Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kabar Bahagia


__ADS_3

Saat sampai Mansion Aidah dan Andrew langsung di hadapkan pertanyaan beruntun oleh keluarganya.


Andrew dan Aidah yang mendengar semua pertanyaan mereka hanya menghela nafas.


"Kalian bisa diam? Lihat nak Aidah udah capek gitu baru pulang rumah sakit bukannya suruh duduk dulu eh malah bertanya" ujar Paman Nathan geleng-geleng kepala melihat tingkah keluarganya yang langsung memberikan pertanyaan banyak kepada Andrew dan Aidah, bukannya menyuruh Aidah untuk duduk terlebih dahulu.


"Eh, iya astaga. Ayo duduk dulu nak" ujar Selani, lalu membantu Aidah duduk.


"Eh, makasih Mom" ujar Aidah sungkan.


Andrew geleng-geleng kepala melihat tingkah semuanya.


Aidah melihat ke arah orang tua kandungnya, tapi Aidah merasa ada yang kurang, "Mana kak Renald Ma?" tanya Aidah bingung.


"Kak Renald mu sedang pelatihan sayang, nggak usah pedulikan. Kamu sekarang bagaimana udah baikan?" tanya Mama Arina balik.


"Iya, Ma udah baikan. Kami juga ingin memberitahu semuanya sesuatu hal" ujar Aidah misterius dengan senyum bahagianya.


Setelah mengatakan itu, Aidah menatap suaminya. Andrew mengangguk saat melihat tatapan istrinya. Sedangkan yang lain menatap kedua pasangan itu dengan bingung dan penasaran.


"Alhamdulillah Aidah hamil" ujar Aidah tiba-tiba kepada semuanya.


Semuanya sangat terkejut hingga terdiam sejenak mendengar kabar itu, tapi hanya beberapa detik dan langsung heboh menghampiri Aidah.


"Apa?! Beneran sayang?" tanya Selani memastikan dengan mata berbinar bahagianya.


"Kamu nggak sedang bercanda kan sayang?" tanya Ana memastikan dengan raut wajah senangnya juga.


"Hamilnya berapa bulan sayang?" tanya Arina dengan raut wajah bahagianya juga senang jika dirinya akan punya cucu.


"Wah, beneran sayang kami mau punya cucu?" tanya Nita juga memastikan dengan raut wajah berbinarnya.


"Kalian itu bertanya nya satu-satu! Dan jangan berkerumun gini di samping cucu menantu Dad, nanti kepanasan lagi!" ujar Kakek Arsen, lalu menyingkirkan keempat wanita yang berkerumun di samping cucu menantunya itu, lalu duduk di samping Aidah seakan dia yang paling berkuasa atas cucu menantunya.


"Huh, padahal Daddy duduk juga di samping nak Aidah" sindir Selani ke Ayahnya.


"Heh, kan Daddy hanya sendiri kalian berempat lah beda dong!" ujar Kakek Arsen membela dirinya.


Setelah mengatakan itu, Kakek Arsen kembali melihat Aidah. "Bagaimana cucu menantu kamu beneran hamil? Udah berapa lama?" tanya Kakek Arsen dengan wajah gembiranya.


"Iya Kek Alhamdulillah, udah 6 Minggu Kek kata Dokter kandungan tadi" ujar Aidah menjelaskan dengan raut wajah yang terlihat sekali sangat bahagia saat ini.


"Wah, selamat yah cucu menantu dan Andrew. Ingat mulai sekarang kamu harus memberikan perlindungan extra ke cucu menantu Kakek, awas saja kalau sampai lecet sedikit saja kamu tau Andrew!!" tegas Kakek dengan tatapan tajamnya ke Andrew.


"Hah, iya Kek tentu. Tapi, sikap Kakek ini seakan-akan Andrew itu yang cucu menantu" sindir halus Andrew bercanda saja. Karena sejatinya Andrew senang banget karena Kakek serta keluarga lainnya sangat menyayangi Aidah istrinya.

