
Aidah mendekat, menatap tajam Lita. Sementara itu, Lita menunduk melihat tatapan tajam Aidah itu.
Dan Plak, suara tamparan keras terdengar di kamar itu.
"Nyo...Nyonya!" ucap Lita kaget, matanya bahkan terbelalak kaget dengan tamparan barusan dari Aidah. Lita memegang wajahnya yang baru saja di tampar itu dengan kaget.
"Kenapa ha!! Kamu masih mau di tampar lagi!!" ketus Aidah dengan tatapan tajamnya.
Lita menggeleng pelan.
"Ma..maafkan saya Nyonya, saya tau saya salah hiks hiks" lirih Lita dengan air mata yang keluar dari balik kelopak matanya itu.
Aidah menatap suaminya itu, memberi kode. Andrew yang di beri kode itu menghela nafas malas.
"Huh, kamu jangan seperti itu lah. Kan Lita sudah bilang ini ketidaksengajaan, kamu hanya salah paham dengan kami, Lita hanya jatuh tadi dan aku mau bantu kamu jangan fikir macam-macam dong!" tegas Andrew.
"Ck, Mas malah bela dia!!" ucap Aidah dengan nada kesalnya.
"Kamu tidak apa-apakan Lita?" tanya Andrew pura-pura khawatir.
Lita yang diperhatikan oleh Andrew seperti itu tersenyum smirk diam-diam.
'Heh, masuk perangkap' batin Lita senang.
"Hiks hiks a..aku tidak apa-apa kok Tuan, jangan salah kan Nyonya ini memang salah saya, saya seharusnya tidak berinisiatif baik membawakan makanan untuk Nyonya sehingga kejadian ini bisa terjadi hiks hiks ma..maafkan saya Tuan, Nyonya" lirih Lita seolah-olah dia sangat bersalah dengan perbuatannya.
"Ck, kamu jangan banyak omong!!" kesal Aidah, apa lagi saat melihat akting Lita yang sungguh seperti nyata saja. Aidah pun langsung menjambak rambut Lita, melaksanakan ngidamnya.
"Aahkk Nyonya sa..sakit" teriak Lita merasa kesakitan karena rambutnya di tarik.
"Aidah lepaskan rambut Lita!" cetus Andrew dengan pura-pura menarik tangan Aidah dari rambut Lita.
"Ck, kamu masih berani membela dia ha dari pada aku istri kamu!!" kesal Aidah yang langsung menarik rambut Lita lebih keras lagi. Padahal Aidah dulunya adalah wanita yang lemah lembut dan menerima semua perbuatan jahat keluarga yang di sangkarnya keluarga kandung yang ternyata hanya keluarga angkat. Tapi, mungkin saat ini karena efek kehamilannya yang anaknya pun memiliki darah keturunan penguasa jadi ia tambah ganas saja.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Selani saat masuk ke kamar Andrew serta Aidah, dan melihat pecahan kaca berserakan di lantai, apa lagi saat melihat Aidah saat ini tengah bertengkar dengan Lita.
Yang lain juga ikut menyusul ke kamar Andrew. Aidah langsung melepaskan tangannya saat melihat Mama mertuanya, serta yang lainnya masuk ke dalam kamar mereka.
Saat Ardian sampai didalam kamar, ia menepuk diam-diam jidatnya, karena ini berbeda dari rencananya, ia pun sampai lupa dengan hal ini.
Aidah melirik suaminya itu, karena mereka lupa kalau hal ini juga akan membangunkan yang lainnya. Padahal dirinya awalnya tidak ingin agar ribut bagaimana, tapi namanya manusia tempatnya khilaf, dia malah emosi beneran dengan Lita.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Selani mendekati menantunya itu dengan khawatir.
Aidah menggeleng, "Tidak apa-apa kok Ma, maaf yah karena kami Mama dan yang lainnya malah terbangun" ujar Aidah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa sayang. Tapi, ada apa ini semua??" tanya Tante Ana saat melihat kaca berserakan, dan penampilan Lita juga yang sudah amburadul.
"Ah, ini itu Aidah yang pecahkan gelasnya" lirih Aidah menunduk.
"Kenapa sayang? Terus bagaimana dengan kamu, kamu nggak kenakan pecahannya?" tanya Selani khawatir dengan memeriksa menantunya itu.
"Bagus lah kalau Kakak ipar tidak kenapa-kenapa. Tapi, Lita kenapa Kakak ipar rambutnya amburadul gitu?" tanya Cika heran, melihat tampilan Cika yang amburadul, tapi saat ini hanya menunduk saja.
"Nyo..Nyonya menjambak saya, ta..tapi ini semua memang salah saya" lirih Lita dengan pura-pura merasa bersalah, padahal dalam hatinya saat ini tengah mengutuk Aidah dengan marahnya.
