
Di sebuah rumah sakit tampak seorang wanita dengan perutnya yang sudah besar duduk di kursi roda dengan seorang wanita yang masih muda mendorong kursi roda yang di duduki oleh wanita hamil itu.
"Cika bisa cepat sedikit!" ujar wanita hamil itu siapa lagi kalau bukan Aidah yang cemas karena mendengar bahwa suaminya masuk ke rumah sakit karena tembakan.
"Sabar kak, nggak usah terlalu khawatir kan tadi sudah diberitahu kalau kak Andrew tidak kenapa-kenapa, kita juga sudah dekat kok" balas Cika dengan helaan nafasnya karena sudah sejak tadi kakak iparnya itu terus menyuruhnya agar lebih cepat.
Akhirnya mereka sampai di salah satu ruangan tempat dimana Andrew dirawat, Aidah beserta yang lainnya pun langsung masuk ke dalam ruangan. Cika pun mendorong kursi roda dimana kakak iparnya itu duduk mendekat ke arah kasur yang dimana Andrew tengah duduk dan nampak berbincang dengan Renald serta lainnya.
Awalnya itu Aidah tak ingin jika memakai kursi roda, tapi langsung dihalangi oleh Selani, Ana dan Nita karena takut kalau Aidah jalan sendiri malah jalan cepat-cepat karena khawatir, jadi mereka bertiga memaksa untuk Aidah menggunakan kursi roda saja.
"Mas, Mas tidak apa-apa kan?? Dimana lukanya?" tanya Aidah khawatir.
Andrew tersenyum mendengar istrinya khawatir.
"Mas tidak apa-apa kok sayang, Mas baik-baik saja hanya lecet sedikit besok juga sudah sembuh, jadi jangan khawatir hmm" ujar Andrew dengan mengelus kepala istrinya itu.
"Syukur lah kalau Mas baik-baik saja" ujar Aidah dengan helaan nafas leganya karena sudah melihat langsung suaminya tidak kenapa-kenapa.
"Ekhem, hanya suami kamu aja nih yang ditanya Abang nggak?" gurau Renald saat melihat keromantisan adik dan adik iparnya itu.
"Eh" Aidah mendongak menatap Abangnya. "Abang baik-baik aja kok, kenapa Aidah harus tanya?" gurau Aidah balik.
"Ish kamu kok gitu sama Abang Ai!" Renald nampak cemberut mendengar jawaban dari adiknya itu yah walaupun memang kenyataannya dia memang baik-baik saja.
"Hehe baiklah, Abang Aidah gimana baik-baik saja kan Bang?" tanya Aidah dengan kekehannya.
"Kamu tidak lihat Abang yah tentu baik-baik saja dong!" ujar Renald membalas adiknya itu.
"Gara-gara Tuan Renald ceroboh kali makanya Tuan Andrew hampir saja terkena peluru" gumam Kelvin.
__ADS_1
"Hah, apa?" Aidah menatap Kelvin yabg ternyata berada di sampingnya eh tepatnya di samping Cika yang berdiri memegang kursi roda Aidah.
"Eh, anda siapa yah?" tanya Aidah saat melihat Kelvin yang asing menurutnya.
"Perkenalkan Nyonya saya Kelvin bodyguard Nona Cika" jawab Kelvin.
"Oh, halo saya Aidah istrinya Andrew, salam kenal Kelvin" sapa Aidah dengan senyumnya.
"Jangan senyum sama laki-laki lain sayang!" suara Andrew yang penuh penekanan itu terdengar tiba-tiba.
Renald juga menatap tajam dan kesal ke Kelvin.
"Tenang Tuan saya tidak suka istri orang lain, karena saya sukanya yang muda" tegas Kelvin sembari melirik Cika di sampingnya.
"Cih" Andrew paham siapa yang dimaksud Kelvin itu.
"Eh, Risya! Kok kamu ada di sini sejak kapan?" tanya Aidah kaget, karena ia betul-betul tidak memperhatikan bahwa ada Risya di ruangan itu.
