Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Saling Bercanda


__ADS_3

Keesokan harinya. Pagi hari yang cerah, tapi berbeda dengan suasana di meja makan yang terasa tegang dan canggung saat ini.


Andrew dan Aidah sama-sama saling menatap sinis.


'Wiss Kakak sama Kakak ipar jago banget aktingnya' puji Ardian dalam hati.


"Ekhem, ayo makan dulu!" ujar Nathan berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung menurutnya.


Lita sebagai pelayan yang melayani bagian makanan pun menyajikan makanan di piring orang-orang yang duduk di meja makan saat ini.


Lita merasa senang, karena melihat Andrew serta Aidah belum baikan, tapi ia berusaha menahan senyumnya itu agar tidak ketahuan.


Andrew dan Aidah yang biasanya duduk bersebelahan, kini bukan duduk saling bersebelahan melainkan saling berhadapan.


'Huh, kenapa kita harus pisah kamar sih!' batin Andrew dengan matanya yang menatap sinis istrinya.


'Itu semua kan rencana Ardian Mas. Lagian Aidah juga kesal nggak bisa tidur nyenyak karena anak kita rindu sama Daddy-nya' batin Aidah juga dengan menatap sinis suaminya.


Baru saja mengatakan itu di dalam hatinya, Aidah langsung terbelalak kaget karena merasa ada yang menyentuh kakinya di bawah sana.


Aidah menatap tajam suaminya, memberikan isyarat agar tidak menyentuh kakinya di bawah sana bagaimana jika sampai ketahuan.


Andrew hanya menatap santai dan menyeringai saja. Andrew tidak peduli dengan tatapan tajam istrinya, bahkan saat ini Lita sedang ada di sampingnya dan menuangkan makanan ke piringnya yang biasanya ini adalah tugas istrinya.


"Ada lauk yang Tuan muda inginkan lagi?" tanya Lita dengan suara lembutnya.


Andrew jadi kesal mendengar suara itu tepat di telinganya.


"Tidak perlu" ujar Andrew menolak. Walaupun dalam hatinya rasanya marah dengan Lita, tapi ia tak boleh menunjukkannya saat ini.


"Baiklah Tuan, kalau ada yang Tuan inginkan bisa beritahu Lita" ujar Lita lagi dengan suara lembutnya itu, sembari memegang pundak Andrew sepintas lalu langsung melepaskan pegangannya karena takut ketahuan.


Tapi, semua mata dari keluarga Lewis sangat lah jeli, terutama para wanita menatap tajam hal yang di lakukan Lita itu, walaupun mereka belum menegur. Cika pun yang melihat itu merasa tidak enak, karena Cika sangat tau kalau Kakaknya itu anti wanita bahkan dengan dirinya saja Kakak sepupunya itu tak ingin, walaupun hanya sekedar bergandengan sebagai adik kakak apalagi dengan kelakuan Lita saat ini. Yang Cika tau, Kakaknya itu hanya ingin dekat dengan Kakak iparnya saja.


'Kenapa Lita melakukan hal yang di benci Kakak seperti itu?! Bagaimana kalau dia di usir dengan Kakak, bahkan aku sendiri juga tidak bisa melawan kalau Kakak sudah memberikan keputusan!!' batin Cika setelah melihat gelagat dan kelakuan Lita.


'Heh perempuan macam ini sudah banyak ku temui di luar sana' batin Ardian, menatap sinis kelakuan Lita.

__ADS_1


*****


Setelah sarapan penuh dengan tatapan-tatapan sinis itupun selesai. Andrew dan Aidah tetap berangkat bersama, walaupun tetap menunjukkan jika mereka saling marahan di depan Lita.


Saat mobil sudah melaju pergi meninggalkan kediaman. Aidah ingin memeluk erat suaminya. Tapi, langsung di tahan oleh Andrew.


"Kenapa Mas?? Mas marah?" tanya Aidah kaget, karena suaminya menahan dirinya saat ingin memeluk.


Andrew langsung menggeleng, "Tentu tidak sayang, tapi Mas nggak mau pakai pakaian yang sudah di sentuh olehnya!!" ujar Andrew mengeluarkan jas nya yang sudah di sentuh oleh Lita tadi lalu menaruhnya di kursi depan samping kemudi.


"Itu jas aku serahkan ke kamu, terserah kamu mau apakan yang jelas jangan sampai saya lihat jas itu ada di Mansion lagi!" tegas Andrew ke supir yang sedang mengemudi itu.


"Baik Tuan," jawab supir dengan mengangguk paham.


Setelah mengatakan itu, Andrew yang berinisiatif duluan untuk memeluk istrinya itu. Aidah pun ikut membalas pelukan suaminya itu dengan senang, karena bisa menghirup aroma khas dari suaminya yang selalu membuatnya merasa tenang dan aman.


