Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Hampir Menabrak


__ADS_3

Saat sampai di Mansion, Andrew dan Aidah langsung di sambut oleh semua anggota inti keluarga Lewis dan keluarga Wikram.


"Dari mana kamu dek kenapa jam segini baru pulang?" tanya Renald menatap adiknya itu yang baru pulang dengan Andrew.


Kebetulan malam ini rencananya sesuai strategi mereka keluarga Wikram juga akan menginap selama beberapa hari ini di Mansion milik Andrew ini.


"Dari peluk raja hutan Bang" jawab Aidah dengan polosnya serta raut wajah senangnya.


"Ha?!" Semuanya ikut mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Aidah.


"Iya, tadi Aidah ngidam pengen peluk raja hutan" jelas Aidah dengan wajah senangnya menatap satu persatu keluarganya.


"Maksud kamu raja hutan siapa nak?" tanya Mama Aidah tak paham.


Semuanya pun ikut mengangguk mendengar pertanyaan Mama Aidah karena semuanya juga tidak tau siapa yang di sebut raja hutan itu.


"Singa dong Ma" jawab Aidah polos dengan senyum santainya.


"APA!!" Semuanya langsung terbelalak kaget mendengar jawaban santai dari Aidah itu.


"Astaga, kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Selani mendekati menantunya sembari melihat bolak-balik Aidah.


"Kamu kok ngidamnya aneh-aneh nak, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mama Aidah juga.


Semuanya pun juga ikut dengan khawatir mendekat ke arah Aidah.


Aisha tersenyum melihat kekhawatiran yang artinya tanda sayang untuknya.


"Iya, Mom Ma. Kalian semua tenang saja, Aidah tidak kenapa-kenapa kok malahan tadi raja hutannya eh maksud Aidah singanya manja banget lucu banget" cetus Aidah dengan senyum senangnya mengingat bagaimana reaksi singa milik suaminya itu yang awalnya saja garang tapi setelahnya langsung lembut kepadanya.


"Iya, betul kata Aidah. Kalian semua tenang saja, kan ada Andrew yang selalu jaga Aidah, lagian singa tadi juga itu singa milik Andrew" jelas Andrew membantu istrinya menjelaskan agar semuanya tidak khawatir.


"Ha, maksud Kak Andrew. Singa yang itu? Singa yang galak dan jelek itu?!" tanya Ardian memastikan dengan wajah kagetnya.


"Hmm" Andrew mengangguk membenarkan perkataan Ardian.


"Huh, Singanya tidak galak dan jelek tau Ardian. Singanya itu gagah dan lucu banget tau" cetus Aidah menolak pernyataan Ardian yang mengatakan Singa yang baru saja di temuinya itu galak dan jelek. Yah, walaupun memang awalnya galak tapi setelahnya ternyata Singanya malah sangat imut dan lucu menurutnya.

__ADS_1


"Astaga Kakak ipar, masa Singa galak seperti itu di katain lucu" Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tubuhnya bergedik ngeri mendengar perkataan Kakak iparnya itu. Karena Ardian masih sangat ingat satu kali ia pernah mencoba mendekati Singa itu, tapi malah dia hampir saja jadi santapan Singa milik Andrew itu untung saja dia berhasil kabur kalau tidak sekarang mungkin tinggal tulang belulang, sejak saat itu jugalah Ardian tidak berani lagi melihat Singa itu apa lagi berdekatan dengan Singa itu.


Ardian bahkan awalnya ingin agar Singa itu di buang, tapi tidak jadi sebab Singa itu adalah Singa kesayangan milik Andrew yang sudah menemani Andrew bermain. Mau tidak mau Ardian hanya bisa menjauh dari tempat Singa itu berada, dia sudah sangat kapok.


Mendengar ucapan Ardian membuat Andrew terkekeh karena ikut mengingat kejadian beberapa tahun silam itu.


"Itu karena Lion tidak suka sama pria playboy kaya kamu" ejek Andrew.


"Memangnya ada apa sayang? Apa ada kenangan tidak mengenakkan yah dari Ardian dengan Lion?" tanya Aidah dengan mengernyitkan dahinya menatap suaminya itu.


Ardian membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Aidah. Ardian menatap memohon Kakaknya itu agar tidak membocorkan masalah memalukan waktu itu, karena kejadian itu sungguh memalukan untuk Ardian sebab bukan hanya ketakutan saat itu Ardian juga sampai pipis di celananya saking ketakutannya dan tentu itu akan membuatnya sangat malu.


"Apa jangan-jangan karena ketakutan bertemu dengan Singa milik Andrew, makanya beberapa hari waktu itu kamu tiba-tiba demam?!" tanya Nita kepada anaknya itu.


"Bukan hanya itu Tan, tap- mmpphh" Mulut Andrew langsung di sumpal oleh tangan Ardian.


