Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Harus Pulang


__ADS_3

Di salah satu kamar yang berada di Mansion Andrew seorang pria paruh baya nampak kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang tengah bertelfonan dengannya.


"Ada apa Dad?" tanya seorang wanita paruh baya yang ternyata Ana tante dari Andrew yang penasaran dengan apa yang dikatakan orang diseberang telfon sehingga wajah suaminya nampak kaget.


Nathan melirik istrinya sejenak lalu kembali berbicara di telfon tanpa menjawab pertanyaan sang istri.


"Hmm besok saya kesana" ujar Nathan dengan wajah datarnya.


Setelah mengatakan itu Nathan langsung memutuskan panggilannya begitu saja. Saat melihat panggilan sudah terputus, ia menghela nafas.


Ana tambah penasaran dengan apa yang suaminya perbincangkan itu. Ana pun tambah mendekat ke suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya tadi.


"Ada apa sih Dad? Jangan buat Mom khawatir dong?" tanya Ana dengan wajah penasarannya menatap sang suami.


"Hah, besok Daddy harus kembali ke luar negeri Mom" jawab Nathan dengan wajah lusuhnya, karena ia mau tidak mau harus kembali dulu sebab ada masalah yang harus ditanganinya sendiri. Padahal ia masih belum puas bermain dengan cucu-cucu barunya itu yaitu Baby Ai.


"Hah? Kenapa Dad? Ada masalah apa memangnya, kenapa Dad yang harus turun tangan sendiri?" tanya Ana yang juga ikut kaget mendengar jawaban suaminya.


Nathan mengangguk, "Iya Mom, ada masalah di Perusahaan dan Dad juga sudah lama tidak kembali mengurus langsung perusahaan. Apalagi kan Mom tau saat ini tidak ada yang bisa mengurus dengan baik perusahaan dan markas di sana, karena Kelvin ada di sini juga" jelas Nathan.


Wajah Ana nampak ikut ditekuk mendengar itu, itu tandanya ia juga harus ikut kembali.


"Oh iya kenapa nggak suruh Kelvin kembali ke sana saja Dad? Kita disini saja? Atau pindahkan saja markas utama dan perusahaan utama kesini?" tanya Ana dengan mata penuh harapnya.


Nathan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya itu. "Tidak bisa Mom, Kelvin kesini itu mau mengejar anak kita biarkan dia juga libur sejenak karena sudah lama juga sibuk urus perusahaan dan markas. Dan masalah markas bisa saja Dad pindahkan, tapi kalau masalah Perusahaan sepertinya agak susah Mom karena banyak yang harus di urus jadi kalau mau di pindahkan kantor utamanya mungkin butuh beberapa tahun" jelas Nathan lagi kepada istrinya.


Wajah Ana kembali ditekuk mendengar penjelasan suaminya itu. Sementara Nathan yang melihat wajah istrinya ditekuk paham akan hal itu.


"Mom nggak usah ikut sama Dad, Mom disini saja nanti juga Dad akan usahakan secepatnya kembali kesini" ujar Nathan lembut.


"Huh, nggak! Mom harus ikut. Nanti Dad ganjen lagi" sinis Ana saat mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Astagfirullah jangan su'udzon Mom, mana pernah Dad ganjen sama perempuan lain. Lagian Dad udah tua kali Mom yakali ganjen" ujar Nathan geleng-geleng kepala dengan pikiran istrinya, ia kira istrinya bakalan bilang nanti istrinya rindu kalau dia kembali sendiri eh tau-taunya beda dari yang dipikirkannya.


"Iya-iya Mom percaya sama Dad, tapi Mom tidak percaya sama perempuan lain apalagi itu tuh rekan kerja Dad yang punya muka banyak huh" sinis Ana lagi.


Nathan terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Dad udah lama kali Mom tidak kerjasama dengan dia, jadi Mom tenang saja" ujar Nathan dengan mencolek dagu istrinya.


Baru saja Ana ingin berkata lagi, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang.


Tok tok tok, suara ketukan pintu.


"Mom, Dad ayo turun semuanya sudah menunggu di meja makan" teriak seseorang itu yang ternyata Cika ke orang tuanya.


