
Tak terasa sudah beberapa hari Renald berada di tempat itu, dan melihat serta merasakan langsung penyiksaan yang sadis menurutnya. Renald selalu melihat serta mengabadikan bukti-bukti yang ada dan selalu mengawasi tempat itu.
"Heh lo sini!!" panggil seorang pria kepada Renald yang ingin mengangkat barang lagi.
Renald yang mendengar itupun langsung berlari kecil ke arah pria itu yang memanggilnya.
"Ikut gue ke dalam, ada yang harus lo kerjakan!!" tegasnya dengan nada garang.
Saat pria itu dan Renald berjalan masuk, pria itu membisikkan sesuatu ke Renald. Apa yang dibisikkan pria itu membuat Renald terkejut kembali.
"King A" bisik pria yang membawanya itu dengan cepat.
Bisikan itulah yang membuat Renald kaget, tapi tetap memperlihatkan wajah biasanya, ia tidak boleh memperlihatkan wajah terkejutnya nanti malah ada yang curiga.
"Dia mau lo bawa kemana?!" tegur seorang yang pangkatnya sama di tempat itu dengan pria yang membawa Renald saat ini.
"Di dalam, butuh banyak orang lagi untuk bantu-bantu" jawab orang yang bersama Renald itu dengan santai.
"Oh, hmm baiklah sana bawa dia ke dalam" ujar seseorang yang menegur itu.
"Hmm." Pria itu pun membawa Renald masuk ke tempat produksi.
Tapi, Renald kaget saat melihat orang-orang yang ada di tempat produksi itu yang kebanyakan wanita, tapi bukan hal itu yang membuat Renald kaget melainkan tubuh para wanita itu yang terlihat sekali jelas lebam-lebamnya.
"Kamu kerja disini, kerja dengan baik!!" tegas seseorang yang membawa Renald itu dengan tatapan seriusnya ke Renald.
"Baik Tuan" jawab Renald dengan tatapan tak kalah seriusnya. Ia tak ingin lagi membuang waktu, ia harus secepatnya mendapat bukti dan orang-orang yang terlibat dalam kejahatan ini agar bisa membebaskan semua tawanan yang tak bersalah sama sekali.
*******
Setelah hari sudah tengah malam, Renald diam-diam keluar ruangan karena ingin menghubungi Andrew dan Ardian. Tapi saat berjalan keluar ia tak sengaja mendengar suara sesuatu dari arah salah satu kamar di tempat itu.
"Bagaimana, apakah semuanya laku terjual?" tanya seseorang yang sudah dipastikan adalah bosnya.
"Iya Tuan Maxim, semuanya selalu habis seperti biasa" jawab seseorang bawahan Maxim.
"Hahaha bagus-bagus" tawa senang Maxim menggelegar di ruangan itu.
"Tapi, Tuan ada sesuatu yang harus saya laporkan lagi" ujar bawahannya dengan suara pelan.
__ADS_1
Maxim mengernyitkan dahinya. "Apa?!" tanyanya dengan wajah yang kembali datar.
"Itu Tuan, hmm para rekan kita minta untuk di tambah bayarannya karena tambah hari omset kita tambah banyak, jadi mereka ingin agar bayarannya juga di tambah kalau tidak mereka bisa saja membocorkan masalah ini ke publik" cetus bawahannya itu dengan badan yang gemetar ketakutan.
"Ckck dasar tidak tau diri!!!" hardik Maxim dengan wajah emosinya.
"Dan bukan hanya bagian kepolisian tapi juga rekan yang menjabat di pemerintahan semuanya ingin agar bayaran mereka di tambah" lanjut bawahannya itu dengan tubuhnya yang masih gemetar ketakutan melaporkan hal itu.
"Ck s*alan!!!" Prak, Maxim melemparkan barang-barang yang ada di mejanya dengan marah.
"Ja...jadi apa yang harus di lakukan Tuan? Kalau sampai mereka ada yang berkhianat kita juga bisa habis Tuan" ujar bawahan itu mengingatkan Maxim, walaupun tubuhnya gemetar ketakutan saat mengatakan itu.
Maxim mengepalkan tangannya menahan amarahnya itu. "Berikan apa yang mereka inginkan!!" ujar Maxim dengan terpaksa, bahkan wajahnya masih nampak merah masih emosi saat ini.
Bruk, suara benda jatuh terdengar dari arah luar ruangan.
Maxim dan bawahannya itu langsung menoleh ke arah pintu yang ternyata sedari tadi terbuka sedikit.
