Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kejadian Sebenarnya


__ADS_3

"Maaf Ayah, tapi sepertinya Selani harus meninggalkan kita untuk selamanya" ujar Serina dengan seringainya dan tatapan tajamnya ke arah Selani.


"Apa maksud mu ha?!!" kaget Arsen mendengar perkataan anaknya itu.


"A..apa maksud Kakak?!" tanya Selani terbata-bata dengan kagetnya di wajah capeknya itu, karena baru saja tenaganya terkuras saat melahirkan tapi saat ini harus berdebat dengan Kakaknya.


"Ck, aku bukan Kakak kamu!!" ketus Serina.


"Tapi, kamu akan tau sekarang" lanjut Serina dengan mengambil pisau di meja milik Dokter tadi dengan seringai nya.


Arsen dan Selani membelalakkan matanya saat menatap Serina yang mengambil pisau kecil itu.


"Mati kamu Selani!!" Serina menghunuskan pisau kecil itu ke arah Selani. Tapi, ia langsung di dorong oleh Arsen.


"Kamu!! Berani nya berbuat seperti itu ke saudarimu!!" ucap Arsen dengan nada tingginya ke arah Serina, sembari membantu dengan pelan Selani untuk bangun dari baringnya.


Selani berusaha bangun, walaupun tubuhnya yang terasa capek, dan bagian bawahnya yang terasa sangat perih habis melahirkan.


"Ayo Nak, pelan-pelan saja" ujar Arsen khawatir dengan membantu Selani turun dan berjalan dari tempat baring itu.


Serina yang sempat terjatuh itu pun berdiri menatap kesal keduanya.


"Ck, Ayah dan Selani tidak akan bisa pergi dari sini!!" ketus Serina sembari berjalan ke arah mereka.


Arsen yang melihat anak sulungnya itu mendekat langsung membisikkan sesuatu ke arah Selani, "Ke arah hutan sekarang Selani! Nanti akan ada bawahan Ayah di sana!" bisiknya khawatir dan serius.


"Tapi Ayah-"


"Cepat!!" potongnya sembari mendorong Selani pergi.


"Ck, aku tidak akan membiarkan kalian berdua pergi! Terutama kamu Selani!" kesal Serina.


Serina yang melihat Selani pergi pun ingin menyusul Selani, tapi langsung di hadang oleh Arsen yang menatap tajam Serina.


"Kenapa Ayah menghalangi Serina membunuh adik tidak tau diri itu ha!! Ayah memang selalu pilih kasih!!" teriaknya kesal.


"Kamu yang harus intropeksi diri Serina!! Ayah dan Ibu kamu selalu adil dengan kalian, bahkan Ayah selalu mengutamakan kamu, tapi kamu yang selalu iri kepada adikmu!! Semua yang ada di otak kamu adalah hanya kamu yang ingin menjadi orang yang satu-satunya di sayang, kamu yang salah, adik kamu bahkan sering mengalah dari kamu tapi kamu bukannya intropeksi diri tapi malah terus menyalahkan adik kamu itu!!" ujar Arsen dengan tatapan tajam dan nada rendah tapi terdengar sangat tegas.


"Bukan Serina yang salah, tapi ini salah Selani!!" kesal Serina yang mendengar pembelaan dari mulut Ayahnya.

__ADS_1


"Sekarang Ayah awas!! Aku harus mengejar dia dulu!!" tegas Serina dengan tatapan tajamnya.


Arsen menggeleng, "Nak sadar!! Apa yang kamu lakukan ini salah. Ayo sekarang bertaubat perbaiki semuanya, adik kamu pasti akan memaafkan kamu kalau kamu mau bertaubat sayang" ujar Arsen dengan wajah sendunya.


"Cih, Serina tidak butuh maaf dari dia!! Sudah lah Ayah sebaiknya jangan halangi Serina!!" ujar Serina lalu mendorong Ayahnya dengan sangat kasar.


Buckk


Arsen terjatuh dengan sangat kasar, dan kepalanya terbentur di kayu yang ada di ruangan itu. Karena, rumah itu terbuat dari kayu.


Serina yang mendengar benturan keras itu langsung menoleh. Saat melihat darah yang bercucuran keluar dari balik tubuh Ayahnya, Serina langsung menutup mulutnya dengan matanya terbelalak kaget, tangannya pun gemetar ketakutan.


Serina segera mendekat. "A...Ayah jangan bercanda dengan Serina!!" ujar Serina dengan tubuh bergetar ketakutannya.


Serina segera mengecek nafas Ayahnya dan Serina langsung melangkah mundur dengan raut wajah ketakutannya.


"I...ini tidak mungkin kan, a...aku tidak mungkin membunuh Ayah kan!!" lirihnya dengan tubuh yang sangat bergetar ketakutan.


Tak lama Dokter yang tadi membawa anak laki-laki yang baru lahir itu kembali ke gubuk kayu itu.


Dokter yang baru saja masuk langsung membelalakkan matanya.


Serina langsung menoleh ke arah Dokter.


