
Di dalam kamar dengan interior elegan seorang wanita nampak tengah duduk di kasur sembari menscrol-scrol handphone nya.
Krek, suara pintu kamar mandi terbuka.
"Sayang, bagaimana kalau kamu mulai besok jadi sekretaris Mas saja?" tanya Andrew sembari menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"Ha?" Aidah terkejut mendengar pertanyaan suaminya, Aidah pun langsung menaruh hpnya lalu menatap heran dan terkejut suaminya.
"Kenapa Mas tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Aidah heran.
"Mas hanya memberi saran sayang, dari pada kamu di Mansion terus kan? Pasti kamu bosan juga kan? Kenapa nggak jadi sekretaris Mas saja, lagian kamu juga dulu kan yang mengkoordinir Perusahaan keluarga kamu dulu, jadi Mas fikir untuk jadi sekretaris tidak terlalu susah untuk kamu beradaptasi?" jelas Andrew.
Aidah terdiam memikirkan perkataan suaminya. 'Iya sih aku juga bosan kalau di Mansion terus, tapi apa tidak apa-apa memangnya?' batin Aidah berfikir.
"Tapi, apa itu tidak adil, maksudnya bagi karyawan Mas apa itu adil bagi mereka kalau Aidah langsung kerja jadi sekretaris di Perusahaan Mas? Aidah merasa tidak enak Mas. Apa lagi, Aidah dulu hanya mengkoordinir Perusahaan keluarga yang jauh di bandingkan Perusahaan Mas yang besar" ujar Aidah.
"Mas hanya beri kamu saran sayang, bukan memaksa semuanya ada di tangan kamu" ucap Andrew sembari duduk di depan istrinya.
"Tolong bantu usap-usap sayang" ujar Andrew dengan memberikan handuk kecil yang di pakainya mengusap rambutnya itu ke istrinya.
"Eh, iya Mas" Aidah mengambil handuk itu, lalu membantu suaminya mengusap rambut suaminya yang basah.
"Sekali lagi yah Mas hanya beri kamu saran kok, tapi jika ada kejadian kaya Bella atau perempuan lain yang datang Mas tidak tanggung jawab loh" ujar Andrew.
Aidah seketika terdiam mendengar ujaran suaminya, mulutnya juga ikut cemberut mendengar penuturan suaminya.
"Ishh itu mah sama doang maksa Mas! Kenapa di ingetin coba" ujar Aidah cemberut.
"Eh, enggak kok. Mana ada Mas maksa" elak Andrew dengan senyum kecilnya.
"Jadi, masih tidak mau nih sayang?" tanya Andrew lagi.
"Huh, iya baiklah. Aidah mau jadi sekretaris Mas, tapi Mas wajib adil kalau di Perusahaan dan bantu ajarin Aidah semua yang Aidah tidak tau agar Aidah tidak salah langkah!" ujar Aidah dengan helaan nafasnya.
"Siap sayang" Andrew tersenyum kemenangan.
"Yasudah ayo tidur" ucap Andrew lalu berbalik dan mengambil handuk kecil yang ada di tangan istrinya.
"Eh, tapi rambut Mas masih basah loh? Nggak boleh tidur dulu Mas, nanti kepala Mas sakit lagi" ujar Aidah mencegah suaminya yang ingin berbaring.
"Oh, baiklah kamu yang bilang loh" tegas Andrew lalu mendorong istrinya.
"Eh??" Aidah membelalakkan matanya kaget.
Andrew tersenyum smirk menatap istrinya.
*****
Pagi hari yang cerah, seperti yang Andrew dan Aidah sepakati bersama, Aidah akan menjadi sekretaris Andrew di Perusahaan untuk membantu Andrew menjalankan Perusahaan besarnya.
Di meja makan saat ini mereka sekeluarga tengah sarapan bersama.
__ADS_1
"Sayang kamu beneran mau jadi sekretarisnya Andrew?" tanya Tante Ana memastikan.
"Iya, Tan. Aidah sudah sepakat dengan Mas Andrew untuk Aidah menjadi sekretaris Mas Andrew" jawab Aidah dengan senyumnya.
"Oh gitu, baiklah. Ingat Andrew jangan sampai buat menantu ku ini capek!!" tegas Tante Ana ke Andrew yang hanya diam makan.
"Iya, Tan" jawab singkat Andrew.
Beberapa menit kemudian
"Kami pamit semuanya. Assalamualaikum" pamit Andrew dan Aidah bersamaan.
"Waalaikumsalam"
Andrew dan Aidah pun berjalan pergi dari ruang makan.
Cika memicingkan matanya menatap Aidah yang pergi, "Kenapa jalannya kak Aidah aneh gitu? Apa sedang mens?" ujar Cika saat melihat jalan Aidah yang aneh menurutnya.
"Uhuk uhuk" Semuanya yang masih ada di ruang makan tersedak mendengar ucapan Cika.
"Iya, sayang mungkin sedang mens" jelas Tante Ana buru-buru. "Sudahlah, jangan bahas masalah itu. Sebaiknya kamu pergi lihat-lihat tempat kuliah yang lain gih!" lanjut Tante Ana ke anaknya.
"Eh, iya Mom. Kalau begitu Cika pergi dulu. Assalamualaikum" pamit Cika, lalu beranjak pergi.
"Waalaikumsalam"
"Ardian juga pamit semuanya, assalamualaikum" pamit Ardian, lalu buru-buru mengejar Cika.
