Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Waktu Kebersamaan


__ADS_3

Di Mansion milik Andrew. Semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga saat ini, karena baru saja Andrew beserta lainnya sampai di Mansion.


"Dia berhasil kabur Kek," ujar Andrew membuka suaranya.


"Kalian tidak mendapatkannya?!" tanya Kakek Arsen dengan wajah seriusnya.


"Maaf Kek," ujar Renald merasa bersalah karena tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Ini salah kami bertiga Kek bukan hanya kesalahan Renald saja!" ujar Ardian membela Renald. Belum juga Kakek Arsen menjawab ucapan Renald, Ardian langsung berucap sesuatu untuk membela Renald.


Kakek Arsen tersenyum kecil melihat Ardian membela Renald.


"Hah, sudah lah tidak apa-apa toh kalian juga sudah bekerja keras beberapa hari ini. Dan para tawanan serta dalang-dalang di balik ini semuanya juga sudah terungkap dan akan diberikan hukuman sesuai ganjaran mereka. Si dalang satu itu juga pasti cepat atau lambat akan kita tangkap, karena Kakek yakin dia belum pergi jauh," jelas Kakek Arsen panjang lebar.


"Yah benar kata Kakek. Kami juga akan terus berusaha mencari dia si dalang itu!" ujar Andrew menyetujui perkataan Kakeknya itu.


"Hmm, sebaiknya kalian pergi istirahat saja dulu. Nanti kita bicarakan lagi!" ujar Kakek Arsen ke ketiga cucu prianya itu.


"Hah yang Kakek katakan benar, Ardian capek banget" ujar Ardian dengan merenggangkan badannya.


"Baiklah, Andrew dan Aidah pamit dulu Kek dan lainnya" ucap Andrew dengan berdiri lalu menggandeng istrinya itu untuk pergi istirahat di kamar.


Semuanya mengangguk menjawab perkataan Andrew.


Di kamar, Andrew langsung berbaring di kasur dengan rasa letihnya. Bagaimana tidak, ia harus tetap bekerja terus di Perusahaan, pekerjaan di Perusahaan pun sangat menumpuk karena ia sibuk beberapa hari ini mengurus masalah Maxim dan dalang-dalang itu, apalagi beberapa hari ini juga ada beberapa kali orang yang mencoba menerobos sistem pertahanan Perusahaannya, jadi ia harus turun tangan sendiri untuk menangani itu.


Andrew menutup matanya disertai helaan nafas letihnya.


"Mas capek banget yah" ujar Aidah yang merasa kasihan dengan suaminya yang nampak sangat letih.


Aidah duduk tepat di samping kepala suaminya, Aidah pun mengelus kepala suaminya itu.


"Mau Aidah pijitin Mas kepalanya?" tanya Aidah pelan.


"Hah, iya sayang. Makasih yah." Andrew menaikkan kepalanya sehingga tertidur di atas paha sang istri. Aidah pun mulai memijat kepala suaminya itu.


"Lihat baby eh maksudnya baby-baby, Dad kalian capek banget" ujar Aidah menatap perutnya sembari terus memijat kepala istrinya itu.


Andrew menatap istrinya itu yang mengatakan baby-baby. "Kamu udah percaya dengan aku sayang, kalau baby kita kembar?" tanya Andrew sedikit kaget karena istrinya itu biasanya hanya menyebut baby sekarang menyebut baby-baby.

__ADS_1


Aidah tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya itu. "Kita do'a aja sayang, semoga memang betul seperti itu. Bukankah perkataan juga adalah do'a?" ujar Aidah dengan senyum manisnya.


Andrew ikut tersenyum dan bersemangat kembali setelah berbincang dengan istrinya ini. Andrew pun langsung berbalik ke arah perut istirnya itu dan mengelus perut istrinya yang sudah nampak besar.


"Maafin Dad yah baby-babynya Dad, karena Dad sibuk beberapa hari ini sampai kadang kelupaan nyapa kalian" ujar Andrew dengan wajah bersalahnya sembari mengelus perut istrinya.


"Njac ata-ata Jajjy cami njac malah to" cetus Aidah dengan memperhatikan seolah-olah anaknya yang masih dalam perutnya itu yang berbicara.


Andrew terkekeh geli mendengar istrinya itu berbahasa seperti anak kecil.


"Wah anak Daddy udah besar banget yah, lucu dan cantik pula" gurau Andrew sembari mencubit gemes pipi istrinya itu.


"Iya jong jajjy can baby milit Mommy yan cantic" balas Aidah lagi dengan ikut terkekeh geli.


Mereka berdua pun saling menatap lalu tertawa bersama. Kebersamaan inilah yang selalu mereka berdua rindukan saat mereka harus berpisah karena Andrew yang harus juga kerja untuk mencari nafkah buat mereka Aidah dan calon anak-anak mereka yang akan lahir tidak lama lagi.


"Oh yah sayang. Minggu ini, kita pergi ke Rumah Sakit yah periksa" ajak Andrew setelah capek tertawa.


Aidah mengangguk, "Aidah mah ikut Mas aja."