"SIAPA ITU HA?!!" Teriak Maxim dengan wajah tambah emosinya.
Maxim menoleh ke arah bawahannya yang masih diam saja.
"Eh, iya Tuan" bawahannya itu pun buru-buru keluar melihat siapa di luar itu.
Sementara di luar itu, Renald yang tanpa sengaja menyenggol sesuatu langsung panik sendiri.
"BAGAIMANA?!!" Teriak Maxim dengan intonasi emosinya.
"Tidak ada siapa-siapa Tuan, hanya kucing saja" jawab bawahannya itu ketika melihat anak kucing yang ternyata ada di tempat itu.
Sementara itu, di luar Mansion Renald mengelus dadanya karena hampir saja ketahuan untung saja ada kucing imut yang tersesat masuk ke dalam Mansion itu.
Setelah memastikan semuanya aman, Renald pun mulai menyalakan jam tangan berbasis handphone transparan di tangannya itu.
"Kamu nggak ketahuan kan Ren?" tanya Andrew khawatir saat melihat wajah Renald yang sedikit pucat seperti habis ketakutan. Jam tangan ini memang bisa melakukan vc juga.
Renald menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tapi hampir saja!" jawab Renald dengan helaan nafas leganya.
__ADS_1
"Kamu harus lebih hati-hati lagi Ren" kali ini bukan Andrew yang berbicara, melainkan Ardian.
"Hmm, tapi tadi aku udah dapat kabar terbaru" ujar Renald dengan wajahnya yang sudah nampak serius.
"Kabar apa?" tanya Andrew dan Ardian berbarengan dengan wajah mereka juga yang ikut nampak serius.
"Mereka bekerjasama juga dengan pihak oknum yang ada di kepolisian!!" ujar Renald dengan serius.
"Wah pantesan nggak di tangkap-tangkap ckck" cetus Ardian geram.
"Apakah ada selain itu yang bisa di gali lagi Ren?!" tanya Andrew serius.
"Hmm, tadi katanya para oknum yang bekerjasama dengan mereka itu ingin agar bayaran mereka bertambah, kalau tidak mereka akan membongkar masalah ini ke publik" jelas Renald.
"Jadi?"
"Jadi yah dia terpaksa akan menaikkan bayarannya, karena takut kan perbuatannya ini terekspos keluar dia pasti akan lebih rugi dibandingkan menambah bayarannya" jawab Renald lagi.
"Baiklah, aku akan bantu disini untuk mencari tau siapa rekan-rekannya itu" ujar Andrew serius. "Kalau bisa cari tau lagi satu saja nama dari rekan-rekannya agar lebih mudah untuk aku cari tau, karena jika sudah ada satu saja aku jamin aku pasti bisa mendapatkan rekan lainnya. Tapi, kamu tetap harus hati-hati di sana bahaya kalau sampai kamu ketahuan!!" lanjut Andrew.
"Hmm, baik" jawab Renald singkat dengan seriusnya. "Tapi, kalian berdua sudah lihatkan foto itu?!" tanya Renald.
"Sudah Ren, ck emang mereka itu para b*jingan beraninya bahkan wanita dia perlakukan kasar seperti itu, seperti tidak ingat saja kalau dia juga dilahirkan dari wanita ckck" ujar Ardian geram.
"Usahakan videonya juga Ren" ujar Andrew.
"Hmm, tentu. Tapi-" Renald berhenti sejenak dan berfikir kembali untuk tidak mengatakan masalah Kakek Arsen yang ternyata anak buahnya sudah ada dua yang dia dapat dan bisa saja lebih dari dua anak buah milik Kakek Arsen, padahal waktu itu ia bilang bahwa tidak memiliki anak buah di tempat itu.
"Tapi apa?!" tanya Andrew dengan menaikkan alisnya satu menatap Renald yang tiba-tiba berhenti bicara.
Renald menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa. Kalau begitu sudah dulu, salam sama adikku yah jaga adikku baik-baik!!" tegas Renald.
"Tentu" jawab Andrew tak kalah tegasnya.
Panggilan itu pun mati. Renald memutuskan kembali ke kamarnya dimana semuanya tidur bersama di salah satu ruangan dengan diam-diam agar tidak ketahuan.
******
__ADS_1
Maaf yah author lama up-nya di bulan 9, soalnya sibuk banget banyak banget tugasnya dri kampus😩 insya Allah bulan ini author akan up setiap hari jadi terus pantengin yah🤗.