Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Dua Pilihan


__ADS_3

Prangg, suara pecahan gelas.


"Astaga, apa yang kamu lakukan Lita?! Kamu melamun yah?!" tanya Ana kaget saat suara pecahan kaca itu terdengar.


Lita langsung tersadar setelah memecahkan gelas yang di pegangnya itu. "Ma...maaf Nyonya, sa..saya tidak sengaja" ucapnya dengan menunduk merasa bersalah.


"Hah, tidak apa-apa. Tapi kamu bagaimana ada yang terkena kah?? Kamu juga sebenarnya kenapa, dari tadi aku lihat sebentar-sebentar melamun?!" tanya Ana heran.


Lita menggeleng, "Tidak ada apa-apa Nyonya, saya hanya tidak sengaja saja melakukan itu, maaf" jawab Lita dengan buru-buru.


"Sudahlah aku lihat sepertinya kamu kurang sehat, sebaiknya kamu istirahat saja dulu sana. Biar yang lain yang bereskan pecahan ini" ucap Ana menyuruh Lita untuk istirahat saja dulu, karena Lita sedari tadi kebanyakan melamun.


"Ba..baik lah Nyonya, terimakasih dan maaf. Kalau begitu saya ke belakang sebentar Nyonya" ujar Lita menunduk hormat, lalu pergi dari meja makan.


Yah, tadi Lita sedang membantu menyiapkan meja makan karena sebentar lagi waktunya untuk sarapan, tapi karena melamun Lita sampai memecahkan gelas.


"Ada apa dengan anak itu, aneh sekali" gumam Ana


"Ck, dia mungkin hanya malas kerja saja Ana" sinis Nita, karena masih kesal mengingat kelakuan Lita yang membuat Andrew dan Aidah bertengkar.


"Udah ah, ayo kita siapkan semuanya, yang lain sudah mau ke bawah semua tuh untuk sarapan" ujar Selani menengahi.


Ana dan Nita hanya mengangguk setuju dengan ucapan Selani dan kembali menyiapkan meja makan.


Biasanya Aidah juga akan ikut menyiapkan meja makan, tapi entah semenjak ia hamil ia rasanya lemas karena selalu muntah di pagi hari. Tapi, Selani, Ana dan Nita bukannya marah melainkan malah menyuruh Aidah untuk istirahat saja tidak membiarkan Aidah melakukan pekerjaan rumah apapun, mereka bertiga juga menyiapkan selalu makanan khusus untuk Aidah yang sangat cocok untuk ibu hamil.


Sementara itu di dalam kamar Lita. Lita membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan rasa letih. Letih karena terus kepikiran dengan ancaman serta perintah Maxim semalam itu.


"Aaahkk rasanya ingin lenyap saja, kenapa sih aku harus mengalami situasi yang sulit ini!!" gumam Lita merasa stres sendiri.


Tok tok tok.


"Siapa itu?" gumam Lita karena mendengar suara ketukan pintu di kamarnya.


"Masuk saja, pintunya tidak di kunci" ucap Lita sedikit berteriak agar terdengar ke luar pintu.


Cklek.


"Lita, kamu tidak kenapa-kenapa kan?? Tadi aku lihat kamu juga memecahkan gelas di meja makan?" tanya seseorang yang baru saja masuk itu.


Lita menggeleng pelan, "Tidak kenapa-kenapa kok Relis, mungkin karena kecapean saja" jawab Lita dengan helaan nafasnya.


"Hah syukurlah, tapi sebenarnya aku kesini juga karena di suruh sama Tuan muda Ardian memanggil kamu ke kamarnya" ujar Relis menyampaikan perintah Ardian.


"Hah? Memangnya ada apa?" tanya Lita heran, karena di panggil sepagi ini dengan Tuan muda ngeselin menurut Lita itu.


"Ntahlah juga, sebaiknya kalau kamu mau tau ke sana saja" ujar Relis dengan mengedikkan bahunya.


"Hah, iya baiklah. Makasih yah."


"Iya Lita santai aja, kalau gitu aku ke dapur lagi yah masih banyak pekerjaan" ujar Relis dengan senyumnya.

__ADS_1


"Iya" jawab Lita dengan membalas senyum Relis itu.


Setelah melihat Relis pergi, Lita bergumam heran, "Ngapain Tuan nyebelin itu manggil aku ke kamarnya lagi?!"