"Ja...jangan banyak tanya, ayo bantu aku bawa Ayahku ke Rumah Sakit!!" ucapnya dengan wajah lusuh dan tubuh yang bergetar.


Dokter itu dengan wajah kagetnya langsung menaruh anak laki-laki yang baru saja lahir itu di kasur keras yang ada di rumah itu dan segera membantu Serina membawa Ayahnya ke mobil dengan tubuh bergetar hebatnya. Setelahnya Dokter itu mengambil kembali anak laki-laki yang ternyata Andrew itu di bawahnya juga ke mobil.


Sementara itu di tempat lain, di dalam hutan dekat gubuk kayu itu. Seorang wanita tengah sangat cemas dan khawatir dengan Ayahnya.


"Erik, bagaimana jika Ayahku kenapa-kenapa?!!" tanya Selani dengan khawatirnya.


"Nona tenang saja, saya sudah menyuruh anak buah untuk memata-matai ke gubuk itu" ujar Erik berusaha menenangkan anak dari Tuannya.


Selani tetap saja tidak tenang, tetap memikirkan Ayahnya yang berusaha menghalangi Serina tadi.


"Gawat-gawat Tuan!! Hos hos" ujar seorang pria yang baru saja datang dengan sangat terburu-buru ke tempat itu.


"Tunggu tenang kan dirimu dulu, baru laporkan, ada apa dengan Tuan?!!" ujar Erik.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ayahku? Ayahku baik-baik saja kan?!!" tanya Selani tambah khawatir melihat anak buah itu lari dengan berteriak gawat.


"Hah, i..itu Tuan di bawah pergi oleh Nona Serina dan satu orang lainnya yang saya tidak tau siapa, ta..tapi sepertinya Tuan luka karena aku tidak sengaja melihat darah berceceran saat Nona Serina dan satu orang lainnya itu membawa Tuan besar" ujar anak buah itu dengan pelan dan khawatir juga.


"Apa!!!" tubuh Selani rasanya tidak bisa ia topang lagi dan akhirnya pingsan, untung saja Erik sigap menghalau jatuhnya Selani.


"Kita sebaiknya bawa Nona Selani dulu pulang. Dan kamu ajak beberapa orang terus pantau keadaan Tuan!!" tegas Erik.


"Baik Tuan" jawab semuanya paham.


Keesokan harinya


Di sebuah kamar nuansa emas, seorang wanita baru saja bangun dengan menahan sakit di kepalanya yang terasa sakit, dan bagian bawahnya yang masih terasa nyeri.


"Nona, tidak usah bangun dulu. Nona sudah di periksa oleh Dokter, kata Dokter Nona tidak apa-apa tinggal istirahat selama 3 bulan maka Nona akan sembuh dan akan seperti biasanya" ujar Erik yang sedari semalam menjaga Selani karena khawatir, dan ini juga tugasnya dari Arsen.


"Uh, ah aku ingat. Erik di mana Ayahku?!" tanya Selani dengan khawatir.


"Nona tengang saja, saya sudah merencanakan semuanya. Tuan pasti akan baik-baik saja" ujar Erik menenangkan.


"Rencana apa Erik?! Benarkah Ayah akan baik-baik saja?!" tanya Selani yang masih cemas.


"Nona tenang saja, saya sudah menyuruh anak buah untuk menemukan seseorang yang mirip dengan Tuan agar kita bisa tukar dan mengambil Tuan, agar kita bisa secepatnya memberikan pengobatan terbaik untuk Tuan" jelas Erik.


"Hah, baguslah kalau gitu" Selani sedikit bernafas lega.


"Tapi Nona, mungkin kami belum bisa mengambil anak Nona untuk saat ini, karena suami Nona Serina akan pulang dari luar negeri malam ini" ujar Erik merasa bersalah.


Selani menggeleng, "Tidak apa-apa Erik. Lagian dia tidak mungkin melukai anakku juga untuk saat ini karena dia masih membutuhkan anakku. Yang terpenting untuk saat ini adalah kita harus mengobati Ayah, aku tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ayah" ujar Selani dengan raut wajah khawatirnya.


"Baik Nona, saya dan yang lain pasti akan mengusahakan yang terbaik" jawab Erik tegas.


Saat senja hari pun Erik dan anak buahnya melaksanakan rencana mereka untuk menukar Tuan Arsen mereka dengan mayat yang mirip dengan Tuan mereka.


Setelah melakukan itu. Selani memutuskan untuk ke luar negeri untuk memberikan pengobatan terbaik kepada Ayahnya agar Ayahnya segera pulih karena kondisinya saat ini kritis.


Malam itu pun juga Daddy Andrew atau suami Serina itu pulang dari luar Negeri, dan pemakaman langsung di lakukan keesokan harinya saat tau bahwa Arsen meninggal. Kebetulan malam itu bukan hanya Daddy Andrew yang pulang ke Negara ini, melainkan semuanya juga Nathan dan Ana, serta Rafael dan Nita juga ikut pulang ke Negara ini.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2