Ana dan Nathan saling berpandangan mendengar teriakan anak mereka satu-satunya itu, lalu keluar menghampiri anak mereka lalu turun ke bawah.


Semuanya nampak sudah siap untuk makan di meja makan, bahkan baby Ai juga sudah ada di meja makan itu tepatnya di samping meja makan di kereta dorong mereka masing-masing.


"Ada apa Ana?" tanya Selani dengan menaikkan satu alisnya.


"Aku mau memberikan kabar dulu untuk semuanya bahwa aku dan suamiku Nathan akan pulang besok pagi ke luar negeri di mana Mansion kami berada" ujar Ana memberitahu.


"Ha?!" semuanya nampak kaget, terutama Cika anak Ana dan Nathan yang baru juga mengetahuinya.


"Kenapa Mom? Kenapa harus pulang? Dan kenapa buru-buru sekali?" tanya Cika heran sekaligus kaget.


"Dad kamu ada urusan di sana, kamu kuliah dengan baik di sini saja, kita tidak akan lama kok baru kesini lagi" ujar Ana kembali.


Kelvin berdiri mendekat ke arah Nathan. "Apa ada masalah dengan Perusahaan Tuan? Kalau begitu biar saya saja yang ke sana mengurusnya" ujar Kelvin dengan hormat.


Nathan menepuk pundak Kelvin, lalu berkata, "Tidak apa-apa. Kamu disini saja, Paman percayakan anak Paman kamu jaga dengan baik disini, lagian masalahnya tidak serius bagaimana" ujar Nathan menatap serius Kelvin.

__ADS_1


Kelvin melirik sejenak Cika, lalu mengangguk mantap menatap Nathan dengan senyumnya.


'Benar kata Dad, sepertinya Kelvin suka dengan anakku, hah tidak terasa sudah besar aja itu anak' batin Ana saat melihat tingkah Kelvin.


"Baiklah sudah diputuskan kalau kami akan pulang besok. Kalau begitu ayo kita barbeque dulu sebelum kami pulang malam ini" ajak Ana.


"Wah bagus tuh Tan" ujar Ardian yang nampak semangat mendengar ucapan Tantenya.


"Terus makanan ini gimana dong?" tanya Nita yang merasa sayang melihat makanan banyak dan enak di depannya.


"Yah kita makan juga dong, bawa semuanya ke atas, ayo perempuannya semuanya ke atas biar laki-laki yang mengerjakan itu" ajak Ana lagi.


Ana pun mendekat ke meja makan lalu menggendong Aidan yang nampak enteng-enteng saja. Sementara Airen digendong dengan Selani.


"Wah nggak adil ini mah, Aidah seharusnya kamu lahirin kembar tiga supaya pas ada juga yang aku gendong" ujar Nita dengan wajah cemberutnya saat melihat Ana dan Selani menggendong baby kembar.


"Tuh anak kamu suruh cepat-cepat nikah baru gendong cucu juga" ledek Ana dengan bangganya bisa menggendong Aidan untung saja ia gercep kalau tidak sudah didahului dengan Nita.


Semuanya tertawa mendengar ledekan Ana, kecuali Nita yang nampak mendengkus sedikit kesal dengan ledekan Ana.


"Sudah, ayo ke atas" lerai Kakek Arsen.


"Kakek kan laki-laki? Seharusnya ikut membantu" ujar Ardian saat Kakek Arsen juga mau naik ke atas lebih dulu.


"Huh kamu mau jadi cucu durhaka ha!!" sinis Kakek Arsen mendengar ucapan Nathan itu.


"Hehe" Ardian nampak cengengesan mendengar itu.


"Aww" Ardian merasa kesakitan saat mendapatkan cubitan dari Mamanya Nita. Ardian yang mendapatkan cubitan hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah ayo!" ajak Ana lalu duluan melangkah dengan Aidah.

__ADS_1


Para wanita dan Kakek Arsen pun ke atas duluan ke tempat barbeque, sementara laki-laki lainnya yang akan membawa bahan-bahan serta peralatan yang dibutuhkan.


__ADS_2