Lita pun dengan berat hati, berjalan ke kamar Ardian yang berada di lantai dua.


Tok tok tok.


"Masuk" suara Ardian terdengar dari dalam kamar. Mendengar itu, Lita pun masuk ke dalam kamar.


Saat masuk Lita langsung melihat Ardian masih memakai pakaian tidur dan duduk santai di kasurnya.


"Saya dengar dari Relis Tuan muda memanggil saya, ada yang bisa saya bantu Tuan??" tanya Lita sopan, walaupun ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan Ardian karena sangat menyebalkan menurutnya tapi ia harus tetap sopan bagaimanapun Ardian adalah majikannya juga.


"Hmm, siapkan air mandi untukku. Ingat tidak boleh terlalu panas dan tidak boleh terlalu dingin" perintah Ardian seenaknya.


"Hah? Ta...tapi ini kan bukan tugas saya Tuan, tugas saya itu di dapur!" ujar Lita yang artinya menolak melakukan perintah Ardian itu.


"Oh jadi ini artinya kamu menolak perintahku?!!" tanya Ardian dengan Arrogant nya.


Lita menelan salivanya kasar mendengar nada arrogant yang keluar dari mulut Ardian itu. Ia pun menghela nafasnya, "Baiklah Tuan, akan Lita siapkan" jawab Lita dengan senyum terpaksanya.


Lita pun pergi ke kamar mandi yang berada di kamar Ardian, lalu mulai menyiapkan air mandi sesuai perintah Ardian itu.


Setelah menyiapkannya Lita pun keluar menghadap ke Ardian.


"Permisi Tuan muda, air mandinya sudah siap" ujar Lita dengan sopannya.


"Hmm" Ardian pun masuk ke kamar mandinya dan langsung mengecek airnya.


"LITA!!" panggil Ardian dengan teriaknya.


Lita yang baru saja mau pergi, ia sudah memegang knop pintu langsung berhenti karena mendengar panggilan itu. Lita menghela nafas lalu langsung ke kamar mandi karena mendengar teriakan itu.


"Iya Tuan, ada apa?" tanya Lita berusaha untuk tetap sopan.


"Apa-apaan ini hah, aku hanya menyuruh kamu siapkan air yang pas untuk aku mandi. Tapi, kamu malah menyiapkan air sepanas itu, kamu mau badanku luka bakar ha!!" ujar Ardian dengan nada ketusnya.


Ardian berjalan mendekati Lita dengan perlahan.


Lita yang melihat Ardian berjalan mendekat kepadanya itu membuat dirinya menelan saliva kasar.


"A...ada apa Tuan muda?" tanya Lita pelan, dengan mundur perlahan.


Bruk, badan Lita sudah tidak bisa mundur lagi karena sudah tertempel di dinding.


Ardian menaikkan tangannya satu, dan menatap tajam wajah Lita seperti orang yang ketakutan dan cemas.


"Tu...Tuan muda bi..bisa mundur sedikit?" ujar Lita pelan yang sebenarnya juga cemas dengan Ardian yang tiba-tiba mendekat kearahnya seperti ini.


Bukannya mundur, Ardian malah tambah mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Cih, jangan sok ketakutan kamu bukankah menggoda laki-laki sudah menjadi kepribadin mu" bisik Ardian tepat di samping telinga Lita. "Jangan kamu pikir saya akan tertarik dengan rubah licik kaya kamu. Jangan pikir juga, kamu bisa membuat Kakak dan Kakak ipar ku berpisah, kalau kamu sempat pikir itu berarti kamu menghayal terlalu tinggi" lanjut Ardian dengan nada ketusnya.


Deg~


Lita terdiam kaku mendengar bisikan dari Ardian itu yang sungguh sangat menusuk langsung ke hati Lita.


Cklek.


"ARDIAN!! Apa yang kalian lakukan ha?!!" tanya Nita dengan matanya yang terbelalak kaget, saat masuk ke kamar anaknya untuk membangunkan, malah mendapati saat ini anaknya tengah bermesraan dengan perempuan di kamar mandi lagi, apa lagi perempuan itu adalah perempuan yang kurang di sukainya yaitu Lita.


Ardian yang mendengar teriakan dari Mamanya itu terbelalak kaget dan langsung mundur.


Ardian menatap Mamanya kaget.