"Kakak ayolah, kalau Kakak ceritain hal memalukan itu Ardian akan ceritain juga hal memalukan Kakak yang pakai baju perempuan pernah" bisik Ardian memohon sekaligus sedikit mengancam Kakak sepupunya itu.


"Mmpphh" Andrew menatap tajam ke arah Adik sepupunya itu yang mengisyaratkan agar tangan Ardian bisa terlepas dari mulutnya.


Glek.


"Kamu ini Kakak kamu mau ngomong malah di tutup gitu!!" ujar Nita menatap tajam anaknya.


"Hehe maaf Ma, canda" jawab Ardian dengan senyum yang menampakkan gigi-gigi rapinya itu.


"Maafin adik nakal kamu itu yah. Oh iya ada apa lagi Andrew sayang?" tanya Nita dengan nada lembutnya.


'Hmmp bicara dengan Kak Andrew lembut banget, tapi sama anak sendiri...' batin Ardian dengan mengerucutkan bibirnya mendengar nada Mamanya yang malah melembut dengan Andrew.


"Nggak ada apa-apa lagi kok Tan, Andrew hanya ingin membuat Ardian takut aja hehe" jawab Andrew dengan senyum canggungnya. "Mm sebaiknya aku bawa Aidah ke kamar dulu, aku juga mau bersih-bersih dulu sudah mau Maghrib soalnya" lanjut Andrew menatap satu persatu keluarganya itu.


"Hah aku kira apa nak" ujar Nita menghela nafas. "Baiklah kalian pergi saja sana" lanjut Nita dengan senyumnya.


"Iya, sebaiknya kalian memang bersih-bersih dulu kalian kan baru pulang pasti capek juga kan" ujar Selani menanggapi perkataan anaknya.


"Baiklah kalau gitu, Aidah dan Mas Andrew ke kamar dulu yah semuanya" pamit Aidah dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Iya sayang, istirahat yang baik juga" ujar Mama Aidah ke anaknya itu.


Aidah mengangguk paham. Sebelum ke atas Andrew juga berpamitan, setelahnya mereka berdua ke atas. Aidah pun tak perlu capek-capek untuk naik tangga, karena di Mansion Andrew ini sudah di lengkapi dengan lift.


Setelah melihat Andrew dan Aidah sudah tidak kelihatan. Renald Kakak Aidah itu pun juga memutuskan untuk pergi.


"Ekhem, Renald juga mau pamit dulu" ujar Renald berpamitan.


"Eh, tidak sholat di sini dulu sayang?" tanya Selani dengan lembut.


Renald menggelengkan kepalanya, "Tidak Tan, nanti Renald di Markas saja. Kalau begitu Renald pamit semuanya, assalamualaikum" pamit Renald. Setelah melihat semuanya mengangguk dan menjawab salam Renald. Renald akhirnya memutuskan untuk pergi dari Mansion.


"Baiklah, ayo kita siap-siap duluan sudah mau waktunya" ajak Rafael kepada semuanya.


Semuanya pun mengangguk paham dan mengikuti Rafael ke salah satu ruangan yang ada di Mansion milik Andrew itu.


Memang mereka keluarga mafia, tapi bukan mafia yang kejam seperti menjual manusia, organ, ataupun mengedarkan obat-obatan terlarang. Bahkan mereka ini memiliki misi untuk memberantas semua mafia jahat yang hanya akan meresahkan masyarakat. Mereka juga memang menjual senjata, tapi mereka menjualnya juga bukan dengan sembarangan orang, mereka akan menjualnya kepada orang yang tepat yang bukan memakai senjata itu untuk kejahatan.


Pesan *Hanya di dalam Novel Mafia baik, di dunia nyata kagak.*


******


Setelah keluar dari Mansion, Renald pun melajukan mobilnya untuk pergi ke Markasnya. Tapi, baru saja ia keluar dari area perumahan Mansion Andrew, tiba-tiba...


Ckitt, suara mobil yang berhenti tiba-tiba.


"Astaga, siapa sih itu nyebrang nggak lihat-lihat!!" omel Renald dengan nada kesalnya, karena hampir saja menabrak orang yang jalan sembarangan itu.


Renald pun keluar dari Mansion dengan wajah kesalnya.


"Hei Mbak, kalau jalan lihat-lihat dong hampir saja saya nabrak Mbak!!" omel Renald kepada sosok Perempuan yang baru saja hampir di tabraknya itu.


Bak film, wuss rambut yang awalnya menutupi wajah Perempuan itu langsung terbuka karena di terpa angin.


"Maaf yah Mas" ujar Perempuan itu sembari menatap Renald.


Renald membelalakkan matanya menatap Perempuan itu.

__ADS_1


"Kamu lagi!!" ujar Renald terkejut dengan menaikkan jari telunjuknya mengarah ke wanita itu.


__ADS_2