
"Jadi seperti itu" ujar Selani yang baru saja selesai menjelaskan semuanya. Raut wajah Selani langsung sendu mengingat kejadian beberapa tahun silam itu.
Semua yang ada di tempat itu sangat-sangat terkejut mengetahui kebenaran semuanya, terutama Andrew yang baru tau jika Ibu selama ini yang di anggapnya sebagai Ibu kandung walaupun ia marah dan membenci wanita itu, tapi ini lebih mengejutkan untuknya karena ternyata Serina adalah Tantenya bukan Ibunya.
Wajah Serina sudah pucat pasi setelah mendengar semu penuturan Selani, tapi ia juga kaget bahwa ternyata pria di malam itu yang meninggal bukan lah Ayahnya melainkan orang lain, dan semuanya sudah di atur oleh Selani.
"Ka...kamu bohong Selani!! I..ini semua karena kamu bukan salahku!!" ujar Serina terbata-bata dengan wajah pucat pasinya.
"Kakak eh bukan tapi Serina, aku sudah melupakan semua masa lalu karena aku tau kamu sudah mendapatkan ganjarannya di luar sana, tapi kamu dengan tidak tau malunya masih berani datang mencari anakku!!" ujar Selani merasa geram dengan tatapan tajamnya menghunus ke Serina.
Serina menggeleng, "Dia anakku, aku yang membesarkannya!!"
"Kamu masih tidak berubah Serina!! Dari mana kamu merawatnya, kamu hanya merawatnya beberapa tahun lalu dan kamu meninggalkannya kan bahkan kamu meninggalkan nak Erwin yang telah tulus mencintai kamu juga karena dia saat itu bangkrut. Tapi, kamu salah Serina dari awal nak Erwin sebenarnya tidak bangkrut aku yang memanipulasi semuanya" ungkap Arsen.
Beberapa tahun silam, saat Arsen baru saja bangun dari tidurnya yang sudah beberapa tahun koma terbaring. Ia pun mengistirahatkan dirinya dulu, dan mulai merencanakan semuanya, dan masalah Erwin yang tiba-tiba bangkrut tanpa sebab pun itu adalah rencananya. Ia berharap, anaknya itu akan berubah jika hidupnya tidak berkecukupan, tapi ia salah anaknya itu malah meninggalkan Erwin dan Andrew yang saat itu masih kecil. Arsen tidak bisa mentolerir lagi perbuatan anaknya, ia menggunakan koneksinya selama ini, karena itu hidup Serina di luar sana tidak bisa berkecukupan itu semua karena Arsen yang terus memantau dan menghalangi jalan Serina. Siapa sangka saat berita Andrew, anaknya ini malah mendatangi Andrew lagi, jadi menurutnya saat ini lah yang paling tepat untuk membongkar semua yang terjadi di masa lalu.
"Maksud Ayah apa?!! Jangan bilang masalah kebangkrutan Erwin ada hubungannya dengan Ayah?!!" tanya Serina memastikan dengan tangannya yang mengepal geram.
"Huh, Ayah berharap kamu bisa jadi anak yang baik tapi Ayah salah kamu tidak bisa berubah Serina. Padahal Ibu dan Ayah tak pernah mengajarkan kamu seperti ini, entah dari mana sifat jahat mu itu berasal!!" ujar Arsen menghela nafasnya, karena dirinya juga sadar tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak-anaknya hingga anak sulungnya itu bisa berbuat hal seperti itu bahkan ke saudarinya sendiri.
"Ayah tidak salah, Serina lah yang terinfeksi pengaruh-pengaruh dari orang luar. Ayah adalah Ayah terbaik untuk Selani" ujar Selani dengan senyumnya berusaha menghibur Ayahnya, sembari menggenggam tangan sang Ayah yang sudah nampak kurus karena isinya yang sudah tua.
__ADS_1
Arsen terenyuh mendengar itu. Sementara Serina yang melihat itu merasa geram.
"Permisi" ujar beberapa orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Semuanya langsung menatap beberapa orang yang baru saja datang itu.
"Polisi!!" gumam semua orang kaget kecuali Selani dan Arsen yang memang sudah tau.
"Kami menerima laporan bahwa Nona Serina pernah melakukan percobaan pembunuhan beberapa tahun silam, yang bernama Nona Serina mohon ikut kami ke kantor sekarang" ujar salah seorang polisi. Polisi itu pun memberikan kode ke polisi wanita yang bersamanya itu untuk menangkap Serina.