Nita terdiam dengan gelengan kepalanya, "Mama nggak nyangka Ardian, Mama kecewa sama kamu!!" ucap Nita lirih.


"Ma..Mama ini tidak seperti yang Mama lihat!!" ujar Ardian buru-buru menjelaskan. Ardian menggenggam tangan Mamanya itu dengan cemasnya.


"Tidak seperti yang Mama lihat?! Tapi apa itu kenapa kamu terlalu dekat sama dia, Mama juga udah pernah bilangkan jangan pernah berani hanya berduaan dengan perempuan di dalam kamar apa lagi ini kamar mandi loh Ardian!!" ujar Nita menatap anaknya kesal dengan matanya yang berkaca-kaca mengisyaratkan kecewa.


"Ada apa ini?" tanya Ana dan Selani yang baru saja datang, karena mendengar suara teriakan Nita.


"Tanya sendiri dengan keponakan kalian itu!!" lirih Nita, lalu pergi dari kamar itu.


"Ma, tunggu dulu!" Ardian ingin mengejar Mamanya dengan cemas, tapi langsung di halangi oleh Selani dan Ana.


"Ada apa yang sebenarnya ini Ardian?!" tanya Ana heran kepada ponakannya itu.


"Astaga Tante ini hanya kesalahpahaman, Ardian hanya meminta Lita untuk menyiapkan air untuk Ardian itu saja" jelas Ardian membela dirinya.


"Hah, serius hanya itu, tapi kenapa dengan nada bicara Nita tadi kecewa sama kamu?" tanya Selani yang juga merasa heran.


"Nanti yah Ardian jelasinnya ke Tante, kalau kalian juga tidak percaya kalian bisa menanyakan itu dengan Lita!!" ucap Ardian tegas. Ardian pun memilih pergi mengejar Mamanya, karena Ardian takut Mamanya benar-benar kecewa. Ia memang mengaku salah kali ini, karena sebelumnya walaupun ia memang nakal dan terkenal playboy, tapi ia tak pernah dalam satu ruangan hanya berdua dengan wanita karena memang sudah di wanti-wanti dengan Mamanya katanya takut ada syaiton yang malah menggoda Ardian berbuat khilaf.


Saat sampai di depan kamar orang tuanya, Ardian yang mendengar suara Mamanya dari dalam kamar itu pun langsung membuka kamar. Saat membuka kamar, Ardian sudah di suguhkan pemandangan Mamanya menangis di dekapan Papa Ardian.


Ardian buru-buru mendekat lalu berlutut di depan Mamanya.


"Ma Ardian beneran tadi itu hanya kesalahpahaman seperti halnya Kak Andrew malam itu" ujar Ardian berusaha menjelaskan.


"Tapi, kamu tau Mama sudah mewanti-wanti kamu agar jangan satu ruangan apa lagi di kamar hanya berduaan dengan wanita, apa lagi tadi kamu malah berduaan dengan Lita di kamar mandi dengan adegan seperti itu kamu pikir siapa yang tidak salah paham ha!! Walaupun semua itu juga hanya kesalahpahaman tapi kamu tetap salah Ardian!!" ujar Nita kecewa.


'Astaga kenapa malah jadi seperti ini!!' batin Ardian bingung, cemas dan merasa bersalah.


"Iya, Ardian tau Ardian salah Ma. Tapi, Ardian mohon percaya sama Ardian, Ardian tidak berbuat sesuatu yang melanggar norma Ma!" tegas Ardian.


"Benar kata anak kita sayang, jangan mengambil kesimpulan langsung seperti itu" ujar Rafael dengan mengelus lengan istrinya itu agar berhenti menangis.


"Papa mau bela Ardian ha! Jelas-jelas Mama lihat dengan kepala mata Mama sendiri mereka bermesraan Pa!!" tegas Nita dengan raut wajah sedih dan kecewanya.


"Ma, Ardian tau Ardian salah. Tapi, jangan seperti kecewa begitu dengan Ardian" ujar Ardian dengan wajah memelas dan merasa bersalahnya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau Mama kecewa, Mama kasih pilihan ke kamu, kamu mau menikahi Lita atau menerima perjodohan dari Mama?!" tanya Nita menatap anaknya itu dengan serius.


"What!!" Ardian membelalak tak percaya dengan pertanyaan Mamanya yang tiba-tiba merajuk ke pernikahan.


__ADS_2