
Mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari Mamanya menurut Ardian itu membuat Ardian tidak bisa terima. Bagaimana bisa coba dia menikah dengan Lita terlebih lagi dengan orang yang ingin di jodohkan dengannya yang bahkan ia tak tau siapa orang itu.
Ardian pun menatap Mamanya kaget dengan wajah memelasnya, "Ma, jangan bercanda seperti ini dong. Mama juga tau itu hanya kesalah pahaman, lagian kan Ardian sudah bilang Ardian tidak ingin menikah dulu!" tegas Ardian menolak keinginan Mamanya itu.
"Hiks Pa, lihat anak kita setelah dewasa dia sudah tidak mau mendengarkan perkataan Mama" adu Nita dengan memeluk suaminya itu.
"Ardian turutin saja keinginan Mama kamu, kan kamu juga di berikan pilihan yang mana yang kamu mau!!" tegas Rafael ke anaknya.
"Tapi-"
"Uhh Pa, sepertinya dada Mama sakit" rintih Nita tiba-tiba dengan memegang dadanya.
"Mama, kita ke rumah sakit yah?" ujar Ardian dengan khawatir dan cemasnya.
"Sayang, kamu jangan begini dong nanti dada kamu tambah sakit lagi" ujar Rafael pura-pura khawatir.
"Ma..Mama tidak perlu kamu bawa ke rumah sakit, Mama hanya mau mendengar keputusan kamu!" lirih Nita dengan melirik anaknya yang tiba-tiba terdiam mendengar ucapannya.
"Ba...baiklah" jawab Ardian dengan terpaksa, sembari mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu Mama istirahat dan minum obat saja dulu supaya sembuh, Ardian permisi dulu" ujar Ardian dengan perasaan campur aduknya, lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Ternyata di pintu semuanya sudah berdiri dan mendengar percakapan Ardian, Nita dan Rafael sedari tadi. Ardian hanya menatap mereka semua, lalu memilih pergi ke kamarnya.
"Mas, sebaiknya kamu temenin Ardian dulu gih" bisik Aidah saat melihat raut wajah Ardian.
Andrew mengangguk, "Baiklah, tapi kamu harus hati-hati yah dan sarapan" ujar Andrew perhatian, lalu pergi mengikuti Ardian. Aidah hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya.
Saat Ardian sampai di kamarnya dan ingin menutup pintu, Andrew langsung menahan pintu dan ikut masuk ke dalam kamar Ardian.
"Kak bisa tidak tinggalin Ardian dulu!! Ardian mau sendiri dulu!!" tegas Ardian dengan wajah kesalnya saat ini.
"Heh kamu masih bisa kesal seperti ini, itu tandanya kamu baik-baik saja, aku kira kamu mau bunuh diri lagi" ejek Andrew dan dengan santainya duduk di kasur Ardian.
Ardian hanya merotasikan matanya malas dan acuh dengan tingkah serta ucapan Kakak sepupunya itu.
Ardian memilih baring di sofa dan langsung menutup matanya yang rasanya lelah.
"Kalau kamu tidak mau menikah dengan Lita ataupun di jodohkan, yah gampang tinggal cari aja sendiri gitu" ujar Andrew mengusulkan dengan entengnya.
Ardian membuka matanya dan menatap Andrew setelah mendengar usulan Andrew itu. "Benar juga yah, aku kan bisa sewa pacar bohongan" ujar Ardian yang langsung senang.
Tapi, bukk bantal langsung melayang ke arahnya.
"Kak Andrew!!!" kesal Ardian sembari mengelus wajahnya yang terasa sakit karena di lempari bantal dengan Andrew.
__ADS_1
"Siapa suruh kamu malah berpikir sewa pacar bohongan!! Yah maksud aku itu cari pasangan sungguh-sungguh lah!!" ketus Andrew.
"Huh, memangnya Kakak pikir cari pasangan yang cocok itu gampang?!!" kesel Ardian.
Cklek, pintu kamar Ardian tiba-tiba dibuka oleh seseorang.
"Kalian berdua tenang saja, aku punya solusinya" ujar seseorang yang baru masuk itu dengan smirknya.
"Solusi apa maksudmu Renald?" tanya Andrew dengan menaikkan satu alisnya.
