Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Berlatih


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit, tepatnya di sebuah ruangan, di atas bansal di ruangan itu nampak seorang wanita dengan wajah kusut penuh air mata, rambutnya pun nampak sangat berantakan. Sedangkan, di sampingnya seorang wanita yang nampak sudah tak muda lagi sedang berdiri memandang sedih perempuan yang berantakan di atas bansal di ruangan itu.


"Hiks hiks Mama, kenapa?!! Kenapa ini terjadi dengan Bella?!!" teriak Bella dengan air matanya yang sudah tumpah membasahi wajahnya sedari tadi, suaranya pun nampak terdengar serak karena menangis terus sedari tadi.


"Hust tenang sayang" ujar wanita tua itu yang di ketahui adalah Mamanya Bella, memeluk sedih anaknya.


"Hiks ba..bagaimana Bella bisa tenang kalau begini?!! Hiks hiks kenapa dia harus pergi Ma? Padahal sebentar lagi dia bisa lahir di dunia ini?!!" teriak Bella memberontak di pelukan Mamanya dengan memukul-mukul perutnya yang sudah rata kembali.


"Sayang tenang sayang" ujar Mamanya berusaha menenangkan anaknya dengan rasa cemas dan khawatirnya melihat keadaan anaknya itu.


Tapi, Bella tetap saja memberontak dan memukul-mukul perutnya dengan wajahnya yang di penuhi air mata.


Ceklek


Suara pintu ruangan itu terdengar terbuka.


Mama Bella langsung menoleh ke arah pintu terbuka itu. "Dok, tolong Dok anak saya hiks anak saya kenapa Dok seperti ini?" tanya Mama Bella dengan rasa cemas dan khawatirnya, karena Bella tetap saja memberontak dan berteriak histeris.


Dokter itu pun segera mengambil suntik dengan cairan bius, dan langsung menyuntikkannya ke Bella yang masih memberontak dan teriak histeris.


Akhirnya, setelah suntikan itu di suntik ke Bella, Bella pun langsung tertidur kembali dan tenang.


Hah, Dokter itu menghela nafasnya melihat keadaan Bella yang sepertinya memiliki trauma itu.


Setelah memakaikan selimut ke anaknya, Mama Bella langsung menatap kembali Dokter yang baru saja menyuntik anaknya itu.


"Sebenarnya anak saya kenapa Dok?! Bukannya anak saya tidak kenapa-kenapa?!!" tanya Mama Bella dengan raut wajah khawatir dan cemasnya, air mata pun sudah keluar dari sudut matanya sedari tadi.


"Hah, sepertinya anak ibu trauma. Dan sebaiknya kalau seperti ini anak ibu harus konsultasi dengan psikolog" ujar Dokter itu dengan helaan nafasnya.


"Apa!!" Mama Bella menutup mulutnya tak percaya mendengar perkataan Dokter itu.


"Do..Dokter hanya bercanda kan?!! Anak saya tidak gila Dok, sampai harus ke psikolog!!" ketus Mama Bella setelah terdiam sejenak tak percaya mendengar perkataan Dokter itu.


"Anak ibu memang tidak gila, psikolog itu bukan hanya untuk merawat orang gila, tapi untuk membantu juga mengobati rasa trauma seperti anak ibu saat ini sedang trauma karena baru saja keguguran, pasti anak ibu sangat sedih mengetahui bahwa dia keguguran makanya seperti ini, jadi saya sarankan agar anak ibu bisa berkonsultasi dengan psikolog agar traumanya bisa hilang" ujar sang Dokter itu menjelaskan dengan pelan dan ramah.

__ADS_1


Mama Bella itu terdiam mendengar perkataan Dokter.


"Mohon ibu memikirkan kembali perkataan saya, lebih cepat lebih baik ibu supaya anak ibu bisa segera sembuh. Kalau begitu saya permisi dulu bu, masih banyak pasien yang harus saya periksa, kalau ada apa-apa ibu bisa panggil saya lagi" ujar Dokter itu lagi dengan ramah, lalu pergi dari ruangan itu tanpa menunggu respon Mama Bella yang sepertinya melamun memikirkan perkataan Dokter.


Setelah tersadar dari lamunannya, Mama Bella langsung menatap anaknya itu kembali.


"Sayang, kenapa kamu harus mengalami penderitaan seperti ini? Seharusnya semua penderitaan ini di alami oleh Aidah bukan kamu!!" ujar Mama Bella menatap kasihan anaknya sembari mengelus kepala anaknya dengan lembut, tapi di balik matanya itu tersimpan kobaran kekesalan kepada seseorang yang tidak bersalah sama sekali.


"Mama pasti akan berusaha membuat kamu sembuh sayang, dan kita bisa memulai hidup baru kita, kamu mau balas dendam dengan Aidah pun maka akan Mama bantu sayang, Mama tidak akan halangi kamu lagi, asalkan kamu sembuh sayang" ujar Mama Bella itu lagi dengan raut wajah sedihnya melihat anaknya baring tak berdaya seperti itu.


