Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Memberi Waktu


__ADS_3

Di ruangan lainnya yang ada di rumah sakit yang sama dimana Andrew dirawat. Di ruangan itu nampak dua pria dan dua wanita yang tengah berbincang.


"Mama atau Bapak butuh sesuatu?" tanya salah watu wanita di ruangan itu yang ternyata adalah Lita kepada kedua orang tuanya yang duduk bersandar di ranjang dalam ruangan itu. Kedua orang tuanya masih di rawat di rumah sakit hingga saat ini, karena bukan hanya fisik orang tuanya tetapi juga mental orang tuanya yang harus di perhatikan dan dirawat. Walaupun saat ini kondisi kedua orang tuanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Ranjang di ruangan itu ada dua untuk Mama dan Bapak Lita tapi berdekatan.


Orang tua Lita lantas langsung menggeleng bersamaan menjawab pertanyaan anaknya itu.


"Tidak usah nak, Mama sedang tidak butuh apa-apa. Sebaiknya kamu istirahat saja, kamu pasti capek harus jagain Mama sama Bapak setiap hari" ujar Mamanya sembari menggenggam tangan anaknya.


"Tidak apa-apa Ma, Lita tidak capek kok, ini kan sudah tugas Lita untuk merawat Mama dan Bapak" jawab Lita dengan senyum tulusnya.


Ardian yang ada di ruangan itu nampak ikut tersenyum mendengar jawaban Lita.


"Ekhem, Tante dan Om bisa saya bicara sebentar berdua dengan anak Tante dan Om?" tanya Ardian meminta izin ke orang tua Lita.


"Tentu Tuan, sana bicara dulu dengan Tuan Ardian" perintah Mamanya dengan senyumnya.


"Tapi-" ucapan Lita langsung dipotong dengan Mamanya.


"Hust nggak ada tapi-tapi, ingat karena Tuan Ardian dan keluarganya Mama dan Bapak bisa selamat dari para orang b*adab itu!" bisik Mamanya Lita dengan wajah sedihnya mengingat lagi masa-masa dimana ia dan suaminya harus melewati hal-hal yang sungguh sangat tidak berperikemanusiaan itu.


Ardian hanya berdiri dengan menaikkan alisnya melihat Lita berbicara dengan orang tuanya, Karen Ardian agak jauh di sofa yang ada di ruangan itu jadi tidak terlalu mendengar perbincangan Lita dengan Mamanya.


"Benar itu nak, jangan jadi orang yang tidak tau berterimakasih" ujar Bapaknya juga mengingatkan anaknya itu.


Lita menghela nafasnya lalu menjawab kembali, "Iya Ma, Pa. Kalian tenang saja, istirahat baik-baik hingga sembuh yang lainnya biar Lita yang tangani" ujar Lita dengan senyumnya yang bisa menguatkan kembali orang tuanya. "Kalau begitu Lita keluar dulu Ma, Pa" lanjut Lita.


"Iya sayang, sana."


Lita pun menoleh ke arah Ardian yang sedari tadi hanya diam menunggu hingga perbincangan dari Lita dan orang tuanya selesai.


"Ayo Tuan, kita bicaranya di taman saja" ajak Lita.


Ardian mengangguk, "Permisi Tan, Om" ujar Ardian pamit.

__ADS_1


Lita dan Ardian pun pergi ke taman rumah sakit yang agak sepi siang ini. Mungkin karena sudah hampir jam makan siang hingga semuanya sibuk untuk membeli atau menyiapkan makan siang.


"Ayo duduk Tuan" ujar Lita mempersilahkan Ardian untuk duduk di salah satu kursi yang ada di taman rumah sakit itu.


Ardian mengangguk, lalu duduk di kursi yang dimaksud oleh Lita.


Bukannya langsung bicara, malah keduanya hanya duduk diam. Beberapa menit berlalu dan hanya diam saja keheningan di antara keduanya.


"Ekhem, Tuan ingin bicara apa yah? Kalau tidak ada hal penting kita bisa pergi belanja makanan dulu sudah mau makan siang soalnya" tanya Lita yang akhirnya membuka suara menghentikan keheningan yang beberapa menit tercipta diantara mereka berdua.


Ardian terdengar menghela nafasnya panjang, sebelum menoleh menatap ke arah Lita dengan wajah seriusnya.


"Aku.. hmm ada yang ingin aku beritahukan sesuatu sama kamu" ujar Ardian sedikit ragu.


