
"Tidak Kek!! Andrew tidak ingin!!" tegas Andrew menolak permintaan Kakeknya itu.
"Tapi, kamu satu-satunya cucu ku, kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mewarisinya!!" tegas Kakek Arsen juga.
"Ya sudah suruh Renald saja, bukannya Kakeknya dia juga salah satu pimpinan!! Andrew tidak ingin terlibat dalam hal seperti itu, Andrew tidak ingin jika istri Andrew juga terlibat!!" tegas Andrew menatap serius Kakeknya.
"Eh" Renald terkejut mendengar ucapan Andrew yang malah memberikannya jabatan menjadi pimpinan.
Arsen menghela nafas panjang mendengar ucapan cucunya.
"Renald kamu mau kalau menjadi pimpinan?" tanya Arsen menatap Renald serius.
Renald menggeleng, "Aku sepertinya tidak cocok untuk itu!!" tolak Renald juga.
"Kamu memangnya mau jika istri aku atau adik kamu ini jadi sasaran orang-orang kalau aku yang jadi pimpinan?! Lagi pun apa salahnya, kamu juga bisa sibuk karena belum punya pasangan!!" tegas Andrew menatap Renald dengan tatapan tajamnya.
Renald terdiam dan memikirkan perkataan Andrew itu.
"Baiklah terserah!!" ucap Renald pasrah.
"Jangan bilang terserah seperti itu Renald!! Karena kalau kamu mau, maka Kakek akan membuat pelatihan serius untuk kamu. Awalnya aku ingin Andrew yang jadi pimpinan karena ia pasti sudah siap karena sudah di berikan pelatihan serius sejak kecil, tapi jika kamu mau maka kamu harus siap untuk mendapatkan pelatihan serius?!" tegas Kakek Arsen menatap tajam serta raut wajah seriusnya.
Glek, Renald yang mendengar penuturan Kakek Arsen itu menelan ludahnya kasar. Tapi, Renald memikirkan kembali, bahwa dulu Arsen bisa segampang itu menculik adiknya dan memainkan perasaan mereka itu semua karena kekuasaan yang di milikinya, jadi jika ia bisa memiliki kekuasaan dan menjadi kuat maka seharusnya dia bisa kan melindungi keluarga serta adiknya dari bahaya. Lagi pun sudah cukup dirinya untuk bersenang-senang dan bersantai-santai selama ini, ini saatnya ia mengambil tanggung jawab utuh untuk melindungi keluarganya.
"Baiklah, Renald siap!!" jawab Renald tegas dengan raut wajah tak kalah seriusnya.
"Ta..tapi nak ini sangat berbahaya, kalau kamu kenapa-napa bagaimana?!" ucap Arina khawatir dengan anaknya.
"Kamu tenang saja nak Arina, saya yang akan menjaga serta membina dan melatih Renald agar bisa kuat dan menjadi pemimpin dari Mafia ini, tapi itu pun jika memang Renald betul-betul siap!!" tegas Arsen.
"Iya, Renald siap!!" ujar Renald tegas dengan penuh tekad agar bisa menjadi orang yang kuat bukan lemah seperti saat ini, bahkan untuk mencari informasi tentang adiknya pun ia tidak bisa mendapatkannya, sedangkan Andrew langsung bisa mendapatkannya.
Elvin hanya terdiam mendengar anaknya siap melakukan hal itu. Elvin masih kaget karena baru tau jika Ayahnya memiliki Mafia dengan orang tua dari sahabatnya juga.
"Baiklah jika kamu siap, maka aku akan siapkan semuanya secepatnya agar kamu bisa berlatih dengan serius. Kamu siap-siap saja!!" tegas Arsen.
__ADS_1
Renald mengangguk mengerti.
Suasana di ruangan itu berubah hening setelah semua penjelasan di atas.
"Ekhem, semuanya sudah jelaskan kalau Aidah dan Risya sebenarnya adalah saudara kembar tapi tidak identik. Jadi tidak ada lagi yang perlu di jelaskan kan?!" ucap Nathan kepada semuanya yang ada di ruangan itu.
Risya menggeleng, "Tidak. Risya mau kita melakukan tes DNA!!!" tegas Risya yang baru saja ikut bicara setelah lama menyimak dan terdiam mendengar semua penjelasan orang-orang yang berada di ruangan ini.
Arsen menatap heran Risya, "Kan Kakek sudah jelaskan semuanya, kalau kamu dan Aidah saudara kembar" ucap Arsen heran.
"Iya, tapi bisa jadikan anda berbohong seperti yang anda lakukan pernah! Jadi Risya mau kita tetap melakukan tes DNA" tegas Risya dengan memainkan jarinya gugup. Sebenarnya saat ini Risya merasa cemas, entahlah kenapa tapi Risya benar-benar kaget dan belum yakin dengan semua yang terjadi tiba-tiba ini.
