok kita dengan Renald cucu saya yang menggantikan saya memimpin kalian. Saya harap kalian semua bisa berkerja sama dengan cucu saya Renald kedepannya!" lanjut Kakek Arsen lagi dengan tegas.
Suara tepukan tangan terus terdengar dari bawah sana.
Kakek Arsen mengalihkan pandangannya ke arah Renald.
"Bagaimana son kamu sudah siapkan menjadi pengganti Kakek untuk menjalankan posisi ini?!!" tanya Kakek Arsen dengan wajah seriusnya.
"Siap Kek" jawab Renald juga dengan wajah seriusnya.
Kakek Arsen tersenyum kecil mendengar jawaban Renald.
"Baiklah, Kakek percayakan kelompok ini dengan kamu. Kakek percaya kamu pasti bisa mengelola dan menjadi pemimpin yang lebih baik dari Kakek-Kakek kamu sebelumnya!!" ucap Kakek Arsen dengan menepuk pundak Renald menatap Renald tajam.
__ADS_1
Renald mengangguk mantap, "Siap Kek, Renald pasti akan berusaha menjadi pemimpin yang lebih baik!" jawab Renald tegas dan mantap.