
Lantai atas Mansion Andrew nampak sangat indah dengan gemerlap lampu yang nampak menyala di tempat itu, terutama cahaya bulan dan bintang yang bertaburan di langit yang gelap gulita nampak membuat suasana dan pemandangan lebih indah lagi.
Keluarga Andrew dan keluarga Aidah nampak tengah sibuk membakar ayam dan daging yang telah disiapkan serta membuat bumbu-bumbunya agar lebih mantap untuk disantap. Para laki-laki sibuk membakar serta menyiapkan peralatan dan para wanita nampak sibuk menyiapkan bumbu-bumbu yang pas untuk makanan mereka itu agar lebih mantap saat di makan.
Sementara Aidah dan Andrew tengah duduk melihat semuanya sibuk dengan menggendong kedua anak mereka yaitu Baby Ai.
Cika yang melihat kakaknya hanya diam saja dan nampak tengah romantis-romantis dengan kakak iparnya pun tersenyum licik. Cika langsung mendekat ke kakak sepupunya itu.
"Sini baby Aidan nya kak" ujar Cika sembari mengayunkan tangannya ingin menggantikan menggendong baby Aidan yang tengah berada di gendongan Andrew.
Andrew mengernyitkan dahinya ketika tiba-tiba adiknya itu datang. "Kenapa? Sana kamu bantu saja yang lain" usir Andrew halus.
Cika yang mendengar itu tambah menyeringai jahil.
"Masa sih?" Cika langsung menusuk-nusuk pipi baby Aidan pelan agar terbangun.
"Hei apa yang kamu lakukan!!" kesal Andrew saat melihat kejahilan adiknya itu.
Baby Aidan yang merasa terganggu pun membuka matanya pelan sembari mengerjap-ngerjapkan matanya itu.
Cika yang melihat mata baby Aidan sudah melek pun tersenyum senang karena berhasil membangunkan ponakannya itu.
"Tuh kak, Aidan udah bangun" ujar Cika dengan senang.
Andrew yang ingin marah lagi karena tidak mendapatkan sahutan dari Cika sebelumnya langsung menatap kebawah melihat anaknya memang sudah bangun ternyata akibat ulah jahil Cika.
"Ini semua karena kamu makanya dia bangun!"
"Hehe" Cika hanya cengengesan mendengar ucapan kakak sepupunya itu. Ia pun memajukan tangannya lagi ingin menggendong baby Aidan. "Kak sini baby Aidan nya, Cika mau gendong aja" ujar Cika dengan nampak sedikit memaksa.
Andrew mau tidak mau memberikan anaknya itu ke adiknya. Akhirnya baby Aidan pun beralih kegendongan Cika, sementara Aidah hanya menonton saja tingkah mereka berdua dengan senyum-senyumnya.
"Aidan ganteng ihh kamu gemesin deh" cetus Cika dengan wajahnya yang nampak merasa gemas dengan Aidan yang tengah mebgerjap-ngerjapkan matanya.
Setelah mengatakan itu, Cika menatap kembali kakaknya yang masih duduk santai di samping Aidah kakak iparnya.
__ADS_1
Andrew yang merasa masih dilihatin dengan Cika pun mengernyitkan dahinya lagi dengan menatap heran adik sepupunya itu, "Ada apa lagi?" tanya Andrew sedikit ketus.
"Kakak kenapa masih di situ? Awas Cika mau duduk masa gendong Aidan terus gantian lah, sana kakak bantu yang lain saja" ujar Cika yang nampak seolah memerintah.
"Kamu perintah saya?" tanya Andrew dengan wajah tak percaya dan ketusnya.
Cika langsung merubah raut wajahnya, "Hehe bukan gitu kak, kan daripada kakak disini tidak ada yang kakak buat lebih baik kan bantu yang lain supaya kita bisa cepat makan" ujar Cika dengan cengengesan.
Tempat dimana Andrew dan Aidah serta Cika saat ini berada agak lumayan jauh dari tempat pembakaran, agar asapnya tidak terhirup oleh anak-anak mereka.
"Ck sudah lah" Andrew menatap sinis adik sepupunya itu lalu pergi dari tempat itu.
Cika hanya cengengesan melihat tatapan sinis kakaknya itu.
******
Semua orang nampak tengah menyantap makanan di depan mereka dengan sangat antusias merasakan betapa lezatnya makanan yang mereka makan ini, sudah sepatutnya mereka untuk bersyukur.