"Kak Renald beneran punya ide?! Apa Kak solusinya?" tanya Ardian dengan mata berbinarnya.
Sebelum menjawab, Renald berjalan mendekati Andrew lalu ikut duduk di samping Andrew.
"Ekhem, sebenarnya semenjak malam itu aku sudah suruh mata-mata terbaik Kakek Arsen di markas untuk mengintai Lita serta si tua bangka itu. Dan sekarang aku sudah tau kalau ini semua bukan keinginan Lita juga" ujar Renald serius.
"Maksud Kak Renald apa?! Lita kan memang perempuan licik, dia pasti sengaja juga merencanakan ini!!" ketus Ardian.
Renald menggelengkan kepalanya, "Semuanya bukan seperti yang kamu lihat Ardian. Sebenarnya Lita hanya terpaksa melakukan itu karena Ibu, Ayah dan adiknya di sandera oleh si tua bangka itu!! Jadi kalau kamu tidak mau menikahi Lita, cukup dengan menyelamatkan Ibu, Ayah serta adiknya maka Lita akan bebas dari semua ini. Lagian bukan kamu juga target Lita, tapi target Lita itu Andrew dan Aidah, si tua bangka itu ingin membuat Andrew dan Aidah pisah" jelas Renald panjang lebar dengan wajahnya yang nampak serius.
"Ck, kamu tidak berbohong kan?!!" tanya Ardian memastikan dengan wajah seriusnya.
"Huh, mana mungkin kali aku berbohong. Apa untungnya coba kalau aku berbohong" ketus Renald, karena merasa dicurigai.
"Iya deh sorry, dan makasih. Jadi, kita perlu menyelamatkan Ibu, Ayah dan adik Lita terlebih dahulu?? Bukankah itu sangat mudah juga hanya melawan si tua bangka itu yang memang dari awal aku udah geram!!" ujar Ardian dengan wajah geramnya dan senyum smirknya menganggap mudah hal itu.
"Bukankah hanya tua bangka itu saja?! Kita kan dari kedua keluarga terpandang di Negeri ini, bahkan Paman juga menjadi orang yang terpandang nomor satu di Eropa" ujar Ardian dengan bangganya.
"Ck, dasar anak ini. Walaupun kita dari keluarga terpandang, tapi tetap saja tidak bisa sembarangan. Karena ini juga ada hubungannya dengan orang-orang yang berada di pemerintahan!!" ketus Renald lagi, kesal dengan ucapan Ardian.
"Apa!! Apa maksud kamu Renald?!" kali ini bukan Ardian yang bertanya, tetapi Andrew yang kaget dengan perkataan Renald.
"Huh, kamu juga taukan dia orang baru di negara kita tapi tiba-tiba bisa masuk dan Perusahaannya langsung bisa menduduki Perusahaan raksasa di negara ini juga. Pasti kamu bisa pikir sendiri kan karena dia ada dukungan dari orang-orang dalam!!" jelas Renald dengan wajah seriusnya.
"Kalau kita ingin menyelamatkan keluarga Lita, kita harus memikirkan rencananya dengan baik tidak boleh gegabah, karena walaupun kita memiliki kekuasaan di negara ini tetap saja pemerintahan itu tetap lah menjadi pempimin, dan sekalian kita juga harus membongkar para pengkhianat negara itu!!" lanjut Renald dengan wajah seriusnya.
"Astaga, aku tidak pikir kalau masalah itu seserius ini" ujar Ardian kaget dengan penjelasan Renald.
Andrew mengangguk paham dengan penjelasan Renald itu. "Jadi, kamu sudah punya cara?!" tanya Andrew lagi.
Renald menggeleng, "Belum lah, makanya aku ke sini. Bukankah kamu jago dalam menyusun strategi masalah seperti ini Andrew, jadi coba kamu pikirkan strategi yang bagus karena kalau kita salah langkah satu kali saja bisa-bisa kita yang akan menjadi kambing hitamnya!!" ucap Renald menatap serius Andrew.
Andrew menghela nafas mendengar hal itu.