__ADS_1


Semuanya tertawa mendengar sindiran Andrew.


Aidah tersenyum melihat semua tawa bahagia yang ada di ruangan itu. Arina dan Elvin juga saling memeluk bahagia dan haru melihat sikap besan mereka itu sangat mencintai dan menyayangi anak mereka Aidah.


"Baiklah sayang, Mom akan bantu kamu menjaga pola makan" ujar Selani dengan semangatnya.


"Yah, tentu kami juga ada! Iya kan Nita?" tanya Ana.


"Tentu An, kita selalu sigap untuk nak Aidah" ujar Nita dengan semangatnya juga.


"Mom dan Dad juga akan selalu ada jika kamu butuh sesuatu sayang" ujar Arina dengan senyum bahagianya menatap anaknya.


"Wih, ada apa ini? Suaranya sampai keluar loh?" tanya Ardian yang baru saja sampai di Mansion setelah mencari incaran baru di kampus Cika. Yah, Cika sudah masuk kampus beberapa bulan lalu. Sebenarnya bodyguard kepercayaan khusus menjaga Cika sudah mau datang, tapi ada masalah yang harus di selesaikan nya hingga sekarang belum datang, dan tentu Ardian yang di suruh untuk menjaga Cika terlebih dahulu.


Nita yang mendengar suara anaknya itu langsung menoleh menatap anaknya, "Dari mana saja kamu anak nakal? Selalu saja lama pulangnya, padahal hanya di suruh antar Cika saja pasti malah kelayapan kan?!" sinis Nita kepada anaknya.


"Nggak kok Ma, tanya aja Cika, Ardian itu nggak kelayapan Ardian jagain Cika tadi di kampus sebelum masuk jam kuliahnya" elak Ardian.


"Bilang saja kamu cari incaran kan?" sinis Ana juga yang tepat sasaran.


Ardian cengengesan dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal mendengar ucapan Tantenya itu yang tepat sasaran. "Tante Ana kalau ngomong suka benar" ujar Ardian cengengesan.


"Huh, dasar anak ini!! Tuh lihat Kakak Andrew kamu, sudah mau jadi orang tua, sedangkan kamu apa masih main-main di luar sana!!" gerutu Nita menatap kesal anaknya yang susah untuk di atur itu.


"Yah, Kakak ipar kamu hamil Ar" ujar Andrew memberitahu dengan senyum senangnya.


"APA!!" Ardian terbelalak kaget, mulutnya pun menganga kaget mendengar berita yang di katakan Kakak sepupunya itu.


"Serius nih?! Kakak ipar hamil? Udah berapa bulan?" tanya Ardian lagi dengan wajah kagetnya.


"Alhamdulillah sudah 6 Minggu Ardian" bukan Andrew yang jawab, melainkan Aidah dengan senyum senangnya sembari mengelus perutnya yang masih nampak rata.


"Wah, alhamdulilah. Selamat yah Kak dan Kakak ipar sudah mau jadi orang tua, ahk Ardian jadi nggak sabar mau ketemu ponakan Ardian" ujar Ardian senang. Ardian pun mendekati Aidah dan berniat ingin menyentuh perut Aidah juga saking senengnya mendengar hal itu, tapi langsung di halangi dengan Andrew.


Andrew menatap tajam sepupunya itu yang ingin menyentuh perut istrinya.


Ardian yang di halangi dan di tatap tajam langsung menarik tangannya, "Glek, Hehe maaf Kak saking senangnya" ujar Ardian cengengesan dengan menggaruk ceruk lehernya yang tidak gatal.


"Huh, makanya. Kamu nikah juga Ardian, umur kamu sudah berapa?! Mama juga pengen gendong cucu dari kamu!!" ketus Nita ke anaknya itu.


