Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Bucin


__ADS_3

"Sudahlah Mom, Tan dan lainnya. Sebaiknya kalian istirahat lagi kembali sudah tengah malam, Aidah juga ingin istirahat tapi sama Cika boleh kan Cika?" tanya Aidah.


"Tentu sayang, boleh dong. Kamu memang sebaiknya tidur sama Cika saja dulu, biar dia dapat pelajarannya" bukan Cika yang menjawab, melainkan ibunda Cika yaitu Ana dengan menatap sinis Andrew.


Andrew hanya bisa diam dan mengutuk Ardian karena rencananya ini ia harus pisah kamar dengan istrinya itu, padahal Andrew sudah terbiasa kalau tidur harus memeluk istrinya.


"Kenapa kamu masih di sini ha!!" ketus Selani dengan galaknya ke Lita.


Lita pun buru-buru keluar dari kamar itu saat mendengar ucapan ketus Selani kepadanya.


'Huh, ck udah di tolongin juga Cika tapi apa ini tidak bisa membantu sama sekali' batin Lita menggerutu saat keluar dari kamar itu. 'Tapi, sudahlah yang penting aku berhasil membuat Aidah dan Andrew saling marahan' batin Lita lagi dengan senyum menyeringainya.


Lita memutuskan untuk istirahat dengan tenang di kamarnya karena merasa sudah berhasil dengan misinya, tapi ia masih harus tetap melanjutkan misinya lebih dalam lagi.


Sementara di dalam kamar, Andrew masih saja mendapatkan omelan panjang lebar dari ketiga wanita yang tak muda lagi itu yaitu Mom dan kedua Tantenya.


Aidah jadi merasa kasihan karena suaminya harus mendapatkan omelan, bahkan telinganya pun ikut di tarik oleh Selani Mama mertuanya.


"Ekhem, sudah Ma dan Tan ini udah malam banget. Sebaiknya kita istirahat saja yuk" ajak Aidah dengan menguap agar semuanya segera keluar.


"Hah, baiklah sayang. Istirahat baik-baik kasihan cucu Mama juga pasti udah ngantuk dan capek dengar omelan. Kalau begitu ayo kita istirahat tinggalkan saja anak nyebelin ini" sindir Selani ke anaknya, lalu menarik pelan Aidah ke luar kamar.


Mereka berdua tidak ingin cerita ke yang lainnya lagi, karena kalau yang lain sampai tau pasti semuanya akan bocor dan tambah mumet lagi.

__ADS_1


Sebelum keluar Ardian menepuk pundak Kakak sepupunya itu. "Sabar Kak, ini ujian" ujar Ardian terdengar seperti ejekan di telinga Andrew.


Andrew hanya bisa menahan amarah dan kekesalannya ke adik sepupunya itu kali ini.


"Ck, benar-benar yah bocah s*alan itu. Lihat saja nanti!!" gumam Andrew ketus.


Tapi, tiba-tiba istrinya masuk lagi ke kamar. Andrew kaget melihat istrinya yang bukannya sudah pergi kenapa malah masuk lagi.


"Eh, aku kira kamu sudah pergi?" tanya Andrew dengan menaikkan satu alisnya.


Aidah dengan cepat memeluk suaminya erat. "Maaf yah Mas tadi, dan Aidah serta baby pasti akan rindu sama pelukan Daddy Andrew" ujar Aidah manja dengan wajah cemberutnya.


Andrew tersenyum mendengar serta melihat kelakuan istrinya saat ini. "Daddy juga minta maaf yah sayang dan baby. Daddy juga pasti akan rindu banget dengan kalian kesayangan Daddy" ujar Andrew dengan ikut memeluk erat istrinya.


Setelah beberapa detik memeluk suaminya, Aidah melepaskan pelukannya. "Mas aku harus pergi sekarang, sebelum yang lainnya malah kesini lagi dan melihat kita" ujar Aidah dengan wajah lesuh nya yang rasanya tak rela untuk pisah dengan suaminya walau beberapa menit saja, apa lagi semenjak kehamilannya ia tambah pengen nempel mulu dengan suaminya itu.


