Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Jodoh Raja Hutan


__ADS_3

Seperti permintaan Aidah yang mengatasnamakan ngidam. Setelah pulang dari Perusahaan sore hari, Aidah dan Andrew langsung berangkat ke Mansion dimana hewan-hewan buas terutama singa milik Andrew berada.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Andrew dan Aidah sampai di Mansion tersebut. Saat sampai, Andrew dan Aidah langsung di sambut oleh kepala pelayan yang mengatur semuanya di Mansion itu.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya" sapa kepala pelayan itu yang bernama Bahri dengan ramahnya.


Aidah hanya tersenyum membalas sapaan kepala pelayan itu.


"Iya Pak Bahri. Singanya masih di tempat biasakan?!" tanya Andrew tanpa basa-basi.


"Iya Tuan semuanya masih di tempat biasa. Apa Tuan dan Nyonya kemari ingin melihat hewan buas??" tanya Pak Bahri itu dengan senyumnya.


"Iya, Pak. Aidah pengen peluk raja hutan" bukannya Andrew yang menjawab, melainkan Aidah yang menjawab dengan mata berbinarnya.


"Ha?" Pak Bahri kaget mendengar perkataan Nyonyanya itu.


"Ekhem, Pak. Kalau begitu kami ke tempat hewannya dulu yah, ayo sayang" Andrew langsung merangkul istrinya lalu pergi dari hadapan Pak Bahri itu menuju ke tempat di mana sang raja hutan berada.


Saat sampai di depan ruangan yang mana jika pintu di buka langsung menunjukkan kandang hewan-hewan itu, para staf yang bekerja langsung menunduk hormat saat melihat Tuannya yang sudah lama tidak datang itu tiba-tiba datang. Memang Andrew sudah lumayan lama tidak datang semenjak ia sibuk mengambil alih Perusahaan milik Ayahnya dan terutama saat dirinya juga menikah dengan Aidah ia sudah tidak pernah ke tempat ini lagi mengunjungi hewan-hewan yang dulu sering menjadi teman bermainnya.


"Tolong buka pintunya!" perintah Andrew.


Salah satu pria yang selalu berjaga di situ pun langsung membuka pintu sesuai perintah Tuannya.


Saat pintu terbuka hewan-hewan itu langsung nampak di depan mata. Melihat hal itu membuat Aidah berbinar senang.


"Ayo Mas!" ajak Aidah dengan semangatnya, menarik suaminya itu ke dalam.


"Sayang pelan-pelan kamu lagi hamil loh!" ujar Andrew mengingatkan dengan khawatir.


Aidah langsung memelankan jalannya saat mendengar ucapan suaminya itu, "Hehe maaf Mas saking semangatnya" ujar Aidah dengan cengengesan.


Andrew hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum menatap tingkah istrinya itu.


Andrew pun membawa istirnya dimana kandang singanya itu berada. Ruangan ini ruangan terbuka, tapi ada atap yang bisa tertutup dengan remot kontrol jika para penjaga ingin menutup atapnya seperti badai maka bisa dengan remot kontrol.


Saat sampai di depan kandang singa, mata Aidah langsung tambah bersinar girang melihat singa itu. Begitupun singa itu langsung ikut berbinar melihat Andrew yang sudah lama tidak menemuinya.

__ADS_1


"Tuh Mas, singanya nggak galak malah lucu" bisik Aidah dengan tatapan berbinarnya.


Andrew hanya bisa menghela nafas mendengar bisikan rayuan bujukan dari istrinya itu.


"Baiklah" Andrew mengajak Aidah untuk lebih dekat lagi dengan kandang singanya, di ikuti para pekerja yang bekerja di tempat itu.


Wajah singa yang awalnya nampak senang, langsung berubah nampak ganas.


Melihat hal itu, Aidah langsung melepaskan tangan suaminya lalu mendekat memegang pagar yang membatasi mereka.


"Sayang hati-hati!!" ujar Andrew khawatir saat istirnya itu tanpa aba-aba langsung melepaskan tangannya dan mendekat ke kandang singa.


Singa di dalam pun nampak mendekat kepagar tempat di mana Aidah berada dengan wajah ganasnya.


"Sayang!" Andrew pun buru-buru mendekat dengan khawatir kalau sampai singanya itu malah berbuat ganas ke istrinya.


"Halo singa lucu, wah kamu lucu dan ganteng perkasa banget" sapa Aidah sekaligus pujinya dengan mata berbinar menatap singa yang sudah tepat di depannya itu, Aidah tak peduli dengan wajah ganas itu karena nalurinya saat ini membawanya mendekat.