******


Ruangan yang terasa dingin dengan pencahayaan minim itu, nampak seorang pria tengah berlatih dengan fokus serta menggunakan tenaganya dengan sangat bersungguh-sungguh.


Buck, pack.


Suara itulah yang terdengar di ruangan dengan pencahayaan minim dan dingin itu dengan iringan helaan nafas ngos-ngosan dari pria yang sedang berlatih serius itu. Dia adalah Renald yang sudah beberapa bulan ini berusaha keras untuk bisa kuat dan siap menggantikan Kakek Arsen memimpin Mafia miliknya.


Tok tok tok


Seorang pria yang barusan mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan dengan cahaya minim itu.


"Permisi Tuan, maaf mengganggu waktunya. Tapi, ada telfon dari Tuan Arsen" ujar pria yang ternyata bawahan Kakek Arsen di tempat itu.


"Hmm" Renald memberhentikan latihannya, lalu mengambil handuk yang ada di salah satu meja di ruangan itu dan mengelap keringatnya yang sudah sangat bercucuran di tubuhnya.


"Ini Tuan" bawahan itu memberikan ponsel yang di pegangnya ke Renald. Renald pun mengambil telfon itu, lalu melambaikan tangannya meminta pria itu untuk keluar, karena Renald tidak mau jika sampai pembicaraan Arsen itu serius dan ada orang lain yang tau.


Pria bawahan itu mengangguk paham, dan keluar dari ruangan itu.


Renald langsung mengangkat panggilan itu dan meletakkan hp nya di telinganya, sembari terus mengelap keringatnya yang sangat banyak bercucuran di tubuhnya.


"Ada apa Kek? Apakah ada hal penting?" tanya Renald saat sudah mengangkat panggilan itu.


"Iya ini hal penting banget!!" ujar Kakek tegas.

__ADS_1


"Hah? Hal apa itu Kek? Apa ada yang bisa Renald bantu?" tanya Renald yang mulai menampakkan wajah seriusnya saat mendengar Kakek Arsen bilang hal penting.


"Hmm, hal ini memang melibatkan kamu!!" ujar Kakek Arsen lagi.


"Ada apa Kek? Apakah Renald ada buat salah? " tanya Renald bingung.


"Bukan! Tapi, adik kamu cucu menantu Kakek hamil!!" ujar Kakek Arsen dengan senangnya.


"Apa!!" Renald sangat kaget mendengar itu, bahkan handuk di tangannya pun jatuh ke bawah, bukannya mengambil handuk itu tetapi Renald langsung memegang hpnya.


"Kakek serius? Jangan bercanda Kek?!" tanya Renald lagi memastikan, karena takut ini hanya candaan Kakeknya saja.


"Kakek serius!! Aidah hamil, dan sudah 6 Minggu" ujar Kakek Arsen dengan nada seriusnya.


Renald yang mendengar nada serius dari Kakek Arsen itu langsung terdiam dengan wajah senangnya.


"Wah, alhamdulilah. Berarti Renald akan jadi Paman dong? Ah bukan tapi Uncle?" tanya Renald dengan pertanyaan bodohnya dengan matanya yang berbinar senang.


"Tentu dong, kan Aidah adik kamu, jadi otomatis kamu akan jadi Uncle!"


"Wah, Renald nggak sabar mau ketemu sama Aidah" ujar Renald senang mendengar kabar bahagia itu.


"Hmm, kamu bisa kesini besok. Kamu juga harus sesekali istirahat agar kamu masih ada tenaga untuk melewati rintangan utama yang sudah Kakek janjikan itu sebagai tanda kamu siap menjadi pemimpin!" ujar Kakek Arsen.


"Iya Kek, tapi memangnya rintangan utamanya sudah hampir Kakek berikan?" tanya Renald memastikan.


"Tentu, nanti kamu juga akan tau jadwalnya. Kamu siap-siap saja memulai kehidupan baru kamu yang mungkin akan penuh dengan rintangan, kamu siapkan?!" tanya Kakek Arsen tegas.


"Tentu Kek Renald siap!!" jawab Renald juga dengan tegasnya. "Baiklah kalau begitu Kek, Renald mau lanjut latihan lagi, besok Renald akan sempatkan ke Mansion dulu untuk ketemu Aidah" ujar Renald lagi dengan senyum senangnya lagi mengingat adiknya hamil, dan itu artinya tak lama lagi ia akan jadi Uncle, ia harus berlatih lebih keras agar bisa melindungi calon ponakannya itu.


"Tentu, baiklah."


Panggilan itu pun di matikan oleh Kakek Arsen.


Setelah melihat panggilan itu sudah mati, Renald masih terdiam sejenak senyam-senyum melihat ponselnya mengingat kabar bahagia dari Kakek Arsen. Setelahnya Renald menaruh handphone itu di meja yang ada di ruangan itu, lalu kembali berlatih lagi dengan lebih serius dan keras lagi.

__ADS_1


__ADS_2