"Baiklah sayang, hati-hati tidur yang nyenyak dan mimpi indah jangan lupa mimpiin Mas" ujar Andrew dengan senyumnya, lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu.


Aidah pun mau tidak mau pergi dari kamar itu, walau ada rasa tidak rela. Andrew juga sama rasanya tida ingin pisah walau hanya beberapa jam saja.


Yang lainnya pun kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, kecuali Aidah yang ikut ke kamar Cika untuk tidur.


Beberapa jam kemudian, waktu terus berputar. Tapi, di dua kamar yang berbeda sepasang suami istri itu tidak bisa rasanya untu tidur, mata mereka tetap terbuka lebar walau sudah beberapa kali mencoba untuk tidur.

__ADS_1


Di kamar Andrew.


"Haiss susah banget tidurnya, hah ini pasti karena tidak ada istriku itu yang biasa ku peluk" ujar Andrew dengan wajah masamnya, mengingat jika dirinya mungkin beberapa hari akan seperti ini susah untuk tidur. "Ahk tidak boleh seperti ini, kalau begini terus bisa-bisa aku tidak tidur terus!!" gerutu Andrew kesal sendirian di kamar nuansa biru itu.


Andrew pun menatap ke langit-langit kamar.


"Apa yah yang di buat istri tercintaku saat ini?? Apakah dia sudah tidur nyenyak atau seperti aku yabg susah untuk tidur?" monolog Andrew dengan wajah masamnya.


Sementara itu di dalam kamar Cika. Cika sudah nampak tidur dengan nyenyak nya tidak merasa terganggu sedikit pun, walaupun Aidah terus saja resah dan goyang-goyang di atas tempat tidur karena resah tidak bisa tidur, sebab biasanya dia juga selalu memeluk suaminya dan suaminya pun juga sering mengelus perutnya yang sudah mulai nampak itu ketika dirinya ingin tidur tapi sekarang ia tidak bisa melakukan itu.


Aidah kira ia bisa tidur, walaupun tidak bersama suaminya. Tapi, sepertinya dia sudah jadi bucin sekarang.


"Haiss susah banget tidurnya sih!" kesal Aidah kepada dirinya sendiri. Aidah itu pun mengelus perutnya, "Maaf yah sayang, kamu pasti juga susah tidurnya yah karena Daddy tidak bobo dengan kita, tapi tahan dulu yah sayang ini cuman sebentar kok" gumam Aidah ke anaknya yang ada di dalam kandungannya, padahal nyatanya bukan anaknya yang tidak bisa tidur tapi Aidah sendiri yang tidak bisa tidur saat ini.


Aidah menatap ke langit-langit kamar.


"Apa yah yang di buat Mas Andrew saat ini? Apa Mas Andrew sudah tidur nyenyak yah, atau sama seperti aku yang resah dan tidak bisa tidur seperti ini?" monolog Aidah dengan wajah cemberutnya menatap langit-langit kamar itu.


Begitulah kelakuan pasangan ini, walaupun tidur berbeea kamar, tapi fikiran dan jiwa mereka rasanya masih tetap bersatu.


Di kamar Andrew. Andrew pun berusaha lagi untuk tidur menutup matanya serta memeluk dan menghirup aroma istrinya yang ada di bantal yang selalu di pakai istrinya itu.


Begitupun di kamar Cika. Aidah mengambil kemeja suaminya yang ia memang sudah menyediakan itu setelah mereka membicarakan mengenai rencana mereka. Apa lagi, Aidah memang sudah melihat dari awal saat turun melihat ada bayangan Lita. Jadi, Aidah sudah tau dengan semua yang akan terjadi ini.

__ADS_1


Aidah memeluk dan menghirup aroma suaminya yang ada di kemeja itu, dan menutup matanya berusaha untuk tidur.


__ADS_2