"Jangan perlihatkan muka ganas gitu dong singa, lihat nanti kamu akan punya teman baru loh" ujar Aidah dengan menunjukkan perutnya dengan senyum senangnya.


"Astaga sayang, kamu yah!!" Andrew menggelengkan kepalanya dengan helaan nafas leganya melihat istrinya tidak kenapa-kenapa.


Aidah hanya tersenyum memperlihatkan gigi-giginya itu ke arah suaminya.


"Lihat Mas, singanya pintar banget dan lucu" ujar Aidah senang.


Andrew pun ikut melihat ke arah singa yang sudah menemaninya dulu di saat ia tak punya teman satupun di luar sana.


Andrew ikut tersenyum ke arah singa itu, ia juga tidak akan bisa lupa bagaimana kenangannya dengan singanya ini.


"Hai, sudah lama tidak bertemu yah" ujar Andrew yang tersenyum ke arah singa miliknya itu.


"Ayo, Mas. Aidah mau peluk singanya" ujar Aidah mengingatkan suaminya itu tujuan mereka.


Andrew menghela nafas mendengar ucapan istrinya itu.


"Tolong buka pintunya!" perintah Andrew lagi ke penjaga.

__ADS_1


Penjaga itu dengan sigap membuka pintu kandang singa itu. Di dalam hanya terdapat satu singa berwarna putih.


Andrew pun mengajak istrinya itu dengan hati-hati masuk ke dalam kandang, tapi kandang tetap terbuka karena takutnya ada hal yang tidak sesuai dugaan.


Saat masuk, Aidah yang paling antusias mendekati singa putih itu, lalu mengelus dengan lembut kepala singa putih itu. Singa putih yang kepalanya di elus oleh Aidah pun ternya ikut bersikap manja kepada Aidah.


Andrew sedikit menghela nafas lega melihat singa itu ternyata bisa lembut juga dengan istrinya, tapi Andrew tetap ikut mendekat di samping istrinya.


"Singa lucu, boleh kan aku peluk?" tanya Aidah meminta izin dengan mata berbinarnya.


Singa itu seolah tau permintaan Aidah pun tambah lengket dan manja mengelus-eluskan kepalanya ke Aidah.


"Wah" Aidah tidak tahan lagi, langsung memeluk singa itu dengan senangnya.


Andrew ikut tersenyum senang melihat hal itu. Andrew pun mengambil foto istrinya diam-diam dengan senyumnya.


"Mas, ayo sini juga ikut. Singanya pasti rindu sama Mas" ajak Aidah ke suaminya itu dengan raut wajah senangnya.


Andrew buru-buru menyimpan handphonenya itu di sakunya, lalu mendekat ke arah istrinya yang masih memeluk singa itu.


Andrew pun ikut mengelus-elus kepala singa itu dan memeluk singa itu, ia langsung mengingat kenangan dirinya dulu yang hanya bisa bermain dengan para hewannya terutama singa ini karena tidak ada waktu untuk mencari teman di luar sana.


Para bawahan yang masih berjaga di luar kandang terharu melihat hal itu, seseorang di antaranya pun diam-diam juga memfoto Tuan dan Nyonyanya itu yang sedang memeluk singa bersamaan.


*****


Tak terasa waktu sudah mau Maghrib, Andrew dan Aidah pun memutuskan untuk pulang setelah sekitar dua jam bermain dengan singa itu, serta melihat-lihat hewan buas lainnya yang ada di dalam ruangan terbuka itu.


Di dalam mobil.


"Mas, sebaiknya Mas suruh cariin pasangan gih buat singa itu kan kasihan kesepian seperti itu. Lebih baik kan kalau ia juga punya keluarga istri dan anak seperti kita" ujar Aidah yang merasa kasihan seolah singa itu adalah manusia, tapi bukankah hewan juga makhluk hidup yang layak mendapatkan perhatian.


Andrew tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, "Baiklah, sayang sesuai perintah" ucap Andrew dengan mengelus rambut istrinya dengan satu tangannya, karena tangan lainnya saat ini di pakai menyetir mobil.


******


Kalau ada yang mungkin berpikir kek ini tidak mungkin gitu, maklum yah ini hanya hayalan hanya sebatas fiktif, bukan karya sastra yang harus sesuai dengan riset terlebih dahulu, ini hanya sebatas hayalan yang author tuangkan dalam novel biasa. Makasih atas dukungannya🤗.

__ADS_1


__ADS_2