Polisi wanita itu pun menganggukkan kepalanya mengerti, dan mulai berjalan ke arah Serina.
"Ayah jahat!!!" teriak Serina kesal dan geram saat melihat polisi wanita itu mendekat. Serina langsung berdiri dan mencoba kabur dari tempat itu, tapi polisi wanita itu dengan gesit langsung menangkap Serina dan memborgol tangan Serina agar tidak bisa kabur dari tempat itu.
"Jangan panggil aku Ayahmu lagi mulai sekarang!!" tegas Arsen dengan tatapan tajamnya.
"Tolong bawa dia pergi, dan aku mau dia di penjara seumur hidup!!" tegas Selani dengan tatapan tajamnya juga.
Selani merasa lebih baik Serina di penjara seumur hidup saja daripada langsung mati begitu saja. Karena jika di penjara pasti Serina akan lebih tambah merasakan apa itu siksaan sebenarnya, agar ia tau bahwa semua yang telah di perbuatanya selama ini dengan rasa iri hati yang tertanam di dadanya itu semua malah akan menjerumuskannya ke lembah yang salah seperti saat ini.
"Baik permisi Tuan, Nyonya. Dan kami mohon agar nanti Nyonya bisa datang sebagai saksi ke kantor polisi" ujar polisi itu sopan, karena ia juga tau sedang bicara dengan siapa dia sekarang, apa lagi ini Mansion keluarga Lewis ia tidak bisa sembarangan dengan orang yang kekuasaannya sangat tinggi di Negara ini.
__ADS_1
"Hmm, iya Pak" ujar Selani.
"S*alan aku tidak bersalah!! Yang salah itu Selani jangan kurang ajar sama saya. Kalian tidak tau apa saya itu Ibunya Andrew Lewis!!!" teriak Serina marah saat di tarik paksa keluar dari Mansion.
Polisi wanita itu hanya menulikan telinganya, dan terus menarik Serina keluar dari Mansion dengan kasar karena Serina yang terus memberontak.
Beberapa saat kemudian, setelah Serina di bawah ke kantor polisi. Suasana di ruangan itu menjadi hening lagi.
Selani mengalihkan pandangannya ke arah Andrew. Matanya mulai berkaca-kaca menatap anak yang selama ini ingin sekali ia peluk dalam rengkuhannya, tapi ia malu, malu karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik hingga mengalami masa kecil yang kelam. Rasa bersalah itu tertanam di dirinya sejak ia tak bisa menjaga anaknya dengan baik hingga di ambil oleh Serina. Ia mengira tak dapat melihat anaknya lagi langsung, karena sebenarnya ia sudah memutuskan untuk tidak menemui anaknya, karena rasa malu dan sangat bersalahnya ke anaknya, tapi karena kejadian ini ia juga bersyukur bisa melihat langsung anaknya itu.
Sama dengan Andrew yang hatinya bimbang saat ini, dan masih terkejut atas semua kebenaran dari masa lalunya ini.
"Ja..jadi benar anda adalah I..Ibu saya??" tanya Andrew pelan dengan pandangannya yang masih tetap menatap kebawah lantai.
"I...iya sayang. I..ibu minta maaf sama kamu, ibu tau ibu salah karena membiarkan wanita kejam itu mengambil kamu dari ibu, i..ibu salah sayang hiks hiks maafkan ibu" ujar Selani dengan air mata yang sudah tak bisa di bendungnya lagi. Hati Ibu mana yang harus terpisah dari anaknya selama bertahun-tahun, tapi tetap tak bisa merengkuh anaknya itu karena perasaan malu dan bersalahnya yang sangat dalam, apa lagi mengetahui bahwa anaknya selama ini sudah melewati berbagai macam rintangan dalam hidupnya.
"Tak apa ka..kalau kamu tidak mau menemui ibu, ta..tapi ibu ingin kamu memaafkan ibu walau ibu tau kesalahan ibu dulu sangat besar sehingga menyebabkan masa-masa kecil kamu terenggut" lanjut Selani menutup wajahnya dengan rasa sangat bersalah di hatinya, begitupun dengan deraian air matanya yang sudah sedari tadi mengalir deras di wajahnya yang sudah nampak ada keriput itu.
Tadi, rasanya Selani masih bisa tegas. Tapi, saat ini rasanya, rasa yang sudah tertanam rasa bersalah itu kembali menguak.
Andrew menghela nafasnya, dan menutup matanya sejenak, lalu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Semuanya langsung menatap Andrew yang berdiri itu. Andrew mulai berjalan ke arah Selani yang masih menangis sendu.