'Cih, bilang saja kamu memang tidak menganggap aku ada kan, pakai sok baik lagi' batin Risya diam-diam memandang sinis Aidah.
Padahal nyatanya, Risya baru saja balik dari kamar mandi karena itulah Aidah tidak melihat Risya bukan hanya karena itu, tapi karena Aidah terlalu khawatir dengan suaminya tadi.
"Dia di sekap dengan tua bangka maksudnya Maxim yang beberapa bulan lalu belum sempat ketangkep malah kabur dek, Risya disekap dengan orang itu agar Abang dan lainnya bisa di ancamnya. Untung saja juga Abang ketemu sama rombongan suami kamu disana" jelas Renald.
"Benar Aidah, aku disekap sama orang tua itu. Pas baru saja keluar bandara aku nggak tau aku sepertinya pingsan dan tau-tau eh sudah ada di dalam hutan itu" ujar Risya dengan akting sedihnya.
"Tapi, gimana kamu baik-baik saja kan tidak kenapa-kenapa?" tanya Aidah khawatir dengan saudarinya itu.
Risya menggeleng, "A..aku tidak apa-apa kok, hanya mental ku saja mungkin sedikit terguncang karena hal itu, karena itu hal pertama yang aku alami dalam hidupku kejadian berbahaya seperti itu, a..aku aku hiks" jawab Risya dengan menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya serta tubuhnya yang gemetar seolah-olah tengah ketakutan.
__ADS_1
'Wah-wah bagus sekali aktingnya, kalau jadi artis sudah memenangkan piala oscar ini ckck' batin Kelvin menatap sinis Risya yang berakting menurutnya, karena Kelvin tau yang sebenarnya sebab ia sudah meretas cctv bandara dan yang ada di cctv sungguh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Risya.
"Sayang hust udah ada Mama dan yang lainnya disini nggak usah takut lagi" ujar Mamanya memeluk Risya mencoba menenangkan Risya.
Aidah merasa ibah melihat keadaan saudarinya itu.
"Cika tolong bantu dorong kursi roda ku ke Risya" gumam Aidah ke Cika.
Cika mengangguk paham, Cika pun mendorong kursi roda Aidah mendekat ke Risya.
Saat sudah tepat di depan saudarinya itu, Aidah menggenggam tangan saudarinya itu dengan rasa khawatir dan ibah.
"Maaf yah Risya, karena masalah ini kamu juga harus terlibat menjadi korban, a..aku tau kamu pasti ketakutan dan syok karena kejadian ini, tapi kamu tenang saja hmm kejadian ini hanya kali ini saja insya Allah tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Dan alhamdulillah karena yang diatas masih memberikan perlindungan kepada kamu sehingga kamu baik-baik saja. Kamu bisa menenangkan diri kamu selama beberapa hari ini, jangan takut lagi yah kita semua ada disini untuk kamu" ujar Aidah tulus dengan panjang lebar ke Risya.
"Benar apa yang dikatakan Aidah nak, kami semua ada jadi jangan takut lagi" ujar Mamanya juga yang ikut angkat bicara membenarkan ucapan Aidah.
Mendengar hal itu bukannya membuat Risya sadar, tapi malah kesal.
'Ck sok baik!! Mau disebut malaikat apa mau dipuji dengan keluarga gitu cih' batin Risya setelah mendengar ucapan Aidah apa lagi mendengar ucapan Mamanya yang menurutnya itu memuji Aidah.
"I..iya, Risya paham. Makasih Aidah, Ma" jawab Risya dengan suara pelannya disertai helaan nafasnya.
Aidah tersenyum lega mendengar itu.
"Ingat kalau ada apa-apa atau apapun yang kamu butuhkan, bisa beritahukan ke saya ataupun yang lainnya Risya" ujar Aidah dengan tulusnya lagi.
'Heh, kalau aku bilang mau suami kamu? Pasti kamu tidak akan menurutinya kan' batin Risya sinis.
"Iya Aidah, makasih yah" ujar Risya tersenyum palsu ke arah Aidah.
__ADS_1