Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kedatangan Risya


__ADS_3

"Maksud Tante Renald ingusan itu?" tanya Andrew memastikan.


Tante Ana menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "Iya, Renald itu."


"Hah, jadi semuanya ini berhubungan juga dengan masa lalu?" ujar Andrew dengan menghela nafasnya.


"Kalau seperti ini, kita ajak keluarga Wikram bertemu saja dan membicarakan masalah ini!" saran Paman Nathan.


"Hmm, aku setuju dengan Dad. Biar Tante yang akan hubungi Arina dan Elvin" ujar Tante Ana menyetujui saran suaminya.


Andrew menggeleng, "Tidak bisa sekarang Tante, Paman. Andrew harus diskusi dulu dengan Aidah, Andrew takutnya Aidah kaget lagi jika harus bertemu dan mendiskusikan semuanya secara langsung" ucap Andrew.


"Baiklah sayang, tapi jika ada apa-apa kamu langsung beritahu ke kami saja" ujar Tante Ana.


"Iya, kalau kamu juga butuh bantuan untuk menyelidiki semuanya, Paman bisa bantu son" ucap Paman Nathan.


Andrew mengangguk, "Hmm baiklah semuanya, kalau begitu Andrew ke atas dulu."


Semuanya hanya mengangguk membalas ucapan Andrew. Andrew pun kembali ke kamarnya.


"Kak Ardian, kok masalah Kak Andrew nggak ada kelar-kelarnya sih kan kasihan Kak Andrew dan Kakak ipar" seru Cika dengan raut wajah kasihannya.


Ardian tersenyum mendengar ucapan Cika. "Namanya juga kehidupan dek, pasti akan ada masalah ataupun batu yang akan menghalangi jalan kita. Tapi, kita harus bisa menyelesaikan semuanya, agar seluruh batu itu tidak menghalangi jalan kita lagi. Seperti itu juga dengan halnya apa yang terjadi dengan Kak Andrew sekarang. Kamu jangan terlalu fikirin itu, Kak Andrew pasti bisa menyelesaikan semuanya secepatnya, kamu masih kecil sebaiknya perhatikan pelajaran kamu saja!" jelas Ardian dengan mengacak-acak rambut Cika.


Cika cemberut karena rambutnya di acak-acak, bukan hanya itu tapi ia juga di bilangi masih kecil, padahal menurutnya dia kan udah besar udah 18 tahun.


"Tumbenan Kakak bijak. Dan jangan acak-acak rambut serta bilangi Cika masih kecil, Cika udah besar tau!!" kesal dan sinis Cika, sembari menghempaskan tangan Kakaknya itu dari rambutnya.


Ardian terkekeh, "Masih kecil gini, bahkan belum pernah punya pasangan kan, malah bilang udah besar!"


"Ih, banyak yang mau sama Cika yah, tapi orang-orang Dad yang selalu ngehalangi mereka untuk bisa dekat sama Cika!" ujar Cika cemberut.

__ADS_1


"Itu tandanya Dad sayang sama kamu nak" bukan Ardian yang menjawab, tapi Nathan yang langsung menjawab pertanyaan anaknya.


"Iya, sayang. Tapi, nggak perlu terlalu ketat kan" gumam Cika dengan wajah cemberut imutnya.


Sementara itu Andrew, setelah masuk ke dalam kamarnya. Andrew duduk di samping istrinya, dan menatap istrinya.


"Sayang, bagaimana kalau adik kecil yang imut itu ternyata memang kamu? Bukankah itu berarti Tuhan telah menjodohkan kita dari awal pertemuan kita. Kalau itu memang kamu, berarti apa yang aku pinta saat itu sebagai anak yang belum tau apa-apa mengenai cinta, malah sudah meminta supaya adik kecil itu menikah denganku, kalau memang beneran itu kamu berarti Tuhan menjawab pinta ku yang bahkan saat itu masih sangat kecil untuk meminta hal konyol seperti itu" celoteh Andrew dengan terkekeh geli sendiri mengingat tingkahnya waktu kecil saat bertemu dengan adik kecil yang imut yang terbaring dengan senyum manisnya di kasur mininya, semua kenangan itu terjadi sebelum semua kebahagiaan yang di rasakannya tiba-tiba menghilang dan kehidupannya yang berubah 180°.