"Baiklah, sudah di putuskan yah sayang. Kalau begitu" Andrew menatap istrinya itu dengan intens dengan senyum manisnya.


"Apa yang kamu fikirin emang? Maksud Mas itu ayo tidur!" ajak Andrew lalu berbaring di tempat tidur.


Wajah Aidah memerah mendengar ucapan suaminya itu. Aidah pun ikut berbaring dengan malu di samping suaminya.


'Dia tambah imut saja' batin Andrew terkekeh geli melihat wajah istrinya yang memerah. Andrew pun memeluk dengan hati-hati perut istrinya yang sudah besar.


******


Berbeda dengan semuanya yang sudah masuk ke kamar masing-masing. Ardian masih di luar di ruang tamu seperti menunggu seseorang.


"Tuan Nuda sepertinya tengah menunggu seseorang?" tanya salah satu pembantu di Mansion itu saat melihat Ardian masih duduk di sofa ruang tamu sembari menatap-menatap ke arah pintu.


"Eh, Bibi. Itu Bi, Lita-" ucapan Ardian langsung berhenti saat mendengar pintu terbuka.


Ceklek.


"Assalamualaikum" salam Lita saat baru saja masuk ke dalam Mansion.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Ardian dan pembantu itu barengan.


"Eh, Tuan Muda" Lita langsung menunduk hormat ke Ardian saat melihat Ardian ada di ruang tamu.


Saat kita membuka pintu Mansion memang langsung bertemu dengan ruang tamu.


"Bibi bisa lanjutkan pekerjaan Bibi" ujar Ardian pelan.


Pembantu itu pun menunduk hormat lalu pergi dari tempat itu.


"Kamu dari rumah sakit yah Lita?" tanya Ardian sembari mendekat ke arah Lita.


Lita mengangguk, "Iya Tuan Muda. Saya dari rumah sakit menjenguk orang tua saya, ini saya juga mau ambil baju saja, saya sudah izin hari ini mungkin besok pagi baru saya akan masuk kerja lagi" jelas Lita.


"Oh, gimana kabar orang tua kamu? Mereka baik-baik saja?" tanya Ardian, karena tadi sibuk mencari Maxim sampai dia lupa juga melihat langsung luka yang di alami orang tua dari Lita.


"Alhamdulillah mereka baik-baik saja Tuan, hanya luka lecet saja akibat cambukan. Mmm saya ingin mengucapkan beribu terimakasih dan minta maaf kepada Tuan Ardian. Maaf karena saya pernah memfitnah Tuan dan saya sangat berterimakasih karena Tuan dan keluarga Tuan sudah bersedia membantu saya menyelamatkan orang tua saya. Kalau bukan karena kebaikan Tuan dan keluarga mungkin orang tua Lita masih di siksa di tempat itu" ujar Lita dengan suara pelannya, matanya pun juga sudah ikut berkaca-kaca.


Lita sungguh merasa bersalah karena ia hampir saja dulu membuat keluarga yang baik ini celaka, karena rencana awalnya itu Lita disuruh untuk memfitnah agar bisa menikah dengan Andrew membuat keluarga Andrew hancur dan Lita juga di suruh oleh Maxim setelah berhasil menghancurkan rumah tangga Andrew, Lita harus meracuni keluarga itu dan berpura-lura layaknya mereka semua meninggal sebab kecelakaan nantinya, jadi harta milik mereka bisa dikuasai oleh Maxim.


Lita hampir saja terjatuh termakan dengan rencana itu, kalau saja ia melaksanakan itu pasti saat ini ia akan merasakan penyesalan yang amat dalam selama hidupnya. Untung saja ia tidak melakukan itu, malah Lita memfitnah Ardian waktu itu.


"Tidak apa-apa, itu juga memang sudah tugas kita sesama manusia untuk saling tolong menolong. Lagi pula saya tidak menyesal kamu memfitnah saya waktu itu" ujar Ardian sembari menatap intens Lita.


"Makasih sekali lagi Tuan, Tuan dan sekeluarga memang orang yang baik. Eh" Lita langsung terdiam saat mengingat perkataan Ardian yang baru saja di ucapkannya itu.


"Maksud Tuan?" tanya Lita dengan mengernyitkan dahinya tidak paham.


"Ekhem, maksud saya itu. Bukankah dengan kamu berbuat begitu saya juga bisa belajar lebih banyak lagi mengenai hal ini, dan bisa membuat hal ini sebagai pelajaran buat saya" ujar Ardian memberitahukan maksudnya dengan wajah memerah.


"Oh iya, benar juga yang dikatakan Tuan" Lita mengangguk paham. "Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan, ingin mengambil baju" pamit Lita.


"Hmm baiklah. Nanti kamu diantar sama supir saja ke rumah sakitnya" jawab Ardian.


"Baiklah Tuan, terimakasih sekali lagi" Lita membungkuk hormat lalu pergi dari tempat itu.


Saat melihat Lita sudah pergi, Ardian langsung memukul-mukul pelan mulutnya.


"Astaga, apa yang mau kamu katakan tadi Ardian!!" ujar Ardian kepada dirinya sendiri dengan wajah memerahnya.

__ADS_1


__ADS_2