"Itu makanannya kamu ambil buat Aidah yah?" tanya Selani ketika melihat anaknya mengambil piring baru padahal ia baru saja selesai makan dan Selani juga dapat lihat anaknya itu hanya makan sedikit saja.
"Iya Ma" Andrew mengangguk, lalu pergi begitu saja dengan membawa piring berisikan nasi dan lauk pauk.
"Ayo makan dulu sayang" ujar Andrew sembari meletakkan nasi dan lauk pauk di meja tepat di depan Aidah, meja mereka tak jauh dari tempat semuanya tengah menyantap.
Semuanya sudah menawarkan untuk mereka yang akan menjaga, terutama para Oma sudah menawarkan agar mereka yang menjaga cucu-cucu mereka dan Aidah saja yang makan duluan, tapi Aidah menolak dan memilih menjaga anak-anaknya dulu yang memang seringkali susah untuk tidurnya di malam hari. Begitupun Cika yang ingin ikut, tapi Aidah menolak.
"Loh, Dad sudah habis makannya?" tanya Aidah dengan dahinya yang mengernyit.
Andrew mengangguk, "Iya sayang. Bibi juga bisa pergi makan dulu saja, saya sudah ada" ujar Andrew menoleh ke bibi yang ikut menjaga anaknya itu.
Bibi itu mengangguk lalu memberikan salam dan pergi dari tempat itu.
"Ayo makan atau mau aku suapin?" tanya Andrew dengan senyumnya.
"Ih Dad banyak orang tau! Tuh lihat anak kita melihat kita juga." Aidah melihat ke kedua anaknya. Andrew pun nampak ikut menoleh menatap anak-anaknya yang masih saja melek matanya.
__ADS_1
"Kalau baby-baby nya Dad ini udah makan belum? hmm" tanya Andrew dengan mengelus kedua pipi dua anaknya sekaligus.
"Utah ton tat tan mimi ama Mommy" Aidah yang menjawab dengan berusaha menggunakan bahasa seolah-olah anak kecil.
Andrew terkekeh mendengar ucapan istrinya itu yang terasa menggemaskan di telinganya.
******
Beberapa tahun kemudian. Di sebuah taman yang sangat indah air mengalir pun terdengar hingga ke telinga, rasanya pun sangat sejuk.
Seorang pasutri nampak saling berpelukan dengan menatap di depan mereka.
"Dad, Mom tidak menyangka kita bisa sampai di tahap seperti ini setelah semua yang telah kita lewati, lihat bahkan anak kita sudah tumbuh besar" ujar Aidah dengan memeluk pinggang suaminya dan bersandar di dada bidang suaminya, sembari menatap kedua anak kecil yang nampak berlarian di depan mereka dengan senyum senangnya.
Tangan Andrew nampak merangkul sang istri juga membawa kehangatan diantara mereka.
"Iya Mom. Dad juga tidak menyangka yang awalnya hanya kebetulan dari perjodohan hingga kita sampai di tahap ini, semoga pernikahan kita selalu langgeng yah sayang, Dad janji akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Mom dan anak-anak" ujar Andrew sembari menempelkan bibirnya itu di kepala sang istri dengan senyum senangnya yang nampak terpancar di wajahnya.
"Mom, Tat cini main cama Ailen" ajak Airen anak kedua dari pasangan Aidah dan Andrew dengan bahasanya yang masih belum bisa seperti yang lainnya.
"Iya, ayo sini Mom Dad" ujar Aidan juga ikut mengajak orang tuanya, tetapi ia sepertinya lebih fasih mengucapkan daripada sang adik.
Aidah dan Andrew nampak saling menatap satu sama lain sebelum berlari kecil dengan bergandengan tangan bersama ke arah anak-anak mereka.
TAMAT
.
.
.
Author mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada semua pembaca yang telah berkenan membaca karya remahan author, makasih banyak yah yang masih bertahan dan selalu mensupport Author. Tanpa kalian author tentu bukan apa-apa, jadi author mengucapkan terimakasih buat semuanya❤️.
Alhamdulillah kisah antara Andrew & Aidah sudah tamat dengan akhir yang yah kalian bisa nilai sendiri xixi.
__ADS_1
Author memohon maaf juga sebesar-besarnya jika author ada salah atau melakukan kesalahan maaf yah🥺❤️.
Jangan ninggalin kisah ini dulu yah, karena author akan berikan bonus chapter untuk para pembaca terutama pembaca yang sudah setia membaca kisah Andrew&Aidah🥰.