"Apa yang kamu bilang sih Risya!! Kan Kakek Arsen sudah bilang seperti itu. Aidah memang adikku!!" tegas Renald menatap tajam Risya.
Risya menggeleng mendengar ketegasan Renald. Mendengar pembelaan Renald juga itu pun membuat Risya tambah cemas dan tidak terima, karena jika ada Aidah pasti kasih sayang pada dirinya akan terbagi.
"Tidak apa-apa Ren, biar adik kamu Risya merasa lega juga kalau kita melakukan tes DNA, lagi pun tidak ada salahnya" ujar Arsen tersenyum santai.
"Iya, Andrew juga setuju jika melakukan tes DNA!!!" tegas Andrew yang ikut setuju dengan keputusan Risya.
"Bukankah lebih baik jika semuanya jelas Ren eh maksudnya Kak?!" ujar Andrew dengan tegasnya.
'Kalau ada tes DNA, bukankah lebih gampang untuk mengurus keluarga Carend itu jika mencari gara-gara lagi dengan Aidah!!' batin Andrew diam-diam tersenyum smirk.
"Ck, terserah lah" sinis Renald.
"Baiklah, sudah di putuskan. Kita bisa melakukannya besok pagi, karena ini sudah mulai larut malam, dan semuanya juga pasti sedang terkejut karena kejadian ini semuanya maka kita bisa istirahat malam ini dulu, besok baru ke rumah sakit!" tegas Kakek Arsen.
"Hmm benar kata Paman, sekarang semuanya bisa istirahat dan untuk keluarga Aidah, semuanya bisa tidur di sini saja malam ini karena sudah larut malam juga" ujar Nathan kepada keluarga Aidah.
"Hah, baiklah Nat. Kalau begitu ayo semuanya kita istirahat, ayo Mom" Elvin merangkul istrinya yang masih menampakkan wajah shock kagetnya.
"Pelayan!!!" panggil Nathan.
Para pelayan yang tadi menyingkir dari area itu langsung bergegas ke ruang tamu.
__ADS_1
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan membungkuk hormat.
"Tolong antar mereka ke kamar tamu!!" perintah Nathan.
"Baik Tuan, mari Tuan, Nyonya" ujar pelayan dengan menunduk sembari mempersilahkan Elvin sekeluarga kecuali Aidah yang masih duduk di samping suaminya.
"Paman Arsen juga sebaiknya istirahat saja sekarang" ucap Nathan kepada Arsen.
"Hmm, Erik tolong siapkan semuanya untuk besok!!" perintah Arsen kepada sang bawahan yang sedari tadi menemaninya dan berdiri sigap di belakangnya seperti Endra.
"Baik Tuan" jawab Erik sigap dengan menunduk.
"Baiklah, ayo Paman. Biar Nathan yang antar Paman ke kamar" ujar Nathan.
Nathan pun mengantar Arsen ka kamar tamu. Yang lainnya pun ikut ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan sang bahasan Erik pergi dari Mansion tapi sebelum itu berpamitan dengan sopan dengan Andrew dan lainnya.
Di ruang tamu saat ini hanya ada tiga orang yaitu Andrew, Aidah dan Endra.
"Endra, kamu mau tidur di sini atau pulang?" tanya Andrew.
"Tidak Tuan, saya pulang saja" jawab Endra sopan dengan menunduk sopan.
"Hmm, baiklah kamu bisa pulang sekarang. Besok saya serahkan masalah Perusahaan dulu dengan kamu" ujar Andrew.
"Iya Tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit dulu Tuan, Nyonya. Assalamualaikum" pamit Endra dengan membungkuk hormat.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya. Endra pun pergi dari ruangan itu.
"Hah" keduanya langsung menghela nafas panjang.
"Mas, sungguh Aidah tak habis pikir dengan semua ini" ujar Aidah dengan helaan nafasnya, sembari menyandarkan kepalanya di pundak suaminya dan menutup matanya lelah.
"Iya, sayang, Mas tau kamu pasti lelah dan tak habis fikir dengan semua ini. Mas saja kaget, apa lagi kamu yang mengalami semuanya. Sudahlah, sebaiknya kita istirahat saja sayang sekarang biar otak kamu juga bisa istirahat dulu, ini juga sudah tengah malam tidak baik begadang untuk kesehatan kamu" ucap Andrew lembut dengan merangkul istrinya.
"Iya, Mas sebaiknya kita juga istirahat" ujar Aidah menyetujui perkataan suaminya, karena ia dan otaknya juga sudah merasa sangat lelah saat ini.
__ADS_1
Andrew dan Aidah pun pergi ke kamarnya untuk istirahat.