Lita menaikkan alisnya satu mendengar itu, "Ada apa Tuan?? Bilang saja" ujar Lita membalas ucapan Ardian yang sepertinya nampak agak ragu itu.


Tiba-tiba Ardian berdiri lalu jongkok di depan Lita sembari mengeluarkan cincin yang sudah di taruhnya di kantong celananya sebelumnya.


"Maukah kamu jadi pasangan hidupku yang akan selalu menemaniku di sisi ku Lita dalam keadaan apa pun?" tanya Ardian dengan lantangnya.


Jantung Lita rasanya mau copot, bahkan matanya juga terbelalak kaget seolah hampir keluar, mulutnya pun menganga lebar mendengar pertanyaan yang sangat mengejutkan menurutnya yang keluar dari mulut Ardian yang dulu malah membenci dirinya.


"Will you marry me Lita?" tanya Ardian dengan senyumnya menatap dalam Lita yang tengah menatap dirinya kaget.


Akhirnya setelah bisa menetralkan kekagetannya, Lita pun angkat bicara.


"Tu..Tuan Ardian jangan bercanda seperti ini, tidak lucu tau!" ujar Lita canggung dengan raut wajah pura-pura bodohnya.


"Hah, saya tidak bercanda Lita. Saya serius, mana bisa kamu pikir saya bercanda dengan hal serius seperti ini?" ujar Ardian dengan wajahnya yang memang nampak serius.


Glek! Lita menelan salivanya kasar mendengar ucapan Ardian dan raut wajah Ardian yang memang serius.


"I..itu saya ti-" jawaban Lita langsung di potong oleh Ardian.

__ADS_1


"Tunggu! Aku akan berikan waktu, aku tau kamu pasti kaget karena tiba-tiba seperti ini. Kamu tenang saja, aku akan menunggu jawaban kamu, dan aku harap jawaban kamu tidak mengecewakan" ujar Ardian dengan senyum indahnya, berdiri lalu menatap Lita.


"Ba..baiklah Tuan" jawab Lita dengan perasaan canggungnya.


"No. Mulai sekarang jangan panggil saya Tuan lagi, panggil nama ku saja Ardian, kalau kamu mau panggil hubby juga boleh" goda Ardian ke Lita.


Wajah Lita nampak memerah bak kepiting rebus mendengar ucapan Ardian itu yang merupakan gombalan pertama baginya, karena selama ini tidak ada laki-laki yang mau mendekatinya karena tau bahwa orang tuanya hanya pekerja serabutan saja bukan orang yang berada.


"Ba..baik Tu- mmm Ar..Ardian" ujar Lita terbata-bata.


"Nah pintar, biasakan yah calon istriku" goda Ardian lagi dengan mengelus rambut Lita.


Jangan ditanya lagi bagaimana merahnya dan panasnya wajah Lita mendengar ucapan Ardian yang memanggilnga calon istri.


******


Andrew yang hanya lecet saja tidak ada luka serius, karena peluru itu tidak menancap ke tangan Andrew sudah diperbolehkan dengan Dokter untuk pulang ke Mansionnya, karena luka yang dialami Andrew juga tidak seberapa hanya di oleskan dengan salep dalam beberapa hari pasti sembuh.


Saat sampai di Mansion Andrew dan Aidah langsung ke kamar mereka agar Andrew juga bisa istirahat, bukan cuman Andrew melainkan Aidah yang sudah hamil besar juga bisa istirahat.


Di kamar Andrew dan Aidah.


Aidah pun berpegangan ke kursi rodanya untuk berdiri. Melihat itu, Andrew langsung berinisiatif membantu istrinya untuk berdiri.


"Apa yang Mas ingin lakukan?" tanya Aidah saat suaminya tiba-tiba memegang tangannya.


"Membantu kamu lah sayang" jawab Andrew.


Aidah menggeleng, "Tidak apa-apa Mas. Aidah bisa berdiri sendiri kok" ujar Aidah karena tidak ingin jika luka yang dimiliki suaminya malah bertambah parah karena membantunya.


"No. Kalau kamu khawatir sama Mas tenang saja Mas tidak kenapa-kenapa hmm, ini hanya luka lecet saja besok juga sudah sembuh. Ayo Mas bantu, atau kamu mau Mas gendong?!" ujar Andrew sedikit mengancam.


Aidah menggeleng kembali, "Baiklah, makasih Mas" ujar Aidah dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Aidah pun dibantu dengan Andrew berdiri dari kursi roda itu lalu duduk di tempat tidur.


__ADS_2