Ardian yang mendengar ucapan ketus dari Mamanya itu langsung menatap Mamanya, "Oh Mama pengen punya cucu dari Ardian? Gampang nanti Ardian buat" ujar Ardian enteng.


"Eh, bocah. Kalau kamu berani berbuat macam-macam dengan perempuan sebelum nikah awas saja kamu, Mama benar-benar akan menjadikan kaku Kasim!!" ketus dan ancam Nita dengan menatap kesal anak semata wayangnya itu.


"Hah, tadi Mama yang minta sekarang, malah nyalahin Ardian. Hah, memang yah Ardian selalu salah" ujar Ardian dengan helaan nafasnya, seolah-olah dirinya ditindas dan dipojokkan.

__ADS_1


"Huh, dasar bocah nakal ini!!" Nita langsung mendekat ke anaknya itu dan menarik telinga anaknya.


"Ahk Mama kok sering banget sih narik telinga Ardian, lama-lama telinga Ardian bisa copot di tarik terus!!" ujar Ardian cemberut.


Nita bukannya berhenti menarik, tapi malah semakin menarik kencang telinga Ardian.


"Aahk iya ampun Ma, lepasin please yah Ardian nggak akan macam-macam kok suer deh" ujar Ardian memelas.


"Huh!!" Nita akhirnya melepaskan tangannya dari telinga anaknya itu.


"Oh yah Ardian, Papa ingat perjanjian Papa dengan Andrew beberapa bulan lalu, bukankah Minggu depan sudah waktunya kamu mulai mengurus Perusahaan?!" ujar Rafael mengingatkan.


Ardian terbelalak mendengar ucapan Papanya, ia baru ingat bahwa sudah waktunya dirinya untuk mengurus Perusahaan.


"Papa-"


"No!! Papa tidak menerima alasan lagi, ini juga sudah perjanjian Papa dan Andrew!!" potong Rafael tegas.


Ardian yang mendengar penolakan Papanya yang tegas langsung menoleh ke arah Andrew dan memelas, "Kak-"


"No!! Aku sudah janji dengan Paman, dan janji dari keluarga kita adalah janji yang tidak boleh di ingkari!!" potong Andrew juga dengan tegas.


"Sudahlah, ayo sayang. Kamu harus banyak istirahat" ujar Andrew lembut dengan istrinya, lalu menggendong istrinya di depan semua keluarga.


Aidah kaget lagi di gendong oleh suaminya, "Mas nggak usah pake gendong segala" bisik Aidah merasa tak enak dan malu.


"Nggak apa-apa sayang" ujar Andrew ke istrinya dengan lembut. "Kalau begitu kami ke atas dulu semuanya" pamit Andrew.


"Iya sayang, tenang nanti Mom akan buatkan makanan khusus yang cocok buat ibu hamil" ujar Selani dengan senyum senangnya.


"Iya kami juga akan buat sesuatu spesial buat nak Aidah, istirahat saja dulu baik-baik" ujar Ana juga dengan senang.


Andrew mengangguk, sementara Aidah hanya menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah malu itu di dada bidang suaminya.


"Jaga baik-baik cucu menantu Kakek son!!" tegas Kakek Arsen.


Andrew mengangguk lagi, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Sementara Ardian cemberut kesal melihat tingkah Andrew yang bukannya membantunya, tapi malah memperlihatkan adegan romantis kepadanya.


Ardian kembali menatap Dadnya, "Papa ayolah, kasih Ardian kebebasan lagi" bujuk Ardian.


"No!! Keputusan Papa sudah bulat dan tidak bisa di bantah lagi, Minggu depan kamu harus ke Perusahaan mulai bekerja dengan baik. Ingat janji dari pria keluarga Lewis adalah yang paling dapat di percayai!!" tegas Rafael dengan menatap tajam anaknya.


Ardian terdiam dan menghela nafasnya mendengar keputusan bulat, dan tatapan tajam Papanya itu kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2