"Baiklah biar aku pikirkan dengan baik dulu karena masalah ini juga termasuk serius, tapi tunggu waktu dulu sementara ini sebaiknya kamu terima permintaan Tante Nita untuk bersama dengan Lita Ardian!!" tegas Andrew.
__ADS_1
"Huh, baiklah" jawab Ardian dengan terpaksa.
Prok, prok, prok, suara tepukan tangan terdengar bersamaan dengan pintu kamar Ardian yang terbuka.
Ketiga pria yang sedang berbincang itu langsung menoleh ke arah pintu.
"Kakek Arsen!!" ucap ketiganya saat melihat orang yang masuk adalah Kakek Arsen.
Kakek Arsen itu terkekeh menatap ketiga pria yang saat ini tengah menatapnya. Saat masuk Kakek Arsen kembali menutup pintu kamar Ardian, lalu berjalan mendekat ke arah tiga pria itu.
"Kalian benar-benar cucuku" puji Kakek Arsen.
"Lah kita kan memang cucu Kakek! Yah walaupun hanya Andrew yang cucu asli" cetus Ardian.
Pletak.
"Aww, Kakek nggak harus pake nyentil kepala Ardian kan!!" ucap Ardian dengan nada sedikit kesalnya itu.
"Huh bocah ini. Kakek bilang seperti itu karena kalian berani ingin mengambil resiko seperti yang kalian bicarakan barusan" ujar Kakek Arsen.
"Hah, Kakek sedari tadi menguping?!" tanya ketiganya sama-sama kaget.
"Terus kenapa?!" ujar Kakek Arsen tak merasa bersalah sudah menguping.
"Jangan bilang ini semua juga sudah rencana Kakek? Kan yang beritahu Renald juga anak buah Kakek!!" tanya Renald memastikan.
Kakek Arsen terkekeh mendengar pertanyaan Renald, "Tentu, tapi bukankah kamu yang menyuruh mereka menyelidiki hal itu. Tapi, sebelum kalian tau, Kakek sudah tau semuanya sejak awal" jawab Kakek Arsen dengan senyum smirknya.
Andrew menatap Kakeknya curiga setelah mendengar pertanyaan Kakeknya itu. "Apa ada lagi yang Kakek sembunyikan dari kami?!!" tanya Andrew penuh curiga.
"Hahaha kamu tau saja, benar-benar cucu Kakek" ujar Kakek Arsen dengan tawanya yang menggema, tapi tak lama lalu ia menampakkan senyum smirknya.
Ketiga pria itu kaget mendengar jawaban Kakek Arsen, mereka bertanya-tanya lagi apa yang di sembunyikan Kakek Arsen lagi. Kenapa Kakek Arsen selalu saja misterius.
Kakek Arsen yang mendapatkan tatapan intimidasi dari ketiga pria itu membuatnya langsung terkekeh kembali, "Kenapa kalian kepo yah?" tanya Kakek Arsen menggoda ketiganya.
"Ck, Kakek tidak usah sok misteriu seperti itu. Katakan sekarang dengan kami bertiga, apa yang sebenarnya Kakek semybunyikan lagi?! Ada rahasia apa lagi?!" tanya Andrew serius.
Mendengar pertanyaan cucunya, bukannya menjawab Kakek Arsen malah kembali tertawa, "Kamu pikir Kakek akan memberitahukan hal ini segampang itu. Nanti juga kalian tau kalau anak kamu sudah berumur lima tahun!!" jawab Kakek Arsen dengan senyum smirknya.
"Kenapa harus menunggu beberapa tahun lagi?!" tanya Ardian kesal karena Kakek Arsen misterius gitu.
"Ck, nanti juga kamu akan tau alasannya. Sudahlah kalian tidak perlu tau apa itu, sekarang yang perlu kalian tau kalian mau strategi serta mau tau di mana keberadaan keluarga Lita kan?! Gampang" ucap Kakek Arsen dengan senyum smirknya.
"Mau Kek, apa itu?!!" tanya ketiganya lagi bersamaan.
__ADS_1
"Haha kalian sangat kompak. Tapi, kalau kalian ingin tau, kalian harus melakukan sesuatu dulu" ucap Kakek misterius lagi.
"Kakek bisa katakan apa itu? Jangan misterius gitu lagi dong!!" ujar Ardian kesal.