"Waalaikumsalam"
Saat sampai di luar Mansion, Ardian langsung mencegat Cika yang ingin naik ke mobil.
"Tunggu, dek. Kakak ikut yah!!" pinta Ardian.
"No!! Cika nggak mau malu lagi kaya kemarin!!" tegas Cika dengan tatapan sinisnya.
"Ayolah dek, kakak ikut yah? Kakak janji deh nggak bakalan kaya kemarin, janji serius" ucap Ardian dengan wajah seriusnya.
"Huh ck, baiklah. Tapi, ingat jangan kaya kemarin, kalau sampai kakak buat masalah lagi, Cika akan minta Paman Rafael untuk mencabut semua fasilitas kakak!!" ancam Cika.
"Iya-iya dek, kakak paham"
"Yasudah, kakak yang nyetir lagi" Cika memberikan kunci mobil ke Ardian. Ardian langsung menerima kunci itu.
Mereka berdua pun berangkat.
*****
Di Perusahaan dua orang baru saja sampai langsung menuju ke ruangan Ceo.
"Endra tolong kumpulkan para staf penting di Perusahaan di ruang rapat, ada pengumuman yang saya akan umumkan!!" perintah Andrew.
__ADS_1
"Baik Tuan" ucap Endra, lalu bergegas melaksanakan perintah.
"Apa beneran tidak apa-apa nih sayang? Bagaimana kalau ada yang merasa keberatan?" tanya Aidah khawatir.
Andrew tersenyum mendengar kata sayang terucap lagi dari bibir istrinya. "Tidak apa-apa dong sayang, lagian siapa yang berani menentang keputusanku di Perusahaan ini sayang!" ujar Andrew dengan tersenyum sembari memegang tangan istrinya agar tidak terlalu khawatir dan gelisah.
"Hah, baiklah Mas" ujar Aidah pasrah, sembari mengatur nafasnya serta merilekskan tubuhnya agar tidak cemas yang tidak pasti seperti ini.
Beberapa saat kemudian
Tok tok tok
"Masuk"
Cklek
"Semuanya sudah berkumpul di ruang rapat Tuan" ujar Endra memberi kabar.
"Hmm, baiklah. Ayo sayang" ajak Andrew dengan menggenggam tangan istrinya.
Aidah pun ikut saja dengan menggenggam erat tangan suaminya agar tidak gugup.
Cklek
Andrew, Aidah serta Endra yang berada di belakang keduanya pun masuk ke dalam ruang rapat. Semua mata para karyawan langsung menatap ketiganya yang masuk ke dalam ruang rapat itu.
Semuanya agak kaget saat melihat Aidah, istri dari Bos mereka ikut masuk ke ruang rapat, mereka pun bertanya-tanya di dalam hati pengumuman apa yang ingin di beritahukan oleh bos mereka itu.
"Ekhem baik, saya mengumpulkan kalian di sini sebagai perwakilan untuk memberitahukan bahwa Aidah Mutiara akan menjadi sekretaris saya mulai sekarang!!" tegas Andrew.
Semuanya pun terkejut mendengar itu. Mereka juga saling bergumam kenapa tiba-tiba Aidah Nyonya mereka di angkat jadi sekretaris?? Seharusnya kan Aidah sebagai istri orang kaya lebih baik duduk santai menikmati uang bos mereka.
"Saya hanya memanggil kalian untuk menjadi perwakilan mengetahui hal ini. Saya harap kalian bisa memberitahu staf lain mengenai ini dan ingat hanya memberi tau bukannya bergosip!! Saya tidak ingin kalau sampai mendengar karyawan-karyawan saya bergosip, kalian mengerti kan?!!" tegas Andrew dengan tatapan tajamnya yang mengarah ke para karyawan.
Para karyawan yang di tatap tajam pun segera mengangguk, "Iya, Tuan kami paham."
"Baiklah kalian bisa pergi!!" tegas Andrew sekali lagi.
"Baik, Tuan. Permisi" Semuanya langsung buru-buru keluar dari ruang rapat.
Aidah geleng-geleng kepala mendengar nada tegas dan melihat tatapan tajam suaminya yang menakutkan itu. 'Pantesan semuanya pada takut orang memang sangat menakutkan jika Mas seperti itu' batin Aidah dengan helaan nafasnya.
"Ayo sayang, aku bawa kamu ke meja sekretaris" ajak Andrew dengan lembut, sangat berbeda saat berbicara dengan karyawannya tadi.
"Mas janji mau adil, jadi seharusnya Mas kalau di Perusahaan jangan panggil sayang, tapi Aidah. Aidah juga akan panggil Mas dengan Bos" ucap Aidah.
Andrew terdiam mendengar itu, "Hah, baiklah terserah kamu sayang. Tapi, kita hanya berdua sekarang kan jadi tak mengapa kalau Mas panggil kamu sayang" tutur Andrew sembari menggandeng tangan istrinya keluar dari ruang rapat.
Aidah terkekeh pelan, "Iya-iya, Mas memang paling jago ngeles."
Endra hanya menatap keduanya pergi dari ruang rapat. "Jadi Tuan dan Nyonya menganggap aku apa?? Nyamuk? Ya kali seganteng ini di anggap nyamuk" gumam Endra yang sedikit kesal mendengar ucapan Andrew yang seolah-olah dia tidak ada di tempat itu hanya ada Andrew dan istrinya saja.
__ADS_1