"Mas, tadi malam Aidah kurang tidur anak kita ngambek soalnya karena tidak di temani Daddy nya bobo" adu Aidah dengan manjanya.


Andrew terkekeh kecil mendengar pengaduan istrinya.


"Baby atau Momnya yang merasa susah tidur karena tidak ada Daddy?" goda Andrew dengan menarik turunkan alisnya.


"Iya-iya Mas tau, bukan hanya kamu sayang. Tapi, Mas juga susah tidur kalau tidak memeluk bantal guling hidup Mas ini" ujar Andrew dengan memeluk istrinya dengan sayang.


"Kalau begitu, sebentar malam kita tidur bareng lagi aja sayang. Kamu kan mau jambak dia ya udah sekalian aja kita buat dia melakukan sesuatu jadi kamu bisa jambak dia lagi, kita akting saja tapi tetap tidur bersama" lanjut Andrew yang juga merasa tak bisa pisah dengan istrinya itu.


"Aidah setuju dengan Mas untuk tidur bersama saja. Tapi, Aidah tidak mood lagi mau jambak dia, rambutnya kusut dan lepek soalnya, nggak pernah sampo kali sampai-sampai tangan Aidah juga ikut sakit karena tersangkut sama rambutnya" ucap Aidah dengan wajah cemberutnya.


Andrew terkekeh mendengar perkataan istrinya itu.


"Duh duh kasihan tangan istri Mas kesakitan berarti" goda Andrew sembari menggenggam dan mengelus tangan istrinya itu, lalu mengecup tangan itu.


"Ihh Mas jangan goda Aidah deh" ketus Aidah, dengan wajah bersemu merahnya.


"Hehe canda sayang. Jadi, apa nih yang harus Ayahanda buat agar Ibunda tidak marah lagi?" tanya Andrew dengan sedikit menggoda istrinya yang wajahnya sudah memerah itu, dengan menarik turunkan alisnya.


"Huh, pokoknya Aidah mau Mas turutin keinginan Aidah seharian sebagai kompensasinya!" cetus Aidah dengan wajah pura-pura ngambeknya, dengan mengalihkan pandangannya juga ke arah kaca mobil.

__ADS_1


"Kapan sih Mas tidak turutin permintaan istri Mas ini. Balik sini dong sayang siapa tau..." Andrew memberhentikan ucapannya.


Aidah langsung berbalik ke arah suaminya. "Siapa tau apa Mas?" tanya Aidah dengan wajah pura-pura tidak keponya.


"Kepo yah??" goda Andrew lagi.


"Mas!! Huh, siapa juga yang kepo!" judes Aidah, lalu ingin kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tapi, langsung di halangi oleh Andrew.


"Siapa tau... Be-"


"Bidadari!" potong Aidah dengan senyumnya.


"Ishh salah, yang mau Mas katakan itu siapa tau belekan mata kamu, kan masih pagi" goda Andrew.


"Mas!!!" ucap Aidah kesal dengan nada manjanya, senyum yang nolak tadi di bibirnya kini jadi cemberut lagi.


Andrew tertawa puas setelah menggoda istrinya itu.


"Haha kamu lucu banget dan tambah gemesin tau sayang kalau ngambek gitu" goda Andrew lagi.


"Huh, goda aja terus" ketus Aidah dengan tatapan sinisnya.


"Hahaha" Andrew hanya tertawa mendengar ucapan ketus dari istrinya itu.


Aidah langsung terpikirkan ide lagi.


"Hahaha sayang ampun" tawa Andrew keras yang terdengar di mobil itu.


"Huh, rasain karena goda Aidah terus!!" Aidah menggelitik pinggang suaminya itu, hal itu membuat Andrew tambah tertawa keras.


"Hahaha iya maaf sayang, ampun deh nggak lagi" ujar Andrew dengan tawa kerasnya. 'Untuk kali ini, tapi lain kali yah tetap' lanjutnya di dalam hati.


"Huh, Aidah nggak percaya deh" Aidah tetap menggelitik suaminya itu.


"Hahaha" Andrew tertawa terus karena gelitikan istrinya. Andrew segera menangkap kedua tangan istrinya itu.


Andrew menatap istrinya jahil, " Sepertinya kamu mau rasain juga nih" ujar Andrew jahil.

__ADS_1


"Eh" Aidah langsung mundur. "Hehe maaf Mas, jangan yah. Kasihan baby kita nanti kalau Momnya ketawa terus" ujar Aidah memberikan alasan, yang membuat Andrew tidak bisa berkutik.


Andrew pun hanya menarik pelan istrinya lalu memeluk istrinya erat itu sebagai balasan dari glitikan istrinya.


__ADS_2