"Jika, adik kecil itu bukan kamu. Aku tidak apa-apa, lagi pun semuanya hanya masa lalu. Yang terpenting yang aku cintai dan yang ingin aku jadikan ratu dalam hidupku hanya kamu yang sudah merenggut hatiku" lanjut Andrew sembari mengelus pipi, serta menatap dalam wajah istrinya yang masih tertidur pulas.


"Mmhhh, Kenapa Mas?" tanya Aidah saat membuka matanya karena merasa ada yang menyentuh pipinya.


Andrew menggeleng dengan senyumnya.


"Nggak ada apa-apa sayang, ayo tidur lagi. Mas juga mau tidur dulu" Andrew pun membaringkan dirinya di samping istrinya, lalu memeluk istrinya.


"Tidur yang nyenyak dan mimpi indah sayang" bisik Andrew.


*****


Di tempat lain, di sebuah Mansion yang tak kalah mewahnya. Seorang pria tengah berbicara serius dengan Mom dan Dadnya.


"Mom, Dad, Renald sekarang beneran yakin kalau perempuan yang Renald temui itu adalah adik Renald yang sebenarnya!!" ucap Renald dengan mimik seriusnya.


"Mom kan udah bilang, jangan asal seperti itu sayang. Bisa jadi kan gelang itu memang di temukan oleh keluarganya terus memakaikannya ke perempuan itu, atau bisa jadikan gelang itu hanya gelang yang sama, jangan langsung mengambil keputusan padahal belum tentu itu kenyataan!!" tegas Mom.


"Iya son, jangan langsung menyimpulkan seperti itu" ujar Dadnya juga.


"Hmm, Renald memang tidak ingin langsung menyimpulkan seperti ini. Renald sudah berbicara dengan perempuan itu serta suaminya, kita tinggal tunggu kapan mereka bersedia melakukan tes DNA" ujar Renald.


"Apa!!" Mom dan Dad Renald terkejut mendengar penuturan anaknya.

__ADS_1


"Tes DNA apa ini?!!" tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam Mansion.


Tiga orang yang ada di ruangan pun menoleh menatap seseorang yang baru saja masuk.


"RISYA!!" ucap ketiga orang yang ada di ruangan itu terkejut.


"Kenapa kamu bisa ada di sini sayang?" tanya Mom Renald terkejut melihat kedatangan Risya yang tiba-tiba.


"Hehe Risya, ingin memberikan kejutan dengan kalian. Eh malah sampai di dalam Risya dengar kalian sedang membicarakan hal serius, Risya dengar masalah Tes DNA, tes DNA apa memangnya Mom?" tanya Risya penasaran.


Mom menggeleng, "Bukan apa-apa sayang. Mom terkejut beneran loh, kenapa kamu udah pulang? Kamu nggak ada masalah kan di kampus?" tanya Mom ke Risya.


Risya tersenyum, "Nggak ada kok Mom. Risya sedang ada libur di kampus makanya Risya sempatkan pulang ke sini, soalnya Risya udah rindu banget sama Mom, Dad dan Kak Renald" ucap Risya, lalu memeluk Mom dan Dadnya bersamaan.


"Kami juga rindu banget sama kamu sayang" ujar Dad ke anaknya.


Setelah memeluk orang tuanya, Risya menatap Kakaknya. "Kakak, Risya rindu banget sama Kakak" ujar Risya lalu ingin memeluk Kakaknya.


Renald langsung mengelak. "Hmm" ujar Renald hanya dengan deheman, lalu pergi dari tempat itu. Tapi, sebelum pergi Renald berucap mengingatkan orang tuanya dulu. "Ingat apa yang aku katakan tadi Mom, Dad" Renald pun pergi dari tempat itu menuju kamarnya.


Risya melihat Kakaknya langsung pergi pun berubah lesuh.


"Kak Renald nggak sayang yah sama Risya?" tanya Risya sedih dengan wajah lesuhnya.


"Bukan begitu sayang, tapi Kak Renald pasti sedang capek saat ini. Sudah jangan di fikirkan, ayo kita makan dulu, kamu pasti laparkan dari perjalanan jauh" ajak Mom, mencoba menghibur anaknya.


"Hah, baiklah Mom" jawab Risya dengan senyumnya kembali.


'Risya suatu hari nanti pasti bisa mendapatkan kasih sayang dari Kak Renald' batin Risya menyemangati dirinya sendiri.


Mereka bertiga pun pergi ke meja makan.

__ADS_1


__ADS_2