"Apa!!" Semuanya membelalak kaget mendengar itu.
'Huh, lihat saja semuanya pasti akan membela aku dan akan memarahi kamu' ketus Lita dalam hati.
"Astaga sayang, tangan kamu kenapa? Tangan kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu harus capek-capek mengeluarkan tenaga menjambak seperti itu" tanya Tante Ana khawatir, mendekat ke Aidah juga.
"Kenapa harus kamu sayang, kan ada yang lain yang bisa melakukan itu" ujar Tante Nita juga khawatir.
"Benar itu nak, kalau ada apa-apa kamu nggak usah turun tangan sendiri serahkan kepada kami atau yang lainnya, apa lagi kamu sedang hamil" ujar Paman Nathan juga ikut berkomentar.
Lita terbelalak kaget dengan kelakuan keluarga majikannya ini, bukannya membelanya yang sudah ditindas, malah membela Aidah yang jelas-jelas salah sudah menjambak dirinya. Bukan hanya membela, tapi mereka pun malah sangat khawatir dengan tangan Aidah kalau sampai kenapa-kenapa ataupun kesakitan karena menjambak rambutnya. Lita tak habis pikir dengan yang di lihat dan di dengarnya saat ini.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Kakak ipar menjambak rambut Lita?" tanya Cika penasaran, karena setahunya juga, Kakak iparnya itu bukan tipe perempuan yang kejam melainkan perempuan yang lemah lembut.
"Tanya sama Kakak kamu tuh" balas Aidah dengan tatapan sinisnya. Walaupun semuanya berbeda dari yang mereka rencanakan, tapi tak apa lah mereka tetap harus melaksanakan sesuai rencana awal.
Ardian menatap berbinar Aidah yang tetap melaksanakan rencana awal mereka. 'Kakak ipar memang the best lah' batin Ardian memuji Aidah.
"Kak Andrew, ada apa ini sebenarnya?" tanya Cika penasaran.
"Haiss Kakak ipar kamu itu hanya salah paham, Lita ke sini tuh mau naruh cemilan buat Kakak ipar kamu, terus tiba-tiba Lita mau jatuh nah Kakak tolongin dong, terus pas Kakak ipar kamu itu masuk jadi dia salah paham!" jelas Andrew dengan separuh kebenaran dan separuh kebohongan.
'Ck males banget harus cerita panjang lebar masalah tidak penting seperti ini, ini semua salah Ardian yang merencanakan ini' batin Andrew kesal, dengan diam-diam menatap tajam Ardian yang hanya berdiri diam menonton semuanya.
"Ck, Mas jangan bohong deh! Jelas-jelas Aidah tadi lihat Mas peluk lama tuh Lita, mana ada istri yang tidak marah jika suaminya berpelukan dengan perempuan lain" ketus Aidah membalas ucapan suaminya.
"Huh, dasar kamu yah Andrew. Mama udah bilang jangan berani dekat dengan perempuan lain, tapi apa ini!!" kesal Mama Selani ke anaknya itu.
"Benar tuh Tan, bahkan dulu Kakak juga bilang sama Ardian agar jadi cowok yang setia eh sekarang malah dia yang gitu" ujar Ardian yang membantu memprovokasi lagi.
Andrew tambah menatap tajam Ardian yang malah ikut mengatainya.
'S*alan nih bocah, awas saja setelah ini semuanya selesai habis kamu!!' batin Andrew kes dengan Ardian yang sudah memberikan ide kepadanya, tapi malah dia juga yang mengatainya.
Ardian hanya tersenyum memperlihatkan giginya kepada Andrew diam-diam. Andrew tetap saja menatap tajam Ardian yang bertingkah seperti itu.
"Kamu juga Lita, kenapa harus ke kamar Andrew malam-malam gini ha! Apakah menantu saya yang menyuruh kamu?!!" tanya Selani dengan galaknya.
Lita menggeleng pelan, "Bu..bukan Nyonya, tapi Lita kira Nyonya mau makan cemilan karena orang hamil biasanya suka cemilan, tapi Lita tidak sangka hal ini akan terjadi" ujar Lita berusaha membela dirinya.
"Memangnya kamu pernah hamil ha!! Jadi tau. Tidak semua ibu hamil akan suka kali dengan makanan malam-malam, kamu juga tidak di suruh kenapa bertindak!!" ketus Nita kesal.
"Sudahi saja ini, maafkan Lita saja. Dia pasti tidak sengaja" ujar Cika berusaha membela Lita.
"Huh, tidak usah bela dia Cika!! Kamu sudah baik ingin membantu dia mendapat pekerjaan dan tempat tinggal eh malah air susu di balas air tuba!!" ketus Ana juga.
__ADS_1